
Setelah peristiwa Chimera terjadi. Para Petualang veteran ditugaskan untuk melakukan investigasi di bukit untuk memastikannya. Namun pada waktu itu, mereka sama sekali tidak menemukan Chimera tersebut. Melainkan menemukanku yang tengah pingsan di dalam hutan dengan pakaian compang camping.
Aku segera di evakuasi ke kota, dan dirawat langsung oleh Emili yang kebetulan juga seorang dokter. Karena elf memiliki hidup yang panjang jadi dia memiliki beberapa kemampuan yang cukup berguna seperti itu.
Emili merawat ku dengan penuh kasih sayang. Meskipun aku bukan siapa-siapanya waktu itu. Tapi dia sangat peduli denganku, akhirnya kemunculan Chimera di kota tersebut tidak pernah disiarkan. Ya karena memang tidak pernah ditemukan, jadi dibiarkan sebagai kabar burung belaka.
Sekarang para petualang pemula yang mengerjakan quest di bukit juga tidak ada yang hilang. Mereka bisa kembali dengan selamat dan itu berita yang bagus.
Waktu pingsan, aku bertemu lagi dengan Dewa menyebalkan itu. Di ruang putih tidak berujung.
Dia memberiku sebuah pesan dan tugas penting di masa depan. Bahwa akan ada orang lain yang akan dibawa ke dunia ini dari dunia yang sama denganku.
Namun mereka akan menjadi Pahlawan yang akan menghentikan segala kejahatan yang ada di dunia ini.
Nah, aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Namun tugas dari Dewa itulah masalahnya. Dia mengatakan padaku, kalau aku harus menjadi penjahat yang akan membunuh para Pahlawan tersebut.
Dikatakan bahwa para Pahlawan memiliki berkah dari para Dewa. Berbeda denganku yang tidak menerima berkah apapun semenjak datang ke dunia ini. Jadi sudah pasti mereka jauh berkali-kali lebih kuat dibandingkan aku saat ini.
Aku tidak bisa melawan perintahnya, lagipula kami sudah membuat kontrak saat membuat kesepakatan. Dan jika aku mencoba menolak tugas dari Dewa itu, aku akan mati seketika, itulah yang dia katakan.
Aku penasaran tentang apa motifnya untuk membunuh para Pahlawan, jadi aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa? Karena aku tidak suka ada seorang yang tiba-tiba menganggu dunia tempatku bermain. Para Dewa tertinggi itu memang suka seenaknya sendiri."
"Jadi memanggil para Pahlawan itu bukan keinginanmu, melainkan dari Dewa yang posisinya lebih tinggi darimu saat ini?"
"Benar. Itu menyebalkan bukan? Aku bahkan tidak bisa menentangnya. Jadi aku menyuruhmu untuk membunuh mereka semua."
"Kau bercanda bukan? Mereka menerima sebuah berkah dari Dewa tertinggi. Tidak mungkin aku bisa menang melawan mereka, terlebih aku bahkan pernah mati sekali saat melawan Chimera."
"Jika itu kau aku yakin kau pasti bisa mengalahkan mereka. Untuk itu jadilah lebih kuat dari sekarang."
"Seenaknya bicara!"
Dewa itu sepertinya tidak terlalu peduli denganku. Jadi dia seolah ingin mengatakan kepadaku kalau terserah bagaimana caraku untuk mengalahkan mereka. Dewa itu mencoba mengatakan kepadaku, "Kalau aku tidak bisa menggunakan mu, maka aku tinggal mencari penggantinya."
Aku merasa kesal dengan sikapnya yang seenaknya sendiri.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan. Apakah aku yang bereinkarnasi di dunia ini, juga persetujuan dari para Dewa tertinggi itu?"
"Hmm, tentu saja tidak. Akulah yang membawamu ke dunia ini. Yah, alasannya karena aku ingin bermain denganmu."
"Bukankah kau sama busuknya dengan Dewa tertinggi itu?"
"Sudah sudah, jaga caramu berbicara. Bagaimana pun aku ini masih seorang Dewa Lo. Baiklah, kalau begitu sampai disini saja, selamat berjuang."
"Suatu hari nanti, aku pasti akan membunuhmu."
"Nah, aku menantikan hari itu tiba."
Dia tersenyum padaku. Sementara aku melihatnya dengan tatapan kesal. Disaat itulah kesadaranku pudar.
Mataku terbuka dengan keadaan keringat dingin. Saat ini aku di dalam sebuah ruangan yang sepertinya adalah sebuah kamar seseorang. Baunya sangat wangi, seperti seseorang yang aku kenal.
Aku mencoba menggerakkan tubuhku, tapi rasanya sangat sakit. Aku baru sadar bahwa seluruh tubuhku ternyata sedang diperban. Selain itu, aku lebih penasaran tentang dimana aku berada saat ini.
Saat aku mengecek seluruh ruangan. Tiba-tiba pintu terbuka, dan seseorang masuk melalui pintu tersebut.
"Kalau kau melihat kamarku dengan wajah serius seperti itu, aku akan malu tahu."
"Nona... Emili...."
"Jadi kau sudah bangun, kau pingsan selama tiga hari penuh, tahu."
"Tiga... Hari...."
Seperti biasa, aku masih kesulitan dalam mengucapkan bahasa manusia. Tetapi bukan itu masalahnya, aku sekarang berada di kamar Emili.
Aku dirawat olehnya, terlebih lagi pingsan selama tiga hari? Bukankah itu terlalu lama?
Sepertinya aku telah banyak merepotkan Emili sekali lagi.
"Maafkan... Aku... Karena... Telah merepotkan."
"Hei! Bukankah yang harus diucapkan itu adalah, "Terimakasih telah merawat ku, Nona Emili yang cantik dan baik hati." Gitu?"
Aku tertawa, "Itu benar... Terimakasih... Telah merawat ku... Nona Emili yang... Baik."
"Hahaha! Itu terdengar lucu saat kau mengucapkannya."
Nona Emili duduk disamping ranjang tempatku tidur. Lalu mengelus kepalaku.
"Tapi aku senang kau selamat, kau bertarung dengan Chimera kan? Aku tidak percaya kau bisa kembali dengan selamat. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan pertarungan mu, tapi melihatmu selamat saja sudah cukup bagiku."
Sudah kuduga. Emili benar-benar orang yang sangat baik. Dia adalah yang paling baik dari yang aku temui selama ini di sisa hidupku. Jika memungkinkan, aku tidak ingin melibatkannya dalam bahaya sebisa mungkin.
Dalam waktu yang dekat ini, aku akan meninggalkan kota ini untuk memulai perjalanan baru untuk menjadi kuat. Bagaimanapun juga aku harus membunuh Pahlawan untuk dapat keluar dari tugas merepotkan ini.
Setelah itu, tujuan akhirnya adalah membunuh Dewa itu. Aku sangat tidak sabar untuk memukul wajahnya.
"Oh ya, tentang kencan kita. Kita bisa menundanya sampai dirimu sembuh total terlebih dahulu."
"Aku... Setuju... Tapi aku... Benar-benar... Menantikannya."
"Hahaha! Dasar tidak sabaran. Daripada itu, aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Apa... Itu?"
"Apakah kamu berasal dari dunia lain?"