
"Kamu berasal dari dunia lain?"
Pertanyaan dari Emili membuat kedua mataku terbelalak. Bagaimana tidak, selama ini aku tidak pernah menyinggung tentang kehidupanku sebelumnya. Jadi kupikir tidak ada yang tahu mengenai asal usulku. Tapi siapa sangka, bahwa Emili bisa menebaknya.
Namun aku tidak akan langsung mencoba menyangkalnya. Sekarang mari kita cari tahu dimana dia bisa berpikiran seperti itu, bahwa aku adalah orang dari dunia lain.
"Bagaimana.... Kamu... Bisa berasumsi... Seperti itu?"
Itu pertanyaan yang biasa, namun jika Emili menjawabnya. Maka aku akan tahu alasannya berpikiran seperti itu. Ya aku hanya perlu menguaknya saja. Emili adalah Elf yang berpengetahuan luas, tapi siapa sangka dia menjadi sangat jeli sekali.
"Yah, kupikir karena kamu tidak bisa menggunakan bahasa manusia kamu bukanlah orang dari dunia ini. Yah meskipun aku belum ketemu secara langsung sih sama orang dari dunia lain. Aku berpikir itu hanya mitos belaka, tapi sebenarnya aku sangat penasaran pada mereka. Jadi apakah kamu itu salah satu dari mereka atau tidak, aku hanya memastikannya."
"Aku tidak berasal... Dari dunia lain... Hanya saja aku... Ditelantarkan oleh orang tuaku... Di sebuah hutan... Dan dibesarkan oleh sekawanan monster... Oleh itulah aku... Tidak mahir dalam berbahasa manusia."
Saat mendengar ceritaku. Tatapan Emili yang tadinya curiga berubah menjadi prihatin. Untuk saat ini aku berniat untuk menyembunyikan asal usulku. Bahkan aku tidak berniat memberitahukan asal usulku kepada orang lain.
Kenapa?
Karena aku sama sekali tidak bisa mempercayai orang lain selain diriku sendiri.
Dulu sekali aku pernah memberitahukan teman sekelas ku tentang rahasia memalukan ku. Namun tiba-tiba saja rahasia itu tersebar hingga satu sekolah sehingga aku sekarang memutuskan hubungan dengan temanku itu. Aku mengutuknya, dan berharap karma buruk akan datang kepadanya.
Bahkan jika itu orangnya adalah Emili, aku masih tidak bisa memercayainya. Sulit untuk membuka hatiku kepada orang lain untuk saat ini.
"Begitu, aku tidak akan bertanya lagi. Yah, pokoknya cepat sembuh lah agar kita bisa kencan sesegera mungkin."
"Tentu saja... Aku akan berjuang!"
"Itu baru semangat!"
***
Beberapa bulan kemudian. Aku telah sembuh sepenuhnya. Tulangku yang patah juga sudah sepenuhnya pulih. Sekarang aku benar-benar bisa untuk bergerak bebas kemanapun. Selama beberapa bulan ini Emili juga merawat ku dengan baik, aku jadi tambah utang Budi dengannya lagi.
"Sekarang anda berada di Rank E. Tuan Petualang."
Saat ini aku berada di Guild Petualang. Saat aku ingin menjual Monster Core milik Chimera. Seluruh Guild langsung dibuat heboh. Pasalnya Chimera adalah monster peringkat A yang sangat jarang muncul secara langsung.
Nah berkat prestasiku tersebut. Aku mendapatkan promosi ke tingkat yang lebih tinggi. Petualang peringkat E. Meski hanya naik satu peringkat. Tapi jujur saja aku merasa senang dengan pencapaianku tersebut.
Lagipula aku telah mati sekali saat melawan Chimera itu.
Dan sekarang adalah waktunya kencan dengan Emili. Saat kencan kami, aku mengajak Emili ke toko buku kesukaannya, dan membiarkannya untuk membeli buku apapun yang dia sukai. Lagipula aku memiliki banyak uang setelah menjual Core monster peringkat A.
Emili sangat senang dengan itu dan memborong banyak buku. Dia awalnya terlihat sungkan. Tapi setelah aku meyakinkannya bahwa baik-baik saja dengan membeli banyak buku. Dia langsung saja memborong tanpa ragu. Kecintaannya terhadap buku itu sangat tidak normal.
"Hagard de Vilsioso. Kau tahu, dia adalah Penulis favoritku. Setiap tulisan yang dia tulis terlihat sangat indah, dan lagi saat membaca ceritanya, aku benar-benar seperti dibawa masuk ke dalam buku ini."
Emili bercerita denganku dengan semangat yang tinggi, aku memperhatikan ekspresi wajahnya itu. Dan itu cukup lucu.
"Hei, buku mana yang kau suka?"
"Emili, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Aku menatapnya dengan wajah serius. Dan sepertinya, Emili merasakan perubahan suasana pada perkataanku barusan. Jadi dia berhenti bermain-main dan menatapku dengan serius juga.
"Jadi, apakah akhirnya kau membuat suatu pilihan?" Emili menutup buku yang dia baca.
"Bagaimana kau tahu?"
"Dari ekspresi wajahmu saja sudah bisa ditebak. Pupil matamu menyala seperti tekadmu. Aku bisa melihat bara api di dalamnya. Nah, jadi keputusan apa yang kau ambil?"
Seperti yang diharapkan dari Emili. Hanya dengan petunjuk kecil seperti itu. Dia sudah bisa menebak sejauh ini. Di masa depan, aku harus lebih berhati-hati dalam berbicara dengannya.
"Aku akan bergabung dengan Ksatria Suci Kerajaan."