(STRAY KIDS) ENN VASSILI | STEP OUT!: Chaldene'S Hidden Gem

(STRAY KIDS) ENN VASSILI | STEP OUT!: Chaldene'S Hidden Gem
the Clue



“maaf ya kalau aku


memanggil kembali memori lama kalian.. tapi sungguh, ini adalah hal penting


yang aku juga harus ketahui sebelum memberitahu kalian lebih jauh tentang


Chaldene’s hidden Gem..”


“tidak apa-apa Cyari..


kau adalah seekor Unicorn, guru sihir kawan kami.. mana mungkin kami


meragukanmu..”


“aku juga sudah tau


perihal penyihir Chaldene yang memantik perang Gate of South.. sebagai 8


pemimpin tertinggi Enn Vassilikalian menyelesaikan semuanya sendiri.. entah


mengapa aku jadi merasa seperti ikut merepotkan kalian semua.. maafkan aku


ya..”


“eh kok kau yang minta


maaf.. kami semua tidak merasa begitu kok..”


“ya Cyari.. bukankah


semesta punya hukum sebab-akibat? Mungkin Gate of South adalah karma masa lalu


dimana kami lah yang harus menyelesaikannya..” sambil berdiri dari kursinya, Samuel melontarkan


kata-kata yang cukup masuk akal.


“apa kau lihat kami


disini kehilangan sesuatu atau berubah menjadi sosok lain setelah penyegelan?


Tidak ‘kan? malah kami semua jadi berteman..”


“hngg.. Sky, sering-seringlah


berkata manis begini..”


“siapapun tolong bawa


jauh-jauh Celestial ini dari sampingku..”


“ah ya.. hubungan


cinta-benci dua orang ini sangat menarik..” Minho, menyeruput es kopi


pahit favoritnya.


“hhhh.... baiklah,


kurasa menawarkab Chaldene’s hidden Gem pada kalian merupakan sesuatu yang


tepat..”


“ayo ceritakan Cyari,


kami makin penasaran..”


“kemarin aku sudah


tanya ini ke Peter, sekarang gantian aku bertanya pada kalian ya.. apa pendapat


kalian mengenai hidup kalian selama ini?”


“lho? Hemm..... siapa


yang mau jawab duluan?” Chris, mempersilakan adik-adiknya yang lebih muda untuk


menjawab duluan.


“ayo, siapa saja..”


“aku ya.. kalau


mengingat masa lalu sebelum menjadi Raja.. banyak yang meremehkan dan menyebut


diriku hanya ‘modal tampang’.. tapi karena kesal aku melatih diri dan


membuktikan kalau aku juga bisa


jadi kuat.. ada kepuasan sendiri ketika aku bisa membuktikan kekuatanku.. sekarang, aku bisa


bangga dan bisa mencintai diriku sendiri..” semua yang ada disana agak terkejut mendengar


cerita Samuel. Tidak ada yang menyangka ketampanannya justru sempat menjadi


neraka baginya.


“kau serius?”


“ehemm” Raja


Celestial itu menopang dagunya sambil tersenyum tipis. Malam itu rambut


panjangnya dikuncir tengah dan ekor kuda, menambah pesonanya. Kehidupannya


ketika dewasa sudah benar-benar berubah. Ia besar oleh pengalaman.


“aku juga.. meski


sebelum penobatan aku sempat direndahkan dan dituduh macam-macam.. kehidupanku


sebelum menjadi Raja atau setelahnya cukup baik.. meski aku sudah kehilangan


Alfredo, penasehat terdekatku.. tapi aku yakin segala hal yang terjadi pasti


ada sebab dan hikmahnya.. kehilanganku atas dirinya digantikan dengan hadirnya


kalian..” akhirnya Sky pun


mengungkapkan masa lalunya. Meski tak bisa melupakan kata-kata yang menyakiti


hatinya, Ia memaafkan.


“… jangan bilang


kita punya masa lalu yang mirip-mirip?” Louis menoleh ke kanan kiri melihat


teman-temannya. Sebelum naik ke puncak, Ia pun sempat dijatuhkan.Ia punya rahasia


besar yang belum ia ungkapkan pada Raja-raja lain.


“hemm… buka diremehkan


sih, lebih tepatnya ujian untuk menjadi Raja.. itu yang berat” timpal Chris.


“kau jadi Raja


lewat ujian? Aku juga..” Minho menyentak ekornya, membalas jawaban Chris.


Jeongin memasang


wajah datar, tak menjawab apapun. Hanya diam mendengarkan pendapat


teman-temannya sambil menyeruput teh.Ia belum membuka suara sejak tadi.


“kalau aku sih..


entah? Memang sudah takdir mungkin ya.. aku terpilih menjadi Earl setelah


mengalahkan salah satu iblis tujuh dosa besar, Leviathan.. dengan Broken


Compass. Simbol di dahiku ini.. adalah simbol Raja Siren yang muncul ketika aku


mengalahkannya..”


“……………..”


“iblis tujuh dosa


itu.. ada?”


“ada.. dan dia


mengacau di Thalassas 5 tahun Siren yang lalu..”


“kupikir mereka


hanya dongeng Enn Vassili belaka..”


“sebenarnya kau sekuat


apa sih, ‘lix?”


“ehmm… baiklah


pertanyaanku selanjutnya, apa yang akan kalian lakukan kalau seseorang tiba-tiba saja menawarkan


kekuatan luar biasa?”Cyari yang ikut termangu mendengar cerita Felix pun


melanjutkan pembicaraannya.


“Kekuatan?!”


“Hemm.. entahlah..


bagaimana caranya seseorang itu memberikan ‘kekuatan besar’ padaku? Bukankah


kekuatan yang besar akan datang dengan sendirinya jika kita tekun dan latihan


dengan sungguh-sungguh?” entah kenapa jawaban Samuel mirip dengan


jawaban Peter sebelumnya.


“aku juga berpikir


begitu.. untuk apa punya kekuatan besar tapi untuk merusak dan menghancurkan..”


timpal Chris. Ia memang bukan Dragons paling kekar atau dengan sihir terunggul.


Namun jiwa kepemimpinannya tak perlu diragukan lagi.


“jawaban kalian bagus-bagus..


jadi, Chaldene’s hidden Gem adalah..”


8 Raja terdiam,


menanti penjelasan Cyari yang sudah ditunggu-tunggu sedari kemarin.


“sesuatu yang akan


mengubah diri kalian menjadi lebih baik.. pengalaman besar yang akan kalian


bawa seumur hidup.. cari, jika kalian dapatkan ia akan jadi milikmu selamanya..


lepas, maka kalian tak untung atau rugi..”


Ekor Minho mengibas, Chrismenyipitkan matanya.


Mereka berdelapan berusaha memahami kata-kata yang baru Cyari ungkapkan.


“bagaimana kalian


tertarik untuk mencarinya? Kau juga Sky, ini akan


menyembuhkan ketidakseimbangan dalam energimu..”


“eh? Aku?” mata Sky membuka lebar, Ia


juga belum mengerti betul apa yang baru Cyari katakan.


“kalau menurutmu


ini baik untuk kami dan masa depan.. tentu, aku mau..”


“aku juga.. kalian


semua juga ‘kan? Ada yang tidak setuju?”


“kalau berkumpul


dan melakukan satu hal bersama kalian, aku tidak akan menolak..”


“baiklah.. Aku harap kalian siap


mendapatkan satu pengalaman baru yang pastinya tidak akan kalian lupakan..”


ujar Cyari lagi sambil menyentak lembut


ekornya yang panjang.


“Yaa.. tentu..” jawab Chris sambil mengangguk.


Delapan pemimpin itu tersenyum percaya diri di hadapan sang Unicorn.


“Oh ya Cyari, apa ada


petunjuk atau sesuatu yang harus kami gunakan dalam pencarian?” tanya Peter tiba-tiba.


“Tentu saja ada.. Akan


ku beri tahu pada kalian esok pagi.. nikmati kebersamaan dan waktu kalian


disini ya..” tak ingin mengganggu 8 Raja lebih lama, Unicorn itu beranjak


pergi. Kembali ke hutan tempat berkumpul Unicorn-unicorn lain.


“jadi malam ini kita menginap disini,


lagi?” tanya Felix.


“lho, memang begitu


rencana kita ‘kan?” jawab Peter singkat.


“aku juga tidak duga


akan menginap, makanya aku tak bawa baju ganti..” sahut Sky.


“makanya jangan


meninggalkan obrolan duluan..” goda Samuel.


“suruh siapa kalian


ribut?!”


“tenang saja.. ukuran


badan kita kan sama.. kalian bisa pakai baju-baju ku..”


“hahahahah..... bagaimana kalau


malam ini kita berdelapan tidur satu kamar?? Ada ‘kan Peter, satu


kamar besar yang cukup untuk kita semua?” Chris berusul sambil mengedipkan sebelah


matanya.


“jangan.. Minho


kalau tidur suka mengigau.. waktu itu dia mengucapkan ‘haloo selamat pagi’


dengan jelas ketika matanya masih terpejam, tidur” ujar Sky sambil menunjuk


Minho yang duduk di seberangnya.


“kok? Memangnya kau


lihat??” Minho yang sedang menyuap daging rebus menaruh lagi sumpitnya,


menjawab Sky.


“aku yang


membangunkanmu waktu kita menginap disini ya”


“HAHAHAHAHAHA…...”


Akhirnya semua


setuju dengan usul Chris. Berhubung kamarnya cukup besar, mereka menggelar


kasur lantai dan tidur bersama. Samuel dengan Jeongin, Peter dengan Sky, Chris


pastinya dengan Felix serta Minho dan Louis. Jendela besar kamar itu ditutup


tirai putih, membiarkan cahaya malam menembusnya. Peter mematikan lampu, lalu


beranjak ke tempat kosong disamping Sky. Selimut yang baru dikeluarkan dari


lemari sungguh wangi dan nyaman. Baru merebahkan diri sejenak saja sudah terasa


ingin terlelap.


“hehe sudah lama


sekali sejak aku menginap dan tidur bersama teman.. kawan satu sekolahku dulu.. sekarang apa kabar


mereka ya..” karena tidak


membawa baju ganti mereka pun meminjam baju tidur Peter seadanya. Sebuah kaus


putih polos Sky lubangi bagian punggungnya agar sayapnya tidak tertekuk dalam


kain.


“iya.. meski aku


yang termuda diantara kawan-kawan, dulu kami sering makan bersama, bermain,


juga menginap diakhir pekan..” balas Chris sambil menatap langit-langit kamar.


Khusus  celana tidurnya, ia lubangi


bagian ekor agar tetap merasa nyaman.


“aku.. tidak punya


teman. Karena mereka yang ku temui di sekolah tidak ada yang memahamiku..


hingga akhirnya aku pun menarik diri..” Samuel tidak memakai selimutnya. Ia


membungkus diri dengan sayap seperti posisi tidurnya yang biasa. Bulu utama


sayapnya menyilang, menutupi paha dan betisnya.


“.. sekarang ‘kan


kami yang menjadi temanmu..” Peter bangun dari posisinya, menatap Samuel yang


terbungkus sayap.


“ehm..” kawannya


itu tidak menjawab banyak. Ia tak mau kalau saat ini perasaannya yang sedang


terharu ketahuan.Jadi begini ya


rasanya berkumpul bersama teman-teman?


“kira-kira esok


hari kita akan menemukan apa ya..” Felix dengan matanya yang polos, tidak sabar


untuk hari esok.


“yang pasti kita


harus dengar petunjuk dari Cyari dulu.. baru kita hooaahhmmm… pergi kesana..”


Peter berbalik badan menarik selimut, mengantuk.


“selamat malam


selimut.


“malam Jeongin..”


“ya.. malam”


Selamat tidur, tidur


yang nyenyak.. mimpi yang indah.. aku sayang kalian..



“Peter.. hey Peter ayo


bangun..”diguncang-guncang tubuh kawannya agar mau


bangun dan beranjak memulai hari.


“hmm… Sky? Masih ngantuk..”


“ayolah.. mau cari harta


karun Chaldene tidak..”


“mau.. tapi 5 menit lagi.. ya”


“ishh..”


“… pagi Sky..”


“pagi juga Jeongin.. kau


terbiasa bangun cepat ya”


“iya.. karena melihat


matahari terbit menambah Magia ku..” telinga Rubah Jeongin berkedut. Ah Skysungguh merasa gemas melihatnya.


“ayo, kita bangunkan


kakak-kakak ini”


“BAANNGGUUUNNN…!!!!!!” Sky


dan Jeongin menarik selimut-selimut mereka hingga yang dibangunkan pun


terkejut.


“kkhhh…” Samuel dan Peter


bangun dan terduduk lemas dengan mata masih terpejam, mencari kesadaran diri.


“ahh?! Oh.. iya..” Chris


dengan rambut putihnya yang digerai sedikit kusut. Mata birunya


terkantuk-kantuk karena tidak terbiasa bangun pagi. Felix yang tidur


disampingnya tidak bergeming meski selimutnya sudah ditarik.


“heemmm…” Minho pun sama, Ia memeluk lagi ekornya belum mau bangun. Wajar


saja karena kaum Beast biasa tidur larut malam dan bangun agak siang.


“.. apa biarkan saja ya,


mereka tidak biasa bangun pagi seperti kita.. sepertinya semalam ketika kita


sudah terlelap, mereka bangun lagi dan keluar dari kamar entah kemana..”


Jeongin menatap Minho. Ia pun baru ingat kalau jam tidur mereka berbeda-beda.


“iya juga.. yasudah kita


siap-siap saja duluan, kalau kita sudah selesai baru bangunkan mereka.. Peter,


kami pakai kamar mandimu ya..”


“ngg..?? oh, iya.. silakan


zzzz…” sang pemilik rumah pun telungkup lagi diatas kasurnya, melanjutkan


tidur.


“dasar, anak ini juga sama


saja”


Seusai


bersiap mereka yang muda pun kembali membangunkan kakak-kakaknya hingga mereka


semua mengalah. Sky yang rajin merapikan kembali selimutnya yang


berantakan. Jeongin dan Felixpun meniru apa yang ia lakukan.


“kira-kira


petunjuk seperti apa yang akan Cyari berikan ya.. maksudku.. apakah peta harta,


atau penunjuk jalan seperti Broken Compassnya Felix?” Louismengikat tali sepatunya, sudah selesai


mempersiapkan diri.


“entah,


kita lihat saja nanti.. semoga kita bisa dengan mudah menemukannya ya..” Chris mengikat rambutnya sambil bercermin di depan


meja rias milik Peter, tak menoleh pada Louis.


“duh


kalian deg-degan gak sih?” Samuel menyisir rambutnya disamping Chris, lalu menguncir tengah dan memakai kembali


mahkotanya.


“pastinya...


kira-kira apa ya Chaldene’s hidden Gem kalau bukan harta berupa materi atau


kekuatan seperti Magia jantung bumi?” balas Felixyang memakai kembali mahkota Amethystnya tanpa bercermin.


Tiga jam setelah matahari


terbit, akhirnya mereka semua sudah siap untuk petualangan baru yang menanti.8 Raja yang sudah kembali rapi dengan pakaian


dan atribut mereka, berkumpul di halaman Gi Ankalia. Menanti kedatangan guru


sihir dari Guardian of Chaldene untuk memberikan petunjuk mengenai pencarian


Chaldene’s hidden Gem.


Tak..


tuk.. tak.. tuk.. terdengar langkah suara kaki kuda. Benar saja akhirnya sang


Unicorn menampakkan dirinya setelah dipersilakan masuk melalui besarnya gerbang


Gi Ankalia. Stray Kidspun makin bersemangat.


“..


selamat pagi, para Yang Mulia..” Cyari membungkuk, menunjukkan hormat pada 8


pemimpin besar Enn Vassili.


“pagi


Cyari...!!!!!”


“aku harap kalian


sudah siap mendapatkan satu pengalaman baru yang pastinya tidak akan kalian


lupakan..”


“yaa.. tentu..” jawab Chris sambil mengangguk mewakili kawan-kawannya.


“dengarkan


baik-baik petunjuk yang akan aku berikan ya.. terutama kau Peter, sebagai murid


sihir yang sudah menjelajah luasnya Chaldene bersamaku di usia remaja mu..”


“hehehe...


siap..” sambil mengacungkan ibu jarinya, senyum Peter pagi itu nampak cerah


seperti matahari pagi.


“ekhemm.....



‘.. Di bagian Barat tanah


para Unicorn.. berdiri diantara sejarah hidup yaitu Bumi tanpa langit, dibalik


tirai hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. menantang sang Dewa api..


sebuah tempat dimana tersimpan rahasia turun-temurun para Raja sepanjang


sejarah..’


“Kau bisa membayangkan tempat apa itu, Peter? Satu lokasi di Chaldene..”


“Terdengar seperti.. semacam teka-teki.. ya..” ujar Minho sambil mengerutkan dahinya.


“jadi


petunjuknya berupa kata-kata itu saja? Bukan peta atau yang lainnya?”


“Ya.. dan kalian lah yang harus menebaknya.. setelah kalian mengetahui


tempat yang dimaksud, pencarian seutuhnya kuserahkan pada kalian.. aku pamit ya..” Cyari melangkahkan


kakinya beranjak pergi menyisakan Stray


Kids yang tengah berpikir tentang petunjuk yang baru saja Ia berikan.


“.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa langit.. menggantung


pada tangisan dewi air.. aku tidak bisa membayangkan rupa nya..” Peter masih


bingung berusaha mengingat-ingat tempat di Chaldene yang kira-kira sesuai


dengan teka-teki itusambil menggaruk-garuk kepalanya.


“Mungkin kita butuh peta atau buku yang mencatat tentang setiap


tempat di Chaldene??” usul Sky. Saat ia butuh


informasi tertentu, Ia suka ke perpustakaan


istananya yang berisi ribuan buku untuk mencari informasiyang sesuai.


“Ide bagus.. ayo ke perpustakaan benteng ini.. kita cari buku yang


kira-kira mengandung informasi yang kita butuhkan..” ajak Petersambil berlalu, memandu kawan-kawannya ke


ruang perpustakaan.


Stray Kids lalu masuk lagi kebangunan utama Gi


Ankalia menuju perpustakaan yang berada di gedung terpisah. Perpustakaan itu


sungguh luas dengan arsitektur kuno khas Chaldene. Banyak ukiran yang menghiasi


pintu dan jendelanya yang besar-besar. Begitu pintu-pintu utamanya dibuka,


aroma dari ratus ribuan buku berusia ratusan tahun menyambut. SKZ masuk ke


dalamnya bersama-sama. Rak-rak buku dengan kokoh berdiri sesuai dengan jenis


dan tahun buku diterbitkan. Mereka pun berpencar mencari buku dengan judul yang


menyangkut tentang tempat-tempat di Chaldene.


“Sejarah Chaldene..


tempat-tempat kuno.. hemm.. sepertinya kurang lengkap..” Louis membolak-balik


halaman buku yang ia pegang.


“aku sudah agak lupa isi


teka-tekinya loh.. hehe.. coba ingatkan aku lagi..” tanya Samuel lagi.


“aku ingat kok.. ‘di bagian


Barat.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa langit dibalik tirai


hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. dan menantang Dewa api..’ benar


‘kan?” balas Jeongin. Lonceng terakhir Ia kenakan di kalungnya, berdenting tiap


kala Ia bergerak.


“ingatanmu bagus juga ya,


Rubah”


“sampai kapan kau akan


memanggil kami dengan panggilan seperti itu?”


“hmm… sampai aku tidak


sayang kalian lagi.. jadi sepertinya itu tidak mungkin”


“terserah..”


“apa tadi? ... di bagian Barat.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa


langit dibalik tirai hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. dan menantang


Dewa api.. ya??” sahut Samuel yang mulai pusing mencari. Kedua sayapnya sangat


membantu untuk memilah buku dari rak tertinggi sekalipun.


“Bagaimana kalau kita


pecahkan dulu teka-tekinya? Di bagian Barat tanah para Unicorn.. berarti tempat


itu ada di bagian Barat Chaldene ‘kan? Mungkin dekat Vouna?” usul Jeongin


sambil terus menjelajahi jajaran-jajaran rak buku. Mata coklatnya membaca


judul-judul buku dengan teliti, memastikan tak ada yang terlewat.


“Lalu berdiri diantara


sejarah hidup? Sejarah hidup itu apa maksudnya?” lagi-lagi Chris mengerutkan


dahinya, bingung.


“Sejarah hidup??


Unicorn..!!! mereka tak berkurang atau bertambah.. tak bisa mati atau ada


kelahiran baru.. mereka adalah saksi hidup dari dunia ini.. ‘kan??” Minho


berdiri dari kursinya dan bertanya langsung pada Peter di hadapannya.


“Ehh.. oh.. ho’oh...”


tatapan Peter datar. Ia masih berusaha mencerna apa yang Minho katakan.


“.. dan lagi bukankah


mereka hidup berkelompok? Berarti tempat yang kita cari ada di dekat salah satu


koloni, tempat berdiam mereka ‘kan?? aku ingat pernah bercanda dengan Cyari dan


mengatakan kalau dia mirip buku sejarah berjalan..” Minho duduk lagi dan


menyelesaikan penjelasannya.


“Apa berjalan??”


“... bisa jadi sih.. kalau


begitu.. hemm” Peter beranjak mengambil dan membuka sebuah lembaran peta


wilayah Chaldene Barat. Ia memastikan tempat-tempat yang didiami para Unicorn.


“.. Unicorn di seluruh


Chaldene terbagi menjadi beberapa kelompok yang ikut menjaga Chaldene dan


manusia di dekat tempat tinggal mereka.. di Chaldene barat, mereka mendiami


wilayah Vrachos.. dipinggir danau Nisi.. lalu wilayah Caloca di padang Exaire..


dan terakhir di Noixe.. di hutan Aeras.. ” Peter menunjuk titik-titik yang ada


di peta. Menjelaskan secara rinci pada teman-temannya.


“Oke.. kita mulai dapat


titik terang.. teka-teki selanjutnya.. ‘dibalik tirai hujan, menggantung pada


tangisan dewi air, menantang dewa api...” kali ini Jeongin yang mengingatkan


baris petunjuk pada teman-temannya. Ia menyerah mencari satu diantara ribuan


buku yang terlalu banyak.


“Dewa api.. dewa api..


maksudnya gunung berapi? Ada satu gunung api dekat Noixe.. berada tepat di


barat hutan Aeras.. gunung Maron..” Peter kembali mengarahkan jarinya pada


lambang segitiga merah di peta yang menyimbolkan satu gunung aktif di Chaldene


barat. Teman-temannya pun melihat kearah titik yang Ia tunjuk.



“Apakah kata ‘menantang’


berarti ‘berhadapan lurus’? Berarti tempat yang kita cari ada di hutan Aeras


yang mana merupakan tempat berdiam para Unicorn dan berhadapan lurus dengan gunung


itu??” tanya Felix memastikan.


“Kurasa iya... hanya ada


dua gunung api di Chaldene.. dan yang satunya justru jauh di timur berbatasan


dengan Chaldene selatan..  kalau dewa api


yang dimaksud memang gunung, kurasa kita sudah benar..” Peter menggulung lagi


petanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.


“... lihat apa yang


kutemukan..” sesaat Peter meninggalkan kursinya, Sky menyodorkan sebuah buku


usang yang tebal dan berdebu.



STRAY KIDS - ENN VASSILI | Step out!: Chaldene's Hidden Gem


@yumebananivaa


.