World Real

World Real
10. Awal perbincangan Nanda dan Dian



Dian sudah berada di dekat gerbang sekolah smk citra permata, Akan tetapi seketika langkah nya terhenti. Dian melupakan handphone nya yang masih tertinggal di ruangan musik.


"Oh iya ya, hp gua kan masih di ruang musik". Gumam Dian dan berbalik arah untuk mengambil handphone nya, Namun tiba-tiba ada yang menepuk bahu nya dari belakang.


Dian menoleh ke belakang, Ia melihat seorang pria yang berdiri di hadapan nya dengan membawa handphone milik nya yang tertinggal di ruangan musik.


"Ini hp lu, Tadi ada di lantai deket tangga". Ucap Nanda sambil memberikan handphone milik Dian, Ternyata handphone nya tidak ketinggalan tapi terjatuh di dekat tangga.


"makasih kak". Dian tersenyum sambil mengambil handphone nya. Nanda ikut tersenyum melihat Dian yang tersenyum.


"Iya sama-sama, Btw lu anak kelas sebelas ya?". Tanya Nanda yang masih tersenyum itu.


"Iya kak". Jawab Dian singkat. Nanda mengangguk-angguk mendengar jawaban Dian.


"Oh iya nama gua Nanda, Kelas dua belas. and lu?". Ucap Nanda yang memperkenalkan diri nya. Dian menatap Nanda dengan canggung.


"Dian". Jawab Dian singkat,padat dan jelas. Nanda berusaha untuk bertanya lagi agar kali ini Dian menjawab pertanyaan tidak singkat.


"oh...Dian temen nya Lia yaa?". Tanya Nanda yang kesekian kali nya. Dian masih canggung dan tak nyaman berbicara berdua dengan Nanda.


"Iya kak". Jawab Dian datar. Lagi-lagi Nanda mendengar jawaban Dian yang terlalu singkat yang membuat Nanda bingung.


"Ngomong-ngomong lu lagi sariawan ya?". Tanya lagi Nanda dengan raut wajah datar. Dian langsung spontan memegang bibir bawah nya.


"Eh enggak kok kak". Ucap Dian dengan serius dan bingung mengapa Nanda bertanya seperti itu.


"Bercanda kok hahaha, Lagian gua nanya dari tadi, Lu jawab nya singkat mulu, Jadi gua kira lu lagi sariawan hehe". Nanda tertawa kecil melihat raut wajah Dian yang menganggap serius candaan nya.


"Maaf kak, Soalnya aku baru kenal kakak, Jadi aku canggung aja". Dian tersenyum canggung sambil memegang handphone nya dengan erat.


"Ya ilah santai aja kali, Gua gak segalak Irfan jadi lu gak usah canggung atau takut". Ucap Nanda sambil tersenyum kepada Dian.


Nanda melihat di rambut dian ada seekor ulat kecil yang jatuh dari pohon. Nanda terus saja menatap ulat yang sedang bergerak-gerak itu. Dian bingung mengapa Nanda terus saja menatap ke arah kepalanya.


"Kakak lagi liat apa?". Tanya Dian yang penasaran dengan Nanda yang masih fokus melihat ke arah kepalanya.


"Itu...di rambut lu ada ulat jatuh". Ucap Nanda dengan raut wajah geli yang melihat ulat itu. Dian yang mendengar ucapan Nanda langsung panik dan berteriak.


"Hah!!! Kak ambilin dong, Aku takut sama ulat". Teriak Dian sambil mendekati Nanda yang ada di hadapan nya, Namun bukan nya mengambil kesempatan Nanda justru menghindari Dian karena geli kepada ulat.


"Gua juga geli...". Ucap Nanda yang terus saja menghindari Dian yang terus mendekati nya.


"ih....kakak tolong dong, huaaa...aku takut". Teriak Dian dan berusaha memeperkan ulat itu ke arah Nanda yang masih menghindari nya.


"Oke gua tolongin, Tapi lu dulu di situ, Biar gua cari benda buat ngambil tuh ulat". Nanda berhenti menghindar dari Dian begitu pun dengan Dian yang sudah berdiri diam menunggu Nanda.


"Lu jangan gerak yaa". Nanda memperingati Dian yang masih berdiri tegak dengan raut wajah panik.


"Iya kak, Buruan tapi, Nanti keburu ulat nya ke muka aku". Ucap Dian yang panik itu.


Nanda mengambil ulat tersebut dari rambut Dian, Mereka berdua tak sengaja saling bertukar pandang. Nanda terpesona memandang mata Dian yang sangat indah itu.


"Deg...".


Jantung Nanda seketika berdebar kencang. Dian menatap Nanda yang sedang menatap nya dengan heran. Tangan Dian melambai-lambai di depan mata Nanda yang masih menatap Dian.


"Kak ulat nya udah di ambil belom?". Tanya Dian kepada Nanda yang langsung mengalihkan pandangan nya itu.


"Eh iya nih udah kok". Jawab Nanda dengan gugup sambil melempar daun yang berisi ulat itu. Nanda jadi gugup dan tak berani memandang mata Dian.


"ih...sumpah aku takut banget sama ulat, Untung aja ada kak Nanda kalo gak ada mungkin aku udah teriak-teriak di tengah jalan". Ucap Dian denga raut wajah yang menggemaskan, Sehingga Nanda yang melihat nya jadi salah tingkah.


"Hahaha, Untung aja yaa". Tertawa canggung Nanda. Dian tak menyadari Nanda yang canggung itu.


"Makasih lagi yaa kak". Dian tersenyum dengan tulus ke Nanda yang masih menatap nya dengan canggung.


"Iya sama-sama, Boleh dong kita mampir dulu ke cafe sebelah?". Tanya Nanda dengan penuh harapan Dian akan mau pergi bersama nya ke cafe sebelah.


Dian tiba-tiba saja teringat Ikbal yang menyadari dirinya yang mengintip di gor lapangan futsal. Sejenak ia berpikir bahwa seperti nya Nanda juga tau soal itu, Secara mereka kan satu circle.


("Apa jangan-jangan kak Nanda tau soal itu, Jangan bilang dia ngajak gua ke cafe malah buat nanyain soal itu lagi? Cukup kak Ikbal aja yang bikin gua bingung dan panik".) Ucap Dian dalam hati dengan raut wajah menduga-duga, sedangkan Nanda masih tersenyum menunggu jawaban Dian.


"Kayak nya aku gak bisa deh kak". Jawab Dian dengan senyuman tak enak karena menolak ajakan Nanda. Seketika senyum di wajah Nanda pun pudar.


"Eh kenapa emang nya, Lu gak suka ke cafe, Padahal gua suka banget loh minum kopi caramel di cafe". Ucap Nanda sedikit kecewa.


"Aku juga suka minum kopi caramel di cafe loh kak, Berarti kita sama dong". Dian tercengang sambil tersenyum mengetahui kesamaan antara dirinya dan Nanda.


"Wah serius, Noh kan kita sama-sama suka minum kopi caramel di cafe, Yaudah ayok lah kapan lagi ngopi bareng gua hehe". Nanda tertawa kecil dengan candaan nya. Dian tersenyum dan mau pergi bersama Nanda, Akan tetapi ia teringat lagi dengan penolakan nya.


"Yaa pengen sih kak, Tapi maaf yaa aku gak bisa soalnya nyokap aku nungguin di rumah, Aku udah ada janji sama nyokap". Dian tersenyum canggung karena telah membohongi Nanda.


"Ya udah deh, Tapi lain kali mau yaa". Nanda tersenyum sambil menatap Dian dengan hangat.


"Iya lain kali aku mau kok, Yaudah aku duluan ya kak". Ucap Dian yang berpamitan dan pergi meninggalkan Nanda.


Nanda tersenyum melihat Dian yang sudah pergi. Akhirnya ia bisa memulai pendekatan dengan wanita yang ia sukai. Nanda bergegas menuju parkiran dan mengendarai motor nya menuju basecamp nya. Bukan rumah nya.


........🎶🎶🎶........