
Untuk pertama kalinya, aku benar-benar bertemu dengan orang baik di dunia ini. Namanya adalah Emili. Meski dia adalah Elf tapi dia sangat baik kepadaku yang bukan siapa-siapanya. Kupikir kebaikannya itu hanya bersifat sementara, memikirkan bahwa aku merepotkannya dalam jangka waktu yang lama.
Tapi setelah aku mencoba untuk mengetesnya selama berbulan-bulan ini. Dia mengajariku dengan tenang, bahkan sampai membantuku menggunakan rumus matematika di dunia ini. Aku cukup bersyukur dia bukan orang seperti yang aku takutkan.
Meskipun pertemuan kami sangat singkat, tapi sebenarnya aku sedikit tidak menyesal untuk terlahir di dunia ini.
"Aahh, aku benar-benar menyukainya, bukan?"
***
Membuka mata, aku menyadari bahwa diriku berada di ruangan kosong super putih. Tidak ada bunyi sama sekali disini. Terasa seperti semua indra ku telah mengalami mati rasa. Benar-benar hening.
Bahkan tidak ada udara. Meskipun aku sebelumnya sempat bertanya-tanya bagaimana caraku bisa bernafas, tapi sepertinya bukan itu masalah sebenarnya, jadi aku menyampingkan pemikiranku itu.
Yang menjadi masalah adalah dimana aku saat ini. Ingatan terakhir yang aku miliki adalah saat aku melawan Chimera.
Pada waktu itu. Karena sudah tidak memiliki peluang lain aku melakukan bom bunuh diri. Demi membawa Chimera itu mati bersamaku agar tidak membahayakan penduduk kota bahkan Emili.
Nah, aku penasaran bagaimana kelanjutannya. Apakah Chimera itu benar-benar telah mati atau tidak, jika tidak maka sia-sia saja kematian ku waktu itu.
"Untuk seukuran manusia, kau benar-benar tenang, bukan?"
Suara, ada sebuah suara laki-laki yang masuk ke telingaku. Itulah satu-satunya suara yang ada di ruangan kosong tanpa ujung ini.
"Siapa dirimu?"
Aku berbalik untuk melihat sumber suara itu. Dan disana ada seorang pria yang duduk di sebuah singgasana putih yang ukurannya tidak terlalu besar.
Pria itu memakai pakaian serba putih, matanya entah kenapa tidak kelihatan karena tertutup oleh cahaya. Dan hanya mulutnya saja yang ditampilkan.
"Aku adalah keberadaan yang disebut manusia sepertimu sebagai Dewa. Yah, tapi jangan takut! Aku tidak menggigit kok, aku hanya ingin berbincang-bincang padamu. Nah, tunggu dulu sepertinya kau tidak takut sama sekali padaku!"
Daripada merasa takut. Aku malah merasa marah. Seenaknya membuat orang ber reinkarnasi di dunia yang keras seperti itu. Jika sudah mati, yang aku pikirkan adalah ketenangan dan kedamaian untuk jiwaku. Akhirnya aku terbebas dari neraka dunia, itulah yang aku pikirkan, tapi kenyataannya aku malah dikirim ke dunia itu.
Yah, meskipun kemarahanku sudah sedikit mereda setelah bertemu dengan Emili. Tapi tetap saja, kebencian terhadap sosok yang memanggil dirinya Dewa itu masih tertanam jelas di hatiku.
"Oh ya, sepertinya kau memiliki dendam tersembunyi padaku? Hahaha! Jangan khawatir karena aku akan terus membuatmu terlibat dalam skenario yang aku buat."
Sepertinya dia tahu bahwa aku memiliki dendam padanya. Yah lagipula dia adalah Dewa. Dia mungkin memiliki kemampuan untuk membaca pikiran ataupun yang sejenisnya.
"Oh, kurasa itu tidak bisa. Karena dirimu itu sangat menarik. Aku melihat sesuatu yang gelap dan jahat di dalam dirimu. Namun meskipun aku ini Dewa aku tidak tahu apa itu."
"Apa maksudmu?"
"Yah, maksudku. Aku ingin memberimu sebuah bakat atau bisa dibilang berkah dari para Dewa saat kau datang di dunia ini. Namun sesuatu yang gelap dan jahat itu menangkal berkah yang aku berikan padamu."
"Jangan ngomong sembarangan, bagaimanapun aku ini manusia. Jangan membuat alasan untuk alibimu."
Aku mengaktifkan skill ku. Namun tiba-tiba itu langsung lenyap begitu saja. Aku berpikir sejenak, karena disini tidak ada udara, maka sangat tidak mungkin untuk dapat menciptakan api. Jadi menyerangnya pun akan sia-sia saja disini. Aku sedikit kecewa tapi mau bagaimana lagi.
"Yah, kesampingkan itu dulu. Sekarang apa kau mengerti dengan situasi mu saat ini?"
"Kurang lebih, aku mati dan kembali ke alam baka kemudian bertemu denganmu."
"Cukup bagus, tapi bukan itu jawabannya. Yang benar adalah, sebelum detik-detik kematianmu aku memanggilmu ke alam baka menggunakan kesadaranmu yang tersisa sedikit."
"Jadi bisa dibilang saat aku kembali sadar, maka tidak ada pilihan lain selain mati."
"Kenyataannya memang begitu, tapi aku ini Dewa Lo. Aku bisa memberimu sedikit energi kehidupan dariku untuk membuatmu hidup lagi. Bagaimana, indah bukan? Tapi itu tergantung padamu mau menerimanya atau tidak. Jika kau mau, maka aku akan memberimu satu syarat."
Aku terdiam sejenak untuk memikirkannya. Sementara Dewa itu tersenyum kepadaku. Itu membuatku kesal, karena dia berpikir bahwa tidak ada pilihan selain menerima syaratnya. Dia sudah tahu hasil dari keputusanku, lagipula dia adalah Dewa.
Yang membuat kesal adalah sikapnya tersebut. Seolah mengatakan bahwa aku ingin kembali ke dunia itu sekali lagi.
"Haah, cepat katakan apa syaratnya."
Aku menghela nafas dan menerimanya. Pada akhirnya aku jatuh ke dalam tangannya sekali lagi.
"Syaratnya mudah, kau hanya harus mengikuti semua yang aku katakan ketika bertemu lagi."
Apa artinya itu kita akan bertemu lagi?
Syaratnya memang sangat ambigu. Tapi aku memutuskan untuk menerimanya begitu saja. Dan sekali lagi, sepertinya aku akan dibuat kerepotan di dunia ini.
"Kalau begitu kita sudahi saat ini. Sampai bertemu lagi."
Dewa itu menjentikkan jarinya dan membuat kesadaranku lenyap begitu saja.