
Ikbal dan Akmal sedang berada di cafe rainbow. Mereka berdua makan bersama, Akmal menikmati suasana cafe yang sangat nyaman, di tambah lagi ada band yang bernyanyi.
Berbeda dengan Akmal yang menikmati suasana tersebut, Ikbal justru sebaliknya. Ia seperti tak semangat dan terlihat seperti masih memikirkan seseorang yang telah membuat nya kecewa.
"Kenapa sih lu bal?"
Heran Akmal yang melihat raut wajah Ikbal yang masam itu. Akmal tau sekali apa yang sedang di pikirkan oleh Ikbal.
"Kenapa apa nya mal?"
Tanya balik Ikbal yang bingung melihat Akmal yang terus saja menatap nya dengan tatapan penuh kecurigaan.
"Gua tuh ngajak lu makan ke cafe ini biar kita have fun gitu, ini mah dari tadi lu malah galau mulu."
Ucap Akmal yang mulai kesal dengan sikap Ikbal yang masih memikirkan wanita yang seharusnya tak perlu lagi ia pikirkan.
"Yang nyuruh ngajak gua emang siapa hah?"
Tanya Ikbal yang memperlihatkan raut wajah tak peduli dengan ucapan Akmal.
"Iya emang gua yang ngajak lu, tapi masa lu gak mau have fun sih bal. Apa lu masih mikirin Bianca yaa?"
Jawab Akmal sekaligus bertanya soal Bianca, wanita yang telah membuat hati Ikbal terluka dan kecewa.
Bianca seorang wanita yang telah menghancurkan perasaan Ikbal. Mantan kekasih nya yang telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak, di saat hati Ikbal seutuhnya hanya untuk Bianca, namun dengan tega nya ia tak memberi kabar, tak menyapa, bahkan sudah mempunyai hubungan lagi dengan pria lain.
Ikbal termenung setelah pertanyaan Akmal yang membuat diri nya tak bisa menyembunyikan perasaan nya yang masih kecewa dan ada rasa mengharap kan Bianca kembali lagi dengan nya.
"Salah gua apa sih? kenapa dia tega banget ninggalin gua gitu aja, bahkan dia bilang ke orang-orang kalo gua sama dia udah gak ada hubungan."
Ikbal mengeluarkan rasa kecewa nya yang telah ia pendam selama beberapa bulan ini.
"Kenapa lu masih mikirin tuh cewe sih bal."
Akmal memegang kepala nya dengan kedua tangan nya, ia bingung dengan masalah Ikbal.
"Gimana gua gak mikirin dia mal, Bianca itu cinta pertama gua mal, dia yang pertama kali ada di hati gua, dan dia juga yang pertama kali nyakitin hati gua."
Tatapan Ikbal kosong seperti tak ada yang ia pikirkan saat ini selain perlakuan Bianca yang telah membuat nya hancur dan kecewa.
"Aduhhhh..., lu harus move on bal, cewe bukan cuma Bianca doang. Gua tau dia cinta pertama lu, tapi seenggaknya lu harus berusaha lupain dia."
Akmal menegur Ikbal yang masih belum bisa melupakan Bianca. Akmal pusing dengan perasaan Ikbal, tapi ia juga tak tega melihat Ikbal terus menerus seperti ini.
"Cewe emang banyak, tapi gak segampang itu ngelupain cinta pertama yang selalu teringat di dalam pikiran gua. Di sisi lain gua masih gak terima sama perlakuan Bianca yang ninggalin gua gitu aja, padahal gua cinta banget sama dia."
Batin Ikbal yang selalu teringat kenangan nya bersama Bianca cinta pertama nya itu.
"Tapi liat kenyataan nya bal, Bianca ninggalin lu gitu aja, padahal lu kurang apa sih? emang nyatanya cinta dia ke lu gak tulus."
Ucap Akmal berusaha menyadarkan Ikbal yang terus saja memikirkan Bianca. Bagi Akmal orang seperti Ikbal tak pantas untuk di sakiti oleh wanita seperti Bianca yang hanya mementingkan status ketenaran.
Ikbal terdiam dan hanya bisa mendengarkan nasehat sahabat nya itu. Ia meyakinkan dalam hati nya hanya ada rasa kecewa, tidak ada lagi harapan untuk seorang wanita yang hanya mempermainkan hati nya yang tulus mencintai dirinya.
"Udah bal, sekarang lu gak usah mikirin dia lagi. Gua yakin pasti dia bakal nyesel karena udah ninggalin lu, dia pikir lu bakal ngemis cinta ke dia apa."
"Gua bakal berusaha untuk lupain cewe yang cuma nyakitin hati gua, dan gak menghargai cinta gua yang tulus buat dia."
Ucap Ikbal dengan nada serius dan tatapan penuh ambisi untuk melupakan Bianca.
Jika Ikbal sudah membulat kan tekad nya, maka itu pasti akan terjadi. Tidak akan ada lagi perasaan mengharap kan Bianca, Jangan kan rasa cinta, rasa benci pun tak sudi ada di dalam hati Ikbal jika untuk Bianca.
Mulai sekarang bagi nya Bianca hanya seseorang yang ada di dalam mimpi buruk nya dan tidak akan pernah hadir di dalam dunia nyata milik Ikbal. Jika ada ia tak akan peduli dan akan membuat Bianca menyesal.
Di sisi lain Dian yang sedang berjalan di taman dekat rumah nya seketika menghentikan langkahnya. Ia merasa seperti ada yang memanggil hati nya yang tertutup itu. Perasaan yang muncul karena ada hati yang memanggil sepasang hati nya.
Dian melihat ke sekeliling nya, ia mencari apakah ada orang di sekitar nya yang memanggil nya. atau itu hanya perasaan nya saja.
"Apa lagi sih nih, kenapa gua ngerasa ada hal yang aneh lagi, apa ini cuma perasaan gua doang yaa? tapi kok gua ngerasa kayak ada yang manggil gua yaa?"
Dian bingung dengan dirinya sendiri, ia merasa ada yang salah dengan hati nya, atau feeling nya yang sedang tidak jelas.
"kayak nya gua kecapean kali yaa? udah deh mendingan gua balik aja, daripada entar gua malah kenapa-napa."
Ucap Dian sambil memutar balikkan langkahnya, ia tak jadi pergi menuju bangku taman. Tadi nya Dian ingin menikmati suasana taman di sore hari, dan dia ingin melihat senja yang akan membuat hati nya tenang.
Di saat Dian sedang berjalan menuju rumah nya ia bertemu dengan Nanda yang sedang berjalan menuju rumah nya. Kebetulan Nanda berada di komplek yang sama dengan dian.
"Dian? rumah lu deket sini juga kah?"
Tanya Nanda yang berpapasan dengan Dian yang ingin pulang ke rumah nya.
"Eh kak Nanda, iya rumah aku di komplek ini."
Ucap Dian dengan senyuman canggung. Nanda terkejut sekaligus senang karena ternyata rumah nya dengan rumah Dian tak jauh.
"Wah...sama dong rumah gua juga di komplek ini, berarti bisa dong yaa berangkat bareng besok."
Nanda langsung mengambil kesempatan yang tak terduga ini, menurut nya kalau seperti ini akan mempermudah dirinya untuk mendapatkan hati Dian.
"Kalo besok gak bisa kak, aku udah janji bakal berangkat bareng Lia, lagian kita kan emang selalu berangkat bareng."
Ucap Dian dengan apa adanya. jika ia berangkat dengan Nanda dan Lia belum tahu, pasti Lia akan berangkat sendiri.
"Oh...ya udah besok-besok yaa, nanti lu tinggal chat gua aja, nih no gua."
Nanda memberikan handphone nya begitu juga dengan dian. mereka bertukar nomor handphone.
"Aku duluan ya kak."
Dian pun kembali melanjutkan langkah nya. Nanda memandangi Dian yang sedang berjalan sambil tersenyum menang.
Nanda seorang pria yang jarang sekali jatuh cinta kepada seorang wanita. Mungkin karena keluarga nya yang berantakan ia jadi berhati-hati memilih wanita yang akan di cintai nya.
Ayah Nanda sudah lama meninggal, ibu nya selalu membandingkan-bandingkan dirinya dengan saudara laki-laki nya. Nanda sering tidak menuruti ucapan ibu nya karena ia tau suatu hal yang tidak di ketahui oleh saudara laki-laki nya.
........🎶🎶🎶........