About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
EPISODE 8



...****...


Di kampus Shasa baru saja menerima telpon dari mama nya saat ia sedang makan siang bersama Lily.


“Pesanan datang” teriak suara cempreng Lily.


“Gak usah pakek teriak-teriak Lily, nanti tenggorakanmu sakit kasian juga semua yang di sini pada denger suara cempreng kamu itu” canda Shasa.


“Bodo amat sasa ajinomoto” balas Lily sambil menaruh nampannya.


Shasa mendelik saat mendengar ucapan Lily yang meledeknya itu. Sedangkan Lily hanya menampilkan cengiran khas miliknya membuat Shasa berdecak malas.


“Udah jangan pasang muka masam kek gitu nanti cantiknya sasa ajinomoto ilang lo” ledek Lily.


“Ok fiks bayar sendiri-sendiri” singkat Shasa meraih semangkuk baso pesanannya.


Lily yang mendengar ucapan Shasa langsung bangkit duduk di samping Shasa yang awalnya duduk berhadapan. Lily memeluk lengan kanan Shasa manja. Ia sudah siap merayu Shasa agar mau membayar makan siangnya, karena kecerobohannya tidak membawa dompet.


Alhasil ia meminta tolong pada Shasa untuk membayar makan siangnya. Jika Shasa merajuk dan tidak mau membantunya membayar makan siang bisa habis dia.


'Mampus gue kalo Shasa marah nanti gimana. Mulut Lily nih emang ya minta di cubit, nakal' gumam Lily dalam hati.


Padahal Shasa mana tega membiarkan sahabatnya dalam masalah. Shasa hanya sedang mengerjai sahabatnya yang satu itu.


“Kak Shasa yang cantik, baik hati, suka menabung dan tidak sombong. Apa sih yang kurang dari kak Shasa? Udah paket complete tau. Kasihani Lily yang imut ini ya. Lily ndak bawa dompet yang pasti gak bawa uang juga, bantuin Lily ya kak Shasa yang cantik dan baik” rayu Lily sambil menggoyangkan lengan Shasa.


“Sayangnya kak Shasa yang cantik dan baik ini lagi pengen jahat sama Lily” jawab Shasa sambil mengaduk baso yang sudah ia kasih saos dan beberapa sendok sambal.


Jangan salah Shasa termasuk golongan pecinta makanan pedas, Lily saja kalah dengannya.


“Ish mana ada sih orang pengen jahat, Shasa sayang” gemas Lily mencubit kedua pipi sahabatnya itu.


“Aduh sakit Lily” rengek Shasa menepis tangan Lily.


“Utututu sakit ya. Maafin Lily yang imut ini ya” ucap Lily tanpa salah.


“Udah ah cepetan di makan. Setelah ini aku mau pulang” ucap Shasa melahap baso nya.


“Loh Sha kog pulang duluan sih, kamu gak jadi anterin aku ke perpus?” sungut Lily.


“Maaf ya Ly, mama mau dateng. Kamu ke perpus sendiri ya? Gak apa-apa kan?” ucap Shasa melupakan janjinya untuk ikut ke perpus menemani Lily.


“Yaudah deh ke perpusnya besok aja nanti aku pulang aja lagian enggak seru kalo sendiri” ucap Lily.


“Oke deh besok kita ke perpus bareng sekarang cepet habisin makannya dulu” ucap Shasa di balas anggukan oleh Lily.


...****...


“Kamu gak mau nemenin mama naik ke apartement adikmu kak?” tanya mama Nia sebelum keluar dari mobil.


“Enggak ma, aku udah di tunggu sama yang lain” tolak Kenzo.


Mama Nia hanya bisa tersenyum lalu keluar dari mobil putranya dengan paper bag di tangannya.


“Mama masuk dulu ya kamu hati-hati kak jangan ngebut. Nanti gak usah jemput mama biar sopir yang jemput. Dah sayang” ucap mama Nia.


“Dah ma” balas Kenzo lalu berlalu pergi.


Mama Nia baru masuk setelah melihat mobil putranya tidak terlihat lagi. Mama Nia berjalan ke arah lift sambil menghubungi putri nya namun tidak diangkat.


“Mungkin masih perjalanan pulang” gumam mama Nia.


Ting



Saat masuk apartement putrinya mama Nia di sambut dengan wangi masakan, dan benar saja Shasa sedang berkutat dengan alat masak sampai tidak menyadari kedatangan sang mama.


Mama Nia berjalan menuju meja makan yang sudah tertata beberapa sayur dan lauk kesukaannya. Ternyata putri nya sedang memasak menu kesukaannya.


“Sayang” sapa mama Nia menyadarkan Shasa dari kesibukkannya.


“Loh mama udah dateng? Kok Shasa gak denger mama masuknya ya” ucap Shasa berjalan menghampiri mama Nia dan meraih tangan mama untuk ia cium.


Mama Nia tersenyum melihat sambutan putrinya dan sifat Shasa yang slalu mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang sangat ia rindukan, semakin hari wajah Shasa sangat mirip dengan seseorang itu. Senyumnya, tawanya, tingkahnya. Bahkan menurut mama Nia, Shasa adalah jiplakan asli dari seseorang itu.


“Mama kog ngelamun sih” ucap Shasa menyadarkan mama Nia.


Mama Nia tersenyum lalu memeluk erat putrinya tak lupa mencium kening dan kedua pipinya.


“Mama tuh lagi mikirin kamu sayang, makin kesini kog putri mama makin gede aja sih padahal baru kemarin gantiin popoknya, manja banget lagi” canda mama Nia.


“Ih mama” rengek Shasa sambil bergelatut pada lengan sang mama, membuat mama Nia tidak bisa menahan tawanya.


“Oh iya mama bawain kamu kue sayang tadi mama bikin” ucap mama Nia sambil menaruh kantong berisi kue.


“Wah pasti enak” ucap Shasa sambil mencomot kue yang sudah dipindahkan di atas piring.


Mama Nia tersenyum melihat tingkah putrinya yang satu ini, benar-benar menggemaskan.


“Oh iya ma ayo makan dulu, Shasa udah masakin makanan kesukaan mama lo” ajak Shasa.


“Kamu tau aja sih, makin hari makin pinter masak ya putri mama” puji mama Nia.


“Makasih mama sayang” ucap Shasa tersenyum manis.


Mereka pun makan dengan santai, selesai makan Shasa menyuruh mama Nia untuk duduk di sofa saja. Shasa tidak mau mamanya merasa capek kalo harus membantunya membersihkan piring kotor.


Mama Nia tersenyum menatap apartement putrinya yang sangat rapi ini. Sampai mama Nia tidak bisa menahan untuk naik ke atas dimana terdapat ranjang, lemari pakaian yang terhubung dengan kamar mandi dan juga meja belajar.


“Mama di sini, aku kira kemana untuk aku lihat ke atas jadi tau kalo mama disini” ucap Shasa.


“Mama tadi cuma mau lihat-lihat aja gak papa kan sayang?” mama Nia menarik tangan Shasa lembut dan duduk di bibir ranjang.


“Ya gak papa dong ma” senyum Shasa.


“Oh iya sayang, mommy Dira tadi telpon mama kalo nak Edwind menerima perjodohan ini. Jadi secepatnya kita akan adakan makan malam. Kira-kira kamu bisanya kapan? Mama si mau nya secepatnya, tapi kalo kamu memang lagi sibuk beberapa hari ini ya kita cari waktu lain aja” jelas mama Nia menggenggam tangan Shasa.


Perkataan mama Nia seketika membuat Shasa terdiam menatap sang mama. Apa Shasa terkejut? Tentu saja, Shasa kira perjodohan ini akan berhenti tapi ternyata, apakah ini akan berlanjut? pikirnya.


“Sayang” tegur mama Nia.


“I-iya ma” gugup Shasa.


“Mama tau gak mudah buat kamu nerima perjodohan ini, tapi percayalah sayang papa dan mama akan selalu memberikan yang terbaik buat kamu. Begitu pun dengan perjodohan ini, mama yakin nak Edwind adalah yang terbaik untuk putri mama ini” ucap mama Nia meyakinkan putrinya.


Shasa mencoba tersenyum agar terlihat baik-baik saja, walau nyatanya hatinya menolak. Shasa terlalu tekut dengan segala kemungkinan yang akhir-akhir ini ia pikirkan.


“Jadi gimana sayang? Kapam kamu ada punya waktu luang?” tanya mama Nia sekali lagi.


“Beberapa waktu kedepan ini Shasa gak sibuk kog ma, jadi Shasa ngikut mama aja kapan makan malamnya” jawab Shasa berusaha tenang.


“Yaudah gimana kalo lusa kita makan malamnya” usul mama Nia yang diangguki oleh Shasa.


...****...