
“maaf ya kalau aku
memanggil kembali memori lama kalian.. tapi sungguh, ini adalah hal penting
yang aku juga harus ketahui sebelum memberitahu kalian lebih jauh tentang
Chaldene’s hidden Gem..”
“tidak apa-apa Cyari..
kau adalah seekor Unicorn, guru sihir kawan kami.. mana mungkin kami
meragukanmu..”
“aku juga sudah tau
perihal penyihir Chaldene yang memantik perang Gate of South.. sebagai 8
pemimpin tertinggi Enn Vassilikalian menyelesaikan semuanya sendiri.. entah
mengapa aku jadi merasa seperti ikut merepotkan kalian semua.. maafkan aku
ya..”
“eh kok kau yang minta
maaf.. kami semua tidak merasa begitu kok..”
“ya Cyari.. bukankah
semesta punya hukum sebab-akibat? Mungkin Gate of South adalah karma masa lalu
dimana kami lah yang harus menyelesaikannya..” sambil berdiri dari kursinya, Samuel melontarkan
kata-kata yang cukup masuk akal.
“apa kau lihat kami
disini kehilangan sesuatu atau berubah menjadi sosok lain setelah penyegelan?
Tidak ‘kan? malah kami semua jadi berteman..”
“hngg.. Sky, sering-seringlah
berkata manis begini..”
“siapapun tolong bawa
jauh-jauh Celestial ini dari sampingku..”
“ah ya.. hubungan
cinta-benci dua orang ini sangat menarik..” Minho, menyeruput es kopi
pahit favoritnya.
“hhhh.... baiklah,
kurasa menawarkab Chaldene’s hidden Gem pada kalian merupakan sesuatu yang
tepat..”
“ayo ceritakan Cyari,
kami makin penasaran..”
“kemarin aku sudah
tanya ini ke Peter, sekarang gantian aku bertanya pada kalian ya.. apa pendapat
kalian mengenai hidup kalian selama ini?”
“lho? Hemm..... siapa
yang mau jawab duluan?” Chris, mempersilakan adik-adiknya yang lebih muda untuk
menjawab duluan.
“ayo, siapa saja..”
“aku ya.. kalau
mengingat masa lalu sebelum menjadi Raja.. banyak yang meremehkan dan menyebut
diriku hanya ‘modal tampang’.. tapi karena kesal aku melatih diri dan
membuktikan kalau aku juga bisa
jadi kuat.. ada kepuasan sendiri ketika aku bisa membuktikan kekuatanku.. sekarang, aku bisa
bangga dan bisa mencintai diriku sendiri..” semua yang ada disana agak terkejut mendengar
cerita Samuel. Tidak ada yang menyangka ketampanannya justru sempat menjadi
neraka baginya.
“kau serius?”
“ehemm” Raja
Celestial itu menopang dagunya sambil tersenyum tipis. Malam itu rambut
panjangnya dikuncir tengah dan ekor kuda, menambah pesonanya. Kehidupannya
ketika dewasa sudah benar-benar berubah. Ia besar oleh pengalaman.
“aku juga.. meski
sebelum penobatan aku sempat direndahkan dan dituduh macam-macam.. kehidupanku
sebelum menjadi Raja atau setelahnya cukup baik.. meski aku sudah kehilangan
Alfredo, penasehat terdekatku.. tapi aku yakin segala hal yang terjadi pasti
ada sebab dan hikmahnya.. kehilanganku atas dirinya digantikan dengan hadirnya
kalian..” akhirnya Sky pun
mengungkapkan masa lalunya. Meski tak bisa melupakan kata-kata yang menyakiti
hatinya, Ia memaafkan.
“… jangan bilang
kita punya masa lalu yang mirip-mirip?” Louis menoleh ke kanan kiri melihat
teman-temannya. Sebelum naik ke puncak, Ia pun sempat dijatuhkan.Ia punya rahasia
besar yang belum ia ungkapkan pada Raja-raja lain.
“hemm… buka diremehkan
sih, lebih tepatnya ujian untuk menjadi Raja.. itu yang berat” timpal Chris.
“kau jadi Raja
lewat ujian? Aku juga..” Minho menyentak ekornya, membalas jawaban Chris.
Jeongin memasang
wajah datar, tak menjawab apapun. Hanya diam mendengarkan pendapat
teman-temannya sambil menyeruput teh.Ia belum membuka suara sejak tadi.
“kalau aku sih..
entah? Memang sudah takdir mungkin ya.. aku terpilih menjadi Earl setelah
mengalahkan salah satu iblis tujuh dosa besar, Leviathan.. dengan Broken
Compass. Simbol di dahiku ini.. adalah simbol Raja Siren yang muncul ketika aku
mengalahkannya..”
“……………..”
“iblis tujuh dosa
itu.. ada?”
“ada.. dan dia
mengacau di Thalassas 5 tahun Siren yang lalu..”
“kupikir mereka
hanya dongeng Enn Vassili belaka..”
“sebenarnya kau sekuat
apa sih, ‘lix?”
“ehmm… baiklah
pertanyaanku selanjutnya, apa yang akan kalian lakukan kalau seseorang tiba-tiba saja menawarkan
kekuatan luar biasa?”Cyari yang ikut termangu mendengar cerita Felix pun
melanjutkan pembicaraannya.
“Kekuatan?!”
“Hemm.. entahlah..
bagaimana caranya seseorang itu memberikan ‘kekuatan besar’ padaku? Bukankah
kekuatan yang besar akan datang dengan sendirinya jika kita tekun dan latihan
dengan sungguh-sungguh?” entah kenapa jawaban Samuel mirip dengan
jawaban Peter sebelumnya.
“aku juga berpikir
begitu.. untuk apa punya kekuatan besar tapi untuk merusak dan menghancurkan..”
timpal Chris. Ia memang bukan Dragons paling kekar atau dengan sihir terunggul.
Namun jiwa kepemimpinannya tak perlu diragukan lagi.
“jawaban kalian bagus-bagus..
jadi, Chaldene’s hidden Gem adalah..”
8 Raja terdiam,
menanti penjelasan Cyari yang sudah ditunggu-tunggu sedari kemarin.
“sesuatu yang akan
mengubah diri kalian menjadi lebih baik.. pengalaman besar yang akan kalian
bawa seumur hidup.. cari, jika kalian dapatkan ia akan jadi milikmu selamanya..
lepas, maka kalian tak untung atau rugi..”
Ekor Minho mengibas, Chrismenyipitkan matanya.
Mereka berdelapan berusaha memahami kata-kata yang baru Cyari ungkapkan.
“bagaimana kalian
tertarik untuk mencarinya? Kau juga Sky, ini akan
menyembuhkan ketidakseimbangan dalam energimu..”
“eh? Aku?” mata Sky membuka lebar, Ia
juga belum mengerti betul apa yang baru Cyari katakan.
“kalau menurutmu
ini baik untuk kami dan masa depan.. tentu, aku mau..”
“aku juga.. kalian
semua juga ‘kan? Ada yang tidak setuju?”
“kalau berkumpul
dan melakukan satu hal bersama kalian, aku tidak akan menolak..”
“baiklah.. Aku harap kalian siap
mendapatkan satu pengalaman baru yang pastinya tidak akan kalian lupakan..”
ujar Cyari lagi sambil menyentak lembut
ekornya yang panjang.
“Yaa.. tentu..” jawab Chris sambil mengangguk.
Delapan pemimpin itu tersenyum percaya diri di hadapan sang Unicorn.
“Oh ya Cyari, apa ada
petunjuk atau sesuatu yang harus kami gunakan dalam pencarian?” tanya Peter tiba-tiba.
“Tentu saja ada.. Akan
ku beri tahu pada kalian esok pagi.. nikmati kebersamaan dan waktu kalian
disini ya..” tak ingin mengganggu 8 Raja lebih lama, Unicorn itu beranjak
pergi. Kembali ke hutan tempat berkumpul Unicorn-unicorn lain.
“jadi malam ini kita menginap disini,
lagi?” tanya Felix.
“lho, memang begitu
rencana kita ‘kan?” jawab Peter singkat.
“aku juga tidak duga
akan menginap, makanya aku tak bawa baju ganti..” sahut Sky.
“makanya jangan
meninggalkan obrolan duluan..” goda Samuel.
“suruh siapa kalian
ribut?!”
“tenang saja.. ukuran
badan kita kan sama.. kalian bisa pakai baju-baju ku..”
“hahahahah..... bagaimana kalau
malam ini kita berdelapan tidur satu kamar?? Ada ‘kan Peter, satu
kamar besar yang cukup untuk kita semua?” Chris berusul sambil mengedipkan sebelah
matanya.
“jangan.. Minho
kalau tidur suka mengigau.. waktu itu dia mengucapkan ‘haloo selamat pagi’
dengan jelas ketika matanya masih terpejam, tidur” ujar Sky sambil menunjuk
Minho yang duduk di seberangnya.
“kok? Memangnya kau
lihat??” Minho yang sedang menyuap daging rebus menaruh lagi sumpitnya,
menjawab Sky.
“aku yang
membangunkanmu waktu kita menginap disini ya”
“HAHAHAHAHAHA…...”
Akhirnya semua
setuju dengan usul Chris. Berhubung kamarnya cukup besar, mereka menggelar
kasur lantai dan tidur bersama. Samuel dengan Jeongin, Peter dengan Sky, Chris
pastinya dengan Felix serta Minho dan Louis. Jendela besar kamar itu ditutup
tirai putih, membiarkan cahaya malam menembusnya. Peter mematikan lampu, lalu
beranjak ke tempat kosong disamping Sky. Selimut yang baru dikeluarkan dari
lemari sungguh wangi dan nyaman. Baru merebahkan diri sejenak saja sudah terasa
ingin terlelap.
“hehe sudah lama
sekali sejak aku menginap dan tidur bersama teman.. kawan satu sekolahku dulu.. sekarang apa kabar
mereka ya..” karena tidak
membawa baju ganti mereka pun meminjam baju tidur Peter seadanya. Sebuah kaus
putih polos Sky lubangi bagian punggungnya agar sayapnya tidak tertekuk dalam
kain.
“iya.. meski aku
yang termuda diantara kawan-kawan, dulu kami sering makan bersama, bermain,
juga menginap diakhir pekan..” balas Chris sambil menatap langit-langit kamar.
Khusus celana tidurnya, ia lubangi
bagian ekor agar tetap merasa nyaman.
“aku.. tidak punya
teman. Karena mereka yang ku temui di sekolah tidak ada yang memahamiku..
hingga akhirnya aku pun menarik diri..” Samuel tidak memakai selimutnya. Ia
membungkus diri dengan sayap seperti posisi tidurnya yang biasa. Bulu utama
sayapnya menyilang, menutupi paha dan betisnya.
“.. sekarang ‘kan
kami yang menjadi temanmu..” Peter bangun dari posisinya, menatap Samuel yang
terbungkus sayap.
“ehm..” kawannya
itu tidak menjawab banyak. Ia tak mau kalau saat ini perasaannya yang sedang
terharu ketahuan.Jadi begini ya
rasanya berkumpul bersama teman-teman?
“kira-kira esok
hari kita akan menemukan apa ya..” Felix dengan matanya yang polos, tidak sabar
untuk hari esok.
“yang pasti kita
harus dengar petunjuk dari Cyari dulu.. baru kita hooaahhmmm… pergi kesana..”
Peter berbalik badan menarik selimut, mengantuk.
“selamat malam
selimut.
“malam Jeongin..”
“ya.. malam”
Selamat tidur, tidur
yang nyenyak.. mimpi yang indah.. aku sayang kalian..
“Peter.. hey Peter ayo
bangun..”diguncang-guncang tubuh kawannya agar mau
bangun dan beranjak memulai hari.
“hmm… Sky? Masih ngantuk..”
“ayolah.. mau cari harta
karun Chaldene tidak..”
“mau.. tapi 5 menit lagi.. ya”
“ishh..”
“… pagi Sky..”
“pagi juga Jeongin.. kau
terbiasa bangun cepat ya”
“iya.. karena melihat
matahari terbit menambah Magia ku..” telinga Rubah Jeongin berkedut. Ah Skysungguh merasa gemas melihatnya.
“ayo, kita bangunkan
kakak-kakak ini”
“BAANNGGUUUNNN…!!!!!!” Sky
dan Jeongin menarik selimut-selimut mereka hingga yang dibangunkan pun
terkejut.
“kkhhh…” Samuel dan Peter
bangun dan terduduk lemas dengan mata masih terpejam, mencari kesadaran diri.
“ahh?! Oh.. iya..” Chris
dengan rambut putihnya yang digerai sedikit kusut. Mata birunya
terkantuk-kantuk karena tidak terbiasa bangun pagi. Felix yang tidur
disampingnya tidak bergeming meski selimutnya sudah ditarik.
“heemmm…” Minho pun sama, Ia memeluk lagi ekornya belum mau bangun. Wajar
saja karena kaum Beast biasa tidur larut malam dan bangun agak siang.
“.. apa biarkan saja ya,
mereka tidak biasa bangun pagi seperti kita.. sepertinya semalam ketika kita
sudah terlelap, mereka bangun lagi dan keluar dari kamar entah kemana..”
Jeongin menatap Minho. Ia pun baru ingat kalau jam tidur mereka berbeda-beda.
“iya juga.. yasudah kita
siap-siap saja duluan, kalau kita sudah selesai baru bangunkan mereka.. Peter,
kami pakai kamar mandimu ya..”
“ngg..?? oh, iya.. silakan
zzzz…” sang pemilik rumah pun telungkup lagi diatas kasurnya, melanjutkan
tidur.
“dasar, anak ini juga sama
saja”
Seusai
bersiap mereka yang muda pun kembali membangunkan kakak-kakaknya hingga mereka
semua mengalah. Sky yang rajin merapikan kembali selimutnya yang
berantakan. Jeongin dan Felixpun meniru apa yang ia lakukan.
“kira-kira
petunjuk seperti apa yang akan Cyari berikan ya.. maksudku.. apakah peta harta,
atau penunjuk jalan seperti Broken Compassnya Felix?” Louismengikat tali sepatunya, sudah selesai
mempersiapkan diri.
“entah,
kita lihat saja nanti.. semoga kita bisa dengan mudah menemukannya ya..” Chris mengikat rambutnya sambil bercermin di depan
meja rias milik Peter, tak menoleh pada Louis.
“duh
kalian deg-degan gak sih?” Samuel menyisir rambutnya disamping Chris, lalu menguncir tengah dan memakai kembali
mahkotanya.
“pastinya...
kira-kira apa ya Chaldene’s hidden Gem kalau bukan harta berupa materi atau
kekuatan seperti Magia jantung bumi?” balas Felixyang memakai kembali mahkota Amethystnya tanpa bercermin.
Tiga jam setelah matahari
terbit, akhirnya mereka semua sudah siap untuk petualangan baru yang menanti.8 Raja yang sudah kembali rapi dengan pakaian
dan atribut mereka, berkumpul di halaman Gi Ankalia. Menanti kedatangan guru
sihir dari Guardian of Chaldene untuk memberikan petunjuk mengenai pencarian
Chaldene’s hidden Gem.
Tak..
tuk.. tak.. tuk.. terdengar langkah suara kaki kuda. Benar saja akhirnya sang
Unicorn menampakkan dirinya setelah dipersilakan masuk melalui besarnya gerbang
Gi Ankalia. Stray Kidspun makin bersemangat.
“..
selamat pagi, para Yang Mulia..” Cyari membungkuk, menunjukkan hormat pada 8
pemimpin besar Enn Vassili.
“pagi
Cyari...!!!!!”
“aku harap kalian
sudah siap mendapatkan satu pengalaman baru yang pastinya tidak akan kalian
lupakan..”
“yaa.. tentu..” jawab Chris sambil mengangguk mewakili kawan-kawannya.
“dengarkan
baik-baik petunjuk yang akan aku berikan ya.. terutama kau Peter, sebagai murid
sihir yang sudah menjelajah luasnya Chaldene bersamaku di usia remaja mu..”
“hehehe...
siap..” sambil mengacungkan ibu jarinya, senyum Peter pagi itu nampak cerah
seperti matahari pagi.
“ekhemm.....
‘.. Di bagian Barat tanah
para Unicorn.. berdiri diantara sejarah hidup yaitu Bumi tanpa langit, dibalik
tirai hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. menantang sang Dewa api..
sebuah tempat dimana tersimpan rahasia turun-temurun para Raja sepanjang
sejarah..’
“Kau bisa membayangkan tempat apa itu, Peter? Satu lokasi di Chaldene..”
“Terdengar seperti.. semacam teka-teki.. ya..” ujar Minho sambil mengerutkan dahinya.
“jadi
petunjuknya berupa kata-kata itu saja? Bukan peta atau yang lainnya?”
“Ya.. dan kalian lah yang harus menebaknya.. setelah kalian mengetahui
tempat yang dimaksud, pencarian seutuhnya kuserahkan pada kalian.. aku pamit ya..” Cyari melangkahkan
kakinya beranjak pergi menyisakan Stray
Kids yang tengah berpikir tentang petunjuk yang baru saja Ia berikan.
“.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa langit.. menggantung
pada tangisan dewi air.. aku tidak bisa membayangkan rupa nya..” Peter masih
bingung berusaha mengingat-ingat tempat di Chaldene yang kira-kira sesuai
dengan teka-teki itusambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Mungkin kita butuh peta atau buku yang mencatat tentang setiap
tempat di Chaldene??” usul Sky. Saat ia butuh
informasi tertentu, Ia suka ke perpustakaan
istananya yang berisi ribuan buku untuk mencari informasiyang sesuai.
“Ide bagus.. ayo ke perpustakaan benteng ini.. kita cari buku yang
kira-kira mengandung informasi yang kita butuhkan..” ajak Petersambil berlalu, memandu kawan-kawannya ke
ruang perpustakaan.
Stray Kids lalu masuk lagi kebangunan utama Gi
Ankalia menuju perpustakaan yang berada di gedung terpisah. Perpustakaan itu
sungguh luas dengan arsitektur kuno khas Chaldene. Banyak ukiran yang menghiasi
pintu dan jendelanya yang besar-besar. Begitu pintu-pintu utamanya dibuka,
aroma dari ratus ribuan buku berusia ratusan tahun menyambut. SKZ masuk ke
dalamnya bersama-sama. Rak-rak buku dengan kokoh berdiri sesuai dengan jenis
dan tahun buku diterbitkan. Mereka pun berpencar mencari buku dengan judul yang
menyangkut tentang tempat-tempat di Chaldene.
“Sejarah Chaldene..
tempat-tempat kuno.. hemm.. sepertinya kurang lengkap..” Louis membolak-balik
halaman buku yang ia pegang.
“aku sudah agak lupa isi
teka-tekinya loh.. hehe.. coba ingatkan aku lagi..” tanya Samuel lagi.
“aku ingat kok.. ‘di bagian
Barat.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa langit dibalik tirai
hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. dan menantang Dewa api..’ benar
‘kan?” balas Jeongin. Lonceng terakhir Ia kenakan di kalungnya, berdenting tiap
kala Ia bergerak.
“ingatanmu bagus juga ya,
Rubah”
“sampai kapan kau akan
memanggil kami dengan panggilan seperti itu?”
“hmm… sampai aku tidak
sayang kalian lagi.. jadi sepertinya itu tidak mungkin”
“terserah..”
“apa tadi? ... di bagian Barat.. berdiri diantara sejarah hidup.. Bumi tanpa
langit dibalik tirai hujan.. menggantung pada tangisan Dewi air.. dan menantang
Dewa api.. ya??” sahut Samuel yang mulai pusing mencari. Kedua sayapnya sangat
membantu untuk memilah buku dari rak tertinggi sekalipun.
“Bagaimana kalau kita
pecahkan dulu teka-tekinya? Di bagian Barat tanah para Unicorn.. berarti tempat
itu ada di bagian Barat Chaldene ‘kan? Mungkin dekat Vouna?” usul Jeongin
sambil terus menjelajahi jajaran-jajaran rak buku. Mata coklatnya membaca
judul-judul buku dengan teliti, memastikan tak ada yang terlewat.
“Lalu berdiri diantara
sejarah hidup? Sejarah hidup itu apa maksudnya?” lagi-lagi Chris mengerutkan
dahinya, bingung.
“Sejarah hidup??
Unicorn..!!! mereka tak berkurang atau bertambah.. tak bisa mati atau ada
kelahiran baru.. mereka adalah saksi hidup dari dunia ini.. ‘kan??” Minho
berdiri dari kursinya dan bertanya langsung pada Peter di hadapannya.
“Ehh.. oh.. ho’oh...”
tatapan Peter datar. Ia masih berusaha mencerna apa yang Minho katakan.
“.. dan lagi bukankah
mereka hidup berkelompok? Berarti tempat yang kita cari ada di dekat salah satu
koloni, tempat berdiam mereka ‘kan?? aku ingat pernah bercanda dengan Cyari dan
mengatakan kalau dia mirip buku sejarah berjalan..” Minho duduk lagi dan
menyelesaikan penjelasannya.
“Apa berjalan??”
“... bisa jadi sih.. kalau
begitu.. hemm” Peter beranjak mengambil dan membuka sebuah lembaran peta
wilayah Chaldene Barat. Ia memastikan tempat-tempat yang didiami para Unicorn.
“.. Unicorn di seluruh
Chaldene terbagi menjadi beberapa kelompok yang ikut menjaga Chaldene dan
manusia di dekat tempat tinggal mereka.. di Chaldene barat, mereka mendiami
wilayah Vrachos.. dipinggir danau Nisi.. lalu wilayah Caloca di padang Exaire..
dan terakhir di Noixe.. di hutan Aeras.. ” Peter menunjuk titik-titik yang ada
di peta. Menjelaskan secara rinci pada teman-temannya.
“Oke.. kita mulai dapat
titik terang.. teka-teki selanjutnya.. ‘dibalik tirai hujan, menggantung pada
tangisan dewi air, menantang dewa api...” kali ini Jeongin yang mengingatkan
baris petunjuk pada teman-temannya. Ia menyerah mencari satu diantara ribuan
buku yang terlalu banyak.
“Dewa api.. dewa api..
maksudnya gunung berapi? Ada satu gunung api dekat Noixe.. berada tepat di
barat hutan Aeras.. gunung Maron..” Peter kembali mengarahkan jarinya pada
lambang segitiga merah di peta yang menyimbolkan satu gunung aktif di Chaldene
barat. Teman-temannya pun melihat kearah titik yang Ia tunjuk.
“Apakah kata ‘menantang’
berarti ‘berhadapan lurus’? Berarti tempat yang kita cari ada di hutan Aeras
yang mana merupakan tempat berdiam para Unicorn dan berhadapan lurus dengan gunung
itu??” tanya Felix memastikan.
“Kurasa iya... hanya ada
dua gunung api di Chaldene.. dan yang satunya justru jauh di timur berbatasan
dengan Chaldene selatan.. kalau dewa api
yang dimaksud memang gunung, kurasa kita sudah benar..” Peter menggulung lagi
petanya, lalu beranjak dari tempat duduknya.
“... lihat apa yang
kutemukan..” sesaat Peter meninggalkan kursinya, Sky menyodorkan sebuah buku
usang yang tebal dan berdebu.
STRAY KIDS - ENN VASSILI | Step out!: Chaldene's Hidden Gem
@yumebananivaa
.