
~malam nya~ dikamar Lia.
Drrt..bunyi dering ponsel nya. Tertera jelas, nomor asing diponsel nya. Karena penasaran, Lia akhirnya memutuskan untuk mengangkat telpon itu.
Via telpon on✅
[Halo, siapa ini?]
[Pangeran mu]
[Maaf?]
[Hmph, Alvian.]
[Ah, Al. Ada apa? Dan, kamu kenapa bisa dapat nomor hp aku?]
[Ada, dong!]
[Al, jangan gitu. Cepat kasih tau aku!]
[Haha, ok ok. Aku dapat dari salah satu karyawan kamu yang bekerja di anak perusahaan di AS. Jelas?]
[Hm. Jadi, ada apa? Kenapa nelpon aku malam-malam gini?]
[Nggak ada,]
[Al~]
[Hah, aku kangen kamu. Puas!?]
[Kangen?]
[Iya!]
[Kenapa?]
[Kenapa, apanya?]
[Kenapa kamu kangen sama aku?]
[Hehe, ada aja!]
[Al! Aku serius]
[Aku tutup telpon nya dulu ya, mommy aku manggil aku mulu dari tadi. By~]
[A--]
Tuut..tut.dan telponnya pun ditutup sebelah pihak.
"Hah, ada apa sih dengan dia? Aneh banget." Tak ingin terus memikirkan hal itu, Lia pun memutuskan untuk tidur.
~Besoknya disekolah~
"Hai, Lia. Kamu bisa tolongin aku, nggak?" Ucap seseorang.
"Eh, Cherlin! Tolongin apa?" Tanya Lia.
"Jadi gini, salah satu murid disekolah kita lagi kena musibah. Dia abis kecelakaan dan perlu uang untuk biaya operasi, dia juga, dari keluarga yang mis-kurang mampu maksud aku. Dia bisa masuk kesekolah ini juga hanya karena beasiswa. Jadi, kamu mau nyumbang nggak?" Jelas Cherlin panjang × lebar.
"Oh, gitu. O.K., aku mau. Dimana?"
"Apanya?"
"Orang nya, aku mau ketemu sama dia. Kan, kita mau kasih uang nya kedia." Seru Lia.
"Oh, terus gimana mau kasih uangnya?"
"Em, kamu bisa kasih uangnya ke aku. Transfer aja langsung ke rekening aku. Lagian, aku cukup kenal baik sama dia."
"Oh, siapa dia?"
"Em.. Reva, nama nya Reva."
"Kelas?"
"Ini anak kenapa, sih! Nanyak mulu dari tadi, banyak bacot." Batin nya mengucap.
"Kelas, IPA X-1."
"Hm, O.K. Aku transfer sekarang."
"Fyuh, akhirnya." Ucap Cherlin kelepasan.
"Akhirnya?"
"I iya, akhirnya ada orang yang mau bantu. Itu maksud aku!" Balas Cherlin.
"Hm."
"Hai, Lia. Kekelas bareng, yuk!" Ajak seorang pria yang baru saja tiba.
"Devan, yaudah." Balas Lia setelah tadi sempat berpikir sebentar.
"Yaudah, aku duluan. Da~" mereka pun pergi kekelas bareng. Yah, lagi-lagi menjadi gosip. Dekat dengan seorang ketos dingin, sungguh hebat. Kira-kira garis besar godipnya, seperti itu.
~Istirahat~
"Lia, yuk ke kantin." Ajak Devan.
"Tapi, aku mau--"
"Lia, udahlah. Itu nanti aja, kita ngantin dulu ya, yuk!" Paksa Devan masa bodoh.
"I iya" pasrah Lia.
~Kantin~
"Kamu mau makan apa?"
"Nasi goreng!?!"
"Bakso aja deh, ya. Lebih enak bakso." Usul Devan yang lebih seperti, 'paksaan'.
"Tapi kan,"
"Lia." Suara Devan yang dingin, serta sorot mata tajam nya itu. Yang menampak kan, ketidaksukaan nya pada
jawaban atau sikap Lia.
"Bakso aja, bakso juga enak, kok. Beneran!" Paksa Devan lagi dan lagi.
"I...iya" pasrah Lia, lagi dan lagi.
~skip 1 bulan kemudian~
1 bulan sudah mereka berpacaran, dan juga retak serta dingin nya hubungan Lia dan Ella sampai saat ini, masih sama saja. Saat ini, Lia sedang berkeliling koridor sekolah hanya untuk mencari sang kekasih. Hingga sampai lah iya didepan gudang, terdengar samar suara 2 orang yang sedang berbincang dari dalam sana. Karena penasaran, Lia pun memutuskan untuk membuka sedikit pintu gudang itu, dengan maksud agar bisa melihat serta mendengar perbincangan mereka serta siapa yang sedang berbincang saat itu. Dan, ia pun terkejut bukan main. Dalam sekejap mata, apa yang ia lihat serta dengar benar-benar membuatnya membeku, dia diam mem bisu, tak mampu bergerak ataupun berbicara. Seluruh tubuh nya serasa mati rasa, ia benar-benar kaget dan tak habis pikir akan apa yang ia saksikan saat ini.