
Kau berpikir sedang berada diatas awan, tetapi nyatanya kau hanya berada diatas angin, yang akan jatuh kapanpun kau lengah.
《Rafaella Zionara Albert》
"Ma, selamat datang kembali." Seru Amel, senang.
"Kk Lia~" panggil nya sambil memeluk ku, senang.
"Lia" begitupun dengan Ella yang juga ikut memeluk diriku.
"Mama nggak dipeluk, nih?" Tanya mama yang sudah membentangkan tangan nya.
"Mama" Ella dan Amel pun memeluk mama dengan senyuman.
~malam nya~ dikamar Lia.
Drrt..bunyi dering ponsel nya.
Tertera jelas nomor asing disana. Karena penasaran, aku akhirnya memutuskan untuk mengangkat telpon itu.
Via telpon on✅
[Halo, siapa ini?]
[Pangeran mu]
[Maaf?]
[Hmph, Alvian.]
[Ah, Al. Ada apa? Dan, kamu kenapa bisa dapat nomor hp aku?]
[Ada, dong!]
[Al, jangan gitu. Cepat kasih tau aku!]
[Haha, ok ok. Aku dapat dari salah satu karyawan kamu yang bekerja di anak perusahaan di AS. Jelas?]
[Hm. Jadi, ada apa? Kenapa nelpon aku malam-malam gini?]
[Nggak ada,]
[Al~]
[Hah, aku kangen kamu. Puas!?]
[Kangen?]
[Iya!]
[Kenapa?]
[Kenapa, apanya?]
[Kenapa kamu kangen sama aku?]
[Hehe, ada aja!]
[Al! Aku serius]
[Aku tutup telpon nya dulu ya, mommy aku manggil aku mulu dari tadi. By~]
[A--]
Tuut..tut.dan telponnya pun ditutup sebelah pihak.
"Hah, ada apa sih dengan dia? Aneh banget." Tak ingin terus memikirkan hal itu, aku pun memutuskan untuk tidur.
~Besoknya disekolah~
"Hai, Lia. Kamu bisa tolongin aku, nggak?" Ucap seseorang.
"Eh, Cherlin! Tolongin apa?" Bingung ku padanya. Entahlah, rasanya ada yang aneh.
"Jadi gini, salah satu murid disekolah kita lagi kena musibah. Dia abis kecelakaan dan perlu uang untuk biaya operasi, dia juga, dari keluarga yang mis-kurang mampu maksud aku. Dia bisa masuk kesekolah ini juga hanya karena beasiswa. Jadi, kamu mau nyumbang nggak?" Jelas nya panjang lebar.
"Oh, gitu. O.K., aku mau. Dimana?" Taanyaku padanya.
"Apanya?" Bingung nya. Jangan bilang...
"Orang nya, aku mau ketemu sama dia. Kan, kita mau kasih uang nya ke dia." Seru ku.
"Ah, i itu..dia..dia..lagi nggak masuk. Iya, dia lagi nggak masuk, nggak masuk sekolah." Ucap Cherlin gugup.
"Ada yang aneh!" Pikir ku.
"Oh, terus gimana mau kasih uangnya?" Hm, akan ku coba untuk memberi umpan.
"Em, kamu bisa kasih uangnya ke aku. Transfer aja langsung ke rekening aku. Lagian, aku cukup kenal baik sama dia."
"Ah, sudah kuduga. Dia memakan pancingan nya. Jadi, itu artinya dia memang benar ingin membohongiku, dia ingin mengambil uangku untuk kepentingan pribadinya." Batinku senang.
"Oh, siapa dia?" Tanya ku lagi untuk informasi lebih lanjut.
"Em.. Reva, nama nya Reva."
"Kelas?" Tanyaku lagi untuk informasi detailnya.
"Kelas, IPA X-1." Ucap Cherlin.
"Yes, informasi ku sudah lengkap. Sekarang, aku hanya perlu memastikan." Batinku tersenyum senang.
"Fyuh, akhirnya." Ucap Cherlin kelepasan.
"Akhirnya?"
"I iya, akhirnya ada orang yang mau bantu. Itu maksud aku!" Balas Cherlin.
"Hm."
"Hai, Lia. Kekelas bareng, yuk!" Ajak seorang pria yang baru saja tiba.
"Devan, yaudah." Balas Lia setelah tadi sempat berpikir sebentar.
"Yaudah, aku duluan. Da~" mereka pun pergi kekelas bareng.
Yah, lagi-lagi menjadi gosip. Dekat dengan seorang ketos dingin, sungguh hebat. Kira-kira garis besar gosipnya, seperti itu.
~Istirahat~
"Lia, yuk ke kantin." Ajak Devan.
"Tapi, aku mau--"
"Lia, udahlah. Itu nanti aja, kita ngantin dulu ya, yuk!" Paksa Devan masa bodoh.
"Hm, ada apa dengan nya?" Pikirku kebingungan.
"I iya" pasrah ku.
~Kantin~
"Kamu mau makan apa?"
"Nasi goreng!?!"
"Bakso aja deh, ya. Lebih enak bakso." Usul Devan yang, entah kenapa terasa seperti, 'paksaan'.
"Tapi kan,"
"Lia." Suara Devan yang dingin, serta sorot mata tajam nya itu. Yang menampak kan, ketidaksukaan nya pada jawaban atau sikap ku.
"Bakso aja, bakso juga enak, kok. Beneran!" Paksa Devan lagi dan lagi.
"I...iya" pasrah ku, lagi dan lagi.
Dan, setiap hari selalu begitu. Dia selalu saja memaksakan kehendak dan sikapnya padaku. Hingga suatu hari seorang gadis selalu menempel dengan nya.
Saat ini aku sedang berjalan dikoridor sekolah, lalu aku mendengar suara yang tidak asing ditelingaku, dan ternyata dia adalah Devan, tapi dengan seorang gadis. Gadis itu adalah Cecil, sahabat nya Cherlin dan Chintya.
Tapi, ada hubungan apa diantara mereka? Kenapa mereka terlihat begitu mesra? Sepertinya hubungan mereka sudah sangat dekat! Begitulah isi pikiranku.
"Tapi, memang nya kenapa? Sekarang aku tidak bersama nya, itu artinya aku bebas. Sebelum aku bertemu dengan nya dan kembali terkekang, aku harus segera 'kesana' dan memastikan sesuatu. Dan juga, memeriksa." Batinku sambil berlalu pergi, meninggalkan mereka berdua yang sedang kasmaran.
🌼🌼🌼
"Sampai!" Batinku setelah sampai diruang kepsek. Aku pun mengetok pintu itu.
Tok tok tok...
"Masuk!" Perintah nya dari balik pintu. Setelah mendapatkan perintah, aku pun membuka pintu itu dan masuk.
Ceklek (anggap aja suara pintu dibuka😌)
"Nona muda Lia, ada apa anda kemari?" Tanya nya sedikit terkejut. Aku pun melangkah dan duduk disofa yang ada disana, begitupun dengan nya.
"Bagini, pak. Saya... ingin meminta biodata seorang siswa perempuan yang masuk kesekolah ini melalui jalur beasiswa. Apakah bisa, pak?!" Tanya ku padanya dengan menekankan kata 'pak'.
"Te tentu saja bisa. Siapa nama nya dan kelas berapa dia?" Tanya pak kepala sekolah itu padaku.
"Reva, kelas IPA X-1." Jelas ku padanya.
"Baiklah, mohon tunggu sebentar." Minta nya padaku dan lalu segera membuka laci no. 2 dan mengambil berkas pendaftaran murid yang melalui jalur beasiswa.
Aku membuka berkas itu, mengecek halaman demi halaman. Dan yah, tidak ada siswa bernama Reva disana, sesuai tebakan ku.
"Baiklah, pak. Terima kasih atas waktu nya." Ucap ku tersenyum simpul.
"Sa sama-sama, nona." Ucapnya gugup sambil membungkuk kan badan. Aku pun pergi keluar dari ruangan itu.
"Fyuh~ tadi itu benar-benar menegangkan." Ucap pak kepala sekolah itu sambil mengelap wajah nya yang berkeringat.
Saat ini aku berada digudang sekolah, aku sedang memeriksa kamera CCTV yang ku suruh bodyguard ku untuk memasang nya disetiap sudut dinding sekolah ini tadi malam, tepat setelah kamera pengawas pesanan ku datang. Kamera CCTV ini berbeda dari yang biasa nya, karena ini ku pesan khusus dari perusahaan kamera yang terkenal di Amerika.
Kebetulan sekali, perusahaan itu merupakan perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan Digital corp-anak perusahaanku yang berada di AS. Kedua perusahaan itu saling bekerja sama dalam menciptakan kamera CCTV atau kamera Closed Circuit Television dalam bentuk atau ukuran yang sangat kecil.
Akhirnya proyek pengembangan itu berhasil, menciptakan kamera CCTV yang diberi nama O'neil Circle. Kamera ini berukuran sangat kecil dan berbentuk bulat, ia juga bisa ditempel dinding. Sekarang aku sudah bisa melihat rekaman CCTV nya dari layar Tablet ku.
"Semua sudah selesai, tinggal tunggu waktu yang tepat." Batinku tersenyum smirk.
~skip 1 bulan kemudian~
1 bulan sudah kami berpacaran, dan gadis yang mengaku sebagai sahabat nya Devan-Cecil, ternyata adalah pacarnya. Sudah waktunya untuk ku membongkar permainan mereka.
Apakah yang akan Lia lakukan?