
"Huh syukurlah" ucap Lily mengusap dadanya lega saat ia terselamatkan hari ini berkat bantuan pria di sampingnya, salah! Lebih tepatnya karena ia memaksa hehehe.
Di sampingnya Kenzo masih tampak kesal dan memilih fokus untuk mengemudi, kondisi saat ini sangat lenggang bagaimana tidak jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari sudah pasti jalanan sepi. Dan kesalnya lagi Kenzo harus menolong gadis disampingnya yang entah dari mana di waktu sepagi ini.
"Ehem,,, btw thanks udah mo bantu" ucap Lily menghilangkan kesunyian.
"Ke.pak.sa" tekan Kenzo disetiap katanya.
Lily memutar kedua bola matanya malas mendengar balasan dari Kenzo. "Apapun itu mo kepaksa atau enggak, gue cumq mo bilang makasih. "
"Hmm"
"Ck... " decak Lily mendengar respon Kenzo.
Hening...
Kenzo melirik gadis disampingnya yang tiba-tiba saja diam, ia kira Lily akan tertidur ternyata gadis itu hanya diam smbil sesekali melirik ke arahnya.
"Ehem... Lagian di jam segini lo dari mana? Kagak jual diri kan lo? " tanya Kenzo dengan kalimat amat sangat tidak menyenangkan.
Lily menahan tangannya untuk tidak memukul wajah tampan pria di sampingny itu. "Lo kalo ngomong bisa dipikir dulu kagak? Nyebelin banget, guebaru pulang karna bibi di rumah pingsan dan kebetulan gue diruamh jadi gue bawa ke rumah sakit dan pulangnya mobil gue mogok, sampek ketemu tuh preman gak jelas" tanpa sadar Lily menceritakan semua dengan jelas.
Kenzo hanya mengangguk sebagai respon dari ucapan Lily.
"Ck nyebelin" kesal Lily melihat respon Kenzo yang hanya mengangguk, ingin rasanya menggampar wajah pria itu.
Tak butuh waktu lama mobil yang dikendarai Kenzo berhenti tepat di depan gerbang rumah keluarga Pradana. Lily segera keluar dan berbalik menatap Kenzo, "Thanks".
Brak...
Suara pintu tertutup dengan keras membuat Kenzo di dalamnya mengelus dada kaget. Dliriknya Lily yang sudah berjalan memasuki gerbang dengan kaki dihentak hentakkan layaknya anak kecil yang merajuk.
Kenzo tersenyum tipis melihatnya lalu menggelengkan kepala atas apa yang ia pikirkan barusan. Tak ingin semakin merasa pusing Ia segera menancap gas pulang.
Keesokan paginya disebuah kamar mewah terdapat sepasang pasutri yang masih bergelung didalam selimut, menutupi tubuh dari hawa dingin pagi ini. Sampai salah satu dari mereka mengerang bangun karena silaunnya sinar mentari pagi.
Shasa menatap sekitar dengan tatapan kosong, apa yang baru saja terjadi ternyata bukan mimpi. Bahkan pagi ini ia terbangun di samping pria yang merenggut kesuciannya. Shasa mulai terisak mengingat kejadian semalam. Bukan ini yang ia inginkan, sungguh bukan seperti ini. Tapi apa daya dirinya yang tidak bisa menghindar dari takdir.
Sekarang apa yang harus ia lakukan, bagaimana jika nanti ia hamil dalam kondisi rumah tangga mereka yang tidak baik-baik saja. Bagaimana ia menghadapi pria di sampingnya...
Suara isak tangis Shasa membangunkan pria disampingnya yang tak lain adalah Edwind. Alangkah terkejutnya Edwind saat terbangun dengan tubuh tanpa busana sama seperti Shasa. Edwind terdiam sejenak mengingat kejadian semalam, layaknya kaset berputar menampilkan apa saja yang terjadi semalam membuat Edwind meraup wajahnya kasar.
Tanpa berbicara apa pun, Edwind memilih untuk bangkit mengambil celana dan memakainya lalu berjanlan menuju kamar mandi tanpa menghiraukan Shasa yang masih terisak di pinggir ranjang.
Di dalam kamar mandi berulang kali Edwind memukul kepalanya sambil merutuki apa yang baru ia perbuat. Ia memang tidak menyukai istrinya karena sebuah alasan, tapi cara ini tidak pernah ada dalam pikirannya. Emtah sadar atau tidak ia merasa bersalah akan apa yang baru saja ia perbuat.
Edwind menatap pantulan wajahnya di cermin sambil bergumam, "Enggak ada yang salah bukan? Dia istri lo Ed jadi stop untuk merasa bersalah"
Berbeda dengan Shasa yang masih terdiam merenung entah apa itu, perlahan ia bangkit menahan sakit dengan tubuh terbungkus selimut. Ia memilih untuk mandi di kamar mandi bawah saja, selain itu ia ingin menghindar dari suaminya. Dengan langkah tertatih Shasa menahan tangisnya menuju lift.
Selesai dengan rutinitas mandi Edwind keluar dan menatap kondisi kamar yang sepi. Edwind meletak kan handuk kecil di pundaknya dan menatap ranjang yang masih terlihat berantakan, perlahan langkahnya mendekati ranjang saat mata tajamnya mendapati noda merah di sana.
Deg.
Edwind membeku menyadari satu hal, "Jadi gue yang pertama" gumamnya tersenyum tipis lalu menggeleng.
Ia berbalik ke arah walk in closet dan berganti dengan pakaian santai.
Drrrtt
Drrrtt
Edwind meraih ponselnya mendapati pesan singkat dari Ervins yang memberi kabar tentang keberangkatannya ke Spanyol nanti malam. Ia baru ingat tentang kepergiannya ke Spanyol selama kurang lebih satu bulan itu. Entah mengapa ia merasa malas untuk perjalanan bisnis kali ini.
Di dapur Shasa memilih membuat sarapan untuk mereka, mau bagaimana pun caranya setelah dipikir tidak baik jika seorang istri menghindar dari suaminya. Shasa akan berusaha menerima apa yang terjadi lagi pula itu sudah menjadi hak Edwind, pikirnya.
Shasa mulai menata dua piring nasi goreng sosis dengan telur ceplok di atasnya, tak lupa segelas jus jeruk dan secangkir kopi untuk suaminya.
Tak lama terlihat Edwind berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan membuat Shasa seketika gugup.
"Sa-sarapan kak" gugup Shasa
"Hmm" gumam Edwind tanpa berkomentar apa pun.
Shasa terdiam menatap Edwind yang menyantap sarapan pagi ini tanpa hinaan dan cacian untuknya, ia tersenyum lalu ikut duduk dan memulai sarapan.
Hening
Selesai dengan sarapannya Edwind terdiam menatap Shasa yang fokus makan. Ia akui jika gadis salah, wanita di depannya yang menyandang status sebagai istrinya itu sangat cantik. Edwind akui itu.
Shasa mendongak saat merasa diperhatikan oleh Edwind dan benar saja tatapan mereka terkunci untuk beberapa detik.
"Siapin keperluan gue selama di Spanyol untuk 1 bulan kedepan" pinta Edwind sebelum beranjak.
"Spanyol? 1 bulan? Kak Ed berangkat sekarang???" tanya Shasa ikut berdiri saat Edwind bangkit.
"Nanti malam" singkat Edwind.
"Nanti malam?!" sentak Shasa kaget.
Edwind mengernyit mendengar respon Shasa, kenapa harus sekaget itu? Pikirnya. "Why? " tanya Edwind datar langsung di balas gelengan oleh Shasa.
Edwind mengangkat bahu acuh, "Untuk kejadian semalam anggep aja gak pernah terjadi apa-apa. Gue yakin itu semua pasti karna kesalahan lo sendiri bukan gye" ketus Edwind sebelum berlalu pergi.
Deg.
Shasa terdiam sambil tersenyum getir mendengar ucapan Edwind barusan, ia menghela nafas sebelum mencuci peralatan makan dan masaknya. Selesai dengan kegiatannya Shasa kembali ke kamar untuk menata keperluan Edwind selama sebulan kedepan.
Shasa terdiam menatap sprei ranjang yang masih teronggok di sana. Ia segera meraih dan memasukkan ke dalam mesin cuci di lantai bawah. Lagi-lagi Shasa hanya bisa tersenyum getir.