
Sore ini Lia sedang main di rumah Dian. Di rumah nya hanya ada Dian, karena Ibu nya masih berada di butik milik keluarga Dian, sedangkan ayah Dian sudah lama tiada. Dan satu lagi yang tidak ada di rumah Dian, yaitu kakak laki-laki nya yang sejak kecil bersama ibu tiri nya.
Mungkin kalian bertanya-tanya mengapa kakak laki-laki Dian mempunyai ibu tiri, Karena waktu Dian masih berada di kandungan tepat nya saat kakak laki-laki nya berusia satu tahun. Ayah dan ibu Dian bercerai karena orang ketiga, ayah Dian membawa kakak laki-laki Dian bersama nya, sedang kan ibu Dian di tinggal kan, padahal ia sedang mengandung Dian.
Dian dan Lia sedang asyik menonton televisi di dalam kamar Dian yang cukup luas itu. Mereka berdua menonton drama yang sangat romantis. Itu bukan drama yang di rekomendasi kan oleh Dian, melainkan request drama dari Lia.
"Males tau gua nonton drama percintaan kayak gini. Gak guna tau gak, cuma bikin orang baper dan gak ada manfaat nya". Ketus Dian yang sangat tak menyukai drama percintaan. Dian lebih menyukai drama tentang memecahkan masalah.
"Gak ada manfaatnya gimana maksud lu di? Ini tuh mengajar kan kita mencintai seseorang dengan tulus dan juga gak ke makan sama gombalan cowo yang cuma main-main doang". Dian menjelaskan isi drama percintaan yang menurut nya banyak pelajaran yang di ambil juga.
"Tapi itu gak ada hubungan nya sama hidup kita, yang paling penting itu kecerdasan dan juga keimanan yang kuat. Tampa cinta manusia masih bisa hidup! inget ya cinta yg gua maksud itu cinta yg lu maksud, bukan cinta kepada keluarga dan agama". Dian mematahkan ucapan lia begitu saja.
Menurut Dian yang telah kehilangan cinta nya, hanya akan menghancurkan hati jika mencintai seseorang di waktu yang belum tepat. Cinta yang ada di pikiran Dian hanya cinta kepada keluarga nya, sahabat nya dan juga tuhan nya.
Mungkin Dian salah karena meremehkan kekuatan cinta dari dua hati yang akan bersatu. Hanya karena masa lalu yang tak pernah terlupakan oleh nya, Dian malah menutup hatinya dan juga tak percaya dengan cinta yang akan timbul lagi dalam hatinya.
Lia melirik Dian dengan raut wajah julid nya. Lia merasa kali ini ucapan Dian tak benar, dia hanya belum melupakan masa lalu yang selalu membuat nya merasa bersalah dan juga hati selalu sakit jika mengingat masa itu.
"Tapi yaa di, waktu terus berjalan dan gua yakin jodoh lu juga semakin dekat dengan lu. Inget di jodoh itu akan datang di waktu yang tepat". Lia tersenyum menghancurkan cara berfikir Dian yang sekarang. Bola mata Dian memutar dengan malas karena perkataan lia yang memang benar, namun saat ini Dian masih tak peduli soal cinta.
Bicara soal cinta Lia jadi teringat soal apa yang di ucap kan oleh Ardi kepada nya. Ada seseorang yang menyukai Dian dan berusaha mengenal Dian lewat Ardi.
"Oh iya di, eum...sebenarnya gua tau sesuatu". Ucap liat dengan gugup dan sedikit takut menyinggung perasaan Dian yang sangat sensitif dengan kata cinta, apalagi jika ada yang menyukai nya.
"Tau apa li, kalo gak penting mending gak usah deh". Ketus Dian yang sedang fokus memainkan handphone nya.
"Ada yang suka sama lu loh di". Ucap Lia dengan nada antusias dan berharap Dian akan membuka hati nya dan mau mengenal laki-laki yang menyukai nya itu.
"Gua gak peduli". Singkat Dian dengan nada sedikit ketus karena ada kata suka yang tercantum dalam ucapan Lia.
"Gua gak mau yang namanya tersakiti, dan gua juga gak mau sampe nyakitin orang lain, bahkan sampe bikin orang itu terluka". Ucap dian sambil menunduk mengingat kejadian satu tahun yang lalu.
Satu tahun yang lalu terjadi sesuatu yang membuat Dian berubah seperti sekarang, kejadian yang masih membekas di dalam hatinya. Oleh karena itu Dian mengunci hati nya rapat-rapat.
"Yaudah deh kalo gitu gua gak akan maksa lu kok, daripada lu terpuruk gitu, mending kita jalan-jalan yuk". Ajak Lia sambil tersenyum menghibur Dian yang sedang menunduk sedih.
"Gua gak terpuruk". Ketus Dian yang merasa tersinggung dengan ucapan Lia yang menyebut nya terpuruk itu. Dian tak suka jika ia dianggap lemah dan sedih oleh orang lain.
("Aduh...segala pake acara salah ngomong lagi gua, udah deh mood Dian pasti ancur banget. Kayak nya gua bakal caw nih".) Gumam Lia dalam hati nya sambil menepuk dahi nya karena sudah salah bicara.
"Sorry yaa di, gua gak ada maksud kok, mulut gua tiba-tiba asal ngomong gitu aja di". Ucap Lia dengan nada merasa bersalah dan juga ia mengangkat tangan nya minta maaf.
Dian diam dengan raut wajah yang kesal dan bad mood. Ia juga tak enak dengan Lia yang malah merasa bersalah kepada dirinya.
"Gua pengen sendiri sama istirahat aja, maaf nih bukanya gua ngusir lu li, tapi kayak nya mendingan lu balik dulu deh". Ucap Dian dengan hati-hati karena takut menyinggung Lia, Ia juga takut jika Lia masih ada di dekat nya yang dalam kondisi kesal.
"Oke...gua ngerti kok, Lagian gua juga gak mau bikin lu tambah badmood kalo kondisi lu kayak gini, jadi lu gak usah khawatir di". Lia tersenyum mengerti apa maksud Dian dan juga satu pemahaman dengan apa yang di pikirkan oleh Dian.
Dian pun mengantar Lia sampai depan pintu rumah nya. Lia berjalan meninggalkan rumah dian, kebetulan rumah nya dengan Dian hanya terhalang beberapa rumah.
Setelah Lia pergi Dian menutup pintu rumah nya. Ia terduduk di bawah pintu, ia merasa dirinya adalah orang yang tak bisa menjaga seseorang yang ia cintai , malahan Dian menganggap diri nya adalah sumber yang membuat orang tersebut terluka.
Dian sebenarnya bukan seorang wanita yang kuat, dia selalu menutupi kesedihan nya dan tak mau bercerita tentang apa yang ia rasakan, kepada Lia saja Dian hanya menceritakan yang seperlu nya ia ceritakan, sisa nya ia pendam sendiri dalam hati nya yang terlihat kokoh namun sebenar nya rapuh.
Sedangkan Lia ia tau apa yang di rasakan Dian, dan dia juga tau bagaimana sikap sahabat nya itu. Apa pun yang di ucapkan Dian tentang diri nya yang dalam kondisi kesal, Lia selalu tau bahwa itu memang sama seperti apa yang di pikirkan Dian, bahkan mereka sering sekali satu pemikiran dan pemahaman. Itu lah yang membuat persahabatan mereka tak pernah padam, karena mereka saling mengerti di waktu yang tepat.
........🎶🎶🎶........