(STRAY KIDS) ENN VASSILI | STEP OUT!: Chaldene'S Hidden Gem

(STRAY KIDS) ENN VASSILI | STEP OUT!: Chaldene'S Hidden Gem
Earl of Sirens




Akhirnya di tahun itu,


Neptunalia tak terlaksana. Leviathan mengacak-acak seluruh persiapan dan dengan


angkuhnya tetap memaksa para Siren untuk berbalik memujanya saja. Jelas para


Siren tidak mau. Mereka tetap percaya pada yang baik dan benar. Bagi para


Siren, Dewa Neptunus dan Dewi Salacia bukan hanya sekedar Dewa-Dewi untuk


dipuja dan disembah. Mereka adalah tempat do’a-do’a berlabuh. Tempat


memanjatkan rasa syukur dan memohon perlindungan karena mereka adalah Dewa-Dewi


penguasa lautan, tempat dimana kaum Siren hidup. Tidak seperti Leviathan yang


hanya mengerti tentang keabadian, kekuatan, dan rasa iri.


“SUDAH KUBILANG DEWA DEWI YANG KALIAN PUJA ITU TIDAK ADA..!!!!”


“toloongg……” seorang Siren wanita terancam kibasan ekor Leviathan,


menjerit histeris.


“Clear shield..!!!” beruntung sang Pendeta menyelamatkannya dengan perisai


hingga tumbukan ekor Leviathan tidak sampai membunuh mereka.


“berenang sejauh mungkin dari pulau ini..!!! utamakan keselamatan


kalian…!!!!”


“HAHAHAHAHAHA…… KEMANAPUN KALIAN LARI AKAN KU KEJAR… HIDUP KALIAN TAK


AKAN TENANG SELAGI AKU ADA DI LAUTAN”


Felix yang saat itu masih terbilang anak-anak ikut kabur menyelamatkan


diri sesuai perintah sang Pendeta. Sambil memegang erat Broken compassnya Ia


yakin akan ada satu hari dimana kaum Siren mewakili Neptunus membalas kejahatan


sang Iblis. Mata ungunya dengan tajam menatap benci Leviathan. Tatapan yang tak


mungkin dimiliki oleh anak-anak polos seusianya.


Sayangnya, tahun berikutnya pun sama, Leviathan datang dan mengacak-acak


seluruh pulau hingga pulau tempat pelaksanaan Neptunalia hampir tenggelam.



Geram karena dua kali festival batal, seorang Siren pun mengusulkan


untuk memindahkan tempat dan tanggal pelaksanaan Neptunalia.


“kalian yakin? Pelaksanaannya mungkin tidak akan se meriah tahun-tahun


biasanya..”


“kurasa yang penting Neptunalia terlaksana.. tak peduli harus meriah


atau tidaknya..”


“ya.. aku rindu sekali menyanyikan lagu-lagu do’a pada Dewa Neptunus..”


“aku pun sama.. inti dari Neptunalia ialah do’a yang kita panjatkan..


pesta hanyalah tambahan atas rasa syukur kita..”


“baik.. sekarang kita pilih, sebaiknya kita laksanakan di pulau mana..


lalu kita cek situasi disana..”


Setelah berdiskusi selama


berjam-jam akhirnya semua sepakat akan usul itu. Tempat baru pelaksanaan


Neptunalia di kepulauan yang lebih kecil kearah utara berbatasan dengan


Miwamori dan dilaksanakan dua bulan lebih lambat dari tanggal sebelumnya.


Menghindari agar Leviathan tidak lagi mengacaukan upacara tahunan kaum Siren


yang sebelumnya sempat tak terlaksana. Namun tetap saja Iblis terkutuk itu


mengetahui rencana para Siren dan mengacau dengan lebih jahat lagi.


“KALIAN PIKIR AKU BODOH?! AKU BISA MENCIUM SETIAP JEJAK KALIAN DI LAUTAN


INI..”


“aaaaaaa…..…!!!!!!” jeritan para Siren yang saat itu berada di pantai


karena sedang mempersiapkan Neptunalia terdengar pilu. Sebagian dari mereka


lari ke sisi lain pulau dan menceburkan diri ke laut. Tak semua Siren jago soal


sihir menyihir meski memang seluruh makhluk hidup dialiri Magia dalan tubuh.


Mereka yang sedikit banyak bisa merapal mantra menggunakan sihirnya untuk


melindungi diri dan orang tersayang.


“AKULAH YANG MENGUASAI LAUTAN INI.. AKU YANG BISA MENCIPTAKAN GELOMBANG


LAUT PENGGUNCANG DARATAN.. KALIAN HARUSNYA MENYEMBAHKU DAN BUKAN DEWA……”


sirip-sirip Leviathan bergoyang lagi. Kali ini gelombang yang Ia hempas terlalu


tinggi dan merobohkan pepohonan di pulau kecil itu. Angin pun berhembus kencang


sebagai pengiring badai. Hujan deras dan gempa menyusul akibat ulah Leviathan


yang mengamuk.


“lariii..!!!”


“ibu.. aku takutt….”


Jeritan makin riuh terdengar. Para pria nya yang unggul menggunakan


sihir memberanikan diri untuk maju dan melindungi mereka yang belum sempat


menyelamatkan diri.


“karena setiap kehidupan itu berharga..”


Felix sebagai salah satu Siren muda yang ada diantara mereka pun geram


atas kejahatan Leviathan. Ia berenang maju dan menantang Naga laut raksasa itu.Ditengah kegaduhan diantara jerit tangis.


Sorot matanya menampakkan kemarahan. Magia nya muncul tipis-tipis. Meski belum


mempersiapkan mantra, keberanian menjadi modal utamanya untuk menghadapi sang


Iblis.


“Kau belum sadar juga kenapa sampai sekarang kami membencimu?? Lihat


apa yang kau lakukan pada kami?!?! Kau mengancam bahkan tak segan membunuh..


dan kau masih mengharapkan penghormatan kami padamu?!?!” Felix bersuara lantang. Ia


berani maju dan menunjuk-nunjuk Leviathan yang menatapnya kecil. Demi membela


yang baik, Ia tak takut.Belum pernah mata ungunya yang polos


menampakkan dendam yang sedemikian dalam.


“HAHAHAHAHAHAH.......


bercermin dulu dasar Siren ‘kecil’.. justru kalau kalian mau memuja ku.. aku


tidak akan mengacau kalian lagi.. asal kalian mau membungkuk hormat padaku..


asal festival ‘pemujaan’ kalian untukku.. aku yang akan melindungi kalian..”


balas Leviathan sambil menatap remeh Felix.Liuk-liuk tubuhnya sungguh menggelikan.


“Kau pikir kami percaya padamu?!?!” balas seorang Sirensambil memeluk kekasihnya yang hampir


terbunuh.


“Yaa..!!! kau ‘kan jahat..!!! kau selalu jahat..!!!”


“kami tak akan berpaling dari Dewa Neptunus..!!”


“berkaca dulu kau dasar ular licik”


Para Siren saling


bersahutan melontarkan kebencian mereka pada Leviathan. Mereka pun mulai


melemparinya dengan bebatuan dan cangkang kerang sambil terus mencacinya.


“DIIAAAMMM.......!!!!!!!!!” Roh iri hati itu menjerit, membuka


mulutnya yang penuh taring memerintahkan para Siren untuk tutup mulut. Para


Siren terdiam seketika.


“.. sadarlah kau Iblis.. Kami semua disini sudah muak dengan


perlakuanmu..” Felix mengeluarkan Broken


Compass. Mengangkatnya diatas kepala hingga kilaunya kompas kaca itu memantul


menurunkan benda itu padanya. Karena hari itu merupakan takdirnya. Takdir untuk


menyelamatkan kaumnya dari kejahatan sang Iri hati. Melihat Felix yang pantang mundur, para


Siren pun tersadar dan ikut mendukungnya dengan menyalurkan Magia mereka pada Felix.



“HAHAHAHAH KALIAN MAU APA?!?! MENGANDALKAN MAGIA YANG BAHKAN TAK


LEBIH BESAR DARI UJUNG TARINGKU...?!??! HAHAHHA KALIAN BERCANDA?!?!” lagi-lagi


Leviathan meremehkan Felix dan para Siren.Tak ada lagi hewan laut di sekitar sana.


Semua melarikan diri begitu mendengar getaran melintasnya Leviathan terutama


yang sistem pendengarannya peka seperti paus dan lumba-lumba.


“Tidurlah dalam waktu yang panjang... di masa lalu yang tak


berujung.....” Broken Compass bersinar keemasan. Semua mengalihkan pandangan


karena silaunya.


“… APA… INI..”


SWWOOOSSSSHHHHHH…………


Leviathan yang belum sempat


menghentikan tawa jahatnya pun seketika lenyap dari tempat itu. Keberadaannya


ditarik kembali ke sudut dalam Thalassas tempat Roh(?) dari masa lalu


mengutuknya untuk tertidur. Hanya saja, kutukan yang Felixberikan lebih berat. Ia mengulang ‘kutukan tidur’ Leviathan dalam


lingkaran waktu tak berujung. Membuatnya takkan pernah terbangun lagi kecuali


seseorang datang dan dengan sengaja merusak kutukannya.


From the deepest part of


the ocean.. a Demon that born of Siren's sin.....Envy, Leviathan.



Mendapat dukungan Magia


dari para Siren, simbol Raja muncul di dahi Felix. Dua tanda titik berwarna ungu gelap. Tanda yang hanya muncul pada


Raja Siren yang terpilih, sangat jarang muncul di kehidupan Thalassas. Cahaya terang dari langit menembus


permukaan laut sama seperti ketika Broken compass diturunkan. Terasa desir dari


aliran yang aneh dalam darah Felix.


“hmm? Apa.. ini… perasaanku tiba-tiba aneh…”


“ya Neptunus… akhirnya setelah bertahun-tahun..”


“ke-kenapa??”


“semuanya… anak ini.. anak yang memimpin keberanian kita.. adalah Raja


Thalassas yang baru…” sang Pendeta mengangkat tinggi-tinggi tangan Felix.


Bagaikan seorang pemenang.. bukan, memang ia dan semua Siren disana adalah para


pemenang. Menang melawan dosa yang menghalangi mereka untuk memuja sang


Dewa-Dewi.


Saat itu juga, semua Siren


yang ada disana membungkuk memberi hormat pada Felix.


“Bukan hanya kami para


Siren, tapi Thalassas sendirilah yang juga memilihmu.. Felix”


“Tapi aku ‘kan hanya...”


tidak menyangka dirinya terpilih, Felix pun sudah


sewajarnya merasa bingung. Dengan wajah polosnya ia merasa cangggung melihat


seluruh Siren yang ada disana membungkuk padanya.



“..‘hanya’?! kau


menyelamatkan kami dan tradisi kita.. pasti inilah takdirmu.. sang Alicorn yang


menyadari dirimu mempercayakan kompas ajaib ini padamu.. hanya padamu..”


sambung sang pendeta lagi.


“.. tapi aku tidak tau


bagaimana memimpin festival Neptunalia..”


“Pfftt... siapa yang


menyuruhmu memimpin Neptunalia?? Aku yang akan tetap memimpin seluruh kegiatan


pemujaan.. dan kau, pemimpin baru Thalassas, tugasmu adalah menjaga lautan


serta memberi petunjuk kebenaran pada kami melalui Broken Compass milikmu itu..


kau satu dari para pemimpin Enn


Vassilisekarang.. bukan begitu semuanya??”


“ya… Raja baru kita


akhirnya datang..”


“hidup Earl of Sirens..!!!”


“panjang umur Felix..!!!”


“yaaa….!!!!!”


Para Siren pun


mengelu-elukan Felix. Mereka gembira atas


terpilihnya seorang pemimpin diantara mereka. Seseorang yang dititipkan lautan


dan seisinya, seorang pemuda berusia 16 tahun Siren berambut merah muda dan


mata ungu gelap bagaikan coral. Seorang pemuda dengan keberanian yang mencintai


petualangan dan kebebasan.


“Satu menit tersisa...”


Zefyros mengingatkan Felix bahwa waktunya hampir habis.


“Kkhh.... EARL OF SIREN’S


EXTREME MAGIC: TIME FREEZE.......“ Felix menggunakan salah satu kemampuannya


yakni menghentikan aliran waktu.


Sebagai Earl of Siren


selain mampu menyembuhkan luka dengan cepat, pengendalian waktu juga salah satu


kemampuannya. Namun ia jarang menggunakan sihir ini karena memiliki resiko


mulai dari menganggu keseimbangan alam skala kecil hingga besar. Atau jika


terlalu sering menarik ulur waktu, sejarah atau masa depan bisa berubah bahkan


rusak. Kemampuan ini pula yang ia gunakan untuk mengulang mantra pengutuk


Leviathan dalam tidur tak berujungnya.


“Huufftt... aku.. terpaksa


melakukan ini..” segalanya berubah menjadi kelabu, berubah dalam diam.


Aliran air, pergerakan makhluk


hidup, seluruh Enn Vassili terpaku dalam detik itu. Hanya Felix yang masih


memiliki warna dan mampu bergerak ditengah jurusnya ini. Jurus yang sebenarnya


juga sangat berat dan memakan cukup banyak Magia saat digunakan. Mata nya


berkunang-kunang karena merasa lelah melepaskan salah satu sihir terbatas itu.


Earl of Siren Felix; the


Ocean, the one Who show the way, the one Who hold the time.



STRAY KIDS -Enn Vassili | Step out!: Chaldene's Hidden Gem


@yumebananivaa


.