World Real

World Real
14. Dian Aprilia



Kelas XIB memulai jam pelajaran mereka, yaitu jam pertama untuk pelajaran olahraga. Semua murid-murid kelas tersebut pergi ke lapangan utama untuk praktek. Di sisi lain kelas XIIA jamkos (jam kosong).


Ikbal dan Akmal berada di depan kelas, tepat nya di balkon depan kelas nya yang menghadap ke lapangan utama. Mereka di lantai dua jadi terlihat sangat jelas murid-murid kelas XIB yang sedang olahraga.


Senyuman manis terukir di wajah Ikbal yang sedang memandangi seseorang, Akmal yang melihat ekspresi Ikbal pun bertanya-tanya.


"Lu lagi liatin siapa bal?" Tanya Akmal dengan bagaikan seorang detektif yang menatap curiga ke tersangka nya.


"Enggak liat siapa-siapa." Jawab Ikbal yang terus saja memandangi Dian yang sedang berlari mengejar bola kasti, raut wajah Dian sangat lucu.


Mata Akmal yang tadi terfokus ke Ikbal sekarang sudah beralih memandangi adik-adik kelas nya yang sedang berolahraga. Diam-diam Akmal memandangi seseorang gadis yang sedang tertawa dengan manis, lesung pipi nya sangat menarik perhatian siapa saja yang melihat nya.


"Gua baru sadar ternyata adek kelas kita cakep-cakep banget, apalagi yang itu."


Ucap Akmal yang terus saja memandangi gadis yang mulai menarik perhatian nya, dan perasaan nya tampak pernah melihat gadis itu.


(bukannya dia yang ada di kantin yaa?).


Gumam Akmal di dalam hatinya sambil tersenyum memandangi gadis yang sekarang sedang melempar bola kasti dengan tenaga nya yang lumayan kuat.


"hahaha." Ikbal tiba-tiba saja tertawa, mendengar tawa nya Akmal ikut tertawa sambil menepuk bahu Ikbal.


"hahaha, kayak nya kita satu pemikiran ya bal?"


Tanya Akmal dengan raut wajah nakal nya. Seketika raut wajah Ikbal yang tadi nya sedang tertawa berubah menjadi datar dan terheran-heran dengan Akmal yang ikut tertawa dan memukul bahu nya, di tambah lagi pertanyaan nya yang membuat Ikbal bingung.


"Apaan sih mal, gua aja ketawa bukan karena apa yang lu omongin."


Ikbal melirik Akmal dengan raut wajah polos sambil menggaruk kening nya yang tidak gatal. Akmal dengan reflek membuka mulut nya lebar-lebar karena sudah salah mengira.


"ya ilah bal, terus lu ketawain apaan coba?"


Tanya Akmal dengan nada sedikit kesal sambil menatap Ikbal dengan tajam. Ikbal hanya tersenyum melihat Dian yang berlari kesana dan kemari.


Sementara itu di kelas Ardi yang baru saja dari luar kelas memanggil Nanda yang sedang asyik memainkan game favorit nya.


"Nanda, di lapangan utama kelas sebelas lagi olahraga noh, lu gak mau liat gebetan lu itu?"


Tanya Ardi yang berdiri sedikit membungkuk di depan meja Nanda. Mata Nanda langsung terbuka lebar ketika mendengar ucapan Ardi.


"Serius lu ar?" Tanya Nanda memastikan ucapan Ardi yang baru saja ia ucapkan tadi.


"Serius lah Nan, ngapain juga gua bohong." Jawab Ardi memandang Nanda dengan julid sambil memain-mainkan rambut nya.


Nanda langsung mematikan handphone nya dan berlari ke luar kelas, ia menerobos Akmal dan Ikbal yang sedang asyik di luar. Nanda sangking semangat nya sampai-sampai ia tak sengaja menyenggol Akmal yang posisi nya tergeser oleh Nanda.


"Busreng...pelan-pelan napa nan, udah kayak mau liat konser aja." Ketus Akmal yang tersenggol itu, ia menatap Nanda dengan julid dan menepuk pundak nya dengan sedikit keras.


"Yaa sorry bro." Ucap Nanda memegang pundak nya yang di tepuk oleh Akmal, namun mata nya menatap lurus ke arah Dian dengan fokus.


Nanda sangat senang melihat Dian yang terlihat sangat semangat berolahraga di pagi hari ini. Senyuman nya terus saja terukir di wajah nya.


Akmal menatap curiga ke arah Nanda yang terlihat seperti orang yang di mabuk cinta. Nanda terus saja menatap Dian yang sedang melempar bola kasti dengan sangat fokus.


"Lu udah tau siapa nama cewe yang lu suka?"


Tanya Akmal ke Nanda yang masih tersenyum.


"Udah tau dong... Namanya Dian aprilia." Jawab Nanda dengan perasaan sangat senang dan bahagia. Ikbal reflek langsung melirik ke arah Nanda.


"Deg..."


"Dian? gua pernah denger namanya, yang mana emang nan?" Tanya Akmal yang seperti pernah tau nama itu.


"Itu loh yang barusan abis ngelempar bola kasti." Sahut Ardi menjawab pertanyaan Akmal, ia berdiri di samping Akmal sambil menunjukan jari nya ke arah Dian.


"Oh...yang itu mah gua tau, cakep juga haha. Irfan sini dah,"


Akmal memanggil Irfan yang sedang menulis sesuatu di dalam kelas, mendengar Akmal yang memanggil nya ia langsung keluar dan menghampiri teman-teman nya yang sedang kumpul di balkon depan kelas nya.


"Apaan sih lu mal, gak usah teriak bisa kan." Ucap Irfan yang langsung berdiri di samping Ikbal.


"Iya-iya, gua cuma mau ngasih tau, ternyata cewe yang di sukai ama Nanda namanya Dian fan, yang sempet ribut ama lu." Akmal tersenyum nakal menunggu reaksi Irfan mendengar nama dan orang yang di sukai Nanda.


"Dian!." Irfan terkejut bukan main, ia benar-benar tidak menyangka orang yang membuat hati nya tertarik adalah wanita yang di sukai oleh Nanda.


"Kenapa fan? kok lu kayak kaget gitu?" Tanya lagi Akmal yang berharap Irfan akan mengeluarkan isi hatinya. Menurut Akmal Irfan pasti akan kesal dengan mendengar nama Dian.


"Eh enggak kok." Irfan terdiam dan tercengang dalam hati nya, bagaimana tidak, ternyata dia dan Nanda sama-sama menyukai wanita yang sama.


"Lama-lama lu kayak Ikbal fan." Datar Ardi yang melihat reaksi Irfan tentang Dian, wanita yang di sukai oleh Nanda.


"Dih mirip dari mananya coba?." Tanya Akmal yang bingung dengan maksud Ardi.


"Dari aneh nya lah, hahaha." Jawab Ardi sambil tertawa lebar.


"Hahaha, bisa aja lu ar." Akmal ikut tertawa mendengar ucapan Ardi yang bagi nya lucu.


Ikbal hanya mendengarkan percakapan teman-teman nya, dia terlalu fokus memandang Dian dan sekilas beberapa kali melirik ke arah Nanda yang dari tadi memperhatikan Dian.


Di lapangan utama murid-murid kelas XIB sedang istirahat setelah praktek bermain bola kasti yang lumayan menguras tenaga mereka.


"Akhirnya istirahat jugaa, capeee bangetttt." Keluh Lia yang tenaga sudah habis dan ia merasa sangat letih.


"Ah lebay lu li, biasa nya juga masih aktif malah sampe jungkir balik, hahaha."


Dian tertawa begitu lepas, tanpa ia sadari ada seseorang yang memandang nya dan ada juga yang memotret nya.


Feeling Dian langsung bekerja dengan cepat, ia merasa ada yang tidak beres seperti ada yang memperhatikan nya dari tadi. Dengan spontan Dian menoleh ke arah lantai dua, tepat nya depan kelas XIIA.


Nanda, Akmal, Irfan dan Ardi serentak menunduk ke bawah balkon tempat mereka tadi berdiri, sedangkan Ikbal ia masih berdiri kokoh dan menatap Dian sambil tersenyum.


"Woy bal! nunduk napa, entar kita bisa ketauan." Ucap Akmal sambil menarik-narik celana Ikbal, Walaupun sudah di tarik-tarik Ikbal tak menghiraukan teman-teman nya.


"Kok Dian bisa nengok sih?" Tanya Ardi dengan polos nya. Mereka berempat terlihat sangat kocak dan lucu, karena mereka semua jongkok sambil menunduk kan kepala mereka masing-masing.


"Mana gua tau!" Jawab Irfan dengan kesal karena pertanyaan Arfi yang tak berfaedah dan jelas-jelas mereka tidak tau.


Dian menatap Ikbal yang menatap nya juga sambil tersenyum manis, Dian bingung melihat Ikbal yang tersenyum seperti itu.


(Kok kak Ikbal senyum-senyum gitu? tapi sama siapa? masa iya senyum ke gua. Hmm udah lah sokap aja). Ucap Dian dalam hati sambil melirik ke belakang dan ke sekitarnya yang tidak ada siapa-siapa, kecuali lia yang sedang duduk sambil memainkan handphone nya.


"Kak Ikbal..." Teriak Dian sambil melambaikan tangan nya ke arah Ikbal yang membalas Dian dengan melambaikan tangan nya juga.


"Lu pada denger gak?" Tanya Akmal


"Iya gua denger, Dian manggil Ikbal kan". Jawab Nanda sambil menatap Akmal dengan tatapan serius.


Mereka berempat berjalan jongkok menuju dalam kelas mereka. Irfan memimpin barisan, sedangkan Akmal terus saja memandangi Ikbal dengan terheran-heran.


Setelah sampai di dalam kelas mereka berempat langsung berdiri dan duduk di bangku mereka masing-masing. Irfan terlihat malu karena ikut terlihat kocak bersama teman-teman nya yang tidak jelas.