AISTRA

AISTRA
Switer



(SMA GLORA)


Jam telah menunjukkan pukul 08:05pagi


Erlin terlambat datang ke sekolah karna harus memijat kaki ibu nya,


Di sepanjang jalan Ia terus saja berlari karna kalian sudah pasti tau jika ia tak punya motor, motor yang tadi malam ia gunakan adalah milik Erlin.


Detak Jantung nya berpacu cepat dan kaki nya mulai keram hingga ia ter sungkur ke jalan


"hufhh, cape"keluh nya sadar di perhatikan orang orang di sekitar ia langsung bangun.


 dan membersihkan rok nya yang agak sedikit kotor, namun di sayang kan baju nya yang berwarna putih membuat susah tuk di bersihkan, apakah ke sekolah ia harus menggunakan seragam kotor, tidak mungkin jika ia harus kembali ke rumah hanya untuk mengganti baju, saat ini saja ia sudah terlambat.


"Ngapain lo disini" terdengar suara dari seorang laki-laki yang menggunakan sepeda berhenti tepat di samping nya.


"Eyana telat, Tadi Eyana lari abis itu jatoh, sekarang baju eya kotor"ucap nya jujur


"naik"perintah laki laki itu menyuruh eyana ikut bersamanya berangkat ke sekolah karena mereka sama sama terlambat


"yeay"cicit eyana lalu langsung duduk menyamping di paling depan sepada



☝️☝️☝️


Mungkin ada yang gk paham duduk nya eyana kek gimana tuh ibarat kan duduk nya gitu


laki-laki itu terus saja mengayuh pedal sepeda, pastinya jika tidak di kayuh mereka tidak akan bergerak.


Mata eyana tak bisa diam ia terus saja melihat lihat sekitar jalanan sekitar yang mereka lalui.


Meskipun setiap hari nya eyana lewat jalan sana ia tak brani tuk meliat kesana kemari menik mati indahnya bangunan bangunan besar itu, pandangan nya slalu lurus ke depan.


"kak Brayen tumben banget pake sepeda, biasanya eya liat kak Brayen pake motor gede"tanya eyana memulai pembicaraan agar suasana tak terlalu kaku


"Hari ini gue cuma mau pamer sepeda baru gue yang mahal, owh ya jangan panggil gue kak brayen, nge dengernya tu serasa gue udah tua, panggil gue brayen aja"jawab laki-laki itu rupanya ialah brayen


Seperti yang kalian tau brayen baru saja membeli sepa mahal niat awal nya ingin menyombong kan diri dengan kesekolah menggunakan sepada ehh malahan ia menjadi terlambat


Seperti itu lah Brayen sangat sombong entah sifat itu ia dapat kan dari siapa jauh dari sifat ke dua orang tuanya rendah hati dan dermawan terlebih ibunya yang memiliki hati selembut tisu, ia sangat penyayang.


"sombong itu gak bagus"nasehat eyana


"bilang aja kalau lo iri "


"eyana gk iri kok, lagian kalau mati juga gak bakalan nge bawa sepeda"imbuh eyana tak mau kalah


"gw cuma mau ngasih tau ke orang orang kalau gue itu kaya, pangkat gue lebih tinggi di bandingin mereka"sahut Brayen semakin menyombong


"kak brayen tau gak sama karma"


"emangnya kenapa, yang biasanya tukang gali kubur itu kan"Brayen salah pengertian


"bukan! om karma, itu yang aku maksut"eyana geram sendiri


"terus apaan?"


"karma karna terlalu sombong"ucap Eyana


"ck! Gk usah nyeramahin gw, emangnya lo ustadz"cetus brayen


"Eyana emang bukan ustadz, ustadz itu kan cowo"


Bryen pun menjadi malu


"emang nya kalau cewe apaan"


"ustadzah"


"gak usah nyeramahin gw deh, emang nya lo ustadzah"


Brayen mengulangi kalimat itu karana salah di akata ustadz yang seharusnya ustadzah, memang sungguh memalukan.


Hampir 10 menit di perjalanan akhirnya mereka sampai di depan gerbang sekolah yang sudah tertutup.


"pak satpam buka ngapa! Gk liat apa kita mau masuk!" teriak brayen pada satpam yang duduk di kursi


memang benar, brayen berteriak teriak memanggil satpam padahal jarak mereka mungkin hanya 2 meter.


"gk bisa, siapa suruh telat"jawab pak


satpam


"pak satpam bukain pagar nya eya janji abis ini gk bakalan telat lagi" mohon eyana


Mangeaa


"wee!, gk bisa gitu pak!"


brak brak brak


brayen berteriak sambil menggoyanggoyangkan pagar


"berisik udah sana pergi"tak di sangka jika mereka akan di usir


Brayen menghelakan nafas nya


Lalu ia ber lalu berjalan ke arah samping sekolah, meninggalkan sepeda nya yang terparkir, dan eyana terus saja mengikuti nya.


"ngapa lo ngikutin gue"tanya brayen menatap heran dengan eyana yang berada di samping nya


"eyana gk ngikutin Brayen"sahut nya


"masih aja ngelak, udah jelas jelas dari tadi lo jalan di belakang gue"cetus brayen


"eyana gk boong eya cuma mau ke warung mang tatang"jawab nya jujur


lalu berjalan lebih dulu meninggalkan brayen, Brayen Hanya diam menatap lekat punggung eyana yang sudah mulai jauh


langkah eyana terhenti karena brayen hanya diam


"kak brayen kenapa diam!"teriak nya ia kembali memanggil brayen dengan sebutan berbuat kata kak,sungguh Brayen tak menyukainya


Brayen Kembali berjalan, hingga tak lama kemudian mereka sudah sampai di warung mang tatang.


Mereka ber dua duduk di bangku panjang


"hmmm eya rasa, brayen deh yang ngikutin eya"ucap nya tiba-tiba


"terserah lo deh"brayen lelah tuk berdebat ia tidak mengikuti eyana hanya saja tujuan mereka memang sama


brayen melirik Eyana yang sudah dari tadi membersih kan baju bagian depan nya yang kotor


Brayen mendenguh


Ia membeli sebotol air lalu menarik Eayana berdiri, membawanya ke samping warung


"kalau lo gosok gosok aja tu baju gk bakalan bersih"ucap brayen ia langsung menyiram baju eyana di bagian yang kotor, Eyana pun juga langsung menggosok gosok nya hingga yang awalnya kotor karna tanah kini warna putih baju nya mulai kembali.


Breyen terus saja menyiram nya hingga mata nya tak sengaja menangkap pemandangan jika melihat itu hasrat laki-laki manapun bisa naik.


Pastinya karna baju putih yang basah jadi nya sangat menerawang tengtopnya yang berwarna hitam nampak terlihat.


Brayen langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain ia menjadi sangat gugup.


Air di botol itu telah habis dan baju eyana kembali bersih namun itu menjadi makin parah, bagai mana ia akan ke sekolah dengan baju yang menerawang bahkan tengtopnya saja terlihat.


Awalnya eyana tak menyadari hal itu, tapi setelah melihat perilaku aneh brayen ia langsung tersadar, dengan cepat ia menutupi are dada nya dengan tangan.


"jangan macam macam"ucap eyana langsung berbalik badan


Brayen menghelakan nafas nya ia melepas switer yang ia pakai lalu ia serahkan pada eyana.


"pakai"


Eyana langsung mengambil nya dan mengenakan nya, ia terlihat sangat lucu switer itu sangat besar berada di tubuh nya


"jadi gimana cara kita masuk ke sekolah"


"ikutin gue"ucap brayen berjalan lebih dulu ke arah belakang sekolah