
Seolah terbawa ke alam mimpi.. sesosok yang bersinar terang dan biru seluruhnya.. memanggil nama Chris..
“Bangunlah.. King of Dragons..”
Chris perlahan terpanggil kesadarannya..
“King of Dragons.. aku ingin bicara denganmu..”
“Hah?!” terbangun di tempat yang seluruhnya putih bagai diatas awan, di hadapan Chris duduk sesosok Naga biru yang menatapnya tajam.
Sosok itu tak bersayap seperti Dragons, tapi memiliki kumis panjang dan cakar-cakarnya cenderung pendek. Ular naga, begitulah wujudnya bisa dipanggil. Tubuh naga itu memang ramping dan panjang seperti ular serta ekornya sangat panjang. Bagian ujung dari ekor naga itu bahkan dihiasi sirip-sirip yang juga berwarna biru. Namun entah mengapa Chris merasa tak asing dengannya. Seolah sudah pernah berjumpa di waktu yang lain.
“kau ... Blue spirit..” bisik Chris pelan. Dua matanya tak berkedip karena takjub oleh sosok itu. Perlahan ia membungkuk memberikan hormat kepada sang naga suci.
“.. aku senang kau menyadari diriku.. ya.. aku adalah yang kalian panggil dengan sebutan Blue Spirit. Tapi ketahuilah akupun memiliki nama seperti Roh kuno lainnya.. dan namaku adalah Kazu, Roh Biru dan Kesetiaan..”
Roh biru dan kesetiaan katanya? Wah, pengalaman kali ini sungguh sangat menarik. Roh kuno bernama Kazu atau lebih dikenal dengan Blue Spirit itu, memperkenalkan dirinya.
“.. yang ada di depanmu ini hanyalah sebagian kecil jiwaku yang tersimpan dalam tiara yang kau pakai itu. Ketahuilah ragaku yang sesungguhnya kini masih menjelajah di Bimasakti, terbang sebagai komet yang melintasi Enn Vassili hanya tiap 75 tahun Dragons sekali.. dan nama komet itu sama dengan julukanku, komet Blue Spirit.. pernahkah kau melihat komet itu dalam seumur hidupmu.. nak?”
“eh.. uhmm.. be-belum..”
“hahahah.. tak usah canggung begitu.. tujuanku menemuimu disini adalah.. memberimu satu anugrah baru sebagai tanda lulusnya kau dari ujian yang diberikan Zefyros sang Roh Barat dan Keyakinan.. anugrah yang akan kuberikan padamu merupakan sebuah senjata.. gunakanlah demi kebai— gunakanlah saat kau membutuhkannya…” naga biru itu menunduk agar bisa menatap Chris lebih jelas.
“.. ketahuilah juga bahwa aku selalu ada bersamamu.. dalam tiara suci itu... Chris Bang..” Blue Spirit sadar ia tak melihat sedikitpun tabiat buruk dalam diri Chris. Itu sebabnya kalimat yang ingin ia ucapkan ia ubah.
Tak lama setelahnya, naga biru itu pun menghilang menjadi asap seiring kata-katanya selesai.
Sementara Minho, terbawa ke suatu tempat yang mirip seperti tempat dimana Chris dan Blue Spirit bicara. Ia berdiri ditengah kekosongan.
Tap.. tap.. tap..
Tiba-tiba saja seseorang melangkah menghampiri. Seekor Beast seperti dirinya, dari kalangan harimau. Bertubuh tegap dengan luka cakar di mata kirinya. Wujud setengah manusianya tidak sesempurna Minho. Tapi Minho bisa merasakan kekuatan dan aura kepemimpinan yang kuat dari Tiger itu.
“David, the first Command of Beast.. yang terkenal dengan Thunder-roar..” selayaknya Chris, Minho pun mengenali sosok dari masa lalu yang menemuinya itu.
“Namamu Minho.. ‘kan.. sini, mari kita mengobrol sebentar” David membuka percakapannya dengan Minho. Ia lalu duduk santai, dan menepuk-nepuk tanah disebelahnya memberi kode pada Minho untuk ikut duduk disisinya.
“.. bagaimana kau tau namaku??” Minho pun mengikuti ajakannya. Ia duduk bersila disamping Command of Beast pertama yang sebelumnya hanya ia lihat lukisannya di buku sejarah atau bingkai-bingkai kuno di dinding Gran Dortoir.
“Tentu saja aku tau.. Eye of Pride merupakan leader item yang terhubung denganku dan seluruh Command of Beast sebelum dirimu.. bentuknya memang sederhana tapi kekuatannya luar biasa.. dan kau tau? Sesuai dengan namanya.. itu memang terbuat dari sebuah mata dari seekor monster---“
“Hah?! Serius?!?!” Minho terkejut seketika melihat Eye of Pride yang terpasang di dada kirinya itu.
“Hahahah... iya.. aku serius.. kau tau legenda tentang tujuh dosa besar? Sesuai namanya.. itu merupakan mata dari Roh dosa Kesombongan, Pride, iblis bernama Lucifer..” sambung David yang penjelasannya terpotong.
“... aku memang tau kaulah yang menciptakan Eye of Pride.. tapi belum pernah ada yang mengatakan kalau ini tercipta dari mata asli..” jelas Minho dengan ekspresi agak kaget. Telinganya pun melipat turun.
“Hmm.. ya.. begitulah.. aku juga merupakan salah satu yang ikut mengalahkan Lucifer saat ia muncul dan mengacau di hutan Groilan.. jurus Thunder-roar yang kalian bilang terkenal itu.. itulah yang kugunakan untuk mengalahkan dan menyegelnya hingga saat ini.. sekarang nama negeri itu berubah menjadi Groilandia ya.. lebih enak diucapkan menurutku..” balas David. Ekornya menyentak pelan. Ia senang setelah beberapa tahun sejak Command of Beast terakhir mengambil ujian dari Zefyros, Minho pun datang. Memberinya kabar dan harapan untuk Groilandia, kerajaan yang ia dirikan dulu.
“hemm…. Begitu ya..”
“Oh ya aku hampir lupa.. coba lihat Eye of Pride sebentar..” pinta David.
“Eh? Tentu.. Minho pun melepas leader item nya, menyerahkannya ke tangan David.
“tunggu sebentar ya….”
Begitu menerimanya, David membalut bros itu dengan Magianya hingga bersinar sangat terang dan menyilaukan. Setelahnya, ia memegang erat pergelangan tangan kiri Minho hingga sinar dari Magianya menghilang.
“...??? lho?!” Eye of Pride berubah bentuk dari bros menjadi gelang emas ditangan kirinya. Minho terkejut sambil menatap David.
“Sekarang benda ini bukan hanya sekedar leader item.. dia bisa berubah menjadi senjata yang membantumu dalam pertarungan..”
“Sungguh? Bagaimana caranya??”
“Pride Bow..!!” sentak David pada gelang Eye of Pride.
Crinngg..!!!
“Untuk anak panahnya.. kau tarik saja jarimu seperti ini..” David menjelaskan pada Minho bagaimana menggunakan senjata barunya itu. Ia mencontohkan gerakan seolah menarik anak panah pada tali busur. Begitu Minho memposisikan jarinya, anak panah dari petir muncul dengan sendirinya dan siap untuk diluncurkan. Dengan ekspresi kagum, ia pun menatap moyangnya itu.
“Anak panah petir itu tidak akan habis selama pasokan Magiamu masih ada.. jadi jangan khawatir.. kau tidak perlu repot-repot menyiapkan tas dan persediaan anak panah selama ingin menggunakannya..” jelas David lagi. Ia dipanggil oleh Zefyros untuk menemui penerusnya dan menyerahkan satu anugrah untuknya. Dan kini tugas itu selesai.
“.. aku titip hutan hijau itu beserta para penghuninya.. jadilah pemimpin yang baik.. aku yakin Eye of Pride tepat memilihmu sebagai pemiliknya..” David memeluk Minho. Tanda bahwa mereka harus segera berpisah.
“Hmm.. ya.. tentu saja..” jauh dari penampilannya yang menyeramkan, Command of Beast pertama itu memiliki pelukan yang hangat. Minho lalu memejamkan matanya dan tenggelam dalam kehangatan...
Terakhir, Jeongin sang Priest of Foxes.. terbangun dalam sebuah ruang hampa penuh bintang bintang, di luar atmosfer, di luar angkasa...
“.. bagaimana kabarmu?” dihadapannya tengah duduk dengan tenang seekor Kitsune raksasa berekor tiga belas dengan wujud berkali-kali lipat lebih besar dari Jeongin.
Priest of Foxes dari Enn Vassili itu bahkan tak lebih besar dari sehelai bulu sang Rubah. Sesungguhnya Kitsune berekor tiga belas itu bukanlah rubah biasa, bahkan derajatnya jauh.. lebih tinggi diatas Jeongin. Ia adalah Dewa, Dewa Rubah Inari, dimana masing-masing dari tiga belas ekornya memegang satu semesta dan Enn Vassili adalah satu diantara tiga belas semesta itu. Semesta yang ia titipkan pada Jeongin untuk dijaga bersama para Rubah di Miwamori.
“.. ehm.. iya.. aku baik-baik saja..” jawab Jeongin datar. Ia menundukkan pandangannya karena menatap langsung Inari agak kurang sopan untuknya.
“Bagus kalau begitu.. Roh Barat dan Keyakinan, dia yang memintaku untuk bicara denganmu.. dia memohon padaku untuk memberikan sesuatu untuk membantumu melindungi Enn Vassili dengan lebih baik lagi.. tapi kurasa itu tidak perlu.. kau menjalankan tugasmu dengan baik disana bahkan sekarang mendapat teman-teman baru.. ini pertama kalinya bagi Roh Barat itu bertemu denganmu ‘kan? Karena teman-temanmu yang mengajakmu kesana..”
Jeongin mengangguk pelan sambil melirik sedikit. Telinganya yang menekuk sedikit-sedikit mulai tegak kembali.
“.. sekarang ekormu masih tujuh, seharusnya dua puluh tahun Rubah yang akan datang baru kita akan bertemu lagi di reinkarnasimu yang selanjutnya.. bukan begitu?” Inari bicara panjang pada Jeongin yang terpaku dihadapannya. Namun anak itu hanya diam saja tidak berani berkata banyak.
“benar sekali…”
Jeongin memang selalu segan dan menjaga sikapnya di hadapan Inari, penciptanya. Ya, setiap kali reinkarnasi Jeongin selalu bertemu dengan Inari untuk memberitahukan tentang kehidupannya yang baru berakhir dan akan dimulai. Terus menerus selama ribuan tahun sejak dilahirkan.....
“.. tapi baiklah.. akan kuberikan kau sesuatu.. sebagai hadiah atas kerja kerasmu selama ini.. terimalah..” Inari mencabut satu lonceng di kalungnya, mengubahnya menjadi kecil dan memberikannya pada Jeongin.
“Anggaplah sebagai jimat pelindung dariku.. jaga dirimu..” Inari lalu bersinar terang. Sinar yang menyilaukan hingga Jeongin menutup kedua matanya.
Chris, Minho dan Jeongin muncul kembali di ruang awal. Zefyros, Samuel, Peter dan Felix pun menyambut mereka.
“.. lho?” saat sadar entah mengapa Chris tengah memegang sebuah pedang besar. Terlihat berat namun bagi Chris ringan adanya. Pedang dua tangan berwarna biru, emas dan perak. Chris bisa merasakan energi yang kuat darinya.
“Inikah senjata yang Blue Spirit katakan?” ujar Chris sambil memandangi senjata barunya, takjub.
“.. pedang yang keren, Chan..” puji Felix.
“nngg… jujur saja.. sejauh ini selama bertarung aku biasa mengandalkan sihir saja.. aku memang belajar berpedang dan panah tapi menurutku sihir saja sudah cukup praktis..”balas Chris jujur. Selama ini ia memang cukup mengandalkan sihir saat bertarung. Ia tidak menyangka akan dihadiahi sebuah pedang besar.
“Uwoohh.. bagaimana kalau kita latihan bersama sebagai sesama pengguna pedang?!” Peter mengedipkan sebelah matanya, menggoda Chris.
“Hei jangan lupa.. Sky juga pengguna pedang.. pedang ganda pula..” sahut Samuel sambil melipat tangannya.
“Oh iya aku hampir lupa ekor sayapnya bisa berubah menjadi senjata..”
“jadi lengkap ya kelompok kita.. Peter pengguna pedang satu tangan, Sky pengguna pedang ganda, dan Chris pengguna pedang besar..”
“Nggg…… ngomong-ngomong bagaimana ujian kalian? Kalian selesai lebih cepat dari kami??” tanya Jeongin yang masih mengenggam lonceng pemberian Inari.
“Hehe ya donk...” cengir Peter sambil menyenggol Sam.
“Aduhh.. baru juga dibilang ya dasar iseng..” Samuel balik menepuk Peter dengan sayapnya.
“Berarti yang belum selesai tinggal Louis dan Sky ya.. Zefyros, apa kami boleh tau ujian apa yang kau berikan pada mereka?” tanya Minho sambil mendongak mengingat tingginya Roh Barat itu.
“Untuk Sky, aku mengambil suaranya dan dia harus mewujudkan sihir tanpa bernyanyi.. dan Louis.. hmm... kurasa biar nanti saja dia sendiri yang menceritakannya pada kalian..” jawab Zefyros. Ia tau bahwa Louis masih menyembunyikan keberadaan Agel dari teman-temannya.
STRAY KIDS - Enn Vassili | Step Out!: Chaldene's Hidden Gem
@yumebananivaa
.