World Real

World Real
08. Penasaran



Ikbal menarik kursi yang ada di hadapan Dian, setelah itu ia langsung duduk dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari nya. Dian yang masih menunduk ketakutan pun mulai mengangkat kepala nya dengan gugup dan menatap Ikbal.


"Hehe, kakak ada perlu apa yaa?"


Tanya Dian dengan gugup dan takut kalo Ikbal membahas soal kejadian kemarin.


"Nama lu siapa?"


Tanya Ikbal dengan raut wajah dingin dan ketus. Dian sedikit ragu untuk memberitahukan namanya kepada Ikbal.


"Eum...nama aku Dian kak" Dian tersenyum canggung dan juga masih belum tenang.


"Oh Dian, Lu belum jawab pertanyaan gua kemarin." Ikbal menatap Dian dengan tatapan yang tajam.


Dian langsung menutup matanya karena bingung harus bilang apa. Yang di takut kan nya dari tadi ternyata benar menjadi kenyataan.


Perasaan Ikbal semakin yakin bahwa Dian adalah wanita yang mengintip di pintu gor lapangan futsal kemarin. Ekspresi Dian sudah mengatakan dengan jelas.


"Masih gak mau ngaku juga? Apa perlu gua panggil anak futsal yang lainnya?"


Tanya Ikbal menyudut kan Dian yang sudah tak bisa mengelak lagi. Dian pun hanya bisa pasrah dengan keadaan yang sudah terjadi.


"Maaf kak, aku gak ada niat apa-apa kok, kemarin tuh aku cuma gak sengaja lewat terus aku lihat karena penasaran."


Dian pun mengakui bahwa wanita yang di maksud Ikbal memang diri nya.


"Penasaran? Lu penasaran sama siapa?"


Ikbal tersenyum jahil ke Dian yang mulai bingung harus bilang apa.


"Aku penasaran sama cara latihan anak futsal, udah itu doang"


Jawab dian sambil tersenyum agar Ikbal percaya dengan jawaban nya.


Ikbal tersenyum melihat Dian dan menatap mata nya dengan hangat. Melihat Ikbal yang menatap nya seperti itu Dian sangat tak nyaman, oleh sebab itu ia langsung melihat ke langit-langit atap kantin.


"Kemarin bukan nya lu penasaran ama gua." Goda Ikbal yang tersenyum jahil. Mata Dian seketika terbuka lebar, ia tak tau kenapa Ikbal bicara seperti itu.


"Ih apa sih kak, enggak lah ngapain juga aku penasaran sama kakak, hehe" Dian tertawa dengan canggung. Ikbal tersenyum jahil.


"Yakin gak penasaran sama gua? Tapi kemarin kok lu merhatiin gua yaa?" Ikbal sengaja memancing Dian yang gugup itu.


"Yakin kok, kemarin aku penasaran nya cuma sama latihan anak futsal aja, terus gak sengaja deh liat kakak."


Ucap Dian dengan gugup dan tak berani melihat mata Ikbal yang masih saja menatap nya.


"Gak sengaja yaa? kalo gitu berarti gua yang salah kira"


Ucap Ikbal sambil tersenyum jahil dan memalingkan pandangan nya dari wajah Dian.


Dian pun menghela nafas nya karena Ikbal percaya dengan apa yang ia ucapkan, akan tetapi Ikbal yang tersenyum jahil sambil memalingkan pandangan nya dari wajah Dian malah membuat Dian merasa curiga.


Ikbal beranjak dari tempat ia duduk dan menarik tangan Dian. Ikbal pergi menuju gor lapangan futsal, sedangkan Dian hanya bisa mengikuti Ikbal yang menarik tangan nya.


Setelah tiba di gor lapangan futsal Ikbal langsung melepaskan tangan Dian, kemudian ia duduk di tempat kemarin ia duduk. Dian terlihat kebingungan melihat Ikbal yang tersenyum jahil tanpa mengeluarkan suara nya.


"Gua kemarin duduk di sini kan?"


Tanya ikbal ke Dian yang hanya mengangguk-angguk mengiyakan pertanyaan Ikbal.


Kemudian Ikbal berjalan dengan cepat ke arah pintu gor lapangan futsal. Ikbal berdiri dengan posisi mengarah ke samping dan pintu nya juga ia tutup sedikit. Dian masih tak mengerti apa yang di lakukan oleh Ikbal dan hubungan nya apa dengan dirinya.


"Lu kemarin di sini kan? posisi nya juga kayak gini kan?"


Ikbal tersenyum mencurigakan, kemudian ia menghampiri Dian yang berada di tengah-tengah lapangan futsal smk citra permata.


"Sekarang udah jelas, kalo kemarin lu emang merhatiin gua, bukan penasaran sama anak futsal. Kalo lu emang lagi liat anak futsal yang lagi latihan gak mungkin dong posisi lu miring ke arah gua, aturan lu lurus ke arah lapangan."


Ikbal menjelaskan apa yang ia lakukan tadi ternyata untuk membuktikan bahwa Dian memang memperhatikan nya, bukan anggota futsal yang sedang latihan.


Dian membuka mulut dan matanya dengan lebar, ia tak menyangka Ikbal begitu sangat teliti dalam waktu yang cukup singkat, bahkan semua nya sangat tepat seperti yang terjadi kemarin.


"Sekarang lu masih belum mau ngaku juga? Apa perlu gua jelasin lebih detail lagi"


Ikbal tersenyum puas melihat Dian yang terkejut dengan semua penjelasan nya.


("Aduhhhh gimana nih, gak mungkin dong gua ngaku kalo kemarin gua emang lagi merhatiin dia, nanti dia kegeeran lagi, tapi gua udah ketauan banget, jelas dan akurat lagi.")


Gumam Dian dalam hati yang kebingungan menghadapi Ikbal yang sangat teliti dan benar itu.


Dian terdiam sejenak, sedangkan Ikbal masih tersenyum sambil menunggu jawaban Dian yang sudah tak bisa bohong lagi.


Dian menatap Ikbal yang menunggu nya sambil tersenyum. Dian masih berfikir cara yang terbaik untuk diri nya agar tak perlu mengatakan yang sebenarnya.


"Kakak tau gak? Orang kalo di posisi aku pasti udah kesel, ditanya...mulu padahal kan aku punya kesibukan yang lain juga kali."


Dian berusaha untuk ketus ke Ikbal yang mulai merasa heran dengan ucapan Dian yang hanya mengalihkan pembicaraan.


"Yaa gua tau lu ada kesibukan yang lain, tapi kenapa lu gak jawab pertanyaan gua yang simpel ini, kan udah jelas juga semua bukti nya."


Ucap Ikbal dengan raut wajah yang dingin dan ketus. Dian langsung memutar otak nya dengan cepat


"Jawab...mulu, pusing tau kak dengernya, udah lah aku masih ada urusan."


Dian tersenyum setelah berjalan menuju pintu gor lapang futsal.


Ikbal tidak terima begitu saja, ia mengejar Dian yang belum keluar dari lapangan futsal tersebut dan menahan tangan nya.


"Lu mau kabur? Gak bakal gua biarin gitu aja"


Ikbal menatap Dian dengan tajam dan memegang tangan dian dengan erat.


Dian menggertakan gigi nya dan mulai kesal dengan ikbal yang sangat terobsesi dengan jawaban Dian yang dari kemarin ia tunggu.


"Lepasin kak! aku harus ke kelas sekarang."


Ketus Dian yang sebenarnya gugup karena Ikbal terus saja memaksa nya mengatakan yang sebenarnya.


"Kalo lu mau ke kelas silahkan jawab dengan jujur, gua gak bakal lepasin tangan lu."


Ikbal tersenyum licik melihat Dian yang terpaku memikirkan cara agar Ikbal berhenti menanyai nya.


"Oke aku jawab, tapi kakak harus lepasin tangan aku dulu." Dian memalingkan wajah nya dari tatapan Ikbal yang membuat nya kesal.


Ikbal pun melepaskan tangan Dian, akan tetapi baru saja tangan Dian terlepas ia langsung berlari keluar lapangan tersebut. Ikbal tersenyum tak menyangka bahwa Dian akan menipu nya seperti ini.


"Di lepasin malah kabur, oke lain kali gak bakal gua lepasin gitu aja, lagian apa susah nya sih tinggal ngaku doang." Gumam Ikbal yang baru saja tertipu oleh Dian.


Ikbal pun berjalan meninggalkan gor lapangan futsal tersebut. Namun Ikbal tak begitu kesal dengan Dian Malahan dia semakin tertarik dan penasaran dengan dian yang sangat sulit menjawab pertanyaan nya yang begitu mudah.


Tidak seperti yang lain nya, Ikbal sangat sulit untuk tertarik dengan seorang wanita. Dulu dia pernah tertarik dengan seorang wanita bahkan sampai mereka punya hubungan yang spesial, akan tetapi entah apa yang terjadi sehingga Ikbal sangat kecewa dengan wanita itu.


........🎶🎶🎶........