
"Pertumbuhanmu cukup mengejutkan. Tidak kusangka akan ada orang yang mampu membuat sihirnya berevolusi dalam waktu satu hari."
Anna mengatakan hal itu kepadaku. Tapi meskipun dia memiliki sejujurnya aku tidak terlalu menganggap ini istimewa. Lagipula yang aku lakukan hanya menggunakan sihir terus menerus tanpa henti. Jika semua orang melakukannya mungkin mereka juga bisa melakukannya.
Sekarang aku ingin mengetes sihir baruku dengan Anna. Anna mengatakan kepadaku untuk mencoba serangan terlemah pada sebuah target yang berupa patung kayu menyerupai manusia. Aku menerima perintahnya, dan menggunakan sihir paling lemah yang aku miliki.
Sihir lemah itu hanya berupa fire ball dengan ukuran yang sangat kecil. Aku melemparnya, dan tidak kusangka akan menimbulkan saya ledak setara dengan sebuah dinamit.
Anna terkejut bahwa serangan yang paling lemah dari sihirku sepertinya cukup mematikan. Satu serangan lemah itu bisa membuat orang lain mati dalam sekejap.
Lalu bagaimana jika aku membuat fire ball dengan ukuran besar?
Apakah aku bisa menghasilkan daya ledak yang mampu menghancurkan sebuah kota dalam sekejap?
Nah, bahkan aku tidak ingin memikirkannya.
Di dunia ini aku hanya menginginkan hidup yang aman dan tentram. Aku berniat menggunakan kesempatan kedua ini untuk menjalani kehidupan seperti itu. Tapi karena Dewa sialan itu tidak membiarkanku bersantai, aku jadi tidak punya pilihan lain selain terlibat dalam skenarionya.
Menghancurkan negara mungkin adalah hal yang bagus. Nah, aku akan menyimpan cara itu sebagai pilihan terakhir untuk membunuh para Pahlawan. Hingga saat itu tiba, aku akan menahan diri.
Akhirnya setelah mengetahui daya serang dari revolusi elemen api sihirku. Anna mengatakan kepadaku bahwa sepertinya tidak ada yang harus ia ajarkan padaku lagi.
Aku terkejut karena kami baru saja bertemu kemarin dan dia sudah selesai dengan ajarannya?
Anna mengatakan kepadaku bahwa pemahamanku tentang sihir bahkan lebih baik daripada dirinya. Dan bahkan pertumbuhanku juga bisa dibilang lebih unggul dibandingkan dengan Anna sendiri.
Aku kemudian mencoba latih tanding dengan Anna. Dan Anna menerima tantangan ku.
Dalam pertarungan satu lawan satu aku berhasil menyudutkan Anna. Aku kira aku bisa mengalahkannya dengan sihir baruku. Tapi aku tetap saja kalah. Dari sini aku belajar bahwa aku tidak boleh berpuas diri hanya dengan sedikit bertambah kuat, kurangnya pengalaman dan pengetahuan juga bisa berakibat fatal dalam suatu pertempuran.
Kemudian waktu sore hari dimana aku mendapatkan waktu untuk beristirahat. Aku memutuskan untuk makan di Kantin karena sangat lapar. Aku masih belum terbiasa menggunakan sihir baru sehingga konsumsi mananya masih terlalu tinggi. Dan itu membuatku cepat kelelahan. Dan lagi, itu juga cepat membuatku lapar.
Dan saat aku duduk di bangku kosong. Tiba-tiba saja orang bertudung itu duduk di sampingku tanpa mengatakan sepatah kata apapun.
Sampai saat ini aku tidak mengetahui namanya dan seperti apa wajahnya. Yah, aku tidak terlalu peduli sih, lagipula aku tidak ingin terlibat dengannya.
Tapi dia tiba-tiba saja mengeluarkan pisau dari balik jubahnya. Seketika aku melompat hingga membuat meja makanan terbalik. Semua orang di Kantin menatapku dengan penasaran.
Namun itu hanya pisau untuk mengiris makanan. Bukan sebuah belati. Semua orang disana menertawaiku karena terlalu waspada. Tapi aku yakin, aku tadi merasakan niat membunuh dari orang itu.
***
Malam harinya saat perjalanan pulang menuju ke penginapan. Aku sangat senang sekali. Meskipun Anna mengatakan kepadaku kalau tidak ada yang perlu ia ajarkan lagi padaku. Tapi dia masih bersedia memberiku beberapa teori sihir yang bisa aku gunakan untuk membuat diriku lebih berkembang lagi.
Elf memang hebat, hidup sangat lama membuat mereka bisa memiliki pengetahuan tanpa batas. Meskipun Anna mengatakan pemahaman sihirku sudah bagus, tapi aku tidak boleh puas disana sampai aku bisa mengalahkan Anna.
Aku juga mencoba lagi cara yang sama seperti sebelumnya. Yaitu menggunakan sihir terus menerus selama seharian penuh, apakah dengan begitu sihirku mengalami revolusi lagi?
Nah itu patut untuk dicoba.
Waktu aku sedang tenggelam dalam pemikiranku sendiri. Tiba-tiba saja aku merasakan niat membunuh yang pernah aku rasakan sebelumnya.
Tidak salah lagi, itu adalah niat membunuh yang berasal dari orang bertudung. Tapi dimana dia sembunyi?
Mengingat dia adalah seorang Assassin. Dia sangat pandai mengendap-endap dan menyerang secara diam-diam. Tidak lucu jika aku mati dalam keadaan seperti itu. Setidaknya, aku harus melakukan sedikit perlawanan. Tidak! Aku tidak boleh mati disini!
Sebelum aku sempat menghajar wajah Dewa bodoh itu!
Tiba-tiba saja aku merasakan dingin di punggungku. Seketika aku melompat, dan benar saja, sebuah belati menancap di tanah tempatku berdiri sebelumnya. Saat aku mengalihkan pandanganku ke atas salah satu bangunan yang tinggi.
Disana terlihat ada orang bertudung yang membuka tudungnya. Memperlihatkan wajahnya yang disinari oleh sinar rembulan yang indah.