AISTRA

AISTRA
perkara switer



Kini mereka sudah berada di depan pagar besar belakang sekolah yang megah itu


"kak brayen, gimana cara masuk nya"keluh Eyana menatap pria yang berada di samping nya itu


"simpel, tinggal jadi monyet aja"jawab Brayen sembari menyilangkan kedua tangannya di dada


"iihh, Eya mana mau jadi monyet, mendingan jadi kecebong, emang kak brayen tau cara jadi monyet itu gimana" mungkin jika dipikirkan apakah ada orang yang bisa berubah menjadi monyet


"pasti tau lah, enggak ada hal di dunia ini yang gw gak tau"


"gimana?"


Brayen langsung maju ke depan membuktikan jika ia bisa, setiap pergerakan nya tak luput dari perhatian Eyana, membuat nya semakin percaya diri.


Hap


Dengan kuat ia berpegangan pada pagar, memanjat naik


"widihhh... keren!, udah kaya monyet aja, tapi kok gk berubah" seru Eyana kagum melihat aksi Brayen yang dengan sangat mudah untuk memanjat gerbang besar


"iya dong, gue mah emang slalu keren!"sahut brayen sambil duduk di atas pagar besi itu


iya tak mengambil hati dengan omongan eyana yang mengatakan jika ia sudah seperti monyet, tapi lebih mengambil hati atas pujian yang di lontarkan jika ia sangat keren.


"tapi gimana cara buat eya naik!, terbang aja gk bisa, apa lagi manjat"celetuk Eyana


"urus aja urusan lo sendiri!"balas


brayen lalu langsung meloncat ke bawah


Eyana langsung mendekat ke pagar


"lah gimana sama eya, masa eya diam aja di sini"ujar eyana meratapi keadaan mereka yang ter halang pagar


"masa bodo, wee.."ejek Brayen sembari menjulurkan lidah nya lalu beranjak kabur dari tempat itu


"Eh!! jangan tinggalin eya!!, kak brayen"eyana terus saja berteriak teriak mungkin brayen akan berpikir ulang untuk meninggalkan nya, namun itu hanya sebuah hayalan,


Bagaimana dengan nasib nya kini, harus meminta bantuan pada siapa.


...----------------...


kelas tengah berlangsung, dari tadi sorot mata brayen terus saja mengarah ke luar jendela


"dari tadi kamu ngeliatin apa Brayen?"


ibu guru yang tengah mengajar menegur nya, Pastinya karna sejak dari tadi menjelaskan pelajaran hanya Brayen yang tak memperhatikan nya, ia tak ingin jika ada anak murid nya yang tidak pahama akan suatu pelajaran.


Semua orang menjadi menatap nya


"hehe gk ada bu"brayen menjawab nya cengengah cengingih


"brayen lagi ngeliatin Eyana bu"tiba-tiba saja galen yang berada di samping nya angkat bicara


howw ia jadi bahan bisikan teman teman nya.


"jangan asal ngomong lo gal, serius bu brayen cuma ngeliat pem_"


"ibu gk perlu penjelasan dari kamu, diam perhatiin ibu dan dengarkan penjelasan tentang materi hari ini" ibu guru memotong ucapan brayen yang belum selesai


Brayen menghelakan nafas nya


"jadi ibu pengen diperhatiin hmmm..?,


Yaudah brayen bakalan jadi orang nomor satu yang bakalan merhatiin ibu, mendengar kan ibu dengan baik"


Brayen mengucapkan dengan tulus


"kew kew"seruan para murid


Ibu guru yang usia nya kisaran 30han itu agak sedikit luluh.


"yasudah mari kita lanjut ke halaman berikut nya"ibu guru berkemeja putih itu berusaha konsisten


"ke halaman yang mana bu"brayen bertanya sudah seperti orang bodoh saja


"halaman sebelah nya itu"


"kalau ke halaman hati ibu aja boleh gk"brayen berusaha menggoda ibu guru nya, karna ia tau jika ibu yang meng ajar saat ini anti godaan


"jangan becanda, hati ibu gak punya tanah apalagi punya halaman"


Balasan menohok untuk brayen


Brayen ter peranjat yang benar saja pria bencong /waria yang sering di sapa memes itu melambaikan tangan pada nya, rasanya Brayen ingin muntah.


...----------------...


Bel istirahat telah berbunyi, orang


Orang langsung melakukan kegiatan mereka masing masing.


Kini brayen tengah menaiki sepeda nya, yang tadi ia tinggal di depan gerbang sekolah.


Dengan wajah angkuh nya ia mengayuh sepeda nya menuju suatu tempat, Ia kembali menjadi sorotan memang itu yang ia mau, begitu menyombong kan harta, padahal baru beberapa minggu bersekolah di sana, sudah seperti si paling senior saja.


Tak sedikit Para gadis-gadis yang meliat brayen terpesona dengan ketampanan nya dan damage nya saat ber sepeda


"bukannya itu sepeda yang termahal di ASIA, yang cuma di produksi 5 buah aja, cuma orang orang beruntung yang bisa dapetin tu sepeda, OMGGG!! seberapa kaya sih orang tuanya Brayen"seru seseorang membicarakan Brayen bersama teman teman nya, sungguh karna itu membuat jiwa sombong brayen semakin berkobar.


Ia terus saja mengayuh hingga ia berhenti di depan seorang perempuan yang tengah menerima hukuman dengan berdiri di lapangan dengan buku di atas kepalanya


Siapa lagi jika bukan Eyana, ia harus menerima hukuman karna ia ketahuan terlambat oleh bk yang saat itu sedang lewat untuk ke wc, malah bertemu dengan Eyana yang merengek tak dapat memanjat pagar.


Sedang kan brayen keberuntungan Masih berpihak padanya, untung saja bu guru anti godaan itu belum masuk ke kelas.


Brayen menertawakan nya, namun masih setia duduk di sepeda mahal nya itu.


"kasian banget sih lo"ejek nya


"Gini juga eya gara gara kaka, untung aja eya gk kasih tau ke bk kalau kak brayen juga telat"balas eyana menakuti


Brayen me memasang standar nya lalu turun dan berjalan mendekat pada eyana,


Bukan brayen jika ia harus takut


"lo pikir gue takut sama ancaman kecebong kecil kayak lo"tonjok brayen tepat di wajah Eyana


Eyana hanya diam tak bergerak menatap manik mata brayen yang bertabrakan dengan manik mata nya, jika ia bergerak maka tumpukan buku di atas kepalanya bisa jatuh.


Brayen lebih dulu memutuskan kontak eye mereka


ia terundur ke belakang


Shettt desis nya


ia merasa nyut nyut tan di area kepala dan jantung nya sepertinya berdetak sangat cepat


Buku yang berada atas kepal Eyana menjadi berjatuhan, karna Eyana bergerak akibat refleks ketika Brayen mendesis


"kak Brayen kenapa"eyana khawatir tak memedulikan dengan hukuman nya saat ini


"gw sehat!, gue baik baik aja"tukas Brayen yang berusaha menyembunyikan sakit kepala nya


"tapi tadi kak bra_"


"gue baik baik aja"belum selai eyana bicara brayen telah menyambarnya


Brayen kembali menaiki sepeda nya mengayuh nya menuju kantin,


Eyana terdiam dengan kepergian brayen, baru saja brayen pergi beberapa siswi menghampiri nya.


"Eh kutu beras!, abis ngomongin apaan lo barusan sama Brayen!"tanya salah seorang siswi yang bernama velin dengan nada agak sedikit keras


Eyana agak sedikit takut tapi mau bagaimana lagi ia di kelilingi 4 orang


"emangnya apa hubungannya sama kalian"


"jadi lo gk mau ngasih tau kita nih"lanjut salah mahasiswi ber bando, yang mlai agak sedikit mendekat pada Eyana


"apa jangan-jangan lo pacar nya Brayen?" tebak velin


Eyana melongo tak percaya bisa bisa nya meraka berfikir jika ia dan brayen ber pacaran, ia berfikir siapa sih yang mau jadi pacar Brayen.


"kita gk pacaran"elak eyana


"terus switer yang lo pakai itu punya Brayen kan"


"kok Mereka tau sih" batin eyana


"bukan!,bu_bukan!, yang eya pakai bukan punya brayen"


"lo gk bisa bohong lagi, di belakang switer yang lo pake itu, terpampang jelas nama Brayen"ucap velin terkekeh


Mata eyana seketika langsung membulat ia menjadi sangat malu pantas saja Dari tadi ia merasa terus di bicarakan