Allia

Allia
->Part 4



Author pov*


Back to topik.


"Serah gue, dong. Yang nggak suka kan gue, bukan lo! Jadi, lo lebih mending diam aja! Jan banyak 'ba.cot'." Ucap nya sambil menekan kan kata 'bacot'.


"El, kalau kamu tetap bertingkah kekanak-kanakan kayak gini terus, aku nggak bakal mau bicara sama kamu. Minta maaf, cepat minta maaf. Minta maaf ke teman-teman aku atau, aku nggak bakal mau ngomong sama kamu selama seminggu!" Ancam Lia padanya.


"Hah? Apa? Ha, a.ha.ha. Lia, jadi lo lebih percaya sama kata-kata dia, hah???" Tanya nya sambil menunjuk kearah Cherlin dengan nada yang datar.


"El, yang sopan. Mereka itu, teman-teman aku" ucap Lia tegas pada Ella.


"Heh, jadi lo lebih pilih mereka yang baru aja lo kenal !, ketimbang saudari lo sendiri !?" Ucap Ella seraya menatap Lia tak percaya.


"Bukan gitu, El. Aku cuma---" belum selesai Lia melanjutkan omongan nya, Ella langsung memotong.


"Nggak gitu, gimana? Hah?, bukan gitu, gimana maksud lo! GUE TANYA, BUKAN GITU, GIMANA MAKSUD LO CAMELLIA ATHANASIA QUEENZE ALBERT!!!" Marah Ella pada saudari perempuan nya itu, sambil berteriak dengan keras pada nya.


"Ma, maksud aku, aku..." seru Lia dengan gagap nya.


"Arrghhh, udah deh. Males gue ngomong ama lu, awas aja kalau lu berani dekat-dekat ama adek gue. Mulai sekarang, lo bukan saudari gue lagi, paham!?" Ucap Ella marah sekaligus frustasi. Dan lalu, ia pun pergi meninggalkan Lia sendiri bersama Cherlin dkk. Wajah Lia seketika berubah menjadi sedih, mungkin ia benar-benar merasa gagal menjadi seorang kakak.


2...


3...


"Ma, maafin aku ya, Lia. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk ngebuat kalian jadi bertengkar kayak gini. A aku, aku cuman, aku cuman mau berteman sama kalian aja. Beneran!" Ucap Cherlin dengan raut wajah yang terlihat sedih.


"I iya, gpp. Ini, bukan salah kamu." Ucap Lia berusaha tersenyum, agar tidak terlihat jelas bahwa ia sedang sedih.


"Yaudah, yuk kita kekantin. Laper nih, hiks" ucap salah seorang teman Cherlin yang tadi sempat berbicara.


"Oh, ya. Aku, belum kenalan sama kalian. Nama kalian siapa?" Tanya Lia pada kedua teman Cherlin itu.


"Oh iya, lupa. Kenalin, aku Cecil Priscillia. Sebenarnya, teman-teman yang lain tau nya nama aku itu Cecil Dirgantara. Tapi, karna lo teman nya Cherlin jadinya aku kasih tau nama asli aku." Ucapnya memperkenalkan diri.


Note: jadi, SMA Priscillia (ngasal nama ya😆) di AS atau Amerika Serikat merupakan SMA yang dimana status anak pemilik sekolah yang notebane nya juga adalah murid sekolahan itu, dirahasiakan. Jadi yah, siapa aja bisa ngaku sebagai anak dari nyonya Aura Priscillia (pemilik SMA Priscillia). Yang dimana udah cerai dengan suami nya, tuan Rian Nicolas. Walaupun, cuman murid yang udah siap menderita aja yang berani ngaku sebagai anak nya. Kenapa? Ya karena Ibu nya (kadang juga anak nya sendiri) nggak akan pernah biarin siapa pun untuk mengaku sebagai anak nya dan orang yang berani untuk mengaku sebagai anak nya harus siap menemui 'neraka' dunia. Dan juga, anak perempuan dari Aura Priscillia merupakan orang terkaya no. 5 dan adik nya yang juga perempuan dan merupakan orang terkaya no. 5, juga abangnya yang merupakan orang terkaya no. 8. And, anggota keluarga terkaya no. 7. Okey, kita kembali ke topik terkini (caelah, haha).


"Dan, aku Chintya Refandra Handrew. Sama kayak Cecil, nggak ada satupun anak disekolah ini yang tau identitas aku yang sebenar nya. Mereka tau nya aku adalah anak bungsu keluarga Henderson (keluarga terkaya no. 9 dan orang terkaya no. 14 didunia), jadi tolong dirahasiakan ya." Ucap Tya sambil tersenyum percaya diri.


*N/p \= jadi, nggak ada orang yang tau tentang anak-anak perempuan dari keluarga terkaya no. 1 sampai 15. Semua wajah dan identitas mereka dirahasiakan, hanya kepala keluarga dari masing-masing keluarga kaya raya yang mengetahui wajah mereka (hitungan nya itu, keluarga elit, dihitung dari keluarga terkaya no. 1 sampai 15 didunia Internasional. Sedangkan, sisanya merupakan orang kaya raya). Kecuali, anak laki-laki mereka (sejak kecil sudah diperkenalkan wajah dan identitas nya).