Allia

Allia
-> Part 10



Lia, dia pergi meninggalkan mereka berdua. Diikuti oleh Ella, Amel, dan Dika. Dia menangis, tapi tanpa diketahui semua orang, dibalik tangis menyedihkan nya itu, tersimpan sebuah senyuman yang tipis setipis kertas. Ada apa sebenarnya? Bagaimana Lia bisa mengetahui tentang permainan mereka semua? Seharusnya, yang kalian tanyakan adalah, mengapa Camellia selalu melihat kearah dinding sekolah yang kosong sedari tadi? Dan, ada apa didinding kosong itu? Ingin tau!?! Kita mundur 1 bulan ke belakang.


Kilas balik dimulai*


Lia pov*


Akan ku cari tahu, alasan 'dia' ingin berteman dengan ku serta 'beliau' yang memerintahkan kepada ku untuk berteman dengan nya. Dan, dilihat dari betapa ketidaksukaan nya Ella pada Cherlin, bisa kukatakan dengan pasti bahwa gadis ini bukanlah gadis baik dan polos. Hah, tentu aku akan bergerak seperti yang kau inginkan. Hal pertama yang kau lakukan adalah untuk membuat hubunganku dengan saudari ku menjadi renggang, bukan? Of course, why not!?!


"El, kamu kenapa? Dari tadi sikap kamu kok aneh terus, sih!? Kamu kayak nggak suka sama dia." Seru ku memotong ucapan nya.


"Abis nya, dia aneh. Pokok nya gue nggak suka sama dia, dan nggak akan pernah suka."


"Em, maaf mengganggu tapi, lo ada masalah apa ya sama Cherlin? Perasaan, kalian baru ketemuan sekarang. Kenapa, lo langsung nggak suka sama dia?" Ucap salah seorang murid yang seperti nya merupakan teman dekat nya Cherlin, terlihat dari sikap nya sedari tadi yg seperti tau tentang rencana Cherlin. Dan, dia benar-benar mengganggu.


" Serah gue, dong. Yang nggak suka kan gue, bukan lo! Jadi, lo lebih mending diam aja! Jan banyak 'ba.cot'." Ucap nya sambil menekan kan kata 'bacot'. Ingin rasanya aku tertawa, tapi sandiwara harus tetap berjalan.


"El, kalau kamu tetap bertingkah kekanak-kanakan kayak gini terus, aku nggak bakal mau bicara sama kamu. Minta maaf, cepat minta maaf. Minta maaf ke teman-teman aku atau, aku bakal nggak mau ngomong sama kamu selama seminggu!" Ancam bohongan ku padanya.


"Hah? Lia, jadi lo lebih percaya sama kata-kata dia, hah???" Tanya nya sambil menunjuk kearah Cherlin dengan nada yang sedikit meninggi.


"El, yang sopan. Mereka itu, teman-teman aku" ucap ku tegas pada Ella.


"Heh, jadi lo lebih pilih mereka yang baru aja lo kenal !, ketimbang saudari lo sendiri !?" Ucap nya seraya menatap ku tak percaya.


"Bukan gitu, El. Aku cuma---" belum selesai aku melanjutkan omongan ku, ia langsung memotong.


"Nggak gitu, gimana? Hah?, bukan gitu, gimana maksud lo! GUE TANYA, BUKAN GITU, GIMANA MAKSUD LO CAMELLIA ATHANASIA QUEENZE ALBERT!!!" Marah nya pada ku sambil berteriak dengan keras padaku.


"Ma, maksud aku, aku..." seru ku berpura-pura gugup.


"Arrghhh, udah deh. Males gue ngomong ama lu, awas aja kalau lu berani dekat-dekat ama adek gue. Mulai sekarang, lo bukan saudari gue lagi, paham!?" Ucapnya marah sekaligus frustasi. Dan lalu, ia pun pergi meninggalkan ku sendiri bersama Cherlin dkk. Aku pun berpura-pura sedih, lalu seperti sandiwara-sandiwara ku yang lalu saat bermain film, seharusnya sekarang ia akan meminta maaf sambil mengucapkan kata-kata yang membuat nya terdengar menyesal, tidak lupa juga dengan raut wajah yang akan ia buat amat sangat sedih. Seakan-seakan, ia benar-benar merasa bersalah akan apa yang terjadi baru saja.


1...


2...; dan


3...


"Ma, maafin aku ya, Lia. Aku benar-benar nggak bermaksud untuk ngebuat kalian jadi bertengkar kayak gini. A aku, aku cuman, aku cuman mau berteman sama kalian aja. Beneran!" Ucap nya dengan raut wajah yang dibuat sedih.


"I iya, gpp. Ini, bukan salah kamu." Ucap ku sambil tersenyum manis tetapi sarkastik.


"Yaudah, yuk kita kekantin. Laper nih, hiks" ucap salah seorang teman Cherlin yang tadi sempat berbicara.


"Oh, ya. Aku, belum kenalan sama kalian. Nama kalian siapa?" Tanya ku pada kedua teman Cherlin itu.


"Oh iya, lupa. Kenalin, aku Cecil Priscillia. Sebenarnya, teman-teman yang lain tau nya nama aku itu Cecil Dirgantara. Tapi, karna lo teman nya Cherlin jadinya aku kasih tau nama asli aku." Ucapnya memperkenalkan diri.


"Oh, gitu. Yaudah, yuk kekantin" ucap ku tersenyum manis namun sarkas.


"Yuk!" Ucap Cherlin dkk.


~Skip~ kantin.


Yah, saat kami, ah, tidak, yang benar adalah saat aku memasuki kantin. Ada banyak sekali celotehan yang dilontarkan oleh para murid padaku. Namun, Brak... tiba-tiba ada seseorang yang menggebrak meja dan membuatnya menjadi pusat perhatian para penghuni kantin.


"DIAM, KALIAN SEMUA!!! Kasian mubar nya," ucap murid yang menggebrak meja tersebut.


"Lah, napa emangnya???" Tanya salah seorang murid.


"Ya, kasian! Harus ngeliat muka monyet kalian semua,


hehe" ucap nya mengejek dan diakhiri dengan cengiran kuda.


"KAMPRET" teriakan para murid yang mengisi kantin tersebut.


"Wkwk, pada baperan, dong!?! Hahaha..." dan, begitulah, bagaimana ia tertawa terbahak-bahak.


"Cher, duduk sini aja ***. Kasian Lia nya, nggak dapat tempat duduk yang bagus. Haha" ucap pria itu lagi. Dan, anehhya, Cherlin terlihat senyum-senyum sendiri.


"Eh, iya kk Dika." Dika Ardiano, orang tadi ialah Dika. Sepertinya ia sudah mengenal dan bahkan dekat dengan Cherlin, dan Cherlin pun terlihat memiliki atau memendam sebuah perasaan yang melebihi pertemanan, namun sayang, sepertinya Dika tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Dengan kata lain, cinta yang bertepuk sebelah tangan.


"Hah, sudahlah." Pikirku. Saat akan duduk, salah seorang teman Dika langsung membisikkan sesuatu pada Cherlin.


"Hm, bagus! Lo udah nepatin janji lo saat itu. Sekarang, lo udah bebas. Lo bisa dekatin dia." Kira-kira seperti itulah yang di bisikkan orang misterius itu. Cherlin hanya tersenyum smirk. Yah, jangan salah, telingaku ini cukup peka untuk mendengarkan seseorang yang sedang berbisik.


"Hmph!" Dehem seseorang yang ternyata sedari tadi terus memperhatikan mereka sambil tersenyum smirk. Yah, aku hanya bisa tersenyum bangga, karna dia memang tidak pernah bisa mengecewakan ku. (Siapa, hayyo~😊)


~Skip~ masuk kelas.


Semua orang berbondong-bondong memasuki kelas masing-masing, begitu juga dengan Cherlin dkk Serta Dika. Dan, seseorang tiba-tiba saja memegang tangan ku.


"Nanti, lo mau nggak pulang bareng gue? Ada yg mau gue omongin berdua sama lo." Ucap 'dia'.


"Hm, boleh. Emang nya, kamu mau ngomong apa?" Tanya ku balik, setelah menjawab pertanyaan 'nya' itu.


"Ada aja, nanti juga lo tau. Yok, kita masuk kelas!" Balas pria misterius itu.


"Hmph, memang tidak pernah meleset." Batin ku tersenyum puas.


"Hm, yaudah deh. Yuk!" Ajak ku balik.