
Saat sudah memasuki kelas, aku melihat sudah ada Ella disana. Aku pun berjalan kearah Ella dg senyum.
"El, kamu masih marah?" Tanya ku sambil duduk dikursi samping Ella.
"Tauk" jawab Ella acuh disertai dengan kedua bahu nya yang ia naikkan.
"Maafin gue, kk." Bisik Ella padaku. Aku melirik nya sekilas dan lalu menjawab.
"Hm" sambil tersenyum manis.
Setelah itu, kami belajar dengan sunyi. Tidak ada yang berbicara dan aku pun tidak mau mengganggu tidurnya.
~Skip~ pulang sekolah.
"Yaudah, yuk!" Ajak 'dia' sambil memegang tangan ku.
"Mm" hanya balasan singkat yang ku berikan.
~skip ditaman~
"Hm?" Bingung ku.
"Kenapa?" Tanya 'nya'.
"Dev, kenapa kita ketaman?" Tanyaku padanya. Yah, meskipun aku sudah tau akan apa yang bakal terjadi.
Devan Rahendra, keluarga terkaya no. 10 menurut peringkat keluarga terkaya se-Internasional. Serta, 2 sepupu perempuan yang juga merupakan orang terkaya ke10 didunia. Sebenarnya, 2 sepupu nya itu adalah sahabat karibku.
"Karena, aku mau ngomong sama kamu!?!" Ucap Devan santai.
"Hm, ngomong apa?" Tanya ku lagi dg wajah bingung. (Pura-pura)
"Gue cuman mau ngomong," ucap dg nya menjeda kalimat terakhirnya.
"Lo.cuman.milik.gue.!" Bisik nya tepat ditelinga ku. Yah, karena aku tinggi, ia hanya perlu menundukkan kepala nya sedikit.
"Apa mak," belum sempat ku melanjutkan perkataan ku, Devan langsung memotong nya.
"Ssht, jangan sampai gue c**m lo" ucap nya pelan namun masih bisa terdengar, membuat ku hanya bisa tersenyum remeh. Bagaimana bisa, dia mengatakan hal itu dengan penuh percaya dirinya. Hah, sungguh ku kasihan dengannya. Benar-benar, menyedihkan.
"Lia, kemana aja kamu? Kenapa baru pulang jam segini?" Tanya papa kepada ku.
"Hah, mulai deh cerewetnya." Batinku merasa kesal.
"Sebagai yang tertua, seharusnya kamu menjadi contoh bagi adik-adikmu. Bukannya, malah seperti ini!" Ucapnya tegas serta nada yang sedikit meninggi.
"Maaf, pa. Lain kali nggak akan aku ulangi." Balas ku dengan raut wajah datar.
"Please, deh. Cepet selesai nya, dong. Aku ingin istirahat." Batinku menggerutu.
"Yasudah, cepat siap-siap kita harus pergi ke conferensi pers diAmerika Serikat . Seperti biasa, kamu akan ikut dengan papa untuk membantu papa memperluas kekuasaan." Perintah papa, tanpa basa/i sedikitpun.
"Nah, git---. Whatttt???? Oh my God" batinku terkejut mendengar nya. Namun, sebisa mungkin aku harus dapat mengendalikan ekspresi ku.
"Baik." Balas ku malas.
"Rasanya seperti sekretaris Park." Pikirku.
"Lia, sayang. Pulang nanti kamu juga harus siap-siap, ya! Kamu harus tampil bareng mama di Barcelona. Soalnya, Mama jadi tamu kehormatan disana." Perintah mama, tanpa mempedulikan diriku yang sudah makan ataupun belum. Yah, aku sih sudah terbiasa. Juga, tidak mempedulikan hal itu pula.
"Kenapa nggak Mama sendiri?" Tanya ku jengkel.
"Hah? Apa? Kamu udah berani menolak permintaan mama, honey!? Ia? Kamu melawan saya? Hm?" Tanya Mama-ku bertubi-tubi dengan wajahnya yang kesal, juga alis sebelah kiri yang terangkat keatas.
"Hah, dasar mama muda. Me.nye.bal.kan." Lagi-lagi aku menggerutu didalam hati.
"Eng nggak, mah. Aku nggak melawan ataupun menolak, aku cuman mau tau. Tapi, aku yakin mama pasti punya alasan." Elak ku. Aish, lidah ku ini memang tidak dapat diajak kerja sama.
"Bagus! Harus gitu, dong. Kamu nggak boleh meragukan alasan dan keputusan mama, mama itu orang tua kamu, sayang. Orang yang udah ngelahirin dan ngerawat kamu, mama tau yang terbaik buat kamu, O.K.!?!" Tegas mama pada ku.
"Iya, ma. Pa, aku siap-siap dulu." Ucap ku sambil terus berusaha untuk tersenyum. Padahal dalam hati aku merasa jengkel. Inginku mengutuk, tapi apalah daya, mereka orangtua ku dan aku hanya lah anak kecil.
"Iya, cepat ya, sayang" balas papa, yang membuatku ingin mengumpat lesal. Aku pun melangkahkan kaki ku menuju tangga kelantai 2, dengan malas. Huhu, aku ingin pulang. Aku merindukan rumahku. Hiks...ingin rasanya kumenangis.
Skip~ selesai bersiap.
15 menit kemudian, aku turun dengan gaun khusus boss wanita. Dengan tema, CEO wanita muda yang elegan dan glamour. Sungguh mewah namun elegan, benar-benar cocok sekali dengan diriku. Yah, aku itu Camellia. Pakaian murah dan sederhana benar-benar tidak cocok dengan ku.