
...****...
Pagi ini Shasa sibuk menyirami bunga kesayangan milik mama Nia, walau sudah ada pelayan yang di kerjakan untuk merawat taman bunga ini Shasa tetap ingin menyiraminya.
“Akhirnya selesai juga, tumbuhlah dengan indah wahai bunga yang cantik” gumam Shasa tersenyum menatap taman bunga milik mama nya itu.
Tidak terlalu luas untuk ukuran taman bunga, karena papa Daniel tidak mau istrinya merasa lelah jika mengijinkan memiliki taman bunga yang luas. Sungguh suami idaman papa Daniel.
Shasa beralih menuju dapur dan sampai di sana Shasa melihat pelayan yang mulai menata menu sarapan di atas meja makan. Dengan cekatan Shasa membantu pelayan itu menata lauk dan sayur. Walau sempat ada penolakan dai para pelayan, Shasa tetap kekeh membantu. Shasa tersenyum menatap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja.
Sesaat Shasa merasa gugup, bagaimana tidak sarapan pagi ini hanya ada dirinya dan Kenzo, kakaknya. Sedangkan papa Daniel sudah pergi ke kantor bersama mama Nia yang sedang sibuk mengurus persiapan pernikahannya bersama mommy Dira. Shasa memilin kaos yang ia pakai saat ini.
Entah acara seperti apa yang di persiapkan mereka untuk pernikahannya. Padahal Shasa hanya meminta pernikahan ini sesederhana mungkin. Tapi mama Nia dan mommy Dira hanya mengiyakan ucapannya. Terlihat dari sibuknya mereka sudah di pastikan pernikahan ini tidak sesederhana pemikiran Shasa. Lupakan dengan persiapan pernikahan ini sejenak.
Shasa mulai berpikir sebaiknya memanggil kakaknya untuk sarapan. Semoga pagi ini menjadi awal yang baik untuk nya mendekati sang kakak.
Shasa berbalik berniat memanggil sang kakak, tapi ternyata Kenzo sudah berdiri tidak jauh darinya. Kenzo melirik sekilas sebelum duduk dengan tenang. Tubuh tegap berbalut setelan jas itu tampak gagah dan berwibawa. Shasa sangat suka melihat kakaknya dan berakhir dengan khayalan dimana Kenzo akan tersenyum padanya.
“Selamat pagi kak Al, apa tidur kakak nyenyak semalam?” sapa Shasa ikut duduk berseberangan dengam Kenzo.
“ .... “
Shasa tersenyum melihat Kenzo yang tenang mengunyah makanannya tanpa menjawab sapaan Shasa. Tapi Shasa tidak akan menyerah, selagi ada waktu bukan.
“Hari ini kakak kerja kan, mau Shasa siapkan bekal makan siang? Kak Al mau bekal nasi atau kue buatan mama? Biar Shasa siap kan ya” ucap Shasa bangkit mengambil dua tempat makan lalu kembali lagi ke meja makan.
Shasa mulai menata nasi, lauk dan sayur ke dalam tempat makan pertama, selesai itu Shasa berjalan ke arah kulkas mengambil kue buatan mama Nia dan mengirisnya dengan rapi lalu memasukkan ke tempat makan kedua. Setelah itu Shasa menata dua bekal untuk Kenzo ke dalam tas bekal kecil berwarna biru, tidak lupa Shasa juga menyiapkan botol mineral di dalamnya. Semua ia lakukan dengan cekatan takut jika Kenzo segera berangkat kerja.
Kenzo yang sedari tadi hanya melirik Shasa dengan wajah datar tidak peduli.
“Nah selesai kak, nanti kakak makan ya? Biar kak Al tidak sakit perut karena telat makan” ucap Shasa dengan gembira.
Shasa kembali duduk di seberang Kenzo yang sedang meminum jus jeruk buatan bi Tutik.
“Oh iya selama di Amerika bagaimana kabar oma kak? Semoga oma selalu di beri kesehatan, Shasa pengen banget main ke Amerika nengok oma tapi takut nanti oma marah. Kak Al nan-“
“DIAM!!!” bentak Kenzo sambil menaruh gelas dengan kasar di atas meja.
Shasa diam menunduk takut saat melihat raut wajah Kenzo yang memerah menahan amarahnya.
“Tidak bisakah kau diam! Apa kau sudah bosan hidup hah!” teriak Kenzo memenuhi ruang makan membuat beberapa pelayan menatap kasihan pada Shasa.
“Kau hanya perlu diam!!! Tanpa harus ikut campur urusanku!!! Dan ingat kau hanya anak pembawa sial yang hadir di keluarga ini!!! Karena kehadiranmu papa dan oma selalu berselisih!!! Jangan karena kau berada di rumah ini lagi kau mengurusi ku!!!” Teriak Kenzo bangkit membanting gelas miliknya ke lantai sebagai pelampiasannya.
PYAARRR ....
Shasa terdiam menahan tangis atas perkataan kasar Kenzo padanya. Melihat Kenzo yang beranjak pergi membuat Shasa berlari menyusulnya.
“Kak Al bekalnya ketinggalan” ucap Shasa sambil meraih lengan kakaknya.
Kenzo menepis kasar tangan Shasa dilengannya membuat Shasa sedikit terdorong kebelakang. Untung saja Shasa masih bisa mengatur keseimbangannya jadi ia tidak sampai jatuh.
“Bekalnya ketinggalan kak” lirih Shasa saat Kenzo menatapnya tajam.
Namun sedetik kemudian senyum Shasa luntur saat Kenzo membanting tas berisi bekal itu kelantai.
“Jangan harap aku akan membawanya!” geram Kenzo berlalu pergi membiarkan Shasa menatap nanar bekal yang teronggok di lantai.
Isak tangis mulai terdengar dari bibir Shasa yang bergetar mengambil tas bekal itu. Bi Tutik berlari mendekati nona mudanya, bi Tutik melihat bahkan mendengar bagaimana kasarnya tuan mudanya pada adiknya itu.
“Shasa tidak apa-apa bi” ucap Shasa sebelum bi Tutik bertanya.
Shasa beranjak ke kamarnya menaiki tangga dengan tas bekal di tangannya.
“Non Shasa tidak mau sarapan dulu?” tanya bi Tutik di bawah tangga membuat Shasa berhenti.
“Shasa makan ini aja sayang kalo di buang bi” ucap Shasa menahan isak tangisnya.
Bi Tutik menghela nafas menatap punggung putri majikannya yang menaikk anak tangga.
Di dalam kamar Shasa duduk di sofa setelah menaruh bekal tadi di atas meja. Tangisnya pecah begitu saja ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Hatinya terasa perih dan sakit mengingat perlakuan kasar Kenzo padanya.
“Kenapa kakak sangat membenci Shasa? Apa salah Shasa selama ini kak? Kenapa kita tidak bisa seperti kakak beradik pada umumnya? Yang saling menjaga dan menyayangi” isak Shasa menutup wajah dengan tangannya.
Shasa beralih membuka bekal dan memakannya dengan tangis yang tidak kunjung berhenti. Shasa menghabiskan bekal dan kue itu dengan perlahan. Walau nasi, lauk dan sayur sudah tercampur karena dibanting Shasa tetap memakannya.
Dibalik pintu kamar tanpa Shasa sadari bi Tutik menahan tangis melihat nona mudanya memakan bekal yang sudah bercampur itu. Bi Tutik tadi nya ingin masuk mengantarkan nasi baru pun menahan dirinya. Dengan perlahan bi Tutik memilih menutup pintu dengan perlahan dan kembali ke dapur.
.
.
.
Di kantor Kenzo sibuk dengan tumpukan kertas yang menggunung sampai tidak sadar seorang pria duduk di seberangnya.
“Sesibuk itu kah?” ucap pria itu mengagetkan Kenzo.
“Shit! Apa kau lupa cara mengetuk pintu?” desis Kenzo kesal.
“Kau saja yang terlalu sibuk” santai pria itu yang tak lain Edwind.
“Kenapa kau kesini apa kau menumbalkan Ervins untuk menyelesaikan tugas mu, hmm” cibir Kenzo membuat Edwind mendengus.
“Kau terlalu berburuk sangka, brother” gumam Edwind.
“Lalu apa yang kau inginkan? Aku tidak punya banyak waktu untuk saat ini, lihat kerjaanku banyak. Jadi cepat katakan apa mau mu dan pergilah” usir Kenzo .
“Ck kau ini, kalau bukan karena mommy menyuruhku kemari aku tidak akan mau mengantarkan salad buah buatan mommy untuk mu” kesal Edwind menaruh paper bag di atas meja lalu bangkit pergi.
Kenzo tersenyum tipis melihat wajah kesal sahabatnya itu. Ia memang suka salad buah buatan mommy Dira itu. Jadi sudah pasti Edwind akan di suruh mengantarkannya langsung setiap mommy Dira membuatnya.
“Ck bocah” gumam Kenzo meraih salad buah buatan mommy Dira dan melahapnya. Istirahat sejenak pikir Kenzo.
...****...