
(kantin)
Saat itu ke adaan cukup ramai mereka sibuk dengan makanan dan aktivitas masing-masing
Ter masuk galen dan Brayen kembali ber ulah mereka mengadakan konser dadakan
"angkat sendok garpu nya semua ke atas, kita nyanyi sama sama!!"ajak Brayen antusias
"main kan gitar nya maszee"pinta galen pada siswa di sebrang meraka yang jago bermain gitar
Alunan gitar sudah terdengar dengan nikmat
"indah nya bersama mu....
Terkenang sepanjang waktu...."brayen menyanyi menggunakan botol kecap sebagai mic nya
"mengingat ku aku rindu.....
senyum mu bukanlah untuk kuu..."lanjut galen yang naik ke atas meja brayen pun mengikuti nya semua orang pun bersorak
"Suci Nya Intan Permata!....
Tak Sebandingg....
tatapan mata mu untuk kuu...."nyanyi brayen penuh penghayatan
"Indahnya kilawan Mutiaraaaa...
Tak sebanding...
Kasih sayang ku untuk muuuuu...."Galen juga semakin ikut meng hayati
"Ehhh!!! Dasar bocah! Turun! Turun Kalian!!"teriakan bu salimah menyuruh mereka dengan paksa turun, menggeretak memukul meja dengan sapu yang ia bawa.
Brayen dan galen langsung turun ke bawah sembari dapat sorakan dari orang orang
konser mereka jadi hancur, padahal sudah sangat keren.
"kalau Mejanya Rusak Gimana Nanti!!"imbuh bu salimah
"nanti brayen ganti"
"halah, gorengan seribuan aja kamu ngutang Gimana mau beli meja"celetuk bu salamah
siapa yang tidak marah jika benda yang di rawat sepenuh hati, tiba-tiba ada orang yang berusaha merusaknya.
Bukan karena miskin Brayen menjadi harus ber hutang di warung bu salimah, tapi karna ia tak punya uang kecil
"kalau boleh tau, utangnya brayen udah berapa?"tanya brayen setelah meminum jus apel nya hingga tandas
"harus tau itu!, tunggu sebentar, ibu mau ngeliat catatan hutang dulu"ucap bu salimah seraya membuka buku yang ia jepit di ketek itu
bu salimah mencari nya dengan seksama dan akhirnya bu salimah menemukan nya.
"total hutang galen 675 rebu,
Kalau Brayen total hutang nya 340rebu"baca bu salimah
"anjirrr, bisa bayar kontrakan gw"gerutu galen
"emangnya lo ngontrak?"
Galen menggeleng sambil terkekeh
"masalah hutang, nanti brayen selesain, buat sekarang brayen gak punya uang kecil"ucap nya
"Astaghfirullah Hal Azim!!, 340 Nominal Yang besar!, 100 tiga lembar, 20 dua lembar, itu tu semua uang gede, kapan kalian bayar, saya juga butuh modal"ungkap bu salimah di hadapan semua orang
Galen mengernyitkan dahi nya, pusing harus apa karna ia sama seperti Brayen tak punya uang kecil, hanya ada kartu kredit
"nanti abis pulang sekolah, Galen bakalan minta papa buat nge lunasin"ucap Galen sembari memberikan senyumnya
Brayen langsung mendekat pada Galen
"ngapa gk sekarang aja lo, bayar"bisik Brayen heran
"gue gk punya uang kecil"balas galen
"harga diri kita sebagai orang kaya terancam, entar dikira orang, kita miskin"bisik Brayen lagi
"lah.. Mau gimana lagi"Cicit galen
"awas aja kalau gk bayar"ancam bu salimah dengan memandang mereka satu persatu lalu pergi kembali masuk ke dalam warung.
Mereka langsung kembali duduk di kursi bekas mereka Tadi,
Dari meja yang tak jauh dari sana Eyana mikaila dan erlin yang awalnya sedang menik mati makanan mereka,
terhenti akibat menyaksikan drama indosial tadi, sampai saat ini mereka masih menertawakan Galen dan brayen yang di tagih oleh bu salimah.
Sungguh me memalukan
Tawa yang begitu keras membuat pandangan galen tertuju pada trio micin yang asik menggibah, galen teringat sesuatu ia menyeringai lalu beranjak dari kursinya.
"lo mau kemana, dari tadi gw ngomong lo ngedengerin gk sih"tanya brayen bingung dengan Galen dari tadi ia bercerita pandangan galen terus saja mengarah trio micin
"nge lakuin apa yang harus gue lakuin"sahut Galen lalu melenggang pergi
Brayen mengernyitkan dahi nya entah apa yang ingin galen lakukan dengan menghampiri trio micin.
Ekhmm!
Perhatian ke tiga wanita itu langsung mengarah pada galen yang berdiri
"gue udah putusin What punishment is suitable for you?"celetuk galen tepat di hadapan erlin yang duduk,
Ia masih kesulitan untuk berjalan jadi banyak kegiatan ia habiskan dengan duduk
"gk paham"ungkap erlin karna dalam ber bahasa inggris ia sangat buruk
Galen membuang tatapan mata malas nya
"gue udah putusin, hukuman apa yang cocok buat lo"ujar nya lagi
"teruss?"lanjut erlin
Erlin yang bicara Eyana dan mikaila yang menjadi tegang
"malam ini lo sama Eyana harus datang ke club milik hairi yang baru buka" ucap Galen
"enggk ah, eya gk mau ke tempat kotor"celetuk Eyana dengan wajah polos nya
"di sana gk kotor, kebersihan jadi prioritas nomor satu"
"bu_bukan itu maksudnya"Eyana Bingung sudah jelas yang ia masuk itu adalah citra tempat nya, apakah ada club yang memiliki citra suci, pastinya tidak ada, karna itu tempat maksiat Yang bisa di ibaratkan tempat kotor.
"kalau kita ke sena emang nya mau ngapain"tanya erlin lalu ia menyuap potongan kue terakhirnya ke dalam mulut
"bercinta"
Ukhukk! Uhukh
erlin langsung tersedak karena kaget dengan apa yang di ucap kan galen
Erlin terbata bata dengan sigap ke dua sahabat nya menyerahkan air dan membantu nya tuk meminum dada nya terasa sesak dan tenggorokan nya sakit.
"gw cuma bercanda say"ucap Galen terkekeh
"jam 10 malam"bisik nya ketelinga erlin lalu pergi
Erlin kembali di buat ingin mati rasanya karna hembusan napas menerpa telinga nya
"gimana cara eya ke sana, pasti gk di bolehin"gerutu eyana
"maaf fin gw ya, karna gw lo jadi terlibat semua nya"Erlin merasa bersalah coba saja ia tau akan seperti ini, mungkin ia akan memilih mengaku kalah dan menerima di hukum seorang diri, tidak melibatkan orang lain.
Erlin sangat menyesali perbuatannya.
Penyesalan slalu di akhir jika di awal itu sadar diri
"gk apa apa kok"
...----------------...
(Pukul 09:45 malam)
Eyana mengendap ngendap keluar dari rumah nya yang sudah sangat gelap karna semua lampu sudah di matikan, ia sangat bersyukur karna malam ini ayah nya akan menginap di rumah paman nya yang mengalami gangguan jiwa, jika ayah nya pulang ke rumah maka ia bisa saja ketahuan, karna jam 10 malam adalah jam selesai bekerja ayah nya.
Dengan nama lengkap hendri Sunandi berstatus ayah nya eyana,
Ia sangat menyayangi eyana berbeda dengan ibu dan kakak laki-laki nya
Namun hanya saja hendri sangat jarang berada di rumah karna ia bekerja dan harus mengurus kaka nya yang mengalami gangguan jiwa.
hendri tak ingin memasukan kaka nya ke rsj karna menurutnya mungkin itu bisa membuat ia lebih sakit.
Slama ini kekerasan terhadap eyana tak di ketahui oleh hendri karna setiap kali bersama putrinya itu slalu tersenyum, dan bekas Bekas memer di tutupi, ibu dan kaka laki-laki nya pun berubah menjadi sangat baik
dan perhatian, sungguh ia begitu sedih mendapatkan kebenaran jika ibu dan kakak nya itu ber muka dua.