Allia

Allia
->Part 3



🌹🌹🌹 istirahat.


"Hai, kenalin, aku Cherlin Flora Amanda. Kalian mau nggak jadi teman aku!?" Sapa nya memperkenalkan diri sambil tersenyum aneh penuh percaya diri yang memiliki arti yang tak dapat dimengerti siapapun.


Tidak ada yang tau apa arti dari senyum nya itu, selain dia sendiri dan juga Ella. Kenapa? Karena, sedari awal ia datang dan memperkenalkan diri, Ella langsung merasa tidak suka juga memberi tatapan aneh yang hanya dimengerti oleh diri nya sendiri. Sedangkan, Lia terlihat seperti mengingat sesuatu lalu tak lama kemudian ia tersenyum seperti terpaksa dan membalas sapaan Cherlin.


"Hai juga, aku Camellia. Aku mau, kok, jadi teman kamu."


Balas nya sekaligus menjawab pertanyaan atau permintaan dari Cherlin.


"Wah, makasih. Kalau kamu?" Tanya nya pada Ella.


"Ngapain gue harus berteman sama lo? Hm?" Bukannya menjawab Ella malah bertanya balik sambil melempar tatapan datar nya pada Cherlin, jangan lupakan juga nada nya yang menjadi datar tapi bisa dirasakan ketidaksukaan Ella terhadap Cherlin.


"Ma...maksud kamu apa? A aku, aku cuman," ucap nya gugup. Entahlah, antara benar-benar gugup atau hanya pura-pura.


"A u a u, bisa ngomong nggak sih lo? Kayak orang gagap aja!" Ucap Ella sambil terus menatap sinis Cherlin dengan nada yang sedikit tinggi.


Sedangkan, Lia hanya menatap heran sikap Ella pada Cherlin dan teman-teman nya Cherlin sedari tadi hanya menatap Lia sambil sesekali tertawa kecil juga melempar pandangan pada satu sama lain.


"Aku cuman mau berteman dengan kalian aja, maaf kalau aku ganggu kamu."


"Lo---"


"El, kamu kenapa? Dari tadi sikap kamu kok aneh terus, sih!? Kamu kayak nggak suka sama dia." Seru Lia memotong ucapan Ella.


"Abis nya, dia aneh. Pokok nya gue nggak suka sama dia, dan nggak akan pernah suka."


"Em, maaf mengganggu tapi, lo ada masalah apa ya sama Cherlin? Perasaan, kalian baru ketemuan sekarang. Kenapa, lo langsung nggak suka sama dia?"


Ucap salah seorang murid yang sedari tadi diam seperti membiarkan mereka bertengkar. Siapa lagi kalo bukan teman nya Cherlin.


"Serah gue, dong. Yang nggak suka kan gue, bukan lo! Jadi, lo lebih mending diam aja! Jan banyak ba.cot." Ucap nya sambil menekan kan kata 'bacot'.


*Lia pov


dan


*Flashback on


Pagi benar-benar cerah, menampakkan sinar matahari yang sedikit panas. Masuk melewati kaca transparan yang cukup tebal itu yang sengaja dibuat agar si penghuni bisa melihat pemandangan taman atau halaman rumah yang indah kala malam, pagi, maupun siang. Aku pun terbangun dan para pelayan setia ku langsung melayani ku seperti biasa. Aku pun beranjak dari duduk ku dan pergi menuju walk in closet. Setelah selesai berendam dan mandi dengan air bersih sekaligus sebagai air bilasan, aku pun memutuskan untuk keluar kamar mandi dan para pelayan ku pun, seperti biasa akan membantu ku bersiap.


Mulai dari menata rambut, membantu ku memakai seragam high school, dan membantuku memilih serta memakai kan aksesoris kepala, dan sebagainya. Setelah siap, akupun memutus kan untuk turun menuju ruang makan yang ada dilantai 1 mengguna kan lift yang ada di sebelah kiri disamping kamar adikku yang berada disebelah kamar utama atau kamar ku. Aku pun berjalan dengan anggun nya sama seperti saat aku berada dipanggung dunia Entertaiment. Saat sudah sampai ke depan pintu yang cukup besar dan lebar itu, 2 pelayan pria yang sudah berjaga disana langsung membukakan pintu untuk ku dan menyambut ku dengan sopan.


"Nyonya muda, para nona muda sudah menunggu anda di ruang makan." Seru salah satu pelayan pria itu padaku.


" Baiklah, aku mengerti!" Jawab ku sambil tersenyum manis. Aku pun melangkahkan kaki ku masuk.


"Selamat pagi, Lia~. Kita makan! Pramusaji nya udah nyiapin makanan." Seru saudara perempuanku yang lebih muda 5 bulan dariku. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah nya itu, dan berjalan menuju meja makan no. 10. Kenapa? Karena ruang makan yg ada dilantai 1 me- rupakan satu-satunya ruang makan yang ada dirumah ini, dan sengaja diisi dengan 20 meja makan berukuran besar × panjang supaya bisa diisi atau diduduki oleh sekitar 200-500an orang. Akupun menyapa hangat kedua saudari dan para pelayan ku itu, dan duduk dikursi untuk kepala keluarga.


"Selamat pagi juga, kk Lia." Sapa adik ku, Amel.


"Kk, tadi papa telpon. Katanya," ucap adikku yang kemudian menjeda ucapan nya. Karena heran + penasaran, akupun memerintahkan pada nya untuk melanjutkan ucapan nya itu.


"Hm?, lanjutkan!" Titah ku pada nya.


"Katanya, pulang sekolah nanti, kita harus pulang ke mansion keluarga, alias mansion Albert. Gimana, kk? Apa kita harus pulang ke rumah? Atau, kita cari alasan lain."


Degh...tidak kusangka, benar-benar tidak kusangka bahwa 'dia' yang menyandang gelar seorang ayah namun memperbudak atau memperalat putri sulungnya itu bisa dengan mudah nya memanggil sang putri untuk kembali tinggal dirumah nya. Padahal, sudah 3 tahun dia tidak mempedulikan ku yang tidak kunjung kembali kerumah nya. Jangankan menanyakan kabarku, berusaha mencari tahu tempat yang aku tinggali saja dia tidak pernah. Dan, sekarang dengan mudah nya ia memintaku untuk kembali! Benar-benar aneh! Apa yang akan terjadi setelah ini? Firasatku mengatakan bahwa sesuatu yang besar akan terjadi, sesuatu yang akan mengubah hidupku. Tapi, apa? Apa itu, apa yang akan terjadi? Entahlah, yang jelas sekarang aku hanya bisa pasrah. Aku harus, datang dan menghadapi nya, aku tidak bisa lari lagi. *Batinku berkecamuk.


"Kk, kakak?" Tanya Amel cemas yang sepertinya sudah menduga akan reaksi ku yang seperti ini.


"Mel, bilang sama papah kita sibuk. Abis pulsek kita masih a---" belum sempat saudariku Ella melanjutkan omongannya, akupun langsung dengan cepat memotong nya. Yah, aku mengerti kenapa Ella mengatakan hal itu. Lagi pula, sejak kecil ia memang cukup peka akan keadaan sekitar. Walaupun tidak sepeka diriku, tapi setidak nya ia lebih baik daripada adikku yang kurang peka itu.


" Gpp, El. Kakak, baik-baik aja. Amel, bilang kepapah kita pasti dateng, kok!" Potong ku, yang seketika membuat nya menghembuskan nafas nya kasar.


" Ayo, habiskan makanannya and let's go to high school." Ucap ku pada mereka berdua.


"O.K." sahut mereka berdua sebagai jawaban. Setelah mereka menghabiskan makanan, kami pun memutuskan untuk pergi kesekolah. Namun, sebuah suara menghentikan langkahku. Ya, itu adalah suara deringan handphone ku. Menandakan bahwa ada panggilan yg masuk, setelah melihat siapa si 'penelpon' itu, akupun memutuskan untuk pergi menjauh dari kedua saudariku itu. Dengan maksud, agar mereka tak mendengar isi percakapan kami. Dan, setelah menjauh dari mereka berdua aku pun mengangkat panggilan itu.


*Via telpon on


"Halo, pah. Ada apa?" Tanyaku cemas.


"Nanti saat disekolah, akan ada seorang gadis yang bernama Cherlin Flora Amanda. Dia gadis polos yang baik, berteman lah dengan nya. Ingat, aku Papa mu, aku tau apa yang baik dan yang tidak untukmu. Mengerti!?!" Ucap nya panjang lebar padaku, yang benar-benar membuatku muak. Yah! Yang baru saja menelpon dan berbicara dengan ku, adalah Papa ku, Tn. Rafael Zion Albert.


"Ya, pa. Aku mengerti! Aku," balasku yang kemudian menjeda ucapan ku.


"Aku, akan berteman dengan nya." Lanjut ku menyelesaikan kalimatku.


"Hm, bagus. Memang seharusnya begitu! Yasudah kalau begitu, aku tutup telpon nya dulu."


"Mm, ya baiklah. Sampai jum---"


Tuut...tuut...(kira-kira, kayak gitu, deh. bunyi dering telpon nya ditutup:v)


*via telpon of


belum sempat aku menyelesaikan ucapan ku, ia langsung menutup telpon secara sepihak, tanpa mau mendengar ucapanku lagi.


*Flasback off


Dan, kini kami bertemu. Saat, aku mendengar nama nya, aku kembali teringat akan ucapan Papaku pagi tadi. Yang meminta... ah, tidak. Bukan meminta, melainkan memberi perintah. Perintah untuk ku berteman dengan nya. Baiklah, akan ku ikuti permainan ini. Akan ku cari tahu, alasan 'dia' ingin berteman dengan ku serta beliau yang memerintahkan kepada ku untuk berteman dengan nya.


"hpmh, let's play the game" batinku sambil tersenyum smirk.


Ah, dan ya, sepertinya kali ini adikku juga menyadari dengan cepat akan apa yang sedang aku lakukan, benar-benar peka.