Allia

Allia
-> Part 14



Kata 'tidak' akan menjadi sangat menyakitkan untuk didengar, apabila diucapkan setelah kau berjuang keras untuknya.


《Camellia Athansia Queenze Albert》


Sekarang aku berjalan menuju taman belakang sekolah tempat mereka biasanya akan berkumpul. Aku menatap kamera CCTV yang terhubung ditablet ku, kini terlihat mereka berdua (Devan dan Cherlin) berjalan menuju gudang sekolah, dan rekaman kamera lainnya menunjukkan Ella, Amel, dan Dika yang berjalan menuju tempatku berada.


"Baiklah, mari kita mulai film nya." Batin Lia dengan senyum miring diwajah nya. Ia pun duduk dibangku yang terbuat dari batu itu dengan posisi membelakangi arah masuk nya mereka.


"Hiks... kenapa Devan, kenapa kamu tega bohongin aku? Kenapa kamu... nggak jujur aja sama aku? Kenapa kamu nggak jujur kalau kamu itu suka sama Cecil?? Hiks... hiks... Ah, nggak. Bukan suka, tapi kamu emang dari awal udah pacaran sama dia, kan?! Iya, kan!?!"


"Hiks... kenapa kalian berdua tega bohongin aku kayak gini??? Cherlin, aku... aku anggap kamu sebagai teman yang baik. Tapi, tapi aku sama sekali nggak nyangka kalau... kalau kamu ternyata cuman manfaatin aku. Aku nggak tau kalau kamu berteman sama aku cuman demi uang, kalau... kalau aku tau itu, aku pasti bakal kasih kamu berapapun yang kamu mau... asal kamu jujur sama aku... huaaa... hiks...hiks..." tangis Lia (pura-pura)


"Cukup, Lia! Lo nggak perlu nangis cuma buat manusia nggak berguna kayak mereka berdua." Tegas Ella yang sudah menahan amarah.


"E... Ella!?! Ka... kamu sejak kapan ada disini??" Kaget Lia (pura-pura)


"Udah sejak tadi, kk!" Sahut Amel.


"Amel, kamu..." kaget Lia lagi.


"Iya, Lia. Aku setuju sama Ella, kamu nggak perlu nangis lagi. Sekarang, mereka ada dimana?" Sahut Dika yang sudah terlihat, entahlah. Bisa dibilang, saat ini perasaan kecewa dan amarah nya bercampur menjadi satu dan atensi disekitar nya menjadi dingin.


"Ka... kalian... baiklah, ayo ikuti aku!" Pasrah Lia sekaligus terharu.


🌹🌹🌹


Kini mereka sudah sampai didepan gudang, Lia memutuskan untuk diam didepan gudang dan membiarkan mereka mendengar nya sendiri.


"Heh, gimana? Seneng lo, hah?" Tanya seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah Devan.


"Haha, ya pasti seneng lah. Orang baru aja gue dapet duit lagi dari sib*d*h itu." Balas sang gadis. Siapa lagi kalau bukan Cherlin.


"Berapa?"


"Apanya? Tabungan gue dapet duit dari waktu itu atau.."


"Dua-duanya!" Perintah Devan.


"Hm, kalau tabungan gue dari pertama kali dapet duit, sekitar 5,6 Milyar." Seru Cherlin.


"Kalau yang kemarin lo dapet?" Tanya Devan sekali lagi.


"Em, 50 juta." Jawab Cherlin yang membuat Devan tersenyum lebar.


"Ya iyalah party, orang tu cewek sekali nya mau ngasih duit langsung maen puluhan juta. Hah, Udah kaya, b*d*h lagi! Benar-benar target yang sangat sempurna. Ohya, gimana, perkembangan 'hubungan' lo dengan tu cewek?" Tanya balik Cherlin.


"Heh, apalagi, ya lancar lah. Dia tuh, bener-bener cewek penurut. Bener-bener babu sejati." Ucap nya tersenyum miring.


"Yah, menjalin hubungan palsu sepasang kekasih yang saling mencintai. Padahal, yang jatuh cinta cuman tuh cewek, doang. Dan lo, selama ini diam-diam, ah, nggak nggak, lebih tepatnya, terang-terangan. Ahahah..., hah, gila, sakit perut gue."


"Tuh cewek b*d*h banget, masa gitu aja nggak ngerti sih. Lo selama ini juga dekat dengan cewek lain terang-terangan didepan dia, dan dia, dia dengan mudahnya percaya gitu aja, sama apa yang lo bilang. Lo ngenalin tuh cewek sebagai sahabat, bukan. Lo, ngenalin sahabat gue Cecil sebagai sahabat lo. Padahal, Cecil itu pacar lo yang sebenarnya. Dan dia percaya gitu aja, dong. Hah, ya ampun, kasian banget tu cewek, haha!" Ucap nya merendahkan 'dia'. Dan, tiba-tiba saja terdengar bunyi pintu gudang yang dibuka paksa.


Brakk... begitulah bunyi keras yang terdengar dari arah pintu gudang, semua nya menoleh dan mereka sangat kaget akan wajah yang ada didepan mereka. Terkejut, gugup, takut, cemas, semua perasaan itu tercampur menjadi satu.


"Br*ngs*k kalian." Teriak Ella yang marah padahal ia sudah melampiaskan sedikit amarah nya pada pintu tadi dengan cara menendang nya.


"E Ella? Sejak kapan tu anak ada disini? Hah, mati gue." Batin Cherlin gelisah.


"M*mp*s, ada Lia, Amel, Dika, dan Ella. Sejak kapan mereka ada disitu?" Batin Devan cemas.


"E Ella, Lia, kk Dika. A.ha.ha. sejak kapan kalian semua ada di...situ?" Ucap Cherlin tersenyum kecut.


"Sejak lo berdua ngomongin sodara gue dibelakang nya." Jelas Ella dengan emosi nya yang menggebu-gebu.


"Gue nggak nyangka bisa dengar ini semua dari mulut kalian langsung. Gue kecewa ama kalian berdua, terutama lo Cher, gue nggak nyangka lo bisa setega ini." Ucap Dika menatap kecewa pada mereka berdua. Yah, bagiku ini adalah reaksi yang alami.


"Asal lo berdua tau, Lia, dia sebenarnya udah tau tentang rencana kalian berdua. Tapi apa, dia tetap ngikutin semua permainan kalian tanpa kalian sadari. Bukan dia yang bodoh, tapi kalian berdua. Kalian yang sama sekali nggak nyadar kalau Lia sebenarnya udah tau tentang permainan kalian." Timpal nya lagi.


"Sekarang giliranku." Batinku berucap.


"Hmph, ahaha." Tawa hambar Lia berderai air mata.


"Kk Lia..." ucap Amel menatap heran sekaligus kasihan kepada sang kakak.


"Kalian kenapa gitu, aku gapapa, kok. Aku baik-baik aja, kalian nggak perlu khawatir, ya. Haha" ucap Lia yang lalu tertawa hambar.


"Kalian benar, aku memang cuman cewek bodoh. Aku pengecut, meski tau kebenaran nya, aku tetap biarin semua nya gitu aja. Aku yang terlalu takut untuk bersuara, bagaimana bisa dengan lantang nya berbicara." Timpal Lia lagi, tersenyum hambar.


"Udah lah, kita...pergi aja, yuk. Jangan ganggu mereka.." lirih Lia dengan deraian air mata.


"Mulai sekarang, kalian berdua, udah bukan teman gue lagi. Selamat tinggal!!!" Ucap Dika, yakin.


"KAK, KAK DIKA. JANGAN GINI, KK. SEMUANYA NGGAK BOLEH BERAKHIR GITU AJA. AKU SAYANG SAMA KAKAK!! Hiks...hiks..huahahah...aku sayang sama kakak, benar-benar sayang, tapi kakak nggak tau itu. Kakak tega, kk Dika kejam. Huhu..." Teriak Cherlin sambil berusaha mengejar Dika. Dan berakhir jatuh, menangis, dan hanya bisa menatap serta berbicara dengan lirih. Terduduk, dan menatap bahu lebar Dika yang semakin menjauh dari pandangan nya.