World Real

World Real
02. Tak Sengaja



Bel istirahat smk citra permata sudah berbunyi.


"Kring...kring..."


Semua siswa dan siswi pun berhamburan keluar dari kelas mereka masing-masing. Di kelas XIA dian sedang duduk di bawah lantai, Tepat nya di bawah meja. Lia yang melihat dian langsung menghampiri nya.


"Dian...lu ngapain disitu sih?" Teriak lia dengan ekspresi terheran-heran.


"Hustt....jangan berisik napa"


Balas dian seperti tak peduli dengan lia. Melihat nya seperti itu membuat liat menjadi kelas.


"Ih...lu mah kebiasaan, Ngapain coba disitu, Gaje deh"


Ucap lia terheran-heran. Dian memutar bola matanya dengan malas.


"Gua mau tidur tau...jangan ganggu dong li"


Ucap dian sambil menguap. Lia semakin heran dengan teman nya yang satu ini.


"Ini sekolah bukan kamar lu di!!!"


Lia mulai emosi menghadapi tingkah dian yang tak jelas. Dian mengerucut kan bibir nya.


"Mendingan kita ke kantin aja yuk" Ajak lia sambil tersenyum manis ke dian.


"Gua gak laper"


Singkat dian yang membuat senyuman di wajah lia berganti menjadi ekspresi datar.


"Yailah, Please dong...gua laper nih, Ayo lah"


Lia berusaha membujuk dian yang sedang mager itu. Dian menatap lia dan langsung ditatap balik oleh liat dengan mata berbinar-binar.


"Yaudah ayo"


Dengan terpaksa dian ikut ke kantin bersama lia yang dari tadi sudah tidak sabar.


Dian dan lia berjalan keluar kelas menuju kantin smk citra permata. Lia sangat senang karena dian mau ikut dengan nya ke kantin. Sedangkan dian hanya memperlihatkan ekspresi datar nya.


Setelah beberapa menit mereka berdua sudah tiba di kantin. Lia memesan makanan untuk nya dan juga untuk dian. Setelah itu ia menyusul dian yang sudah duduk di kursi kantin. Mereka pun menunggu pesanan nya.


Lia melihat ke arah pojok kantin yang berada di dekat jendela kantin. Ia menatap seorang siswa yang sedang memainkan handphone nya, Sesekali terlihat sangat cool dan keren.


"Eh...itu kan kak ikbal anggara"


Lia tampak girang melihat ikbal yang cool itu. Dian melirik ke arah lia yang sedang tersenyum.


"Terus?"


Tanya dian dengan malas sambil memainkan handphone nya.


"Ya...kan kak ikbal cowok paling cool di sekolah ini, Iya gak sih"


Jawab lia sambil senyum-senyum sendiri. Dian mengusap mata lia.


"Biasa aja"


Ucap dian sekilas melirik ke arah ikbal. Lia langsung terkejut mendengar pernyataan dian yang sangat di luar logika nya.


"What! Apa lo bilang? Biasa aja?"


Lia langsung heboh sendiri sehingga membuat beberapa siswa dan siswi yang lain melihat ke arah mereka berdua.


"Hustt....pelan-pelan ngomong nya li, Liat noh jadi banyak orang yang liatin kita kan."


Ucap dian sambil tersenyum tak enak ke yang lainnya. Lia pun membisik.


"Lagian lu bilang kak ikbal biasa aja, Itu kan hal yang bikin gua kaget"


Bisik liat dengan ekspresi polos nya.


"Iyain deh biar cepet" Jawab dian dengan malas.


Disaat sedang asyik-asyik nya lia berbincang-bincang dengan dian. tiba-tiba...


"Prak..."


Suara mangkok bakso terjatuh karena tangan lia yang melayang ke belakang. Lia tak sadar bahwa ada seseorang yang lewat di belakang nya. Ia pun segera beranjak dari tempat duduk dan menghampiri orang yang mangkok nya terjatuh.


"Ups...sorry...gua gak sengaja, Gua gak tau kalo ada orang lewat"


"Punya mata gak sih lu?"


gertak irfan. Ternyata orang tersebut adalah irfan kakak kelas yang paling tegas dan di takuti oleh para adik kelas.


"Iya maaf kak"


Lia menunduk takut dan tak berani.


"Lain kali jaga tuh tangan" Ketus irfan.


Mendengar perkataan irfan yang kasar itu membuat dian seketika berdiri dan menghampiri irfan. Mata irfan tertuju ke arah dian yang menghampiri nya.


"Kak maaf yaa, Bisa kan pake bahasa yang lembut dikit, Seenggaknya gak usah kasar deh."


Dian menegur irfan dengan ketus. Alis irfan terangkat melihat dian yang berani menegur nya.


"Apa lu bilang? Coba ulangin! Berani-beraninya yaa lu sama kakak kelas!"


Irfan mulai emosi melihat dian yang ada dihadapannya.


"Maaf kak, Bukannya aku sok berani atau apalah, Tapi tadi udah jelas kalo lia enggak sengaja, Dan dia juga udah minta maaf kok"


Tegas dian tak merasa takut sedikit pun. Lia tak mau masalah ini semakin besar, Apalagi kalo sampai harus berurusan dengan kakak kelas.


"Udah di, Emang gua yang salah kok"


Ucap lia agar masalah ini berlalu dan tak perlu menjadi besar.


"Tuh dengerin! Temen lu aja tau kalo dia salah, Lain kali kalo mau jadi pahlawan liat situasi dulu yaa."


Irfan tersenyum licik dan pergi melewati dian dan lia.


Dian pun mengepal tangan nya. Terlihat jelas sekali kalau dian kesal dengan perkataan irfan, Ia juga menatap irfan yang melewati nya dengan tatapan kesal. Lia pun langsung mendekati dian dan tersenyum manis agar dian tak perlu memikirkan nya lagi.


Di sisi lain ada beberapa siswa yang dari tadi memperhatikan perdebatan antara irfan dan dian. Ternyata itu adalah ikbal dan akmal.


"Siapa tuh cewe?"


Tanya ikbal yang duduk di pojok kantin dengan akmal.


"Anak kelas sebelas deh keknya, Emang kenapa bal?"


Tanya akmal yang melirik ke arah dian dan lia.


"Berani banget kayak nya tuh cewe, Irfan aja ampe kaget tuh kek nya" Ketus ikbal sambil menatap dian.


"Yaa keliatan nya begitu sih, Tapi setau gua dia anak nya pendiem"


Heran akmal dan sedikit tak percaya. Ikbal beranjak dari tempat ia duduk dan pergi meninggalkan akmal begitu saja.


"Bal...woy! Kok gua ditinggal sih"


Teriak akmal dan berlari mengejar ikbal.


Lia mengajak dian untuk duduk dan menenangkan nya. Dian masih kesal dan orang-orang di sekitar masih melihat mereka berdua.


"Kok lu tadi malah biarin tuh orang sih li, Udah jelas lu gak salah"


Dian merasa lia membiarkan orang itu.


"Yaa udah biarin aja sih di, Lagian yaa dua itu kakak kelas kita, Jadi mendingan jangan berurusan deh sama dia, Gua takut jadi panjang aja nih masalah"


Lia menjelaskan kepada dian kenapa tadi dia malah mengaku salah, Padahal lia tak sengaja.


"Yaa terserah deh, Tapi gua kurang suka aja, Nanti yang ada orang kayak gitu bisa ngelunjak tau gak"


Dian berusaha untuk melupakan masalah yang baru saja terjadi.


Lia tersenyum melihat dian yang sudah mau mendengarkan dirinya. Dian hanya bisa menarik nafas nya dan mengeluarkan nya dengan tenang.


Suasana kantin yang tadinya penuh dengan keributan para siswa dan siswi yang membicarakan dian dan irfan seketika berhenti. Mereka sudah mendengar suara bel masuk.


"Kring...kring..."


Semuanya pun kembali ke kelas mereka masing-masing dan melupakan kejadian yang sempat membuat seisi kantin tegang karena melihat irfan yang marah. Di tambah lagi keberanian dian yang menjadi bahan pembicaraan.


......🎶🎶🎶......