
"Heh, gimana? Seneng lo, hah?" Tanya seorang pria.
"Haha, ya pasti seneng lah. Orang baru aja gue dapet duit lagi dari sib*d*h itu." Balas sang gadis.
"Berapa?"
"Apanya? Tabungan gue dapet duit dari waktu itu atau.."
"Dua-duanya!" Perintah pria itu.
"Hm, kalau tabungan gue dari pertama kali dapet duit, sekitar 5,6 Milyar." Seru gadis itu.
"Kalau yang kemarin lo dapet?" Tanya sang pria sekali lagi.
"Em, 50 juta." Ucap gadis itu yang membuat sipria tersenyum lebar.
"Haha, bagus-bagus. Sekarang, kita bisa party-party." Ucap pria itu senang.
"Ya iyalah party, orang tu cewek sekali nya mau ngasih duit langsung maen puluhan juta. Hah, Udah kaya, b*d*h lagi! Benar-benar target yang sangat sempurna. Ohya, gimana, perkembangan 'hubungan' lo dengan tu cewek?" Tanya balik sang gadis.
"Heh, apalagi, ya lancar lah. Dia tuh, bener-bener cewek penurut. Bener-bener babu sejati." Ucap nya tersenyum miring.
"Yah, menjalin hubungan palsu sepasang kekasih yang saling mencintai. Padahal, yang jatuh cinta cuman tuh cewek, doang. Dan lo, selama ini diam-diam, ah, nggak nggak, lebih tepatnya, terang-terangan. Ahahah..., hah, gila, sakit perut gue. Tuh cewek b*d*h banget, masa gitu aja nggak ngerti sih. Lo selama ini juga dekat dengan cewek lain terang-terangan didepan dia, dan dia, dia dengan mudahnya percaya gitu aja, sama apa yang lo bilang. Lo ngenalin tuh cewek sebagai sahabat, bukan. Lo, ngenalin sahabat gue Cecil sebagai sahabat lo. Padahal, Cecil itu pacar lo yang sebenarnya. Dan dia percaya gitu aja, dong. Hah, ya ampun, kasian banget tu cewek, haha!" Ucap nya merendahkan 'dia'. Dan, tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu gudang yang dibuka paksa.
Brakk... begitulah bunyi keras yang terdengar dari arah pintu gudang, semua nya menoleh dan mereka sangat kaget akan wajah yang ada didepan mereka. Terkejut, gugup, takut, cemas, semua perasaan itu tercampur menjadi satu.
"Br*ngs*k kalian." Teriak seseorang.
"M*mp*s, ada Lia, Amel, Dika, dan Ella. Sejak kapan mereka ada disitu?"
"E Ella, Lia, kk Dika. A.ha.ha. sejak kapan kalian semua ada di...situ?" Ucap nya tersenyum kecut.
"Sejak lo berdua ngomongin sodara gue dibelakang nya." Jelas Ella dengan emosi nya yang menggebu-gebu.
"Gue nggak nyangka bisa dengar ini semua dari mulut kalian langsung. Gue kecewa ama kalian berdua, terutama lo Cher, gue nggak nyangka lo bisa setega ini." Ucap Dika menatap kecewa pada mereka berdua.
"Asal lo berdua tau, Lia, dia sebenarnya udah tau tentang rencana kalian berdua. Tapi apa, dia tetap ngikutin semua permainan kalian tanpa kalian sadari. Bukan dia yang bodoh, tapi kalian berdua. Kalian yang sama sekali nggak nyadar kalau Lia sebenarnya udah tau tentang permainan kalian." Timpal Dika lagi.
"Hmph, ahaha." Tawa hambar Lia berderai air mata.
"Kk Lia..." ucap Amel menatap heran sekaligus kasihan kepada sang kakak.
"Kalian kenapa gitu, aku gapapa, kok. Aku baik-baik aja, kalian nggak perlu khawatir, ya. Haha" ucap Lia yang lalu tertawa hambar.
"Kalian benar, aku memang cuman cewek bodoh. Aku pengecut, meski tau kebenaran nya, aku tetap biarin semua nya gitu aja. Aku yang terlalu takut untuk bersuara, bagaimana bisa dengan lantang nya berbicara." Timpal Lia lagi, tersenyum hambar.
"Udah lah, kita...pergi aja, yuk. Jangan ganggu mereka.." lirih Lia dengan uraian air mata.
"Mulai sekarang, kalian berdua, udah bukan teman gue lagi. Selamat tinggal!!!" Ucap Dika, teguh.
"KAK, KAK DIKA. JANGAN GINI, KK. SEMUANYA NGGAK BOLEH BERAKHIR GITU AJA. AKU SAYANG SAMA KAKAK!! Hiks...hiks..huahahah...aku sayang sama kakak, benar-benar sayang, tapi kakak nggak tau itu. Kakak tega, kk Dika kejam. Huhu..." Teriak Cherlin sambil berusaha mengejar Dika. Dan berakhir jatuh, menangis, dan hanya bisa menatap serta berbicara dengan lirih. Terduduk, dan menatap bahu lebar Dika yang semakin menjauh dari pandangan nya. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa, 4 orang secara bersamaan tanpa sengaja berjalan melewati gudang dan mendengar pembicaraan mereka? Juga, mengatakan bahwa Lia sudah tau semua permainan mereka sedari awal?