
Mereka telah tiba di tempat yang akan di gunakan sebagai memasak
Terlihat Mikaila dan Erlin tengah duduk lesehan di tanah dengan expresi kelelahan dan wajah yang kotor
"kemana aja sih lo Eyana"Tanya Erlin sembari menyapu keringat di dahinya menggunakan punggung tangan nya
"manggil nih pada, buat bantuin kita"jawab Eyana sambil menunjuk satu persatu brayen dan teman teman nya yang berkisar tiga orang
Erlin kembali antusias ia langsung bangun dari duduk nya ia berjalan tuk mengambil sesuatu
seperti nya itu ialah korek yang ia serahkan pada Galen, Galen hanya melirik nya tanpa basa-basi ia langsung mengumpulkan kayu yang telah berserakan dengan bantuan Alister dan luxe
Setelah semuanya terkumpul Galen langsung melempar korek itu ke arah Brayen yang langsung di tangkap
"ngapa lo lempar ke gue?"brayen sedikit bingung apakah mereka menyuruh nya untuk menyalakan api
"lo taukan gue punya trauma sama api, jadi lo aja yang nyalain"ucap Galen agak terkekeh guna mencair kan suasana
Brayen menghelakan nafas beratnya, setelah itu ia memulai semuanya dengan telaten, ia mengatur kayu lalu menyalakan korek setelah sedikit kayu terbakar dengan tercampur sedikit kresek ia lanjutkan dengan menumpuk kayu di atas nya dengan benar
Api itu pun sudah mulai membesar namun tanpa di duga-duga terjadi ledakan kecil dari api, yang membuat kayu bahkan bara api terlempar yang membuat Brayen yang tengah mengembangkan celana se lutut
kakinya terkena serpihan kayu yang panas
"shhtttt!!!"
"Kak Ais!!!"Semua orang kaget dan Eyana langsung menghampiri nya
"lo gk apa apa?"
"lo baik baik aja kan?"
Banyak pertanyaan yang teman teman nya lontarkan
"Biar Eya yang obatin!"Eyana langsung membantu Brayen bejalan ke arah batang pohon besar yang tumbang, mungkin bisa jadi tempat duduk
Baru saja Eyana ingin beranjak tuk mengambil kotak p3k namun ia langsung di cegat oleh Brayen
"gue baik baik aja kok, cuma luka kecil"ujar Brayen meyakinkan Eyana dan semua teman teman nya yang berada dekat dengan nya
"tapi itu banyak darah yang keluar"tambah Mikaila juga sama khawatir
"Mikaila bener, bilang aja lo takut luka lo di oleh ama bitadin"imbuh Galen
"Asal ngomong lo"balas Brayen tak terima di sebut penakut
Eyana memutar bola matanya malas
Lalu ia tak mempedulikan tentang perdebatan mereka ia harus segera mengambil kotak p3k karna sudah tugas nya sebagai anggota Tim pertolongan pertama sekolah mengobati siswa maupun siswi
Yang belum tau apa itu Tim pertolongan pertama sekolah kuy simak:
Anggota kesehatan sekolah yang beranggota para siswa maupun siswi dan memberikan pertolongan pertama biasanya disebut "Tim Pertolongan Pertama Sekolah" atau "Siswa Pelatih Pertolongan Pertama." Mereka adalah siswa atau siswi yang telah dilatih untuk memberikan pertolongan pertama dalam situasi darurat atau kecelakaan di sekolah. Tugas mereka mencakup penanganan luka ringan, memberikan CPR dasar, dan memberikan bantuan pertolongan pertama sampai bantuan medis lebih lanjut tiba. Tim Pertolongan Pertama Sekolah memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan kesejahteraan siswa di lingkungan sekolah.
Eyana telah kembali dengan benda benda yang ia perlukan
"tahan yaa... Gk sakit kok"ucap Eyana sebelum memulai semuanya
"AARGHH!!!"
Brayen tak dapat menyembunyikan ke sakitan nya ia berteriak tanpa ia sadari sambil mencengkram lengan Eyana dengan sangat keras yang membuat Eyana mengulum bibir nya rasa sakit yang di rasakan Brayen tersalur pada nya namun ia berusaha konsisten besikap seolah-olah sedang tidak terjadi apa-apa
Eyana pun terus saja mengobati luka Brayen
"ARGHH!!!"
"Sakit ya?"tanya Galen
"udah tau Pake Nanya BEGO!!"
"Brayen, kamu harus kuat"ucap mikaila yang juga berada dekat dengan Brayen namun ia hanya mendapatkan tatapan tak suka dari Brayen
Hampir 15 menit untuk Eyana mengobati luka Brayen dan selama itulah ia menahan cengkraman kuat dari Brayen sebenarnya ia ingin menangis karna sakit namun ia terus saja menyembunyikan
"thanks"ucap Brayen sambil menatap wajah cantik Eyana namun karena itu ia sadar jika orang di hadapan nya ini sedang menahan sesuatu Brayen menatap nya dalam lalu mengangkat satu alis nya tanda jika ia sedang bertanya sebenarnya apa yang terjadi padanya
Tapi Eyana malah lebih dulu melepas tautan mata mereka dengan menunduk ke bawah, Brayen yang paham dengan gerak gerik Eyana langsung meminta teman temannya agar melakukan kegiatan mereka kembali karena kaki nya sudah baik baik saja tak perlu ada yang di khawatir kan
setelah semua orang pergi Eyana kembali berani menatap Brayen yang tengah duduk di hadapannya itu
"kenap lo kaya mau nang_"
Belum sempat selesai bicara Eyana teleh mengeluarkan air mata nya yang sudah dari tadi ia tahan
"knp lo nangis"Brayen menjadi kelimpungan
Eyana terus saja menangis sampai sesegukan karena rasa sakit yang ia rasakan
Entah mengapa Brayen tiba tiba saja berinisiatif memeluk nya membawa Eyana pada dekpan nya
"coba lo ngomong, kasih tau gue kenapa lo nangis hmm..."tanya brayen dengan suara lembut nya yang masuk ke telinga Eyana
Entahlah Brayen tak tahu mengapa ia merasa jika harus melakukan semua ini, perasaannya resah hati nya merasa tidak bisa melihat jika orang yang saat ini ada dalam dekapan nya saat itu menangis
dan kemesraan itu tak luput dari mata seseorang yang memperhatikan mereka dari jauh, perasaan orang itu sepertinya sangat hancur setelah melihat semuanya, sebelum orang itu pergi ia menyapu sisa air mata di pipinya
"Le_Leng_nga_ngan Eya! Sakittt!!"ucap Eyana yang kelakuan nya sudah seperti anak kecil saja
"lengan lo sakit"Brayen mengulangi yap ia langsung terkejut ia baru ingat jika saat ia kesakitan tadi ia mencengkram lengan Eyana dengan sangat keras
"apa gara gara gue!?"Brayen memegang ke dua bahu Eyana sambil menghadapkan tubah Eyana pada nya
"jawab!!"
Eyana hanya memanyunkan bibirnya
"uss uss uss yang mana yang sakit biar gw liat"tanya Brayen
Eyana hanya memegang lengan kirinya
Tanpa meminta izin Brayen Langsung menaikan lengan baju Eyana sampai bahu, benar saja di sana terlihat ke ungu unguan
"sorry, please Forgive me"gumam Brayen sambil menatap menatap Eyana masih saja menangis
"udah jangan lagi nangis, gue jadi ngerasa sangat bersalah"ucap Brayen yang membuat isakan Eyana mulai mereda dan berubah menjadi senyuman