Zaya & Zayan

Zaya & Zayan
zaya pergi



Sampai sekarang zaya dan juga zayan, terus saja saling diam. Membuat papa, dan mama bingung meliat kedua anak mereka. Akhirnya, papa lah yang mengeluarkan suara.


"nak, kalian ada masalah?" tanya sang papa kepada kedua anaknya yang tengah duduk di sofa. Tetapi duduknya menjauhan, membuat kedua orang tuanya bingung melihat sikap anak mereka berubah, biasanya walaupun mereka lagi berantem seperti itu, mereka tahu solusinya dan tidak akan lama mereka seperti sekarang ini.


"Gak" jawab kompak dari mereka berdua. "terus kalok gak ada masalah kenapa seperti itu wajah anak mama, hm?" mereka tidak menjawab, papa dan mama yang meliat ini rasanya bingung untuk satukan zayan dan zaya. "yaudah kalian sudah besar. kalian harus menyelesaikan masalah ini dengan dewasa, apapun itu kalian tetap saudara, papa gak mau seperti ini, sebelumnya kalian tidak pernah seperti ini. kalok memang serius silahkan bicara dengan kami, nak." ujar sang papa panjang lebar.


entah kenapa rasa hati zayan, begitu sakit ketika papanya bicara seperti itu. "pah, zayan salah gak, kalok zayan bantu temen zayan yang membutuhkan zayan?" tanyanya dengan sopan.


"tidak nak, memang seharusnya kita membantu dengan orang yang membutuhkan kita" jawab papa sambil tersenyum.


"tapi ini lebih dari kata bantu, pah." ujar zaya sembari tadi diam, sekarang ia bersuara. Sambil meliat kearah zayan.


"maksud kamu nak?" bukan mama saja yang bingung akan hal ini, tetapi papa juga bingung sekaligus tidak paham apa yang dimaksud zaya. "zayan memang awalnya membantu seseorang itu, tetapi lama kelamaan seseorang itu makin melunjak bahkan zayan juga ingin berkorban demi seseorang yang tidak tahu diri itu. Bahkan ia sendiri melupakan adiknya ini. dengan nada gemeteran.


"pah, mah apakah zaya tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari kakak zaya sendri?, kenapa kakak zaya yang zaya kenal, kenapa dia berubah?, iya. zaya memang bukan adik kandung kak zayan tapi zaya juga butuh kasih sayang dari kakak yang selama ini bersama zaya, tapi sekarang ia pergi, ia pergi dengan seseorang yang zaya benci" ujar zaya, dengan sneyum meremehkan, air matanya tidak dapat menahan rasa sakitnya.


"CUKUP ZAYA!" sontak bentakan tersebut membuat sekeluarga kaget apa yang dilakukan zayan.


"sudah, sudah cukup kamu menghina orang yang tidak salah sama sekali"


"liat mah, pah bahkan sampai sekarang zayan membela seseorang itu, liat ber ---"


"dia temen, sampai kapanpun dia temen zaya. kamu sadar kakak gak berubah, bahkan kakak gak ingin kamu pergi" potongnya. "cih, jika memang dia teman kakak, kenapa kakak ingin membawa dia pergi, dengan alasan dia tidak ingin di jodohkan" deg, rasanya jantung zaya tiba - tiba saja berhenti, bagaimana adiknya itu tahu tentang hal ini?.


"apa itu benar zayan yang dibilang adikmu?" tanya papa, zayan terus saja menundukkan kepalanya ia sama sekali tidak berani meliat papanya. "JAWAB ZAYAN, KENAPA KAMU MELAKUKAN DI LUAR BATASNYA! KAMU TIDAK TAHU PRINSIP ORANG ITU?, KENAPA SEGAMPANGNYA KAMU PERCAYA DENGAN DIA!" bentak sang papa, ia tidak ingin anaknya ikut campur dengan masalah keluarga orang lain, itu yang membuat papanya tidak ingin anaknya jadi bahan cerita orang,


"pah, dia butuh bantuan zayan karena dia ingin di jodohkan dengan seseorang yang dia ben--" potongnya. "benci. kamu boleh nak bantu teman atau orang yang membutuhkan kamu, tapi pikir dahulu sebelum kamu bantu orang tersebut, Kamu sudah kelewatan batas kamu, memang dia yang di jodohkan tapi kamu jangan sampai dia bawa pergi. itu akan ada timbul bahaya untuk kamu" ujar lembut dari seorang mama.


"mah, tapi temen zayan sangat butuh bantuan zayan, zayan juga gak bisa diam saja." ujar zayan, entahlah hatinya ingin sekali menolong seseorang itu. " kak! jika memang keputusan kakak ingin menolong dia, silahkan. Tetapi zaya akan pergi dari kehidupan kakak dan juga keluarga ini" ketus zaya dengan menahan sesak di dalam dadanya.


"zaya, kamu apaan seperti ini nak?, kamu anak kami. anak papa sama mama, kamu tidak boleh pergi sayang ini rumah kamu, kamu gak bisa pergi begitu saja" sambung sang papa, sambil menahan tangan anaknya, ia tidak berhenti - hentinya mengeluarkan air matanya. "pah, zaya gak akan pergi untuk selamanya, zaya pergi hanya ingin mencari orang tua kandung zaya" zaya yang tidak sanggup lagi akhirnya ia keluar dari rumah itu dengan air mata yang terus menerus membasahi pipinya.


"zaya!, zaya!" panggil sang mama, tetapi zaya tidak menghiraukannya.


"pah, mah zayan pamit cari zaya" tidak ada jawaban dari orang tuanya, zayan berlalu pergi yang terpenting mencari adik tersayang.


"pah, zaya gak akan pergi dari rumah inikan? zaya kembali lagikan?" ujar mama terus menerus khawatir dengan putrinya, papa yang tidak bisa menjawab hanya bisa menenangkan istrinya.


TBC


OKE GUYS SAMPAI SINI DULU YAH, AGAK RUMIT EMANG MASALAH KELUARGA ANEKSARA. JANGAN PERNAH BOSEN YAH, JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, VOTE, DAN TARUK DI FAVORIT.


OKE MAKASH....