
“aku akan memecah kalian menjadi kelompok, pasangan, atau individu.. bukan satu ujian untuk satu kelompok kalian yang mana saat ini terdiri dari 8 orang..”
“jadi.. kami akan terpisah-pisah?”
“yup, sesuai dengan ‘soal’ ujian yang tepat.. apa kalian tetap mau menerimanya?”
“..........” entah mengapa kelompok yang tadinya penuh semangat kini nampak ragu. Mampukah mereka mengandalkan diri dan tak lagi saling bahu membahu seperti biasanya?
“ngg... iya.. aku secara pribadi setuju..” ujar Peter.
“iya ya.. kalau masing-masing dari kami berhasil lulus, bukankah kekuatan kita berdelapan juga ikut menjadi lebih kuat?” timpal Louis.
“wahai Zefyros.. bimbinglah kami.. yakinkan kepercayaan kami.. bantu kami meluruskan apa yang kusut.. pandu kami untuk menemukan versi terbaik diri kami..” Jeongin, entah dari mana ia menemukan kata-kata indah ketika menyatakan persetujuannya mengikuti ujian.
“Jeongin...”
“hoho.. baik.. kuanggap kalian semua setuju ya.. akan ku persiapkan ruangan untuk kalian ujian terlebih dahulu..” batu Ruby yang menggantung di dahi sang Roh barat bersinar. Sepertinya diam-diam ia tengah merapal sihir.
Pendar kristal-kristal yang sebelumnya stabil, kini berkelap kelip terang dan redup. Seolah ada yang berubah diluar sana. Kira-kira bagaimana kelompok mereka akan dipisah?
Beberapa menit setelah terdiam, ia pun berujar kembali..
“.. pertama-tama, Ruler of Asteria Samuel Hwang.. Guardian of Chaldene Peter Han dan Earl of Sirens Felix.. serahkan dulu Chriso Macairi, A Froura dan Broken Compass padaku..” pinta Zefyros sambil menunjuk satu per satu nama individu yang Ia sebutkan.
Sam, Peter dan Felix pun bingung bagaimana ia mengetahui nama mereka padahal mereka belum sempat memperkenalkan diri. Tapi ya sudahlah, Zefyros adalah salah satu Roh kuno yang agung. Apa yang Ia minta merupakan salah satu bagian dari ujian.
“uhm baiklah..” sriinggg…. Samuel membuka telapak tangannya. Sekilas saja kilau emas Chriso Macairi menampakkan wujudnya lagi.
Klik.. Peter membuka kait yang menyambungkan sarung A Froura dengan baju zirahnya. Lalu meletakkan pedang sihir itu bertumpuk dengan tombak milik Samuel.
Felix pun sama. Kompas titipan sang Alicorn Ia serahkan ke hadapan Roh barat, sesuai dengan perintahnya. Bola kaca bening itu bersinggungan dengan kilau Chriso Macairi dan A Froura.
“Lalu.. Prince of Pixies.. Sky Kim..” Ia menoleh sambil melotot dengan mata nya yang besar kearah Sky. Raja peri itu terkejut setengah mati hingga melompat mundur selangkah ke belakang, mengira dirinya akan dilahap oleh sang Roh barat. Namun sedetik kemudian pandangan Zefyros padanya melunak lagi.
“....... ....... ???????” Sky bingung merasakan ada yang aneh di tenggorokannya. Ia berusaha bicara namun suaranya tak keluar. Ia terlihat panik sambil meraba leher dan menatap teman-temannya bingung.
“...... ....... ......” sayangnya mereka yang ada di sana tidak menyadari itu, semua fokus pada Zefyros.
“Sekarang aku akan mengantar kalian ke ‘ruang ujian’ kalian masing-masing.. ujian bagi kalian akan kuberitahu setelahnya.. bersiaplah...”
“huffttt.......” Zefyros lalu meniupkan napasnya pada delapan pemimpin Enn Vassili itu. Stray Kids diselimuti kabut tipis berwarna putih kemudian menghilang, menuju tempat yang dimaksud sebagai ‘ruang ujian’.
‘.. bimbinglah kami.. yakinkan kepercayaan kami.. bantu kami meluruskan apa yang kusut.. pandu kami untuk menemukan versi terbaik diri kami..’
“hh, jadi dia ya.. Priest of Foxes.. kebanggaan Dewa Inari yang tugasnya paling berat di sepanjang kehidupan Enn Vassili..”
Mata sang Roh barat terpejam sejenak, lalu terbuka kembali perlahan..
“menghubungi Dewa Rubah itu akan sedikit memakan waktu...”
“loh?”
“aku ujian bersamamu.. disini? TIDAAKKK….”
“memang kenapa sih?!”
Sam dan Peter ditempatkan di satu ruangan yang sama. Ruang yang cukup luas jika mengingat mereka sedang berada dibawah tanah. Sekeliling mereka kosong hanya ada bebatuan bertebaran, juga kristal-kristal cantik sebagai penerangan. Mereka berdua saling berdiri membelakangi menanti perintah Zefyros selanjutnya.
“kira-kira selanjutnya apa ya.. apa yang harus kita lakukan..”
“entah.. Zefyros bilang akan memberitahu ujiannya ‘kan..”
"Peter, kau.. takut tidak?" tanya Samuel tanpa menoleh. Sayap-sayapnya yang setengah terbuka menandakan dirinya sudah siap.
"... ja-jangan kepedean ya.. aku tidak takut sama sekali.. karena kau.. ada di sini bersama ku.." jawab Peter yang juga tidak menoleh.
"ng? hihihi....." ketegangan yang Samuel yang rasakan pun mereda setelah mendengar kata-kata manis dari kawannya.
Akhirnya perintah yang ditunggu-tunggu pun terdengar, suara Zefyros menggema dari tingginya langit-langit..
“Ruler of Asteria dan Guardian of Chaldene.. ujian kalian adalah.. bertarung tanpa senjata pusaka, tanpa tombak Chriso macairi ataupun pedang A Froura.. kalian akan dianggap lulus setelah berhasil mengalahkan musuh kalian..”
“.. musuh-musuh katanya?”
Samuel mengangkat kedua bahunya, berbagi kebingungan yang sama dengan Peter. Tapi tiba-tiba saja...
Ddrrrr….... Glllrrr….....
Seiring kalimatnya selesai, terlihat tumpukan batu-batu di sekitar mereka diselimuti Magia hijau dan menyusun membentuk prajurit-prajurit bertubuh tegap yang tingginya dua kali lipat dari tinggi mereka.
“uh oh..” dua sekawan itu saling pandang, tak menyangka akan mendapatkan lawan yang ‘keras’ seperti itu..
Raksasa batu yang baru saja tercipta menggetarkan tanah seiring mereka melangkah. Bentuk mereka memang seperti boneka batu biasa namun berat dari batu-batu itu bisa menghancurkan apa saja yang mereka serang.
“AAAAAA...... aaaaaaa........” kali ini Peter yang menjerit datar. Ia belum pernah bertarung tanpa A Froura sebelumnya.
Seperti yang diketahui pedang pusaka pemberian Cyari itu bukanlah sekedar pedang biasa. A Froura juga merupakan ‘tongkat sihir’ yang mengubah Magia menjadi sihir sesuai dengan mantra yang dirapalnya. Dibanding penyihir-penyihir Chaldene lain yang menggunakan tongkat dari kayu atau logam dengan hiasan batu mulia, Peter memilih Pedang sebagai media pewujud sihirnya agar bisa digunakan untuk bertarung hingga di titik darah penghabisan ketika sudah kehabisan Magia untuk merapal sihir.
“.. HARD STRIKE...!!!! EARTHQUAKE...!!!! gawat.. Sam, jujur belum pernah sekalipun aku merapal sihir tanpa tongkat sihir..” Peter terlihat kewalahan. Tanpa pedang itu, perwujudan sihirnya tidak stabil. Magia nya cepat terkuras habis sementara sihir yang dihasilkan kurang maksimal. Serangan gempa bumi yang ia luncurkan hanya setengah dari kekuatan aslinya saat memegang A Froura. Sejak ujian dimulai serangan yang ia hasilkan tidak terlalu berarti.
“GGGRRROOOAAAAAAAAA…….” lawan mereka pun bukan hanya sekedar patung batu yang berdiam diri pasrah menerima serangan Samuel dan Peter.
BUMM..!!! BUMM...!!!!!
Prajurit-prajurit batu itu juga gencar melayangkan serangan pada dua sekawan itu. Berat ratusan ton dan tubuh yang sangat keras, entah dengan cara apa Samuel dan Peter mengalahkan mereka nantinya.
“Hhhh.... FEATHER SLASH..!!!! jangan menyerah.. kita pasti lulus dari ujian ini.. HUP..!!” bulu-bulu putih Sam melesat dan menusuk seperti anak panah kearah targetnya. Namun sayang tak cukup kuat untuk menggores lawan-lawannya.
“sial.. lakukanlah yang terbaik.. aku percaya padamu.. kau juga percaya pada dirimu sendiri ‘kan? WHIRLWIND..!!!!” Sam yang tanpa Chriso Macairi, mengandalkan sepasang sayapnya untuk meluncurkan jurus-jurus angin.
Sebelum memenangkan Chriso macairi dalam sebuah ujian yang diadakan 4 tahun Celestial lalu di Enn Vassili, Sam memang selalu menggunakan sayapnya untuk bertempur. Sepasang sayap putih berbulu halus yang menebar harum bunga lavender, merupakan senjata mematikan yang kegunaannya tak hanya untuk terbang di langit.
Kurang lebih ada 15 jurus angin yang ia kuasai. Ibaratkan dengan sayapnya saja, daya tempur jurus-jurus itu mencapai 80%, dengan ajaibnya tombak Chriso macairi, daya tempurnya bisa mencapai 150%. Ya, sekuat itulah tombak emas milik Samuel yang kini ia gunakan kala bertempur.
BLARRKKK… drrrkkk… DDUUMMM....!!!!!!!
“berhasil..!! mereka jatuh..!!!!”
“tidak Peter, ini terlalu mudah...” masih dengan sayap-sayap yang membuka, Samuel tidak menurunkan kewaspadaannya.
Benar saja apa yang Raja Celestial itu katakan..
Ddrrrr..... dddrrll........
Prajurit batu yang mereka hadapi bukanlah lawan yang bisa dianggap sepele. Mereka memang jatuh dan pecah menjadi beberapa bagian, akan tetapi tak lama setelah terpecah, Magia hijau kembali menyelimuti mereka dan raksasa batu itu utuh kembali seperti semula.
“kau pasti bercanda..”
“hhh... tadi siapa ya yang bilang, namanya ujian tidak mungkin mudah..”
“GROOOAAA...!!!!!” musuh mereka bangkit dan melangkah lagi, menguji keberanian dua pemimpin di depan mereka.
“hh… baru segini saja.. Magiaku masih banyak tau..!!!” Samuel berdiri lagi dan membuka kedua sayapnya menjadi lebih lebar lagi. Bulu-bulu putih yang sebelumnya terlipat kini membuka, menantang dengan tangguh.
Tak ingin kalah dari kawannya, Peter pun memasang kuda-kuda bersiap untuk ikut menyerang kembali.
“kalaupun sampai kehabisan Magia, tekad dan semangatku tak akan pernah habis... MAJUUU...!!!!!!”
Bertarung tanpa senjata sihir seolah-olah membuat lawan mereka tak terkalahkan. Namun dengan tekad baja Ksatria sihir dan Raja langit itu tetap melawan sambil saling melindungi satu sama lain.
Tak bisa berlari, maka berjalanlah.. tak bisa berjalan, maka merangkaklah.. meski hanya satu inci, jangan pernah menyerah.. tetaplah bergerak maju.. karena berdiam diri bukanlah pilihan.
Sementara itu di ruang ujian yang lain..
Louis Seo, ditempatkan sendirian di sebuah ruangan yang agak kecil. Ruangan itu bahkan hanya seperempat dari kamar istananya. Sama seperti ruangan besar sebelumnya, ada beberapa kristal yang berperan sebagai penerang. Kristal kuarsa bening adalah salah satunya.
“.. aku.. sendirian? Tidak dikelompokkan dengan siapapun?” sambil berbicara sendiri ia tidak mengerti mengapa Zefyros memisahkannya dengan teman-temannya yang lain, atau setidaknya memasangkannya dengan seseorang.
“.. Spirit of Darkness, Louis..”
“ya, Zefyros?”
“mungkin kau bingung tetapi.. ujianmu bukanlah ujian fisik seperti teman-temanmu yang lain.. karenanya ruangan ini cukup untukmu..”
“aku tak masalah dengan ruangan ini tapi.. apa ujian yang akan kau berikan padaku? Bagaimana agar aku bisa lulus?”
“.. ujian yang harus kau hadapi adalah.. bicaralah dengan Roh Malam dan Kesunyian yang bersemayam di dalam jiwamu.. berdamailah dengannya.. ia akan menjadi teman yang tak kalah baik dengan kelompokmu saat ini..”
DEG!! Tubuh Louis tersentak seketika..
Bagaimana Zefyros bisa tau kalau terdapat sosok yang mendiami jiwanya(?). mengenai sosok itu.. bahkan Louis sendiri belum berani menceritakannya pada anggota Stray Kids lain karena khawatir mereka akan ketakutan begitu ia sebutkan namanya. Nama sang legenda kegelapan yang telah mendiami jiwanya sejak ia kecil.. Agel, sang Roh Malam dan Kesunyian.
Semua dimulai sejak dulu..
STRAY KIDS - ENN VASSILI | Step out!: Chaldene's Hidden Gem
@yumebananivaa
.