
Pakaian yang aku kenakan terbuat dari kulit-kulit binatang buas dari hutan dan jujur saja hal itu membuatku menjadi perhatian dari banyaknya manusia di kota ini.
Jadi aku harus mencari pakaian baru untuk sekarang ini, dan meski aku tidak bisa membaca setiap tulisan yang ada di setiap toko. Tapi aku masih bisa melihat barang dagangan mereka dibalik kaca toko.
Nah, aku masuk ke dalam toko yang seperti menjual pakaian. Aku disambut oleh wanita cantik yang memakai pakaian bagus. Jujur aku tidak mengerti apa yang dikatakannya padaku tapi sepertinya dia memintaku untuk memilih pakaian.
Aku mengamati satu per satu pakaian pria. Namun, ukurannya tidak ada yang cocok denganku. Ah, ada satu tapi tidak cocok dengan seleraku karena terlalu norak.
Hingga pada akhirnya si wanita itu membawakan set pakaian kepadaku. Itu adalah sebuah rompi, sebuah kemeja putih berlengan panjang dan celana hitam.
Saat aku mencobanya itu terlihat pas. Jadi aku membeli itu saja.
Oh ya, aku juga tidak tahu nilai mata uang di dunia ini. Jadi aku beri saja dia satu perak. Si wanita terlihat memanggilku tapi aku segera meninggalkan toko. Yah, kupikir satu perak itu terlalu murah. Jadi lain kali aku akan kembali ke toko ini untuk membayar hutangku.
"Pelanggan! Uang anda kelebihan!"
Adalah apa yang diucapkan wanita itu. Tapi aku sama sekali tidak mengerti artinya.
***
Setelah mendapat pakaian. Sekarang hari sudah menjelang malam. Jadi seharusnya aku harus mencari penginapan untuk tempat istirahat. Aku memiliki rencana besok untuk belajar membaca dan menulis di perpustakaan. Jadi aku harus segera tidur hari ini.
Mencari penginapan sangat sulit daripada yang aku pikirkan. Karena berbeda dari toko, penginapan tidak menjual barang dagangan apapun sehingga membuatku kesulitan untuk membedakannya.
Bertanya kepada orang lain percuma karena aku tidak mengerti bahasanya. Jadi aku harus melakukannya seorang diri. Namun, entah bagaimana setelah mencari kesana kesini. Aku berhasil menemukannya, sebuah penginapan yang tidak terlalu besar tapi cukup baik untuk tempat istirahat.
Jadi aku memasukinya dan tanpa basa-basi langsung memberikan satu koin perak kepada resepsionisnya. Aku tidak tahu akan bisa bertahan berapa hari satu koin perak itu. Jadi akan kutanyakan nanti setelah aku bisa sedikit membaca dan menulis.
Aku diantar ke kamarku oleh seorang gadis muda yang terlihat ceria. Lalu setelah memasukinya, aku segera membaringkan tubuhku di kasur. Kasurnya sangat keras, bahkan tidak layak disebut sebagai kasur.
Tapi mengetahui bahwa aku sekarang berada di dunia lain aku jadi tidak bisa banyak mengeluh. Syukur-syukur aku mendapat tempat untuk istirahat. Nah, aku harus segera tidur untuk memulai keesokan harinya.
***
Pagi harinya.
Aku segera bergegas keluar dari penginapan dan mencari perpustakaan terdekat. Karena itu perpustakaan, pencariannya menjadi lebih sulit, tapi untungnya aku bisa menemukannya setelah melihat beberapa orang keluar dari bangunan sambil membawa buku.
"...."
Kesan pertamaku setelah masuk tidaklah jauh berbeda dibandingkan di kehidupanku dulu. Tercium aroma buku yang khas, namun karena peradaban di dunia ini lebih kuno. Buku-buku yang ada disini juga tidak terlalu bagus. Kebanyakan hanya ditulis tangan dan bukannya dicetak. Sehingga terkadang aku mengalami kesulitan untuk membacanya.
Saat aku duduk sambil memiringkan kepala karena tidak tahu apa yang aku pelajari. Tiba-tiba seorang manusia duduk di sampingku. Dia sepertinya adalah seorang Elf dengan mengenakan kacamata.
Dia tersenyum kepadaku sambil mencoba mengajariku caranya membaca kalimat yang tidak aku mengerti. Awalnya aku sempat waspada dengannya. Karena dulu orang tuaku Kobold memberitahuku bahwa aku harus berhati-hati dengan ras Elf.
Karena mereka memiliki umur panjang dan energi sihir yang besar. Selain itu mereka juga dicintai oleh roh dan dunia. Sehingga keberadaan mereka itu sudah seperti kecurangan di dunia ini.
"Selamat datang kembali!"
Keesokan harinya aku datang lagi ke perpustakaan dan lagi-lagi disambut oleh Elf tersebut. Hasil belajar kemarin membuahkan prestasi yang besar bagiku karena ketika dia mengajariku. Sekarang aku jadi mengerti beberapa kalimat umum yang biasanya digunakan oleh manusia.
Misalnya seperti terimakasih, maaf, dan lain-lain.
"Anu... Emili... Aku tidak mengerti... Dengan... Tulisan... Ini."
Nama Elf tersebut adalah Emili. Dia adalah Elf pendiri perpustakaan ini sekaligus orang yang menulis semua buku yang ada di perpustakaan ini.
Sangat tidak bisa dipercaya bukan?
Tapi memang itulah kenyataannya. Aku sangat kagum padanya yang bisa menghasilkan sesuatu sebesar ini dengan usahanya sendiri. Selain itu hasilnya juga sangat berguna untuk orang lain.
Aku sangat senang dia mengajariku yang tidak tahu apa-apa ini setiap harinya.
"Kau benar-benar cepat belajar, ya. Baru satu hari kau sudah bisa mengucapkan beberapa kata dengan lancar."
"Terima... Kasih?"
"Benar seperti itu. Nah sedikit lagi, kau pasti bisa membacanya."
Aku berusaha sangat keras sekarang. Dengan dorongan Emili aku harus bisa menghafal dengan cepat. Bagaimanapun juga aku harus segera bisa mandiri agar tidak menganggu pekerjaan Emili. Aku harus bisa secepat mungkin.
Namun saat mencobanya, beberapa kali aku menggigit lidahku dan itu sangat sakit. Sudah kuduga, bereinkarnasi di dunia lain tanpa berkah dari Dewa itu sama sekali tidak mudah. Aku harus ekstra kerja keras untuk dapat hidup bahagia di dunia ini.