
Setelah menyelidiki tentang dimana aku tinggal saat ini. Aku mengetahui bahwa aku tinggal disebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Razel. Dari apa yang Emili beritahu kepadaku. Terdapat lima belas Kerajaan yang ada di dunia ini. Dan masing-masing dari mereka memiliki wilayah yang besar maupun kecil.
Dan Kerajaan Razel termasuk dalam kategori dengan Kerajaan dengan wilayah yang kecil.
Sementara itu, Ksatria Suci adalah prajurit elit Kerajaan yang memiliki tugas untuk berperang, membasmi monster dan juga berpatroli untuk melindungi Kerajaan. Intinya mereka adalah inti kekuatan dari masing-masing Kerajaan.
Tentu saja, orang-orang yang bergabung dengan Ksatria Suci itu semuanya kuat. Meskipun terkadang ada yang menggunakan sogokan dan orang dalam, tapi kebanyakan dari mereka di seleksi langsung oleh Kerajaan.
Jadi untuk bisa bertambah kuat. Aku harus bisa bergabung dengan pasukan tersebut. Dan untuk memenuhi tujuanku tersebut, aku harus meninggalkan kota ini dan pergi ke Ibukota untuk ikut seleksi masuk pasukan Ksatria Suci yang diadakan tahun ini.
Ekspresi Emili terlihat terkejut ketika aku memutuskan untuk bergabung dengan pasukan Ksatria Suci Kerajaan. Namun, raut wajahnya langsung berubah seketika setelah beberapa detik membeku. Dia tersenyum, dan memegang tanganku dengan tangannya yang super halus.
"Begitu, jadi kau akan meninggalkan kota ini."
"Maaf."
Emili meregangkan seluruh tubuhnya.
"Kenapa minta maaf? Itu malah bagus bukan. Akhirnya kau menemukan tujuanmu. Tentu saja, aku akan mendukungmu sepenuhnya."
Aku merasa tidak ingin pergi dari kota ini. Meninggalkan Emili disini, jika ingin aku benar-benar ingin membawanya bersamaku. Nah, aku mencoba bertanya kepadanya tapi dia menolak dan mengatakan bahwa dia harus menjaga perpustakaan yang ia miliki. Perpustakaan itu sudah bagaikan jantung bagi Emili, dimana di perpustakaan tersebut terdapat banyak sekali tulisan hasil karyanya.
"Aku memang mengatakan kalau aku mendukungmu sepenuhnya. Tapi bukan berarti aku sedih. Sudah cukup lama kita bertemu bukan? Tidak kusangka kalau hari dimana kau akan meninggalkan kota ini akan tiba juga." Emili menjadi murung, "mungkin akan terasa sedikit sepi jika tanpamu."
Begitupun denganku. Aku ingin mengatakannya tapi kurasa itu tidak membuat situasi menjadi lebih baik.
"Tapi kenapa kau ingin bergabung dengan Ksatria Suci?"
"Aku ingin menjadi kuat."
"Jadi begitu. Sepertinya masih ada alasan lain yang kau sembunyikan, tapi aku tidak akan bertanya lagi."
Aku menyesal. Aku tidak bisa menjawab kalau aku menjadi kuat untuk mengalahkan Pahlawan dari dunia lain yang akan datang di masa depan nanti. Sebelum waktu itu tiba, aku harus-harus menjadi lebih kuat daripada mereka.
Aku yang terlahir tanpa berkah dari Dewa ini. Akan melawan para Pahlawan yang memiliki kekuatan cheat yang tidak dapat dipercaya.
Memang menyusahkan, tapi aku juga tidak bisa menolaknya. Mau tidak mau, untuk bertahan hidup aku harus menyelesaikan tugas ini.
Dasar Dewa menyebalkan. Bahkan wajahnya yang sedang meledekku sambil tertawa terlintas di pikiranku.
"Emili...."
Aku memegang tangannya dengan erat. Wajahku merah merona, dan aku ingin mengatakan perasaanku padanya sebelum aku pergi.
"Apa?"
Aku meremas dadaku, lalu menarik nafas.
"Maaf, tidak jadi. Aku akan memberitahumu lain kali."
"Begitu, baiklah. Aku akan menunggumu saat itu tiba."
Namun pada akhirnya aku tidak dapat mengungkapkan perasaanku padanya. Aku takut jika Emili tidak memiliki perasaan yang sama denganku. Aku takut jika aku mengecewakannya. Aku takut jika Emili malah terluka karena ku. Karena memikirkan semua alasan tersebut, aku jadi lari. Aku lari dari perasaanku sendiri. Aku memang pengecut yang hanya bisa melarikan diri.
***
Aku meninggalkan Kota untuk memulai perjalanan baru menuju Ibukota. Emili yang pada waktu itu berada di dalam perpustakaannya. Dihampiri oleh seorang pelayannya.
"Nyonya Emili. Anda tidak apa-apa?"
"Apa maksudmu?"
"Setelah kepergian Tuan, anda menjadi murung akhir-akhir ini."
"Jadi itu. Memang benar kalau aku menjadi sedikit murung. Tapi aku juga ingin menghormati keputusannya."
"Apakah anda menyukainya?"
"Ya, aku menyukainya."
"Bahkan anda tidak menyembunyikannya."
"Aku menyukainya, dan dia sepertinya juga berpikiran sama denganku."
"Apakah anda tidak ingin memberitahu Tuan tentang identitas anda sebenarnya?"
"Aku tidak memiliki kewajiban itu."
"Anda adalah Mantan dari Komando Ksatria Suci yang memiliki gelar Penyihir Badai. Namun, dilain sisi aku takjub dengan Tuan yang tidak tahu mengenai identitas anda saat pertama kali melihatnya."
"Yah, mau bagaimana lagi. Lagipula katanya dia dari negeri yang jauh dari sini."
"Kalau begitu tidak ada yang perlu diperhatikan. Saya harap Nyonya tidak menyesali keputusan Nyonya."
"Ya, aku tidak akan menyesal. Karena ini adalah keputusanku."
Emili memperlihatkan wajah melankolisnya. Dan dengan begitu, kedua orang itu akan dipertemukan lagi oleh takdir. Tapi itu akan menjadi cerita yang masih lama. Dan saat mereka bertemu, mereka sudah memiliki pandangan yang berbeda satu sama lain.