
Setelah selesai ekskul musik, dian hendak pulang.
Saat ia sedang menuju gerbang sekolah, ada seseorang yang berdiri sambil memainkan handphone nya.
Dian terkejut dan sedikit takut, karena orang tersebut adalah ikbal. Orang yang tadi ia perhatikan di gor lapangan futsal smk citra permata.
Ikbal melirik ke arah dian yang berdiri di sampingnya. Mereka berdua sama-sama sedang menunggu bis sekolah. Dian merasa gugup karena takut kalau tadi ikbal mengenal dia yang tadi mengintip gor lapangan futsal.
Ikbal baru membuka chat dari grup osis smk citra permata. Rena memberitahukan bahwa bis sekolah yang terakhir tiba jam 13:30, dengan spontan ikbal melihat jam yang ada di handphone nya. Sekarang sudah pukul 14:25, berarti bis terakhir sudah lama berangkat.
Tangan ikbal menaruh handphone nya ke saku, Kemudian ia melirik ke arah dian dan memberitahukan kepada nya.
"Lu lagi nunggu bis sekolah ya?"
Tanya ikbal dengan raut wajah datar. Sementara dian gemetar mendengar suara ikbal yang serak-serak basah itu.
"I....yaa kak"
Jawab dian dengan gugup dan takut. Ikbal terheran-heran melihat dian yang gugup itu.
"Gua cuma mau ngasih tau, kalo bis terakhir udah dari tadi berangkat, jadi lu gak usah nunggu lagi". Ucap ikbal dan setelah itu ia melangkah pergi.
Dian menghela nafas nya lega. Akan tetapi baru saja ikbal melangkah beberapa senti, ia menghentikan langkah nya dan berbalik arah ke dian. Dian menjadi gugup lagi karena melihat tatapan ikbal.
"Entar dulu deh, gua kayaknya pernah ngeliat lu"
Ikbal mengingat di mana ia melihat dian, Ia juga menatap nya dengan tajam.
"Eh, wajar lah kak kalo kakak pernah liat aku, kita kan satu sekolah"
Jawab dian dengan gugup, tangan nya juga gemetar.
Namun ikbal masih penasaran dimana ia bertemu dengan gadis yang ada di hadapan nya itu. Ia pun masih mengingat-ingat wajah dian.
Dian takut jika ikbal sampai tau kalau yang tadi mengintip dan memperhatikan ikbal adalah dirinya, Oleh sebab itu ia gugup dan takut.
"Oh iya!"
Ikbal baru saja mengingat wajah dian di suatu tempat yang ada dirinya.
Dian semakin gemetar ketakutan karena sekarang ikbal sudah tau bahwa dirinya lah yang tadi mengintip di gor lapangan futsal.
"Lu yang tadi pagi belain temen lu kan, pas di kantin. Yang irfan ngebentak temen lu"
Ikbal baru mengingat bahwa dia melihat dian di kantin saat berdebat dengan irfan.
"Eh, oh iya yang tadi pagi yaa? Hehe"
Dian menghela nafas nya dengan lega. Karena ternyata yang dimaksud ikbal adalah kejadian tadi pagi.
"Gua salut sih sama lu, dari semua orang yang gua temuin, cuma lu doang tuh yang berani lawan si irfan" Ucap ikbal dengan datar dan cool.
"Ah enggak kok, itu karena aku gak terima aja temen aku di salahin kayak tadi."
Dian tersenyum tak enak mendengar pujian dari ikbal.
"Lu kelas sebelas kan, gua yakin nanti kalo lu udah kelas dua belas lu bakal ngerti kenapa irfan sikap nya kayak gitu."
Ia menatap mata dian dan merasa seperti pernah melihat mata itu di suatu tempat, tapi bukan kantin.
"Hehe, iya kak, mungkin kak irfan lagi ada masalah kali yaa atau emang dia tegas nya terlalu berlebihan." Ucap dian sambil tersenyum tak enak.
"Yaa mungkin bener kata lu, oh iya, kayak nya kita pernah ketemu lagi yaa, setelah kejadian di kantin?"
Tanya ikbal sambil terus menatap mata dian yang tiba-tiba menjadi melotot ketakutan.
"Eh, Iya kah? kayak nya enggak deh kak, aku gak ngerasa pernah ketemu kakak tuh."
Dian mengalihkan pandangan nya dari tatapan ikbal yang terus saja menatap mata nya.
Namun ikbal tak percaya dengan ucapan dian. Karena dia sangat yakin bahwa dia pernah melihat mata itu di suatu tempat, dan mereka sempat saling bertukar pandangan.
Jantung dian berdebar sangat kencang, ia sudah sangat takut kalau dia seperti nya akan ketahuan oleh ikbal yang masih menatap nya dengan tajam.
"Lu yang...tadi ngintip di gor lapangan futsal kan?"
Tanya ikbal dengan alis terangkat sebelah. Jantung dian rasanya seperti berhenti berdetak, karena sudah ketahuan oleh ikbal.
"Gor lapangan futsal? Maaf aku gak pernah kesana tuh kak."
Dian pura-pura tak pernah kesana. Namun ikbal tak percaya dengan ucapan dian.
"Masa sih, bukanya tadi lu yang lagi merhatiin gua kan? gua ngerasa kok ada yang merhatiin gua, dan pas gua liat lu langsung kabur. Tapi tadi gua liat mata lu dengan jelas, jadi gua tau ini mata yang sama kayak cewe yang tadi."
Jelas ikbal panjang lebar yang membuat dian tak berkutik. Dian hanya bisa terus mengarang cerita.
"Gak mungkin dong kak, aku aja abis ekskul musik. Lagian belum tentu kakak tau mata aku sama kayak mata yang tadi kakak liat."
Dian membohongi ikbal lagi. Ia takut akan di hukum oleh para osis karena sudah mengintip mereka.
Dan apalagi jika dia tidak di hukum, pasti namanya akan tercemar, karena para anggota futsal tak akan tinggal diam saja.
"Gak mungkin, gua gak mungkin salah. Sekali gua liat mata orang, kalo gua ketemu lagi gua bakal tau itu mata orang yang gua temuin sebelum nya."
Ucap ikbal dengan rasa percaya diri yang teramat penuh. Dian semakin di ambang ketauan.
Dian sudah bingung harus membohongi ikbal dengan cara apa lagi. Dia memutar otak nya dengan cepat, akan tetapi tetap saja ia tak menemukan cara yang tepat untuk meyakinkan ikbal bahwa ia bukan orang yang di maksud ikbal.
"Bukan aku kak, lagian kakak kok bisa asal sembarangan sih. Mana mungkin sih kakak inget orang itu, sedangkan kakak kan liat mata nya cuma beberapa saat doang."
Dian masih saja tak mengaku dan meyakinkan ikbal. Namun ikbal malah tersenyum.
"Gua semakin yakin kalo cewe yang tadi itu lu, emang gua ngasih tau lu kalo gua natap mata lu cuma beberapa saat?"
Ikbal tersenyum menang, karena dian sudah tak bisa berbohong lagi. Dian menepuk dahinya karena salah bicara.
"Kak aku pergi dulu yaa, udah jam segini aku harus pulang"
Ucap dian yang melihat taksi yang akan lewat dihadapan nya.
Dengan segera dian memberhentikan taksi tersebut, kemudian ia naik dan meninggalkan ikbal begitu saja. Senyuman manis terukir di wajah ikbal, entah apa yang dipikirkan oleh nya. Tapi ikbal merasa lega karena orang yang tadi memperhatikan nya adalah dian. Bukan seseorang yang tak ia harapkan.