AISTRA

AISTRA
ingatan yang hilang.



Beberapa hari berlalu Eyana menghabiskan hari Minggu nya dengan mengajak jalan jalan anjing mini Pomeranian, yang ia beri nama kancil.


"menurut kancil, malam ini papa pulang gk ya?"tanya eyana terus saja berjalan di pinggir jalan sambil menggenggam erat tali pengikat kancil


Guk~


Guk~


"hmm... Eya gk paham"ucap Eyana,


Pastinya tidak paham, memangnya ada orang yang mengerti bahasa anjing.


Ia terus saja berjalan hingga langkah kaki nya terhenti tepat di bawah Pohon yang dapat menaungi nya dari silau matahari sore.


Ia tertegun dengan apa yang ia lihat dan dengar, tepat di depan rumah nenek teman laki-laki masa kecil nya,


seorang laki-laki yang ia kenali keluar dari sebuah mobil lalu memeluk erat Nenek sahabat masa kecil nya itu


"aku kangen banget sama nenek"suara yang agak keras hingga tembus ke pendengaran Eyana


"B_Bra_Brayen"Eyana terbata bata menyebut nama laki-laki yang memeluk nene sahabat masa kecilnya.


"jadi... Brayen itu, kak Ais?"gerutu nya


Ia tak perca dengan semua ini, ternyata ia satu sekolah dengan sahabat masa kecil nya yang pergi meninggalkan nya itu.


"tapi kenapa kak Ais gk ngenalin Eya, setidak nya kak ais ingat sama nama Eya"


ia tak memungkiri jika brayen adalah kak Ais, orang yang slama ini ia tunggu, Tapi bukan kah nama nya Aistra sejak kapan berubah menjadi brayen?, karena saat kecil Eyana tidak tahu apa nama lengkap Brayen yang ia tahu hanya Aistra panggilan khusus dari keluarga nya.


Bibir nya tersungging melengkung menandakan senyuman


"kak Ais Eya kangen, Eya pengen peluk kak Ais, Kenapa kak Ais ninggalin Eya"gerutunya


Pantas saja jika dekat dekat dengan Brayen ia slalu mendapatkan rasa nyaman dan kelengkapan dalam hidup.


Cepat cepat Eyana ingin menghampiri Brayen yang berada di sebrang sana, namun sebuah suara membuat langkahnya terhenti, ia langsung menghadap pada orang yang memanggil nya


"Eyana, mau kemana?"


Suara itu berasal dari Hendri, ayah nya eyana yang tengah menaiki motor vespa berhenti tepat dekat dengan nya, meskipun hari Minggu Hendri Sangat jarang berada di rumah ia harus menjaga kaka nya yang sakit jiwa itu.


"papah ngapain disini"


"kok balik nanya"ucap hendri heran


Eyana terkekeh


"eyana cuma jalan jalan sama kancil"


"ikut papah, kita pulang udah sore ini"


ajak Hendri


"kancil gimana"


"kancil kamu yang gendong, yuk buruan, sampai di rumah kita langsung makan, papah udah beli makanan yang banyak"ujar hendri sambil mengelus lembut kepala putri nya.


Eyana menurut, ia langsung menggendong kancil dan naiki ke atas motor.


...---------------...


di pagi hari nya Eyana bangun dengan semangat, karna ia akan bertemu dengan Brayen, bergegas ia mandi lalu mengenakan seragam warna coksu yang rok nya hanya selutut.


Setelah semuanya siap ia langsung berangkat ke sekolah, ia tak makan pagi karna itu bisa membuat nya terlambat, agar tidak merasa lapar di perjalanan ia memakan roti.


(Pukul 07:25 )


DALAM KELAS


para guru sedang melakukan rapat karna itu kondisi kelas seperti kapal karam, ketua kelas yang kelakuan nya seperti Dajjal membuat semua nya tak terkendali.


Namun Eyana tak terpengaruh ia duduk di bangku nya yang paling samping dekat dengan jendela, ia tak peduli dengan keributan semacam itu, perhatian nya dari tadi slalu tertuju ke luar jendela, ia sedang memperhatikan brayen yang sedang berolahraga di tengah lapangan dengan instruksi


"ngeliatin apa?"mikaila menghampiri nya lalu duduk di samping nya


"pemandangan"jawab eyana namun pandangan nya tak teralihkan


Mikaila menjadi penasar ia mendongak memastikan apa yang dari tadi sedang eyana perhatikan, ia tak bodoh tak mungkin eyana hanya melihat pemandangan, memangnya ada pemandangan apa?


"Brayen"batin nya


"pantesan, rupanya dari tadi lagi ngeliatin brayen"ucap mikaila


Eyana langsung membekap mulut nya


"jangan keras keras"gerutu eyana


"lo suka ya, sama brayen"tanya mikaila dengan nada agak tenang


Eyana Hanya tersenyum, menunduk kan kepalanya menyembunyikan rasa malu


"gw kasihan sama brayen"


Eyana langsung mendongak


"emangnya kak Ais kenapa"refleks eyana bertanya dengan expresi khawatir


"kak Ais?"Mikaila mengulangi nya bingung


"maksudnya kak Brayen kenapa"


"waktu brayen masih kecil, ia kecelakaan parah, jadi nya pindah ke Inggris buat pengobatan, tapi pas udah sadar brayen nya hilang ingatan, katanya sih sampai sekarang brayen belum ingat sama masalalu nya"ungkap Mikaila


Eyana ter tegun pantas saja brayen melupakan nya tapi ia bertekad jika ia akan mengembalikan ingatan brayen dan kenangan kenangan masa kecil mereka


"emangnya Mikaila tay dari mana?"pastinya eyana bertanya tau dari mana mikaila tentang brayen


"biasa, ngedengerin orang nge rumpi"sahut mikaila agak terkekeh meskipun ia agak canggung


"owhh, lain kali eya pengen ikut ngerumpi aja, mungkin aja dapat berita berita besar"ucap Eyana polos


Istirahat telah tiba semuanya pergi berhamburan, dan incaran utama ia lah kantin, Eyana sedang berdiri di depan lemari minuman bingung harus membeli yang mana


"cepetan woi!! Kita juga mau beli!!"


Orang orang di belakang eyana sudah sangat kesal karena telah mengantri lama


Eyana tidak bisa berfikir, ia langsung saja asal ambil dua minuman botol lalu membayar nya, ia terus saja di tatap sinis oleh orang orang yang tadi mengantri di belakang nya, rasanya eyana sedang mencari mati.


Langsung saja ia membawa minuman itu ke tempat tujuannya


...----------------...


Kini ia telah berdiri di ujung lapangan memperhatikan brayen yang duduk di bangku sedang membelakanginya, Brayen hanya sendiri mungkin ia sedang istirahat sedang kan teman teman nya sudah pasti berada di kantin tuk membeli minum.


Eyana berjalan menghampiri nya,


Brayen pun menyadari kehadiran nya itu yang langsung menatap eyana.


"nih, minum"eyana menyerahkan sato botol air


Dengan senang hati brayen menerima nya


"Thank You"


Dengan keberanian yang besar eyana duduk di samping brayen setelah minum brayen hanya melirik nya sekilas sambil menutup botol lalu mengeluarkan headphone nya dari dalam saku celananya


"kak Ais ingat gk sama eya"pertanyaan itu terlontar dari mulut Eyana


Sejenak Brayen sedang berfikir ia seperti tak asing dengan sebutan kak Ais itu


"Who is Sis Ais?"


"Aistra, eyana boleh kan manggil kak Ais"jawab eyana yang membuat brayen semakin bingung


"terserah lo si mau manggil gw apaan tapi kak Ais, kek kekurangan nama panggilan aja"


Eyana tersenyum


"Jadi kak Ais emang bener bener lupa sama Eyana" pertanyaan itu membuat kepala brayen menjadi agak pusing


"Emangnya siapa lo?, apa hubungan lo sama gue"Brayen mematikan headphone nya


"biar waktu yang bakalan ngasih tau semua nya tapi asal Kak Ais tau aja, waktu kecil kita sering main bareng, banyak janji yang kak Ais buat untuk Eyana"tutur Eyana ia ingin brayen mengingat semuanya tapi tidak dengan paksaan tapi secara perlahan


Brayen terkekeh


"mimpi apaan lo semalam, gk mungkin masa kecil gw main sama orang kayak lo"jawab brayen namun tak masuk ke hati Eyana karna mental nya sudah cukup untuk menghadapi Brayen


"Terserah kak Ais percaya apa enggak, tapi suatu saat kak Ais bakalan ingat semuanya, siapa Eya dan apa arti Eya buat kak Ais "jawab eyana


Brayen tak mengerti dengan apa yang di katakan Eyana penuh dengan taka taki yang ia sendiri lah yang harus memecahkan nya


"ngaur lo!"


"terserah kak Ais percaya apa enggak"tutur Eyana lalu beranjak pergi dari sana


Brayen hanya diam setelah mendengar kalimat terakhir yang eyana ucap kan


"heh, gila tu cewe"gerutunya sambil terkekeh