
Emili yang berada di perpustakaan mendengar bunyi yang menggelegar. Asalnya berada di bukit yang ada di dekat kota ini.
Waktu itu dia sedang membaca buku sambil menyesap teh di sebuah bangku yang ada di lantai dua. Tepatnya ada di samping jendela.
Jadi saat dia mendengar bunyi tersebut. Konsentrasinya langsung buyar. Lalu dia melihat ke arah bukit, dimana disana ada seekor monster yang memiliki kemampuan terbang.
"Itu... Chimera?! Bagaimana ada monster peringkat A di kota ini?"
Penglihatan seorang Elf sangat bagus. Bahkan bukan hanya penglihatan, semua indra yang dimiliki oleh Elf memang lebih bagus diantara ras lainnya. Jadi meskipun bukit tersebut memiliki radius yang sedikit lebih jauh dari kota, Emili masih mampu melihatnya.
Dan anehnya, Emili merasakan firasat yang tidak enak di dalam hatinya. Hatinya sangat risau dan khawatir, dia tidak tahu kenapa. Tapi sepertinya disana ada seorang yang bertarung melawan Chimera tersebut. Emili mengkhawatirkan orang itu entah kenapa.
"Aku harus memberitahukannya ke Guild petualang!"
***
Telingaku menangkap suara angin yang sangat kuat, dan saat aku membuka mata aku menyadari bahwa langit pada waktu itu sedang mendung.
Benar, aku sedang terjatuh dari ketinggian. Sepertinya Dewa itu mengembalikan kesadaranku saat masih berada di ketinggian. Yah, lupakan itu aku segera memposisikan tubuhku dengan baik agar bisa mendarat dengan aman.
Aku melihat ke atas, dimana gumpalan asap hitam terjadi karena bom bunuh diriku. Penasaran apakah Chimera sudah dikalahkan atau belum.
Selain itu aku benar-benar terkejut kalau aku benar-benar selamat dari bom bunuh diriku sendiri. Meskipun seluruh pakaianku sudah compang-camping. Namun seluruh luka yang aku derita sudah sembuh sepenuhnya. Terutama luka cakar yang sebelumnya ada di dadaku. Sekarang benar-benar menghilang tanpa bekas.
"Dewa itu benar-benar tidak main-main ketika bilang bisa menghidupkan ku lagi."
Asap yang mengepul perlahan mulai menghilang. Lalu aku bisa melihat kalau Chimera masih terbang disana dengan bekas luka dari seranganku.
"Sial! Bahkan dengan bom bunuh diri tidak mempan ya?!"
Chimera melihat ke arahku, dan kemudian menerjang sambil meraung. Aku yang saat ini masih terjun bebas dari ketinggian sangat tidak memungkinkan untuk menghindar. Gerakanku dibatasi, aku harus melakukan sesuatu saat ini atau aku akan mati sekali lagi.
Luka yang di derita oleh Chimera juga tidak lebih buruk dariku. Lalu bagaimana jika aku menyerangnya dengan skill yang sama? Tidak, terlalu gegabah untuk melakukan serangan bunuh diri untuk kedua kalinya. Meski aku yakin Dewa itu akan menghidupkan ku lagi, tapi sangat tidak enak bergantung padanya dan mengalami kematian untuk yang ketiga kalinya.
Lalu bagaimana dengan serangan dengan daya serang yang sama?
Tiba-tiba pemikiran itu terlintas saja di benakku. Dengan menaruh seluruh energi sihirku pada suatu serangan mungkin aku bisa menghasilkan daya serang yang sama seperti waktu melakukan bom bunuh diri. Lagipula waktu itu aku mengorbankan seluruh mana di dalam tubuhku untuk sihir tersebut.
Namun kali ini berbeda. Aku sudah belajar mengendalikan mana di tubuhku dari Goblin Witch. Aku hanya perlu menguras semua mana di tubuhku, lalu melontarkannya ke arah Chimera itu. Ya itu mudah sekali.
Aku segera mengaktifkan skill ku Fire Arrow. Sebuah busur yang terbuat dari api tercipta, lalu untuk anak panahnya, aku menciptakan api dari seluruh mana di dalam tubuhku. Lalu setelah merasa mana di tubuhku terkuras habis, aku mengunci Chimera di pandanganku.
Agar tidak meleset. Aku perlu memastikan akurasinya. Aku tidak ingin serangan yang sudah mengorbankan banyak energi sihir ini sia-sia begitu saja. Jadi aku harus memastikannya sendiri.
Untungnya Chimera terbang lurus. Dia tidak berbelok maupun menikung. Jadi membidiknya mungkin menjadi perkara yang mudah.
Saat aku merasa seranganku akan bisa mengenainya. Aku melepaskan anak panah api itu, dan membiarkannya melesat ke arah Chimera.
Udara mendadak menjadi panas, dan begitupun dengan Atmosfer. Meskipun berjarak jauh, tapi daun-daun di bukit mulai berguguran. Yah itu wajar saja karena aku telah menggunakan semua energi sihirku disini.
Aku tidak tahu apakah kapasitas mana yang aku miliki itu besar atau kecil. Tapi jika sampai bisa menimbulkan peristiwa seperti ini, aku bisa berasumsi bahwa kapasitas mana ku itu besar. Aku bersyukur untuk itu.
Anak panah melesat, dan menancap tepat di dada Chimera. Chimera yang kesakitan meronta-ronta dan mulai kehilangan keseimbangan. Namun sebelum dia bisa mengatur sayapnya, panah itu meledak, dan ledakannya lebih besar dari bom bunuh diri yang aku lakukan sebelumnya.
Saat gumpalan asap menghilang, aku tidak menemukan apapun kecuali bulu-bulu yang berhamburan.
Aku tersenyum, karena akhirnya berhasil mengalahkan monster peringkat A sepertinya. Sebuah prestasi besar bagiku, yah meski aku harus mati sekali. Tapi membunuhnya benar-benar membuat hatiku puas. Mungkin itulah perasaan saat kau berhasil membalas dendam kepada seseorang. Itu sangat menyenangkan.
Aku kemudian terjatuh, dan kehilangan kesadaran untuk kedua kalinya.