About Shasa'S Love

About Shasa'S Love
EPISODE 11



...****...


Malamnya Lily memutuskan untuk menginap di apartement Shasa, ia sudah terlalu mager untuk pulang. Lebih tepatnya di apartement Shasa banyak macam kue kering dah kek mau lebaran aja si Shasa mah.


“Sha kog tumben banget sih kamu bikin kue kering banyak varian gini, ini juga kue bolu resep baru katamu kan?”


Lily merasa heran dengan tingkah sahabatnya yang akhir-akhir ini lebih suka menghabiskan waktu di dapur bergulat dengan alat dan bahan kue. Entah itu kue kering atau pun kue basah. Seingat Lily sahabatnya itu tidak pernah bertingkah seperti ini. Ya bayangkan saja di atas pantri terdapat delapan toples berisi kue kering dengan berbeda resep. Belum lagi ada dua piring besar berisi kue bolu beda rasa juga.


“Lagi pengen aja” singkat Shasa yang kini berkutat dengan alat masaknya untuk makan malam.


“Tapi ini gak lagi lebaran lo Sha?” gumam Lily yang masih terdengar oleh Shasa.


“Kan gak harus nunggu lebaran dulu kali Ly kalo cuma mau buat kue aja. Lagian kan ada kamu yang bakal habisin semua itu” canda Shasa sambil mengiris bawang merah.


“Yeee ya kalik Sha aku habisin gak jadi diet dong” balas Lily sewot.


“Enggak usah diet-dietan Ly, kamu makan banyak juga gak akan gemuk kog” cibir Shasa menatap Lily yang sibuk mengunyah kue buatannya.


“Hehehe iya juga ya Sha, bersyukur banget gitu aku” tawa Lily bahagia.


Shasa tertawa melihat sahabatnya pun tertawa. Bahagia itu memang sederhana, sesederhana ini lagi. Shasa pun kembali berkutat pada masakannya. Tadinya Shasa mau masak sayur tapi ternyata persediaan di kulkasnya sudah habis dan tersisa satu bungkus ayam, jadi ia memutuskan untuk bikin ayam krispi dan sambal ala Shasa.


“Sha setelah lulus lo mau kerja kemana?” tanya Lily yang seketika menghentikan tangan Shasa.


‘Kerja kemana setelah lulus? Apa aku masih bisa kerja setelah menikah nanti? Sepertinya tidak akan bisa, kesempatanku hanya sampai lulus kuliah kah? Apa aku akan menyesal dengan keputusan ini? Aku bahkan belum bercerita pada Lily’ batin Shasa.


“Shasa minyak nya dah panas tuh sampek keluar aseeepp” pekik Lily menyadarkan Shasa yang langsung mematikan kompor.


Lily bangkit dari kursi dan menghampiri Shasa yang tersenyum padanya buat ia bergidik ngeri.


“Wah gak bener nih, penghuni ni apartement jangan-jangan lagi masuk ke tubuh Shasa wah wah gak bener” gumam Lily mundur melihat senyum jail Shasa.


“Aku gak kerasukan kalik Ly, cuma pengen ketawa aja lihat wajah panikmu itu hahaha” tawa Shasa lalu mulai menggoreng ayam.


“Oh dasar bocah” dengus Lily kembali duduk dan meraih sepotong kue bolu.


Mereka pun saling diam Shasa dengan alat masaknya dan Lily sibuk mengunyah dan berselancar di dunia maya. Sesekali Lily akan bersenandung mengisi keheningan ya walau suaranya tak seindah suara Shasa.


Setelah 45 menit berkutat dengan alat masak, makan malam pun sudah siap. Lily bangkit untuk menata masakan Shasa tadi, walau hanya nasi, ayam krispi dan sambal cobek ala Shasa.


“Hemm dah laper banget Sha lihat nya” ujar Lily sambil menyodorkan piring kosong pada Shasa.


Shasa menahan tawa melihat wajah Lily yang seperti anak kecil itu, ia pun langsung menyentongkan nasi pada piring Lily baru ke piringnya.


“Makan yang banyak Lily sayang” ucap Shasa meledek.


“Siap Shasa ajinomoto” canda Lily yang langsung membuat bola mata Shasa hampir keluar.


“Sekali lagi kamu bilang kayak gitu aku lempar kamu dari balkon kamar lo Ly” geram Shasa memasang wajah sangar yang malah terlihat menggemaskan di mata Lily.


Bukannya takut Lily malah tertawa kencang sampai harus memegang perutnya. Shasa sendiri sampai tak habis pikir melihat sahabatnya yang tertawa seperti ini.


“Udah dong Ly ketawanya aku mau ngomong serius sama kamu nanti jadi cepet habisin makannya” kesal Shasa.


”Okay siap” balas Lily melahap makanannya.


“Sha kamu tau gak tadi siang tuh si Molly kejebur ke lumpur hahaha” tawa Lily terdengar saat menceritakan si kucing kesayangannya, Molly.


“Hahaha kog bisa si Ly, kasian banget si Molly” tawa Shasa.


“Gak tau dah kebanyakan tingkah tuh si Molly. Kamu tau sendiri kan Sha kalau si Molly tuh anti kotor-kotoran. Tadi tuh lucu banget wajah kaget campur sedihnya” curhat Lily mengingat wajah si kucing.


Shasa ikut tertawa hanya dengan membayangkannya. Pasti lucu banget si Molly.


“Oh iya Sha, tadi kamu mau ngomong serius apa?” Lily mencomot kue kering sambil menatap wajah Shasa yang berubah sendu.


Shasa menghela nafas sesaat sebelum akhirnya berucap. “Aku mau nikah Ly”


Lily menatap wajah Shasa yang menunduk sampai tawa nya pun pecah membuat Shasa mendongak menatapnya.


“Hahahaha Shasa Shasa ini tuh bukan april mop jadi gak usah aneh-aneh deh, bikin perut aku sakit tau kebanyakan ketawa” ucap Lily memegang perutnya.


Lagi-lagi Shasa hanya bisa menghela nafas mendengar respon sahabatnya itu. Sudah pasti Lily tidak percaya, selama ini Shasa selalu menolak pria yang mengajaknya berkencan dengan berbagai alasan, berpacaran saja tidak pernah. Lalu sekarang ia berkata akan menikah pada Lily, sudah jelas gadis itu menganggap ini semua candaan.


“Tapi kali ini aku serius Ly” ucap Shasa menatap wajah Lily yang terdiam.


Sejenak Lily menatap bola mata sahabatnya itu mencoba mencari kebohongan di sana, bisa saja ia sedang di prank saat ini pikirnya. Tapi setelah menyelami mata indah Shasa, tidak ia temukan sedikit pun kebohongan.


“Kamu serius Sha?” tanya Lily di balas anggukan.


“Serius mau nikah Sha?” tanya Lily sekali lagi.


“I-iya Ly” lirih Shas.


“WHAT?!!” teriak Lily tampak syok.


Shasa memejamkan mata mendengar teriakan Lily dan berganti dengan ocehan hebohnya itu.


“Kamu serius mau nikah Sha? Sama siapa? Kapan kamu deket sama cowok? Kog aku gak tau si Sha? Trus kenapa tiba-tiba kamu nikah? Kamu gak di apa-apain kan sama cowok yang mau nikahin kamu itu? Atau kamu diancam kayak di film yang aku lihat kemarin? Kalo emang iya kamu diancam bilang sama aku Sha, kamu gak perlu takut aku akan jagain kamu dari cowok brengsek itu. Atau gini aja kita samperin tuh cowok biar aku pukul tuh cowok. Kamu ha-“


“Aku dijodohin sama papa” ucap Shasa memotong ocehan Lily.


“WHAT?!! DIJODOHIN?!!” pekik Lily tak percaya. Shasa tersenyum ketir sambil mengangguk.


“Sama siapa Sha? Kog kamu mau sih? Bukannya kamu masih mau beresin kuliah trus kerja dulu ngejar cita-cita kamu?” tanya Lily menatap iba sahabatnya itu.


“Sama anak sahabat papa Ly, dia sahabat kak Al juga” jujur Shasa.


Lagi-lagi Lily dibuat terkejut dengan ucapan Shasa. Selama ini Lily sedikit tau tentang masalah Shasa dan kakaknya. Dan apa ini? Shasa akan di jodohkan oleh anak dari sahabat papanya sekaligus sahabat kakaknya, itu berarti...


“Leander Edwind Anderson?” gumam Lily bertanya pada Shasa.


Dengan wajah sendu Shasa tersenyum getir lalu menganggukan kepala sebagai jawaban. Spontan Lily menutup bibirnya dengan telapak tangan lalu memeluk Shasa erat. Lily tau bagaimana perasaan sahabatnya saat ini. Lily juga sedikit tau bagaimana perlakuan Kenzo dan Edwin pada Shasa.


Malam ini Shasa sedikit merasa lega setelah bercerita pada sahabatnya, biarkan ia menikmati masa-masa dimana ia bisa bercerita tentang apa yang ia rasakan seperti saat ini. Karena nantinya Shasa tidak tau apa masih bercerita seperti ini atau tidak.


...****...