
Akhirnya di tahun itu,
Neptunalia tak terlaksana. Leviathan mengacak-acak seluruh persiapan dan dengan
angkuhnya tetap memaksa para Siren untuk berbalik memujanya saja. Jelas para
Siren tidak mau. Mereka tetap percaya pada yang baik dan benar. Bagi para
Siren, Dewa Neptunus dan Dewi Salacia bukan hanya sekedar Dewa-Dewi untuk
dipuja dan disembah. Mereka adalah tempat do’a-do’a berlabuh. Tempat
memanjatkan rasa syukur dan memohon perlindungan karena mereka adalah Dewa-Dewi
penguasa lautan, tempat dimana kaum Siren hidup. Tidak seperti Leviathan yang
hanya mengerti tentang keabadian, kekuatan, dan rasa iri.
“SUDAH KUBILANG DEWA DEWI YANG KALIAN PUJA ITU TIDAK ADA..!!!!”
“toloongg……” seorang Siren wanita terancam kibasan ekor Leviathan,
menjerit histeris.
“Clear shield..!!!” beruntung sang Pendeta menyelamatkannya dengan perisai
hingga tumbukan ekor Leviathan tidak sampai membunuh mereka.
“berenang sejauh mungkin dari pulau ini..!!! utamakan keselamatan
kalian…!!!!”
“HAHAHAHAHAHA…… KEMANAPUN KALIAN LARI AKAN KU KEJAR… HIDUP KALIAN TAK
AKAN TENANG SELAGI AKU ADA DI LAUTAN”
Felix yang saat itu masih terbilang anak-anak ikut kabur menyelamatkan
diri sesuai perintah sang Pendeta. Sambil memegang erat Broken compassnya Ia
yakin akan ada satu hari dimana kaum Siren mewakili Neptunus membalas kejahatan
sang Iblis. Mata ungunya dengan tajam menatap benci Leviathan. Tatapan yang tak
mungkin dimiliki oleh anak-anak polos seusianya.
Sayangnya, tahun berikutnya pun sama, Leviathan datang dan mengacak-acak
seluruh pulau hingga pulau tempat pelaksanaan Neptunalia hampir tenggelam.
Geram karena dua kali festival batal, seorang Siren pun mengusulkan
untuk memindahkan tempat dan tanggal pelaksanaan Neptunalia.
“kalian yakin? Pelaksanaannya mungkin tidak akan se meriah tahun-tahun
biasanya..”
“kurasa yang penting Neptunalia terlaksana.. tak peduli harus meriah
atau tidaknya..”
“ya.. aku rindu sekali menyanyikan lagu-lagu do’a pada Dewa Neptunus..”
“aku pun sama.. inti dari Neptunalia ialah do’a yang kita panjatkan..
pesta hanyalah tambahan atas rasa syukur kita..”
“baik.. sekarang kita pilih, sebaiknya kita laksanakan di pulau mana..
lalu kita cek situasi disana..”
Setelah berdiskusi selama
berjam-jam akhirnya semua sepakat akan usul itu. Tempat baru pelaksanaan
Neptunalia di kepulauan yang lebih kecil kearah utara berbatasan dengan
Miwamori dan dilaksanakan dua bulan lebih lambat dari tanggal sebelumnya.
Menghindari agar Leviathan tidak lagi mengacaukan upacara tahunan kaum Siren
yang sebelumnya sempat tak terlaksana. Namun tetap saja Iblis terkutuk itu
mengetahui rencana para Siren dan mengacau dengan lebih jahat lagi.
“KALIAN PIKIR AKU BODOH?! AKU BISA MENCIUM SETIAP JEJAK KALIAN DI LAUTAN
INI..”
“aaaaaaa…..…!!!!!!” jeritan para Siren yang saat itu berada di pantai
karena sedang mempersiapkan Neptunalia terdengar pilu. Sebagian dari mereka
lari ke sisi lain pulau dan menceburkan diri ke laut. Tak semua Siren jago soal
sihir menyihir meski memang seluruh makhluk hidup dialiri Magia dalan tubuh.
Mereka yang sedikit banyak bisa merapal mantra menggunakan sihirnya untuk
melindungi diri dan orang tersayang.
“AKULAH YANG MENGUASAI LAUTAN INI.. AKU YANG BISA MENCIPTAKAN GELOMBANG
LAUT PENGGUNCANG DARATAN.. KALIAN HARUSNYA MENYEMBAHKU DAN BUKAN DEWA……”
sirip-sirip Leviathan bergoyang lagi. Kali ini gelombang yang Ia hempas terlalu
tinggi dan merobohkan pepohonan di pulau kecil itu. Angin pun berhembus kencang
sebagai pengiring badai. Hujan deras dan gempa menyusul akibat ulah Leviathan
yang mengamuk.
“lariii..!!!”
“ibu.. aku takutt….”
Jeritan makin riuh terdengar. Para pria nya yang unggul menggunakan
sihir memberanikan diri untuk maju dan melindungi mereka yang belum sempat
menyelamatkan diri.
“karena setiap kehidupan itu berharga..”
Felix sebagai salah satu Siren muda yang ada diantara mereka pun geram
atas kejahatan Leviathan. Ia berenang maju dan menantang Naga laut raksasa itu.Ditengah kegaduhan diantara jerit tangis.
Sorot matanya menampakkan kemarahan. Magia nya muncul tipis-tipis. Meski belum
mempersiapkan mantra, keberanian menjadi modal utamanya untuk menghadapi sang
Iblis.
“Kau belum sadar juga kenapa sampai sekarang kami membencimu?? Lihat
apa yang kau lakukan pada kami?!?! Kau mengancam bahkan tak segan membunuh..
dan kau masih mengharapkan penghormatan kami padamu?!?!” Felix bersuara lantang. Ia
berani maju dan menunjuk-nunjuk Leviathan yang menatapnya kecil. Demi membela
yang baik, Ia tak takut.Belum pernah mata ungunya yang polos
menampakkan dendam yang sedemikian dalam.
“HAHAHAHAHAHAH.......
bercermin dulu dasar Siren ‘kecil’.. justru kalau kalian mau memuja ku.. aku
tidak akan mengacau kalian lagi.. asal kalian mau membungkuk hormat padaku..
asal festival ‘pemujaan’ kalian untukku.. aku yang akan melindungi kalian..”
balas Leviathan sambil menatap remeh Felix.Liuk-liuk tubuhnya sungguh menggelikan.
“Kau pikir kami percaya padamu?!?!” balas seorang Sirensambil memeluk kekasihnya yang hampir
terbunuh.
“Yaa..!!! kau ‘kan jahat..!!! kau selalu jahat..!!!”
“kami tak akan berpaling dari Dewa Neptunus..!!”
“berkaca dulu kau dasar ular licik”
Para Siren saling
bersahutan melontarkan kebencian mereka pada Leviathan. Mereka pun mulai
melemparinya dengan bebatuan dan cangkang kerang sambil terus mencacinya.
“DIIAAAMMM.......!!!!!!!!!” Roh iri hati itu menjerit, membuka
mulutnya yang penuh taring memerintahkan para Siren untuk tutup mulut. Para
Siren terdiam seketika.
“.. sadarlah kau Iblis.. Kami semua disini sudah muak dengan
perlakuanmu..” Felix mengeluarkan Broken
Compass. Mengangkatnya diatas kepala hingga kilaunya kompas kaca itu memantul
menurunkan benda itu padanya. Karena hari itu merupakan takdirnya. Takdir untuk
menyelamatkan kaumnya dari kejahatan sang Iri hati. Melihat Felix yang pantang mundur, para
Siren pun tersadar dan ikut mendukungnya dengan menyalurkan Magia mereka pada Felix.
“HAHAHAHAH KALIAN MAU APA?!?! MENGANDALKAN MAGIA YANG BAHKAN TAK
LEBIH BESAR DARI UJUNG TARINGKU...?!??! HAHAHHA KALIAN BERCANDA?!?!” lagi-lagi
Leviathan meremehkan Felix dan para Siren.Tak ada lagi hewan laut di sekitar sana.
Semua melarikan diri begitu mendengar getaran melintasnya Leviathan terutama
yang sistem pendengarannya peka seperti paus dan lumba-lumba.
“Tidurlah dalam waktu yang panjang... di masa lalu yang tak
berujung.....” Broken Compass bersinar keemasan. Semua mengalihkan pandangan
karena silaunya.
“… APA… INI..”
SWWOOOSSSSHHHHHH…………
Leviathan yang belum sempat
menghentikan tawa jahatnya pun seketika lenyap dari tempat itu. Keberadaannya
ditarik kembali ke sudut dalam Thalassas tempat Roh(?) dari masa lalu
mengutuknya untuk tertidur. Hanya saja, kutukan yang Felixberikan lebih berat. Ia mengulang ‘kutukan tidur’ Leviathan dalam
lingkaran waktu tak berujung. Membuatnya takkan pernah terbangun lagi kecuali
seseorang datang dan dengan sengaja merusak kutukannya.
From the deepest part of
the ocean.. a Demon that born of Siren's sin.....Envy, Leviathan.
Mendapat dukungan Magia
dari para Siren, simbol Raja muncul di dahi Felix. Dua tanda titik berwarna ungu gelap. Tanda yang hanya muncul pada
Raja Siren yang terpilih, sangat jarang muncul di kehidupan Thalassas. Cahaya terang dari langit menembus
permukaan laut sama seperti ketika Broken compass diturunkan. Terasa desir dari
aliran yang aneh dalam darah Felix.
“hmm? Apa.. ini… perasaanku tiba-tiba aneh…”
“ya Neptunus… akhirnya setelah bertahun-tahun..”
“ke-kenapa??”
“semuanya… anak ini.. anak yang memimpin keberanian kita.. adalah Raja
Thalassas yang baru…” sang Pendeta mengangkat tinggi-tinggi tangan Felix.
Bagaikan seorang pemenang.. bukan, memang ia dan semua Siren disana adalah para
pemenang. Menang melawan dosa yang menghalangi mereka untuk memuja sang
Dewa-Dewi.
Saat itu juga, semua Siren
yang ada disana membungkuk memberi hormat pada Felix.
“Bukan hanya kami para
Siren, tapi Thalassas sendirilah yang juga memilihmu.. Felix”
“Tapi aku ‘kan hanya...”
tidak menyangka dirinya terpilih, Felix pun sudah
sewajarnya merasa bingung. Dengan wajah polosnya ia merasa cangggung melihat
seluruh Siren yang ada disana membungkuk padanya.
“..‘hanya’?! kau
menyelamatkan kami dan tradisi kita.. pasti inilah takdirmu.. sang Alicorn yang
menyadari dirimu mempercayakan kompas ajaib ini padamu.. hanya padamu..”
sambung sang pendeta lagi.
“.. tapi aku tidak tau
bagaimana memimpin festival Neptunalia..”
“Pfftt... siapa yang
menyuruhmu memimpin Neptunalia?? Aku yang akan tetap memimpin seluruh kegiatan
pemujaan.. dan kau, pemimpin baru Thalassas, tugasmu adalah menjaga lautan
serta memberi petunjuk kebenaran pada kami melalui Broken Compass milikmu itu..
kau satu dari para pemimpin Enn
Vassilisekarang.. bukan begitu semuanya??”
“ya… Raja baru kita
akhirnya datang..”
“hidup Earl of Sirens..!!!”
“panjang umur Felix..!!!”
“yaaa….!!!!!”
Para Siren pun
mengelu-elukan Felix. Mereka gembira atas
terpilihnya seorang pemimpin diantara mereka. Seseorang yang dititipkan lautan
dan seisinya, seorang pemuda berusia 16 tahun Siren berambut merah muda dan
mata ungu gelap bagaikan coral. Seorang pemuda dengan keberanian yang mencintai
petualangan dan kebebasan.
“Satu menit tersisa...”
Zefyros mengingatkan Felix bahwa waktunya hampir habis.
“Kkhh.... EARL OF SIREN’S
EXTREME MAGIC: TIME FREEZE.......“ Felix menggunakan salah satu kemampuannya
yakni menghentikan aliran waktu.
Sebagai Earl of Siren
selain mampu menyembuhkan luka dengan cepat, pengendalian waktu juga salah satu
kemampuannya. Namun ia jarang menggunakan sihir ini karena memiliki resiko
mulai dari menganggu keseimbangan alam skala kecil hingga besar. Atau jika
terlalu sering menarik ulur waktu, sejarah atau masa depan bisa berubah bahkan
rusak. Kemampuan ini pula yang ia gunakan untuk mengulang mantra pengutuk
Leviathan dalam tidur tak berujungnya.
“Huufftt... aku.. terpaksa
melakukan ini..” segalanya berubah menjadi kelabu, berubah dalam diam.
Aliran air, pergerakan makhluk
hidup, seluruh Enn Vassili terpaku dalam detik itu. Hanya Felix yang masih
memiliki warna dan mampu bergerak ditengah jurusnya ini. Jurus yang sebenarnya
juga sangat berat dan memakan cukup banyak Magia saat digunakan. Mata nya
berkunang-kunang karena merasa lelah melepaskan salah satu sihir terbatas itu.
Earl of Siren Felix; the
Ocean, the one Who show the way, the one Who hold the time.
STRAY KIDS -Enn Vassili | Step out!: Chaldene's Hidden Gem
@yumebananivaa
.