World Real

World Real
13. Selera yang sama



Seperti hari-hari biasa nya Dian sudah tiba di sekolah lebih awal dari siswa dan siswi smk citra permata yang lain nya. Dian sedang berdiri di balkon depan kelas nya, ia memandangi pohon-pohon di jalanan sekolah yang terlihat indah dan nyaman.


Tampa ia sadari ada satu orang yang sudah datang lebih awal dari nya. seorang laki-laki yang tinggi dan tampan, rambut nya berwarna hitam ke coklat-coklatan, mata nya hitam pekat, kulit nya berwarna putih dan jalan nya penuh wibawa.


orang itu tak lain adalah Irfan yang tengah berjalan menghampiri Dian yang sedang menikmati suasana di pagi hari yang sejuk. Irfan menepuk bahu Dian dari samping dan berdiri di sampingnya.


"Eh?? kak Irfan." Heran Dian yang melihat Irfan sudah berdiri di samping nya.


"Lu masih inget gua gak?"


Tanya Irfan dengan sedikit ragu dan tak enak karena kejadian di kantin beberapa hari yang lalu, saat ia membentak Lia.


"Masih kok kak."


Dian menatap Irfan dengan bingung sambil menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Sebenarnya Dian tak tau mengapa Irfan menghampiri dirinya di pagi-pagi seperti ini.


"Bagus lah kalo lu masih inget, gua mau minta maaf sama lu."


Ucap Irfan dengan gentle dan penuh percaya diri, ia tak enak dengan Dian yang jadi kena bentak oleh diri nya yang terlalu terbawa emosi.


"Minta maaf? emang kak Irfan ada salah sama aku?"


Tanya Dian dengan polos seperti orang yang tidak tau apa-apa soal kejadian di kantin beberapa hari yang lalu itu.


"Kejadian waktu di kantin, kayak nya kata-kata gua emang terlalu kasar, aturan gua gak perlu berlebihan kayak gitu."


Irfan menyesali perbuatan nya yang terlalu berlebihan kepada Lia dan Dian, padahal Lia sudah jelas tak sengaja menepis mangkuk yang sedang di bawa oleh Irfan.


Dian baru ingat soal kejadian di kantin itu, ia tersenyum melihat sikap Irfan yang berani dan tak malu untuk minta maaf kepada nya, jarang ada laki-laki di yang pernah di temui Dian berani meminta maaf ke seorang wanita, di tambah lagi adik kelas sendiri.


"Oh...soal itu udah aku lupain kok kak, aku anggep nya mungkin kakak lagi ada problem kali, makanya jadi emosi."


Dian tersenyum tulus ke Irfan yang membuat diri nya merasa simpati karena sikap Irfan yang mau minta maaf jika ia salah.


"Gimana sebagai tanda maaf gua kita nanti nonton bareng, kebetulan film genre favorit gua udah tayang."


Senyum Irfan yang mengajak Dian. Irfan menatap Dian dengan penuh harapan ia akan mau ikut nonton bersama nya.


"Wahh kebetulan banget nih, film genre favorit aku juga baru tayang di bioskop, aku juga mau nonton, tapi gak ada orang yang satu selera sama aku."


Jawab Dian dan teringat seseorang yang selalu ada di samping nya, orang yang memiliki selera yang sama dengan diri nya, seorang pria yang pertama kali membuat Dian nyaman dan selalu tersenyum.


"Kalo boleh tau, emang genre yang lu suka apa?" Tanya Irfan yang penasaran dengan genre film favorit nya.


"Aku suka genre fantasi, tapi temen aku gak suka film yang berbau fantasi, menurut dia itu cuma bikin kita halu doang."


Jawab Dian dengan raut wajah datar dan teman yang ia maksud adalah Lia, orang yang selalu realistis, yang tak percaya dengan dunia fantasi.


"Lu suka film fantasi? wah parah sih, gua juga suka banget kalo film yang berbau fantasi. Jangan bilang film yang lu bilang baru tayang itu the world fantasi nine girls?"


Irfan terkejut mendengar Dian yang menyukai film fantasi, dan ia juga menebak-nebak film yang di maksud oleh Dian adalah film yang ingin ia tonton juga.


Dian tak menyangka ternyata orang setegas dan sepintar Irfan menyukai film fantasi yang rata-rata di anggap tidak masuk logika bagi para orang pintar yang Dian kenal.


Dian tersenyum menceritakan diri nya yang sudah suka film tersebut semenjak belum di film kan. Mata Dian terlihat sangat menikmati pembicaraan antara dirinya dengan Irfan yang satu selera.


"Berarti jadi dong nonton bareng?" Irfan tersenyum sambil menatap Dian dengan tatapan bersahabat.


"Jadi lah kak, kapan lagi aku nonton setelah sekian lama akhirnya ada juga yabg satu genre ama aku."


Dian menyetujui ajakan Irfan untuk menonton film tersebut bersama diri nya. Tampa Dian sadari sikap nya yang dulu perlahan demi perlahan mulai muncul kembali seiring waktu ia mulai mengenal beberapa orang yang berhasil membuat Dian seperti dulu, yaa walaupun belum sepenuhnya seperti dulu.


"Entar istirahat gua teraktir lu makan makanan favorit gua gimana? biar kita gak terlalu canggung." Irfan mengajak Dian ke kantin bersama.


"Boleh tuh, aku pengen tau makanan ke sukaan kakak apa, kali aja sama, hehe." Dian tertawa kecil dan lagi-lagi ia menerima ajakan Irfan, padahal biasa nya ia ia sangat sulit untuk di ajak ke kantin.


"Oke kalo gitu, sampai ketemu jam istirahat yaa."


Ucap Irfan sambil melambai kan tangan nya dan berjalan menuju kelas nya. Irfan melangkah sambil tersenyum karena bisa mengenal Dian, seorang wanita yang menarik dan membuat Irfan merasa ada yang mempengaruhi perasaan nya.


Lia tersenyum mendengar pembicaraan Irfan dan Dian, kebetulan ia baru sampai di sekolah beberapa menit yang lalu, dan dia mendengar sedikit pembicaraan antara Irfan dan Dian.


"Hayooo abis ngapain sama kak Irfan?" Tanya Lia yang menghampiri Dian sambil tersenyum nakal menggoda Dian.


"enggak abis ngapa-ngapain." Jawab Dian sambil merangkul Lia dan masuk ke dalam kelas mereka.


"Bohong...tadi udah jelas-jelas lu lagi ngobrol sama kak Irfan." Lia menatap Dian dengan tatapan nakal nya dan tersenyum meledek Dian.


"Emang nya kenapa sih kalo gua ngobrol sama kak Irfan?" Tanya Dian ke sahabat nya yang dari tadi meledek nya dengan sangat senang.


"Yaaa itu berita bagus dong di,"


Lia melirik Dian dengan senyuman lebar sambil membuka isi tas nya, mengambil baju olahraga untuk jam pertama hari ini.


"loh, kok bagus sih?"


Dian heran dengan Lia yang terus saja tersenyum. Dian juga mengambil baju olahraga untuk salinan nanti.


"Yaa bagus lah, tanda nya lu kan udah mulai move on dari Bayu, ya kan..."


Lia spontan mengucapkan apa yang ada di hati nya. Dian langsung menatap Lia dengan tajam, dan terlihat sekali mood Dian langsung berubah ketika mendengar nama Bayu.


"Gak semudah itu gua lupain Bayu! gua gak bakal pernah bisa lupain bayu, jadi lu gak usah bahas tentang bayu yang bikin gua semakin ingat dia."


Ucap Dian ketus dan sesak ketika mengingat lagi kisah antara dirinya dengan bayu. Dian menutup matanya dan mengatur nafas nya agar tak perlu terbawa emosi.


"Sorry...di...gua gak maksud..." Dian langsung memotong ucapan Lia yang belum selesai.


"Udah li gak usah minta maaf, lu gak salah kok." Ucap Dian sambil membawa baju nya, karena bel masuk sudah berbunyi.


Lia jadi tak enak dengan Dian, akan tetapi ia tak melihat raut wajah kesal di wajah Dian setelah di kelas tadi. Sekarang mereka berdua sedang berjalan menuju ruang ganti sebelum ke lapangan utama smk citra permata.


........🎶🎶🎶........