
...****...
Siangnya Shasa kembali ke dapur untuk membuat cemilan untuk Edwind selama di Spanyol, ia berencana untuk membuat kue kering saja yang mudah di bawa kemana mana. Bersyukurnya semua bahan kue lengkap, sudah pasti mamanya yang menyiapkannya. Ia segera membuat adonan kue kering.
Saking asiknya dengan apa yang ia lakukan Shasa tidak menyadari dari ambang ruang makan seorang pria memperhatikannya, ia adalah Kenzo. Kenzo memang sengaja berkunjung untuk menemui Edwind tapi entah apa yang membawanya hingga berdiri menatap setiap gerak gerik Shasa.
Tepukan di bahu membuat Kenzo berbqlik dan ternyata Edwind lah pelakunya.
"Ngapain bengong disini? " tanya Edwind di balas gelengan sambil beranjak menuju ruang tamu.
Edwind melirik Shasa dan berusaha acuh dengan apa yang di lakukan wanita itu.
"Jadi ke Spanyol? " Kenzo menyandarkan tubuhnya pda sandaran sofa.
"Hmm" angguk Edwind.
"Gimana soal proyek kita di Singapura? " Kenzo menatap tajam sahabatnya, masalahnya mereka sedang ada proyek kerjasama tpi Edwind malah akan pergi ke Spanyol selama sebulan. Rasa ingin membanting Edwind saat ini sangat mendominan di otak Kenzo.
"Enggak usah jadi si paling susah" ketus Edwind, pria itu cukup paham dengan maksud ucapan sahabatnya itu.
Kenzo memutar bola mata malas mendengarnya, "Kerjasama apanya kalo cuma gue yang ngatur"
"Masih ada Max sama Evans aja bingung lo" Edwind memang hanya berangkat berdua dengan Ervins saja jadi Max yang akan menggantikannya sementara.
"Lagian tumbet banget sih sebulan, biasanya juga kagak mau" Kenzo menyugarkan rambutnya.
"Terserah gua lah kog lo sewot amat kek cewek" sungut Edwind.
"Ck... Dah lah gua mo balik aja di sini panas, awas aja kalo anak buah lo itu enggak membantu gua banting" ancam Kenzo bangkit pergi.
"Enggak jelas lo" teriak Edwind yang membuat Shasa berlari menghampirinya dengan langkah sedikit lamban.
"Kak Ed manggil Shasa? " ucap Shasa mengejutkan Edwind.
"Anj*ng!! Bisa gak sih lo tuh kalo jalan napak kek!" kesal Edwind.
"Maaf kak, lagian kak Ed ngapain coba teriak-teriak,. Kirain Shasa kakak kenapa-napa" jelas Shasa membuat Edwind mengernyit.
"Enggak usah pura-pura peduli ma gue, dah sana pergi" usir Edwind malas menatap wanita itu. Bukan apa, hanya saja jantungnya mulai tidak nyaman saat Shasa berada dalam lingkup sedekat ini.
"Iya kak, Shasa balik ke dapur kalo kak Ed butuh apa-apa panggil Shasa aja" ucap Shasa berbalik.
"Iya lah, lo kan babu gue". Baru lima langkah jawaban Edwind membuatnya tersenyum getir walau pria itu tidak tau.
Edwind menatap cara berjalan Shasa yang beda dan ia cukup paham itu. Pria itu hanya bisa menghela nafas, ada sedikit rasa sesal mengingat ucapannya pagi tadi tapi mau bagaimana lagi mulutnya ini memang tidak bisa di rem sejenak belom lagi rasa gengsi pada dirinya yang sangat tinggi.
Di dapur Shasa sedang menunggu kue yang dia oven sambil menyiapkan bahan untuk menghias kue keringnya nanti.
Hampir satu jam setengah berkutat dengan alat dapur dan pertepungan, hal yang ditunggu tunggu pun tiba apa lagi kalo bukan sesi menghias. Shasa sangat menyukai itu. Dengan teliti dan raut bahagia Shasa menghias satu persatu kue kering menjadi cantik.
30 menit kemudian...
Selesai juga kegiatan menghias kue dan jadi lah kue kering ala Shasa. Wanita itu tersenyum melihat hasil kue buatannya.
Sesaat senyum Shasa luntur saat sekelebat pikiran tentang Edwind yang menolak membawa kue itu. Apa yang harus ia lakukan agar kue ini sampai di tangan Edwind dan ikut dalam perjalanan bisnisnya ke Spanyol.
Shasa terdiam memikirkan cara apa agar Edwind tidak menolak. Sampai akhirnya sebuah ide terlintas dipikirannya, dengan semangat Shasa menatap kue kue itu ke dalam beberapa toples lalu memasukkannya kedalam paper bag, dan siap berangkat.
.
.
.
Shasa menatap Edwind yang sedang bersiap dengan penampilannya,. Shasa mulai mendekati Edwind saat pria itu terlihat susah memakai dasi, dengan berani Shasa menarik dasi dari tangan Edwind.
"Ngapain lo! " ketus Edwind ingin merampas dasi di tangan Shasa.
"Biar Shasa bantu kak, udah cepetan nunduk ditungguin dari tadi juga sama sahabat kakak" paksa Shasa namun tak lama dituruti oleh Edwind.
Di bawah Ervins memang sudah menunggu sejak 15 menit lalu. Shasa memasangkan dasi dengan cepat dan rapi. "Dah selesai" ucap Shasa menyadarkan lamunan Edwind yang mematap wajah cantik Shasa sedekat ini.
Shasa beralih mengambil jas milik suaminya, namun Edwind segera merampas dan memakainya. Sudah cukup ia merasa jantung nya berdegup kencang saat ini. Tanpa kata Edwind berlalu keluar dengan tas kerjanya, untuk koper sudah diurus Ervins tadi.
Shasa mengikuti langlah panjang Edwind yang melangkah menuruni anak tangga menuju ruang tamu dimana Ervins menunggunya.
Ervins yang melihat kedatangan bos sekaligus sahabatnya pun bangkit dan langsubg berjalan mengikuti, di teras rumah Shasa menahan lengan Edwind membuat pria itu kesal. Namun untuk beberapa detik kemudian Edwind tertegun dengan apa yang di lakukan Shasa padanya.
"Hati-hati di jalan kak, jangan lupa kabarin Shasa ya kak" ucap Shasa setelah mencium punggung tangan suaminya sebagai baktinya.
Edwind masih terdiam menatap wajah Shasa, sampai suara Shasa menyadarkannya. Tanpa berucap satu pesan pun Edwind berlalu menuju mobil. "Berangkat Vins" titahnya sambil masuk ke dalam mobil.
Ervins menatap Shasa dan menunduk sesaat lalu masuk ke dalam mobil. Mobil hitam itu pun berlalu meninggalkan halaman rumah dengan perlahan. Shasa melambaikan tangan sambil terus menatap mobul itu sampai hilang di balik gerbang.
Shasa menghela nafas sesaat tadinya ia ingin mengantarkam suaminya itu sampai bandara tapi apa lah daya saat mendengar keinginannya Edwind mengamuk tidak suka.
......-Flashback-......
"Apa lo bilang??" sentak Edwind mematap tajam wanita di seberangnya.
Saat ini mereka sedang makan siang selesai Shasa menyiapkan kue kering tadi.
"Shasa mau anter kak Ed sampai bandara ya?? Enggqk papakan kak?? Jadi nanti Sha-"
"ENGGAK PAPA KATA LO! GUE ENGGAK MAU LO YANG ANTER JADI LO CUKUP DUDUK DAN DIEM AJA DI SINI!! ENGGAK USAH SOK PEDULI DAN CARI MUKA!! JANGAN LO PIKIR KARNA KEJADIAN SEMALEM TRUS LO MERASA ISTIMEWA, JANGAN NGIMPI!! LO ENGGAK LEBIH DARI PEMUAS RANJANG GUE!! PAHAM!!! " bentak Edwind dengan wajah garangnya membuat Shasa terdiam kaku di tempat duduknya.
"Ck... Bikin gak selera makan tau gak sih lo" Edwind bangkit pergi menuju ruang kerja nya membiarkan Shasa sendiri.
Shasa hanya bisa menahan tangis mengingat setiap bentakan Edwind, terlebih dia hanya dianggap pemuas ranjang oleh suaminya.
...-Flashback End-...
...****...