About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
EPISODE 12



...****...


Shasa menatap pantulan tubuhnya di cermin, mulai malam ini Shasa akan tinggal di kediaman Rossler sampai hari pernikahannya tiba. Itu pun atas perintah mama Nia yang ingin berada dekat dengan putrinya sebelum menjadi milik orang lain.


Tok tok tok


Suara pintu kamar Shasa di ketuk mengalihkan lamunannya.


“Sayang kamu sudah selesai? Kalau udah cepet keluar ya sayang, papa dan kakak mu sudah menunggu di bawah” ucap mama Nia dari balik pintu kamar Shasa.


Shasa segera membuka pintu menghampiri mama Nia yang tersenyum menatap sang putri dengan dress yang tadi ia beli.


“Kamu cantik banget si sayang pakai baju ini” puji mama Nia memutar tubuh putrinya membuat Shasa tertawa.



*dress cantik yang di pakai Shasa.


“Makasih ma udah dibeliin, Shasa suka sama dressnya” ucap Shasa menggenggam tangan mama Nia.


“Mama emang enggak pernah salah pilih kalo buat kamu” bangga mama Nia sambil terkekeh.


“Apa lagi buat pendamping hidup kamu sayang, mama pilih Edwind untuk menjaga princess mama yang cantik ini” sambung mama Nia bahagia.


Senyum Shasa sekilas luntur saat mendengar mama nya mengucap nama Edwind bangga, seakan ia adalah pria yang akan berjuang dengan sepenuh tenaga untuk menjaga berliannya. Shasa tersenyum miris mengingat nasibnya tak seindah yang direncanakan orang tuanya.


‘Asal lihat papa dan mama bahagia Shasa ikhlas’ batin Shasa tersenyum.


“Yaudah yuk kita berangkat, papa dan kakakmu pasti sudah lapar” ajak mama Nia berjalan berdampingan dengan sang putri.


Ibu dan anak itu melangkah menuruni tangga di selingi candaan ringan. Sampai di teras papa Daniel tersenyum menyambut istri dan putrinya yang tampak cantik, berbeda dengan Kenzo yang memasang wajah datar tak peduli.


“Kalian sudah siap? Wah wah putri papa cantik banget sih” puji papa Daniel mengacak rambut Shasa gemas.


“Papa jangan rusak rambut Shasa” rengek Shasa membuat papa dan mamanya tertawa kecil.


“Cantik pun dia enggak mirip mama” cetus Kenzo lalu pergi begitu saja masuk ke dalam mobil.


Deg ...


Shasa terdiam seketika, hati nya terasa tertohok begitu saja. Bukan sekali dua kali Shasa mendengar kalimat yang sama seperti itu tertuju padanya.


‘Apa bener aku enggak ada kemiripan sedikit pun pada mama? Atau maksud mereka aku lebih mirip papa? Ya mungkin aku lebih mirip papa, versi cewek dari papa’ batin Shasa berpikir positif.


Papa Daniel dan mama Nia saling menatap satu sama lain. Terutama mama Nia yang terlihat cemas akan suatu hal.


“Hahaha kak Al kalo bercanda emang gitu kan pa ma, kalo Shasa gak mirip mama itu berarti aku mirip papa, versi ceweknya papa” tawa Shasa memercahkan suasana.


“Oh hahaha benar banget sayang kamu itu emang wajahnya mirip papa, versi cewek papa kamu tuh hahaha” sahut papa Daniel memulih kan suasana.


“Makanya mama mu slalu cemberut tiap inget kalo dia cuma ngasih aura cantiknya ke kamu, kamu kan mirip papa” sambung papa Daniel.


“Ya-yaudah kita pergi yuk mama sudah laper nih” ucap mama Nia terbata.


Di dalam mobil tidak ada percakapan sama sekali, hening. Papa Daniel fokus dengan menyetir, mama Nia entah apa yang dia pikirkan. Dan untuk Kenzo dan Shasa sudah pasti mereka akan diam-diaman.


Makan malam ini mama Nia yang menentukan tempatnya. Baginya hal seperti ini sangat jarang mengingat kedua anaknya yang tidak tinggal serumah belum lagi kesibukan mereka.


“Oke kita sampai” ucap papa Daniel semangat membuyarkan keheningan.



*anggap saja suasananya malam ygy😁


Perlahan Shasa keluar dan bergandengan dengan sang mama diantara papanya. Sedangkan Kenzo memilih berjalan lebih dahulu di depan.


Makan malam kali ini terasa canggung bagi sebuah keluarga. Shasa masih berpikiran tentang ucapan Kenzo tadi walau ia sudah berusaha berpikir positif.


‘Apa aku tanyakan saja pada kak Al?’ batin Shasa melirik Kenzo yang makan dengan tenang.


“Mau nambah lagi sayang?” tanya mama Nia.


“Shasa mau udangnya dong ma” manja Shasa mengangkat piringnya.


Shasa tidak mau makan malam kali ini terasa canggung.


“Mau pakai capcay nya juga cantik” goda papa Daniel membuat Shasa tertawa.


Shasa tersenyum kecut saat Kenzo sama sekali tidak meresponnya.


“Ken kamu mau ayam krispi nya?” tanya mama Nia.


“Yes mom” jawab Kenzo menatap teduh mata sang mama.


“Kalo gitu ambilkan kakak mu ayam krispi sayang” ucap mama Nia menyuruh Shasa.


Saat Shasa akan mengambilkan ayam krispi untuk Kenzo langsung terhenti saat mendengar perkataan kakaknya. “Aku ambil sendiri”


“Permisi tuan nyonya ini jus pesanan anda” Datang seorang pelayan dengan nampan berisi jus pesanan papa Daniel.


“Terima kasih ya mbak” ucap mama Nia ramah.


Setelah memberikan jus pelayan tadi pun pamit pergi. Shasa yang merasa kepedesan pun meraih gelas jus yang tertukar oleh milik Kenzo saat pelayan tadi menaruhnya. Untung papa Daniel sempat menghentikan kecerobohan putrinya.


“Shasa jangan minum” ucap papa Daniel spontan membuat Shasa kaget.


“Itu rasa strawberry sayang, sepertinya punya mu dan Ken tertukar” tambah papa Daniel membuat Shasa menatap gelas di tangannya dan melirik milik Kenzo.


Kenzo pun langsung merebutnya dan menaruh gelas berisi jus mangga ke samping piring Shasa. Shasa terdiam sejenak seakan mengingat sesuatu. Dalam keluarganya hanya dirinya yang alergi terhadap strawberry. Dan jika di ingat kembali di keluarga besar Rossler tidak ada yang alergi strawberry hanya dirinya sendiri.


Deg.


Jantung Shasa terasa berhenti untuk beberapa detik, apa yang dia pikirkan?


‘Tidak! Tidak Sha! Kamu harus tenang! Kamu terlalu berpikir! Kamu harus berpikir positif Sha!’ batin Shasa.


“Shasa” panggil mama Nia dengan keras menyadarkan Shasa dari lamunannya.


“Ah ya ma?” Shasa mencoba tersenyum pada mama Nia.


“Kamu kenapa nak? Mama mu dari tadi memanggil tapi malah asik melamun. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya papa Daniel membuat Shasa menggeleng.


“Enggak kog pa ma” jawab Shasa melanjutkan makannya.


Bahkan rasa pedas yang ia rasakan seakan sirna begitu saja. Sesekali Shasa melirik pada segelas jus mangga di samping piringnya.


Kenzo yang diam-diam memperhatikan Shasa pun bisa menebak apa yang gadis itu pikirkan. Entah kenapa melihat wajah murung yang tersembunyi di balik senyum manis itu menggetarkan hati Kenzo yang dingin.


Apa Kenzo merasa kasihan? Entahlah. Memang pria dingin sepertinya bisa merasa kasihan.


“Shasa ke toilet dulu ya pa, ma, kak” ucap Shasa bangkit menuju kamar mandi.


Di kamar mandi Shasa mencuci tangan sambil menghela nafas berat. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Mengamati setiap lekuk wajahnya, jika diamati bola mata, hidung, bibir dan alis memang tidak ada yang sama seperti mama Nia.


Shasa menahan tangis sambil membuang jauh pikiran yang saat ini mempenuhi otaknya. Tak mau membuat orang tua dan kakaknya menunggu Shasa bergegas keluar dari kamar mandi.


Tidak sengaja saat keluar Shasa menabrak pria paruh baya seumuran papa Daniel.


“Maaf tuan, saya tidak sengaja. Apa tuan baik-baik saja?” tanya Shasa mendongak menatap pria paruh baya itu.


“Tuan?” panggil Shasa saat tidak mendapat jawaban dari pria paruh baya itu.


“Ah iya nak” pria paruh baya itu masih menatap Shasa lekat.


“Tuan tidak apa-apa?” tanya Shasa sekali lagi.


“Tidak apa-apa nak, maaf saya kurang hati-hati tadi” ucap pria paruh baya itu.


“Saya juga minta maaf sudah menabrak tuan tadi. Kalau begitu saya permisi dulu” Shasa tersenyum ramah sebelum beranjak pergi.


“Tunggu nak” tahan pria paruh baya saat Shasa mulai melangkah.


Shasa yang merasa heran namun tetap berbalik menatap pria paruh baya itu.


“Boleh tau namamu nak? Kau sangat mirip dengan seseorang” ucap pria paruh baya itu saat menangkap wajah bingung Shasa.


“Nama saya Shasa” ucap Shasa ramah lalu pamit pergi.


Pria paruh baya itu masih terdiam menatap lekat punggung gadis yang ia temui sampai hilang di balik dinding.


“Shasa” gumam pria paruh baya itu.


...****...