About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
EPISODE 9



...****...


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Malam ini Shasa tampil cantik dengan gaun simple dan tentunya nyaman. Walau begitu Shasa merasa gugup berjalan di samping mama Nia. Sejak keluar dari mobil Shasa lebih banyak diam. Apa lagi tatapan tajam Ken yang tertuju padanya.


Langkah Shasa semakin berat saat melihat tinggal beberapa langkah lagi mereka sampai di meja yang sudah disediakan untuk makan malam ini. Disana sudah ada tiga orang yang tidak lain daddy Andrew, mommy Dira dan seorang pria yang sangat ia hindari.


“Selamat malam semua” sapa papa Daneil membuat ketiga orang itu menoleh.


“Akhirnya datang juga gak tau mau jamuran apa gimana sih” canda daddy Andrew yang mendapat cubitan ganas dari istrinya.


Mommy Dira bangkit memeluk mama Nia tak lupa cipika cipiki.


“Maaf ya Dir, macet banget makanya telat” jelas mama Nia.


“Hohoho gak masalah Nia sayang, yang penting kam kalian udah sampai dengan selamat” ucap mommy Dira.


“Hay sayang kamu sudah makin tinggi saja” ucap mommy Dira beralih pada Ken yang berdiri di belakang mama Nia.


“Tentu mommy” jawab Ken tersenyum tipis.


“Oh apa ini Shasa? Calon menantuku? Ya Tuhan kamu cantik banget sih sayang. Udah makin cantik aja sih kamu ini. Ih gemesin banget sih” heboh mommy Dira saat mendapati Shasa yang menunduk sedari tadi.


Mommy Dira memeluk Shasa erat saking senangnya, terlihat mommy Dira sangat bahagia memeluk Shasa. Ia merasa bahagia karena sebentar lagi akan memiliki menantu idaman. Shasa sendiri sedikit merasa canggung sambil tersenyum hangat.


“Sayang biar duduk dulu dong” ucap daddy Andrew pada istrinya.


“Ya ampun iya mommy lupa, ayuk duduk dulu silakan-silakan” ucap Mommy Dira sambil mempersilakan mereka duduk.


Kini papa Daniel dan mama Nia duduk berdampingan. Daddy Andrew dan mommy Dira. Lalu Ken duduk di samping pria yang terus menatap tajam Shasa yang tak lain Edwind.


'Cih ternyata cewek sialan ini yang mau dijodohin sama gue. Oh ****!' geram Edwind.


'Apa papa dan mama sudah hilang akal menjodohkan anak pembawa sial kek dia sama Edwind? Astaga apa dunia ini mulai hancur' batin Kenzo.


'Ya Tuhan apa yang harus ku lakukan, tatapan itu seakan membunuhku. Apa yang akan terjadi jika aku menjadi istrinya nanti? Ya Tuhan lindungi aku' doa Shasa.


“Ya sudah kalo gitu kita makan dulu ya, ayo silakan” mommy Dira tersenyum menatap Shasa yang tampak malu-malu saat ia menaruh ayam di atas piringnya.


“Makasih mommy” Shasa tersenyum ramah.


“Sama-sama cantik makan yang banyak ya” ucap mommy Dira mengusap surai hitam Shasa.


Mereka pun menikmati makan malam dengan diselingi canda tawa para orang tua. Berbeda dengan Shasa, Edwind dan Kenzo yang hanya diam dan sesekali menanggapi ucapan mommy Dira yang terkesan heboh sendiri.


Selesai dengan makan malam kini mereka menikmati pemandangan malam hari sambil membahas perihal perjodohan antara putra dan putri mereka.


“Jadi seperti yang sudah kita bahas, kita sepakat untuk menjodohkan kalian berdua Edwind dan Shasa. Karena kalian sudah setuju dalam perjodohan ini jadi pernikahan akan di lakukan seminggu lagi” jelas daddy Andrew di setujui oleh mommy Dira, papa Daniel, dan mama Nia.


“Apa?” “What?” pekik Shasa dan Edwind bersamaan.


“Aduh aduh serasi banget sih sampek barengan gitu” ujar mommy Dira.


Shasa tertunduk resah dengan keputusan itu, berbeda dengan Edwind yang terlihat menahan amarahnya. Bagaimana pun ia memang sudah basah jadi sekalian saja tenggelam, pikir Edwind menyeringai.


Hingga dua netra itu saling menatap datu sama lain. Tatapan Edwind terlalu rumit untuk dibaca dan hal itu semakin membuat Shasa merasa takut dengan apa yang akan terjadi pada dirinya. Mau mundur pun sudah terlambat, belum nanti Shasa akan melihat raut kecewa orang tuanya. Ia tidak sanggup untuk itu.


'Tenang Shasa kamu harus yakin semua akan baik-baik saja' batin Shasa menyemangati dirinya.


'Semakin cepat pernikahan ini akan semakin cepat gue nyiksa elo cewek kampungan' batin Edwind tertawa puas.


“Jadi gimana sayang kamu juga setuju kan? Edwind saja sudah setuju nak” tanya mama Nia dengan wajah berbinar.


“Ta-tapi bukannya terlalu ce-cepat?” akhirnya Shasa bisa mengeluarkan suaranya.


“Bukankah lebih cepat lebih baik” bukan mama Nia yang menjadi tapi Edwind sendiri.


“Aduh anak mommy gak sabar banget sih kayaknya” ledek mommy Dira yang di acuhkan Edwind.


“Gimana sayang?” kini papa Daniel yang bertanya.


“I-iya pa, Shasa setuju” jawab Shasa menghela nafas pasrah.


“Akhirnya kita jadi besanan Nia, uh akut tuh gak sabar banget tau. Ih ih seneng deh” heboh mommy Dira memeluk mama Nia bahagia.


“Kita besanan bro” daddy Andrew dan papa Daniel bertos ria ala pria.


“Lo jadi adik ipar gue heh” cibir Kenzo dengan senyum miring meledek Edwind.


Edwind sendiri tidak menanggapi ledekan Kenzo itu, ia lebih memilih menatap tajam Shasa dengan sejuta rencana diotaknya.


‘Apa sebahagia itu mereka? Syukurlah jika itu bisa membuat mereka bahagia. Tidak masalah dengan apa yang akan terjadi karena semua akan terlewatkan dengan baik-baik saja’ batin Shasa menatap para orang tua yang tertawa bahagia.


“Oh iya karena ini juga udah malem banget kita pamit pulang ya Dir, besok Shasa juga mau kekampus. Takutnya besok kesiangan dia” pamit mama Nia setelah selesai dengan pembahasan persiapan pernikahan Shasa dan Edwind.


Para orang tua memang mengusulkan agar mereka saja yang mempersiapkan untuk acara pernikahan ini, mereka hanya ingin calon pengantin menghabiskan waktu bersantai. Tidak sulit bagi mereka untuk menyiapkan segala keperluan dalam waktu satu minggu, ada uang semua pun beres. Monmaap nih sultan ;)


“Yah kog keburu banget sih, tapi gak papa deh dari pada besok pagi calon mantuku bermata panda jadi aku bolehin kalian pulang hehe” canda mommy Dira memeluk mama Nia dan Shasa bergantian.


“Yaudah sekalian kita pulang aja” sambung daddy Andrew.


Mereka pun berpisah di parkiran, sebelum itu mommy Dira menyuruh Edwind untuk mengantar Shasa pulang ke apartementnya. Itu pun setelah ia tau kalau mama Nia akan mengantarkan putrinya dahulu. Tadinya Shasa sudah menolak tapi mommy Dira tetap kekeh menyuruh Edwind mengantarkannya.


Dan disinilah akhirnya Shasa berada, di dalam mobil berdua dengan pria dingin yang tak lain adalah Edwind. Tidak ada percakapan diantara mereka, hening.


Sampai mobil itu berhenti di lobby bangunan yang menjulang tinggi. Shasa pun segera meraih slingbag dan bersiap keluar sambil mengucapkan terima kasih pada Edwind.


“Makasih kak, maaf merepotkan” ucap Shasa lalu keluar.


Namun belum sempat Shasa berlalu dari samping mobil suara berat Edwind terdengar di telinganya. Kalimat singkat namun membuat Shasa bergidik ngeri.


“Jangan harap lo bisa bahagia setelah ini” itulah ucapan yang terlontar dari Edwind.


Baru setelahnya Edwind menancap gas meninggalkan Shasa dengan segala pemikirannya.


...****...