About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
#EPISODE 16



...****...


Shasa bangkit mengusap sisa air mata di pipinya, ia tidak boleh terlihat lemah didepan orang orang yang membencinya, Shasa yakin Edwind hanya butuh waktu untuk menerima pernikahan ini. Suatu hari nanti pasti ia akan merasakan hasil yang indah dari apa yabg ia tanam.


Shasa meraih satu koper milik suaminya yang akan ia bawa terlebih dahulu ke kamar utama di lantai dua. Sesampainya di lantai dua tepatnya di dalam kamar Shasa terkagum akan desain kamarnya, lebih tepatnya kamarnya dan Edwind.



(*Kamar utama)


"Waahhh" Shasa melangkah semakin masuk ke dalam kamar menatap seluruh isi kamar yang tertata rapi.


"Bagus" satu kata tergumam dari bibirnya.


Tak ingin membuang waktu Shasa segera kembali kebawah untuk mengambil koper miliknya lalu menata baju Edwind dan bajunya ke dalam lemari yang berada di walk in closet. Lagi lagi Shasa dibuat takjub dengan desain interiornya.



Saat masuk ke dalam Shasa sudah mendapati walk in closet yang sudah terisi dengan barang barang baru milik Edwind sekaligus miliknya. Sepertinya kedua orang tua mereka memang sudah menyiapkan semua dengan matang


Selesai dengan pakaian, Shasa beranjak turun menuju dapur. Senyum Shasa semakin merekah saat tiba di dapur, tempat dimana ia akan bereksperimen dengan masakan yang akan ia masakkan untuk sang suami.


Shasa menatap peralatan dapur yang lengkap, begitu pula isi kulkas yang penuh. Gadis itu tersenyum mengingat bagaimana hebohnya mama dan mommy menyiapkan ini semua pasti sangat lucu.


Shasa kembali ke ruang tamu dan duduk di sana menunggu Edwind yang belom pulang sejak 3 jam yang lalu. Shasa menatap jam yang menempel rapi pada dinding, "Udah jam 11, kak Ed kemana sih?? Apa gak ngantuk jam segini belom pulang? " ucap Shasa sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


Sebenarnya bisa saja kan ia pergi tidur lebih dulu, tapi Shasa ingat atas pesan mamanya. Untuk berbakti pada sang suami. Terlebih sejak kecil Shasa terbiasa melihat bagaimana sang mama memperlakukan papanya begitu pun sebaliknya. Jadi apapun yang terjadi kedepannya Shasa akan berusaha meluluhkan hati Edwind dan menjadi istribyang berbakti seperti mamanya.


.


.


.


Ting Tong


Ting Tong


Suara bel pintu berbunyi nyaring membangunkan seorang gadis yang tertidur di sofa ruang tamu. Siapa lagi kalo bukan Shasa, ia mengusap wajahnya sambil menguap karna ngantuk. Menatap sekitar dimana ia tertidur dan jam dinding yang menunjukan pukul setengah dua dini hari.


"Apa kak Ed baru pulang? " gumam Shasa pada dirinya sendiri sambil beranjak membuka pintu utama.


Shasa tersenyum canggung menatap siapa yang bertamu dini hari ini, ia mengenal pria yang berdiri di depannya.


"Suamimu mabuk" singkat Ervins sambil memberi isyarat agar Shasa mengikutinya menuju mobil.


"Kak Ed" Lirih Shasa lalu meraih tubuh pria itu di bantu Ervins.


Sampai di depan pintu utama Ervins berpamitan, "Kalo begitu saya pergi dulu"


"Makasih sudah mengantarkan kak Ed pulang, maaf merepotkan" ucap Shasa sambil menahan tubuh Edwind yang sempoyongan.


Ervins mengangguk lantas pergi meninggalkan halam rumah pasutri itu.


Dengan seluruh tenaga Shasa membantu Edwind berjalan menaiki anak tangga menuju kamar. Tubuh Shasa terlihat kecil dibandingkan dengan tubuh kokoh suaminya.


"Pelan pelan kak, awas jatuh" ucap Shasa menahan tubuh Edwind. Sungguh kebodohan apa yang ada di otak Shasa, saat sudah sampai dipertengahan tangga ia baru ingay jika dirumah ini juga ada lift yang bisa di akses dan memudahkannya untuk saat ini. Tapi ia baru teringat saat sudah hampir sampai di lantai atas.


Sesampai nya di kamar Shasa merebahkan tubuh berat Edwind di atas ranjang, saat akan beranjak untuk melepas spatu pria itu menahan lengan Shasa dengan pandangan tertuju pdaa nya.


"Gara-gara lo gue harus nikah sama cewek yang gak tau asal usulnya" racau Edwind membuat Shasa berdiri kaku mendengarnya.


"Gara-gara lo gue harus nanggung malu atas hidup lo" Edwind tersenyum samar.


"Maksud kak Ed apa bilang kek gitu?? "


Bukannya menjawab Edwind malah menarik tangan Shasa hingga gadis itu terjatuh diatas tubuhnya. Edwind segera menahan pinggang ramping gadis diatasnya itu lalu berbisik.


"Mau gue kasih clue jal*ng? " Shasa memejamkan kedua matanya setiap kali Edwind menyebutnya jal*ng.


Shasa berusaha untuk bangkit namun Edwind menahannya dengan kuat, hingga Edwind membalikkan tubuh mereka berganti Edwind di atas. Diantara kesadarannya Edwind menatap penuh napsu bibir mungil Shasa. Senyum smirk tercetak di wajah pria itu.


Shasa yang menyadari raut wajah serta tatapan Edwind pun dibuat panik, ia berusaha mendorong tubuh pria itu namun nihil. Kekuatannya masih kalah jauh dengan Edwind.


"Bukannya lo udah jadi milik gue kan? Jadi apa salahnya gue minta pelayanan terbaik lo.... My *****" bisik Edwind sebelum melunat bibir mungil Shasa yang sialnya sangat manis bagi Edwind.


Dan saat itulah terjadi apa yang seharusnya memang sudah terjadi sejak malam pertama mereka seminggu yang lalu. Dimana akan merubah semua tentang mereka di masa depan.


.


.


.


Seorang gadis terlihat berlari menyebrangi jalan tanpa ia sadari sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang.


Tin Tin Tiiinnn


"Aaaaa.." teriak gadis itu terduduk ketakutan tepat didepan mobil, syukurnya ia tidak tertabrak.


Sang pengemudi keluar dengan raut kesal dan siap memaki sang gadis yang menyeberang dengan tidak hati-hati. Dengan sedikit sempoyongan pria itu berjalan mendekat, "Kalo lo mo mati jangan di depan mobil gue! " ketus pria itu.


"Ma-maaf" lirih gadis itu dengan menunduk tak berani menatap pria di depannya. Ia berlari bukan tanpa alasan, mobilnya saat ini sedang mogok dan saat ia menunggu sopir untuk menjemput ada beberapa preman yang mengganggu. Alhasil ia memilih kabur demi keselamatannya.


"Ck... Nyusahin aja" pria itu berbalik untuk kembali masuk tanpa ada niatan menolong gadis yang hampir ia tabrak.


"Bukannya bantuin malah cuma ngomel" gumam gadis itu mendongak menatap seperti apa wajah pria itu.


"Kenzo" sentak gadis itu membuat langkah pria bernama Kenzo itu menoleh mengernyit dahi.


"Lo" tuding Kenzo menatap gadis itu yabg tak lain sahabat dari adek nya, maksudnya Shasa. Mana ada Kenzo mau mengakui sebagai adek.


"Ck... Enggak lo enggak temen lo sama-sama nyusahin"


"Maksud lo apaan?! Asal lo tau aja yang lo sebut temen gue itu adek lo! " ketusa Lily tak terima di katai seperti ini.


"Serah!!! " Kenzo membuka pintu mobil dan berusaha bodo amat dengan Lily. Bersamaan dengan itu dari arah belakang Lily beberapa preman yang mengejarnya tadi mulai terlihat dan menuding kearah Lily dan Kenzo.


"****!! " umpat Lily berlari masuk ke dalam mobil Kenzo samping kemudi.


"Heh!! Apa apa an lo!! Keluar! " usir Kenzo.


"Lo gak lihat tuh mereka mo kesini buruan masuk dan cabut,,, Lo gak akan bisa apa apa dalam kondisi setengah mabuk buruan Kenzo" panik Lily karena para preman itu semakin mendekat.


"Ck... " decak Kenzo segera masuk dan menginjak pedal gas meninggalkan para preman yang mengumpat kesal.


...****...