About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
EPISODE 15



...****...



(*Anggap saja suasana malam hari)


Sejenak Shasa terdiam menatap rumah minimalis 2 lantai dengan desain ala korea sesuai dengan rumah impiannya, ia tersenyum di samping mobil. Sesaat ia berterima kasih atas kado pernikahan dari kedua orangtua serta mertuanya. Rumah didepannya ini memang kado pernikahan dari mereka.


Mulai hari ini ia akan tinggal berdua bersama dengan Edwind, hanya berdua tanpa orang tua serta mertuanya. Setelah menghabiskan waktu satu minggu untuk tinggal di rumah keluarga Rossler dan Anderson. Malam ini mereka sudah pindah ke rumah baru.


"Sampek kapan lo mau diem di sana!" sentak Edwind kesal.


Shasa menatap lekat pria yang berstatus suaminya yg kini berdiri tepat didepan pintu. Perlahan Shasa melangkah mendekati Edwind, baru tiga langkah suara Edwind kembali menggema memberi perintah.


"Mo kemana lo!!" sengit Edwind, berbeda dengan Shasa yang mulai gugup untuk sekedar menjawab ucapan suaminya.


Bagaimana tidak gugup jika didepannya adalah sosok pria yang selama ini juga membencinya.


"M-mau masuk kak" jawab Shasa memberanikan diri menatap Edwind.


Edwind menatap tajam Shasa, "Kalo lo mau masuk beresin dulu koper koper di bagasi"


Setelah berucap Edwind melangkah masuk meninggalkan Shasa yang terdiam sambil tersenyum getir, jika biasanya pengantin pria yang memberikan perhatiannya maka berbeda dengan Shasa yang harus sadar akan posisinya.


Di rumah barunya ini Edwind memang tidak memperkerjakan satu pun pembantu hanya dua satpam untuk menjaga rumah. Bukan karna tidak mampu, tapi memang ini bagian dari rencananya untuk menyiksa Shasa. Dengan beralasan untuk ingin saling mengenal satu sama lain akhirnya kedua orang tua Edwind mengijinkan terutama mommynya, mommy Dira.


Sejenak Shasa menghela nafas lalu menurunkan semua koper untuk ia bawa masuk. Hanya ada dua koper ukuran besar, satu miliknya dan satu lagi milik Edwind.


"Semangat Sha, masak cuma dua koper aja enggak kuat. Yok bisa yok" gumam Shasa membawa dua koper itu,.


Dari ambang pintu Shasa mendengar umpatan demi umpatan dari suaminya itu. Terlihat Edwind seperti baru saja menerima telpon dari entah siapa.


"OH ****!!! Bagaimana bisa tidak ada satu pun kunci selain kamar sialan itu" Kesal Edwind mengacak rambutnya.


'Apa maksud dari kak Ed? ' batin Shasa membawa koper mendekati Edwind.


Edwind menoleh saat merasa ada yang mendekatinya, "Gara-gara lo! Gue harus tinggal semua bahkan sekamar sama lo, cewek jal*ng! " Sentak Edwind sambil menuding jari telunjuknya tepat didepan wajah Shasa yang terkejut.


Shasa mengernyit menatap Edwind, kenapa pria didepannya ini mempermasalahkan hal yang tidak masuk akal. Bukankah memang semua orang yang sudah menikah halal untuk satu kamar? Sampai akhirnya Shasa paham maksud dari ucapan Edwind barusan.


"Kak Ed enggak usah khawatir Shasa bakal tidur di kamar yang lain" jelas Shasa yang semakin membuat Edwind murka mendengarnya.


"Apa lo bilang?! KAMAR LAIN?! ASAL LO TAU SEMUA KUNCI KAMAR DI SITA SAMA MOMMY GUE CUMA KARNA BIAR GUE DAN LO TINGGAL DALAM SATU KAMAR ANJ*NG" Teriak Edwind mengusap wajahnya kesal.


Shasa terdiam mendengar teriakan Edwind otaknya memproses apa yang baru ua dengar barusan. Jadi semua kunci kamar di sita? Selain kamar utama, pikir Shasa.


Edwind mendongak menatap tajam wajah terkejut Shasa, "Oh atau ini rencana lo juga?? Lo yang kasih ide ke mommy gue buat ambil semua kunci kamar selain kamar utama, biar lo bisa sekamar sama gue, iya?! JAWAB ANJ*NG!!! "


"E-enggak kak, Shasa aja enggak tau kalo kuncinya di mommy Dira. Sha-"


"Aarrghh sa-sakit kak" pekik Shasa saat merasakan panasnya kulit kepala karna rambutnya yang di jambak paksa oleh Edwind.


"Lo gak usah sok polos di depan gue,, Asal lo tau gue benci banget sama lo, jijik banget gue sekamar sama lo."


Edwind maju selangkah mengikis jarang diantara mereka lalu menunduk di samping sisi kepala Shasa masih dengan menarik rambut gadis itu. Sedangkan Shasa hanya bisa menangis merasakan sakit dan pusing pada kepalanya.


Shasa terisak memakin kencang saat Edwind melangkah pergi entah kemana. Ini baru awal dari pernikahannya, haruskah seperti ini? Akankah ia bisa bertahan?


.


.


.


.


Disisi lain Edwind beranjak memasuki mobil lalu mengendarainya dengan kecepatan sedang menunju sebuah club ellit. Edwind berjalan masuk melewati lantai dansa di laintai satu yang dipenuhi oleh anak manusia. Edwind berdesis memilih masuk lift menuju ruang vip yang sudah ia pesan.



(*Lantai satu club)



(*Ruang vip yang dipesan Edwind)


Saat masuk ke dalam Edwind sudah di sambut oleh oara sahabatnya siapa lagi kalo bukan Kenzo, Ervins dan Evans.


"Woyy... Pengantin baru sudah datang" sorak Evans yang dihiraukan oleh Edwind.


Evans yang merasa diacuhkan merasa bodo amat dan kembali menikmati segelas wine miliknya. Edwind memilih duduk di samping Kenzo.


"Bagaimana? Kau menyukai rumah baru kalian, pengantin baru? " ejek Kenzo dengan wajah menyebalkan.


"Ck... " Edwind berdecak mengambil gelas yang sudah tersedia dan menuangkan wine ke dalamnya, sedangkan Ervins jangan di tanya pria itu hanya menatap datar para sahabatnya tanpa mau berkomentar.


Mereka menghabiskan waktu hanya untuk minum dan membahas hal kecil yang pastinya berbau pekerjaan. Hari ini Ervins yang berjaga untuk tidak sampai mabuk. Memang sudah menjadi kebiasaan mereka, harus ada salah satu yang berjaga untuk memantau mereka yang mabuk.


Seperti saat ini Ervin di buat pusing dengan ulang ketiga sahabatnya ini, terlebih Edwin dan kembarannya.


"Kau antar mereka" singkat Kenzo sambil beranjak dengan sempoyongan tapi jangan khawatir pria itu masih tersadar.


"Huh dasar" desis Ervins.


Pria itu langsung memanggil salah satu bodygruad untuk membantunya membawa Evans. Lalu Ervins memapah tubuh Edwind yang sedari tadi meracau tidak jelas.


Ervins lebih dulu mengantarkan bos sekaligus sahabatnya itu. Sampai didepan rumah Ervins keluar menekan tombol di samping pintu, tak lama seorang gadis membuka dan tersenyum canggung.


"Suamimu mabuk" singkat Ervins sambil memberi isyarat agar Shasa mengikutinya menuju mobil.


"Kak Ed" Lirih Shasa lalu meraih tubuh pria itu di bantu Ervins.


Ervins tidak bisa mengantarkan sampai kamar karna menurutnya itu privasi mereka jadi Ervins memutuskan untung segera pergi, lagi pula bosnya sudah berada di tangan sang istri dengan selamat pikirnya.


"Makasih sudah mengantarkan kak Ed pulang, maaf merepotkan" ucap Shasa sambil menahan tubuh Edwind yang sempoyongan.


Ervins hanya mengangguk sebagai jawaban lalu berbalik pergi memasuki mobil dan meninggalkan halaman rumah sahabatnya itu.


...****...