
...****...
Siang hari saat mama Nia akan membuat kue di dapur ponselnya terus berdering di meja ruang keluarga. Ken yang kebetulan mau ke dapur untuk minum pun mendengar dering telpon milik mamanya.
“Ck mama tuh kebiasaan deh naruh ponsel sembarangan” desis Ken sambil meraih ponsel mamanya.
Ken mengernyit saat melihat nama dari si penelpon.
...Calon besan is calling......
“Calon besan?” gumam Ken.
“Bodo amat lah” gumam Ken berjalan menuju dapur.
Di dapur ia melihat sang mama sedang sibuk dengan adonan kue di bantu bi Tutik kepala maid di mansion keluarga Rossler.
“Ma ada telpon” ucap Ken sambil menyodorkan ponsel ke mama Nia.
“Dari siapa kak?” tanya mama Nia berjalan ke wastafel untuk membersihkan tangannya.
“Calon besan” jawab Ken datar.
Mama Nia menoleh lalu tersenyum sumringah, mama Nia cepat-cepat mencari kain lap untuk tangannya yang basah lalu mengambil ponsel dari putranya.
“Halo calon besan” sapa mama Nia bahagia sambil berjalan ke meja makan dan duduk di sana.
“Hai hai calon besan ku tersayang”
Mama Nia tertawa kecil mendengar kehebohan sahabatnya di seberang sana siapa lagi kalau bukan mommy Dira.
“Tumben jam segini telpon, ada apa?” tanya mama Nia.
“Kamu tau aku bawa berita bahagia buat kita semua sayangku. Kamu penasaran gak? Penasaran lah masa enggak, ya kan ya kan?” ucap mommy Dira heboh sendiri.
“Berita bahagia apa sih Ra sampai kamu heboh banget, kasian tau suami kamu tiap hari dengerin suara cempreng kamu” ucap mama Nia terkekeh.
“Kita akan besanan sayang aaaaa senangnya”
Teriakan mommy Dira sampai membuat mama Nia harus menjauhkan ponsel di tangan dari telinganya.
“Kamu serius kan Ra? Kamu gak lagi bohong kan? Syukurlah, aku seneng denger kabar baiknya” ucap mama Nia dengan gembira.
“Ya enggak dong calon besanku sayang. Kita itu akan beneran besanan tau. Jadi kapan kita makan malam bersamanya hmm. Besok? Tapi kelamaan, gimana kalau nanti malam? Tapi calon mantu ku bisa gak ya kalo dadakan? Kasian nanti calon mantuku kecapekan. Tapi aku juga pengen secepatnya mereka ketemu loh Nia sayang” rengek mommy Dira.
Mama Nia terkekeh mendengar rentetan kata yang diucapkan mommy Dira.
“Sudahlah Ra jangan merengek terus. Kalau malam ini sepertinya putriku tidak bisa, ya walaupun dia akan jawab bisa setiap aku suruh ke rumah sekalipun dia sibuk. Jadi biar aku tanya putriku dulu ya? Nanti aku kabari kapan kita makan malam bersama” jelas mama Nia dengan senyum yang tak pernah luntur.
“Ya kamu benar calon besanku, kasian nanti kalo calon mantu ku kecapekan. Yaudah nanti kapan bisanya kamu segera hubungi aku ya. Aku tutup dulu ya calon besan dadah”
“Daaahhh sahabat cerewet ku” ucap mama Nia dibalas tawa dari seberang sana sebelum sambungan terputus.
Mama Nia menaruh ponselnya di atas meja lalu bangkit untuk meneruskan membuat kue dengan wajah yang berseri, layaknya anak muda yang sedang kasmaran saja.
“Loh kamu masih di sini kak? Mama kira udah pergi ke kamar atau kemana gitu” ucap mama Nia saat menatap putranya yang ternyata masih duduk di pantri.
Ken memang sengaja duduk di pantri dengan segelas jus jeruk yang di berikan bi Tutik padanya, sambil menunggu sang mama selesai telpon.
“Mama telpon sama siapa seneng banget” ucap Ken menatap sang mama yang mulai berkutat lagi dengan adonannya tadi.
“Sama mommy Dira, kenapa kamu kepo ya?” canda mama Nia membuat Ken berdecak.
“Bukan kepo ma, tapi kog nama nya tadi ‘Calon besan'. Ya kan Ken gak tau kalau ternyata mommy Dira” kilah Ken.
Mama Nia hanya tersenyum menatap wajah putranya yang dingin dan kaku itu, mama Nia sebenarnya tau kalau saat ini putranya sedang di buat penasaran alias kepo. Tapi karena gengsi nya yang tinggi membuat Ken berkilah, pikir mama Nia.
“Mama aneh” desis Ken sambil menikmati jus jeruk miliknya.
Mama Nia hanya tertawa melihat wajah putranya yabg sedang kesal itu.
“Oh iya kak nanti anterin mama ya” ucap mama Nia sambil memasukkan adonan kedalam loyang.
“Mama mau kemana? Nanti Ken juga mau keluar” jawab Ken.
“Mau kemana kamu kak?” tanya mama Nia.
“Kumpul sama yang lain” singkat Ken.
“Tapi kamu anterin mama kalo gitu” ucap mama Nia.
“Kemana?” tanya Ken.
“Ke apartement adikmu” jawab mama Nia membereskan dapur kesayangannya dan tinggal menunggu kue buatannya jadi.
Ken memutar bola matanya malas saat mendengar kemana ia harus mengantarkan sang mama. Mama Nia yang menyadari perubahan putranya pun berjalan mendekat dan memilih duduk di kursi samping Ken.
“Kak, jujur mama tidak tau apa yang membuat kakak menjaga jarak dengan adikmu sendiri, Shasa. Sampai detik ini mama tidak tau apa masalah diantara kalian. Kamu tau kak, Shasa sangat menyayangi kamu. Mama bisa merasakan bagaimana sedihnya Shasa saat kamu mengacuhkannya, bahkan sampai memarahinya” ucap mama Nia menghela nafas saat menatap putranya yang tidak peduli dengan ucapannya.
Ken memilih bangkit menuju ruang kerjanya. Ia terlalu malas mendengar ucapan sang mama yang selalu membahas putri kesayangannya itu. Entah apa yang membuat Ken begitu benci pada Shasa.
“Ken ke atas dulu ma kerjaan Ken masih banyak. Nanti Ken antar” ucap Ken datar sebelum pergi meninggalkan mama Nia sendiri.
“Sampai kapan kedua anakku seperti ini Tuhan? Apa yang sebenarnya terjadi pada putraku? Kenapa ia begitu membenci adiknya sendiri?” gumam mama Nia berkaca-kaca.
Tak lama terdengar isak tangis dari mama Nia. Bi Tutik yang sedari tadi berada di dapur pun mendekati mama Nia lalu mengusap lembut punggung nyonyanya.
“Nyonya yang sabar ya, bibi yakin suatu saat nanti tuan muda akan berubah dan menyayangi nona muda. Nyonya jangan sedih terus ya nanti malah sakit” tutur bi Tutik.
“Makasih ya bi, bibi jangan bilang suami saya ya kalo saya habis nangis” ucap mama Nia sambil mengusap pipinya.
“Sama-sama nyonya. Siap bibi gak akan bilang tuan” jawab bi Tutik sambil hormat pada mama Nia.
Mama Nia terkekeh melihat tingkah bi Tutik yang selalu mencairkan suasana.
“Kalo gitu bibi ke belakang dulu ya mau ambil pakaian yang udah kering. Nyonya istirahat aja nanti kalau kue nya udah matang bibi panggil” ucap bi Tutik.
“Saya tunggu di sini saja bi, bibi jangan lupa istirahat ya” ucap mama Nia.
“Kalo gitu bibi tinggal dulu” pamit bi Tutik.
“Iya bi” jawab mama Nia.
Mama Nia menatap ponsel di tangannya lalu mencoba menghubungi putrinya. Deringan pertama belum ada jawaban dari putrinya.
“Halo mama ku sayang” suara gadis di seberang sana, Shasa.
“Halo sayang, kamu masih di kampus sayang?” tanya mama Nia.
“Iya ma ini masih di kampus. Ada apa ma?” tanya Shasa.
“Kamu nanti pulang jam berapa? Rencananya nanti sore mama mau ke apartement kamu sayang” ucap mama Nia.
“Shasa setelah ini udah pulang kok ma. Mama mau Shasa jemput?” tanya Shasa.
“Enggak usah sayang nanti mama bareng kakak kamu aja. Yaudah kamu lanjut kuliahnya ya mama tutup dulu. Sampai jumpa nanti sayang, hati-hati bawa mobilnya” tutur mama Nia.
“Iya ma, sampai jumpa nanti ma” ucap Shasa sebelum sambungan telpon terputus.
Mama Nia tersenyum mendengar suara putrinya yang manis itu.
...****...