A Man Reincarnated In Another World Without Any Blessings

A Man Reincarnated In Another World Without Any Blessings
Zeta



"Dia... Wanita?"


Namun aku masih tidak bisa melihat wajahnya karena gelap. Wanita itu (orang bertudung) menyerangku dengan kecepatannya yang luar biasa. Entah bagaimana aku bisa menghindarinya meski sedikit terkena goresan pada lenganku.


Aku segera menggunakan sihirku.


Tunggu?


Tiba-tiba aku berpikiran bahwa sangat buruk menggunakan sihir sekuat ini di tengah-tengah kota. Bisa saja aku meledakkan Ibukota hanya dengan beberapa serangan ringanku. Nah, tidak apa-apa jika hanya wanita itu yang musnah, tapi jika seluruh penduduk musnah maka itu akan menjadi hal yang serius.


Mau tidak mau aku mengubah warna api ku menjadi jingga kemerahan. Itu adalah elemen api sebelum sihirku berevolusi. Dan aku sekarang bisa menggantinya semauku. Cukup efisien.


Meski daya serangnya tidak sekuat dengan api yang bewarna ungu. Tapi jika ini terkena tubuh seseorang, masih cukup mematikan.


Aku melemparkan bola api kesana dan kemari untuk menyerang wanita yang selalu menghindar. Itu cukup membuatku sangat jengkel karena tidak satupun dari seranganku yang berhasil mengenainya.


Sepertinya dia juga telah berkembang lebih kuat dari sebelumnya. Pertarungan yang tidak seimbang ini adalah bukti bahwa aku merasakan gerakannya yang lebih cepat daripada saat kami melakukan ujian seleksi sebelumnya.


Wanita itu terus menebas ku dari segala arah. Hingga mulai membuatku lebih kesal lagi.


"Mengecewakan."


Aku mendengarnya bergumam seperti itu saat dia menyerangku. Jika saja aku bisa menggunakan api ungu ku akan aku ledakkan dia tanpa tersisa. Tapi jika aku melakukan hal yang bodoh seperti itu, maka Emili akan marah padaku. Dan lagi aku tidak ingin menjadi kriminal di Ibukota, jadi itu pilihan yang cukup buruk.


Pertarungan terus berlanjut. Dan lama kelamaan entah kenapa pandanganku mulai kabur. Aku merasakan pusing yang berlebihan dan mual. Dan setelah melihat luka yang aku terima darinya mulai membiru. Aku mulai mengerti, bahwa dia memberikan racun pada belatinya.


"Sial...."


Hanya itu kalimat yang bisa aku ucapkan sebelum jatuh tidak sadarkan diri.


***


Lagian seorang Penyihir sangat tidak cocok untuk bertarung dengan petarung tipe Assassin.


Bisa-bisanya di detik-detik kematianku. Aku bisa mencari alasan seperti itu. Cukup memalukan memang. Nah, sekarang aku telah mati lagi jadi apakah Dewa itu mulai muncul?


Tapi setelah menunggu lama aku tidak bertemu dengannya. Jadi aku berasumsi bahwa aku masih hidup dan mungkin saja hanya pingsan belaka.


Tidak lama kemudian aku menemukan cahaya, dan mencoba meraihnya dengan tanganku. Kemudian, cahaya itu mulai bersinar terang bahkan lebih terang daripada sebelumnya, hingga kemudian memenuhi pandanganku.


Lalu aku membuka mata, hanya untuk menemukan langit-langit kamar penginapanku.


"Jangan bergerak dulu."


Aku mendengar suara seseorang, dan itu berada cukup dekat denganku. Dia seorang wanita, dengan rambut hitamnya yang pendek sebahu dan kacamata. Dia juga memakai jubah hitam.


"Kau! Aduduh!"


"Sudah kubilang jangan banyak bergerak terlebih dahulu. Atau lukamu akan terbuka lagi nanti."


Wanita itu menempelkan tanaman herbal yang sudah dihaluskan pada lukaku.


"Siapa? Dan kenapa kau bisa berada disini?!"


Aku bersiap menggunakan sihirku. Tapi tanganku dihentikan olehnya.


"Hei santai dulu, oke. Aku tidak akan menyerang mu lagi. Jadi tenanglah aku hanya ingin mengobati mu."


"Aku tidak bisa mempercayai kata-kata dari orang yang hampir membunuhku."


"Tentang itu... Aku minta maaf. Tapi aku hanya menggunakan obat pelumpuh jadi seharusnya itu baik-baik saja."


Apanya yang baik-baik saja?!


Aku ingin berteriak seperti itu tapi aku sebenarnya sedikit lega karena mendengar bahwa yang dia gunakan bukanlah sejenis racun.


Untuk sekarang aku mencoba bersikap tenang untuk menghadapi situasi ini terlebih dahulu.


"Siapa namamu? Dan kenapa kau menyerangku kemarin?"


"Alasannya sederhana. Aku ingin menguji kemampuanmu, karena sepertinya kau telah membuat rekor baru dalam revolusi Sihir. Jadi kupikir kau akan tumbuh begitu kuat, tetapi ternyata cuma keroco."


Disebut sebagai keroco. Aku tidak bisa menerimanya begitu saja. Jika memungkinkan aku ingin pertandingan ulang dimana aku bisa menggunakan sihir sepuas yang aku mau.


Tapi sekarang tubuhku sakit semua. Wanita psikopat itu sangat gila hingga hampir membunuhku begitu saja.


"Oh, ya namaku adalah Zeta. Pekerjaanku sebagai pembunuh bayaran."


Zeta mengulurkan tangannya kepadaku, dan aku menerimanya lalu juga memberikan namaku kepadanya.


Berkat perbuatannya. Aku jadi absen beberapa hari karena sakit. Dengan ini aku bersumpah akan membalas perbuatannya saat aku sudah sepenuhnya sembuh. Dan jika bisa aku ingin membayarnya dua kali lipat dari perbuatannya kali ini.


Sekarang aku cukup percaya diri dengan kemampuanku. Tapi aku juga tidak boleh meremehkan Zeta begitu saja karena dia pasti juga mengalami perkembangan saat dilatih oleh Kaptennya. Nah, dia akan menjadi lawan uji coba yang cocok sebelum aku membunuh pahlawan.


Bahkan aku berpikir untuk membunuhnya.


Pemikiran tersebut datang secara tiba-tiba di kepalaku. Seperti ada sebuah suara yang membisikkannya dengan pelan dan menghasut. Tapi aku segera menggelengkan kepala untuk mengusir suara tersebut.


Aku tidak tahu tentang suara apa itu. Tapi yang pasti itu berasal dari sosok mengerikan, karena suaranya sangat serak dan berat.