White Ink

White Ink
The Reveal (Part 9)



---ZERA: The Reveal ---


Zera melangkah dibagian belakang sekolah ini.


Sepi,agak dingin,dan lembab.


Itu yang ia bisa komentari soal bagian belakang sekolah, disini benar-benar dingin dengan beberapa lumut tumbuh didinding sini.


Hahh...memanglah Endra...dia anak yang lain..


Ini baru pertama kalinya ia pulang telat sejak SD mungkin...Endra adalah satu-satunya yang bisa menariknya untuk melakukan hal ini..


Apakah memang benar Endra katanya melakukan semua ini hanya untuk mencapai apa yang ia sebut sebagai 'Thrill of Chase'? Zera tak mengerti banyak hal soal itu.


Bagaikan anjing mengejar seekor kucing untuk cuma bisa berlari, bukan menangkap kucingnya itu sendiri.


Ia sendiri masih kebingungan soal itu.


Tapi ia merasakannya sebentar..


Apa yang Endra rasakan..tapi ia takkan mencapai apa skala Endra dalam hal ini.


Zera sudah melihat wajahnya tadi...waktu dia berbicara ditangga sekolah tadi..


Ia ingat teriakannya karena senang menjelaskannya kepada Zera, ia ingat teriakannya tadi karena marah dengannya.


Wajahnya seperti orang kecanduan narkoba, yang sudah sangat menginginkan obat-obatannya.


Gerakan...suaranya..ekspresinya..


Benar-benar mirip seperti orang kecanduan.


Untuk sebentar Zera mau memukulnya, disaat yang lain Zera ketakutan oleh dirinya.


Disaat yang lain lagi Zera tertarik dengan apa yang ia ucapkan.


Disisi lain ia ingin mengikuti perintahnya, merasakan semua hal pintar yang ia bilang..


"Hahh.." ,ia hanya menghela nafas.


Aneh semua perasaan itu ditumpuk oleh satu orang yang baru ia kenal beberapa bulan.


Ia melihat sekelilingnya.


Dirinya sangat dekat dengan dinding luar sekolah yang memiliki pagar berduri diatasnya.


Beberapa sisa-sisa abu dan puntung rokok pun bisa terlihat disini.


Wajar karena tempat ini sering dijadikan tempat nongkrongnya anak nakal.


Tak ada orang.


Ia sudah keliling daritadi tapi tak ada orang.


Jadi seperti kata Endra, mari ke-WC.


WC dari bagian belakang sekolah cukup dekat.


Ia dan Endra baru saja dari WC tadi, sudah bisa melihat beberapa koridor masuk kebagian belakang sekolah.


Hanya tinggal masuk koridor disini..


Dan terlihat WC yang tadi Endra dan dirinya kunjungi.


Terlihat pot dengan semak-semak tumbuh diatasnya ia lewati.


Lantai keramik ia mulai tapaki.


Ada seseorang..


Seorang perempuan, tingginya pendek..


Rambutnya yang diwarnai dengan pink yang juga dipotong pendek.


Dengan tas yang terlihat agak penuh dibelakang punggungnya.


Terlihat dia sedang menyandarkan punggungnya disebuah tiang diWC ini.


Zera tak melihatnya tadi diWC bersama Endra, pastinya dia datang baru saja tadi.


Kenapa dia kesini?


Tunggu sebelum itu, dirinya harus cari siapa dia.


Itu apa yang Endra bilang kepadanya..


Anak perempuan dari kelas lain...Zera tak mengenalnya..


Siapa?


Perempuan tersebut hanya menoleh kedirinya dengan tatapan sebentar dan kembali kehandphone-nya.


Masalahnya adalah siapa? Zera tak ingat namanya.


'Kau coba pergi ke-WC atau lorong belakang, coba cari kalau ada seseorang yang menunggu disitu, kalau kau kenal maka bilang kepadaku siapa itu'


Suara Endra meringing dikepalanya.


Ia butuh profil perempuan ini, itu cuma tugasnya.


"Oi" ,panggil Zera kepada perempuan itu.


Dan dia akan melakukannya dengan baik..


Itu apa yang Endra perintahkan padanya sejak awal..


"Aku dikirim Eni kesini" ,ucap Zera.


Kemungkinan besar kasus ini adalah transaksi...dan Eni memiliki hubungan dengannya..


Jadi dia harus bisa berakting bagaikan orang yang ikut dalam transaksi ini.


Sialanlah harusnya ia bertanya lebih kepada Endra, agar mengetahui setidaknya sedikit lebih banyak petunjuk.


'Menurutmu berapa orang yang ikut dalam urusan ini? 2? 3?'


Suara Endra kembali meringing dikepalanya.


Perempuan itu terlihat mengangkat pandangan wajahnya dari handphone-nya, "hah? A-apa?"


Apakah ia salah? Apakah dirinya hanya menunggu seseorang? Dan tak ada urusannya dengan kasus dompet ini?


Rasa takut akan salah mulai tumbuh dari tangannya...


Apakah ia salah?


"Mana kalau begitu Eni?" ,bertanya perempuan tersebut yang langsung mengangkat punggungnya dari tiang.


Ia benar!


Teriakan besar dihatinya meledak, ia cukup senang tebakannya benar.


Zera hanya menelan ludah dengan tersenyum.


"S-siapa namamu? Aku orang baru yang masuk dalam urusan rahasia ini" ,ucap Zera yang hanya mengerutkan dahinya.


"Oh iyakah?" ,tersenyum Annisa melihat Zera, "aku Annisa kelas 10 MIPA 6, namamu?" ,ucap Annisa dengan gugup.


Annisa, Kelas 10 MIPA bagian 6.


Dia sekelas dengan Eni.


Masuk akal untuk memasukkan temen sekelasmu, Zera hanya perlu menggali beberapa informasi lagi.


"Aku Zera, aku belum tahu apa-apa soal ini, jadi boleh aku tanya sesuatu yang aku belum pahami?" ,ucap Zera yang makin mendekat kearah Annisa.


"Kau belum paham tahu..apapun..?" ,ucap Annisa yang heran.


"Tenang saja, aku ikut dalam urusan rahasia ini, a-aku hanya diajak Eni, tapi dia tak sempat bicarakan semuanya" ,ucap Zera dengan tangannya yang ia bisa rasa bergetar, "d-dia karena harus masuk kelasnya, dia bilang aku harus bertanya kepada dirimu"


"Ohh...dasar kau Eni.." ,ucap Annisa yang memperhatikan tubuh Zera sambil tersenyum sedikit merenung, "apa yang kau mau tanyakan?"


Apa pertanyaan yang bagus ia tanyakan?


"Kenapa dompetnya Eni harus ditaruh didepan ruang guru?" ,bertanya Zera.


Astaga kenapa dia bertanya hal itu? Apa yang ia pikirkan?


Ia harus bertanya transaksi soal apa ini, dan siapa saja yang ikut dalam hal ini, atau apakah ini semua sudah selesai.


Tangannya makin bergetar.


Annisa hanya makin kebingungan, "eh? Apa? Ditaruh? Bukannya itu dilempar ke R? R bilang aku diperintah untuk ditaruh disitu.."


" 'R' ?" ,kebingungan juga Zera.


"Rexaina, nama salah satu orang yang ikut dalam rencana ini, astaga kau bahkan tak tahu sandi kami ya?" ,bertanya Annisa.


Perempuan pendiam dengan rambut panjangnya menutupi banyak bagian wajahnya.


Anak perempuan yang duduk disamping Endra.


Dia ikut juga? Zera pikir dia bukan tipe orang yang bisa bersosialisasi..


Sejauh ini, ia hanya bicara dengan Endra selama masuk kelas 2 bulan ini..


"Tenang saja aku ambil dompetnya terus kuberikan pada Eni" ,ucap Zera yang tersenyum pahit, "Eni yang memerintahkanku"


"Iyakah? Baguslah.." ,ucap Annisa yang terdengar lega.


"Rexaina...benarkah dia ikut juga?" ,heran Zera.


"Iya, dia yang manggil orang-orang profesional buat sabotase, meskipun cuma karena dipaksa doang sih alasan kenapa dia ikut" ,ucap Annisa.


Dipaksa kah...itu masuk akal kalau begitu kalau Rexaina ikut..


Tapi orang-orang profesional buat sabotase? Ia masih tak bisa mencerna semuanya. Apa maksudnya ini?


Transaksi macam apa ini?


Zera memutuskan untuk pura-pura mengerti.


Dia harus terus mengeruk..


"Ohh...j-jadi kita transaksi apa?" ,bertanya Zera.


Ia harus bisa untuk tak terbata-bata..


"Transaksi? Kau serius tak tahu apa-apa?" ,bertanya Annisa dengan senyuman menghina merasa kalau dia diatas Zera.


"Ehe? Aku cuma ikut disini, karena aku mau uang dan Eni nerima aku" ,ucap Zera yang ikut tersenyum sambil mengambil handphone-nya secara perlahan dikantung celananya.


Ia perlu kontak Endra untuk datang kesini.


"Ya sudah, nih" ,ucap Annisa sambil melepas tasnya dari punggungnya.


Suara tas jatuh dilantai keramik didepan WC ini terdengar.


Kemudian Annisa menunduk dan berlutut kemudian menarik resleting tasnya.


"Ini rencana kami.." ,ucapnya dengan isi tasnya terlihat.


Zera hanya menelan ludahnya, keringat mulai turun dari wajahnya..


Apa-apaan semua ini..


Terlihat ratusan foto,chip,dan kamera, beberapa alat rekaman berwarna hitam dengan headset juga didalam tas tersebut.


Yang paling memenuhi isi tas tersebut yang membuat Zera heran adalah ratusan foto.


Ketika Zera mendekatinya, Zera hanya menelan ludahnya sekali lagi.


Terlihat ratusan foto berisi ratusan pria dan wanita juga anak kecil yang mengonsumsi narkoba,teIanjang,menari dengan bagian tubuh privasi mereka terlihat.


Terlihat beberapa dari mereka difoto ditempat gelap ditempat kumuh atau sebuah kamar.


Yang lain beberapa disemacam tempat yang memiliki ratusan cahaya berwarna-warni, Zera tahu itu diambil dari semacam klub.


"A-pa-apaan ini semua?" ,ucap Zera yang rasanya hampir mau muntah melihat itu semua.


"Ini? Ini adalah kunci untuk melaksanakan rencana kita" ,ucap Annisa yang melihat Zera dari bawah dengan berlutut.


"Rencana...apa..?" ,bertanya Zera dengan lambat karena gugup.


"Rencana kita untuk menguasai satu sekolah ini, rahasia gelap dari 40 orang paling berpengaruh dari kelas 11 dan 12 juga 10, puluhan preman kelas dan perempuan populer" ,ucap Annisa dengan senyuman sambil menatap Zera.


Anehnya senyuman bukan senyuman jahat atau senyuman yang mengerikan yang ia lihat difilm-film atau anime ataupun novel.


Itu cuma senyuman biasa dari orang biasa.


Senyuman polisi yang menangkap pencuri, senyuman seorang karyawan mendapat gajinya..


Senyuman senang...


"Kau masih kebingungan? Apa tebakanmu terhadap dompet Eni itu?" ,bertanya Annisa dengan senyuman dan mata yang menyipit.


"Kalian...memalsukan kasus dompet yang hilang..untuk transaksi..untuk sebuah barang didompet Eni?" ,gugup Zera mencoba menebak-menebak.


"Oh kau pintar" ,ucap Annisa yang mengerutkan dahinya, "kau benar, kau mau tahu apa yang kita lakukan dengan dompet itu? Itu uang gajiku"


Terlihat 2 kartu rekening bank dan beberapa kertas merah terlihat diisinya.


"4 juta rupiah" ,ucap Annisa yang hanya menyengir, "Eni memang sehebat kakaknya, dia rencanakan semua ini dalam 1 bulan dan selesaikannya dalam 2 minggu"


Ini rencana berbahaya.


Ini bukan skala anak sekolah...


Dengan memegang banyak rahasia seperti itu, maka Eni akan bisa memanipulasi puluhan kelas untuk mengikuti perintahnya..


Hanya dengan ancaman mengeluarkan semua rahasia gelap 40 orang itu, Eni akan menguasai setidaknya separuh sekolah..


Terutama dengan beberapa preman dan perempuan populer ditangannya, ia bisa memimpin sekolah ini dari bayang-bayang.


"Siapa yang memungut foto ini? D-darimana kalian dapat uang sebanyak ini?" ,bertanya Zera makin dalam.


"Diamlah, anak baru, kau tak siap apa-apa nampaknya hah? Kenapa Eni nerima kau?" ,ucap Annisa yang mengangkat tasnya.


Annisa hanya menganggap dirinya sebagai anak baru yang masuk kedalam rencana ini, Zera tahu itu sejak awal.


Annisa tak menganggapnya sebagai ancaman karena dirinya tak kelihatan seperti menyamar, melainkan cuma perempuan random yang jalan kedalam urusan yang ia tak bisa urusi.


"Aku mengenal banyak anak kelas 10 dan membantu guru mengisi file beberapa dokumen mereka" ,ucap Zera, "aku dipercaya guru dan beberapa murid populer lainnya, aku yakin itu kenapa"


"Hm" ,tersenyum Annisa, "memanglah Eni, dia memang pintar, dia tahu kita butuh koneksi dikalangan guru untuk melanjutkan rencana kita"


Annisa hanya sedikit tersenyum sedih dan menutup resleting tasnya.


Kemudian Annisa berdiri.


"Sayang tak banyak orang yang sadar dia sepintar itu, kakaknya terlalu banyak berdiri didepannya mengganggu semua orang untuk melihat cahayanya" ,ucap Annisa yang menyengir.


Zera hanya mendengarkan apa yang ia bilang.


Eni kah? Pasti berat hidup dibelakang bayang-bayang kakak begitu..


Ia tak kenal banyak hal soal Eni.


Tapi ia lumayan banyak tahu soal kakaknya, Ketua OSIS yang katanya menakutkan dan sibuk, sangat jarang masuk sekolah karena kesibukannya sendiri.


Sibuk karena bekerja sebagai asisten pengacara, Zera dengar.


"Eni akan lebih kuat dari kakaknya setelah ini, dia akan tetap berada dibelakang kakaknya tapi tentakelnya yang akan menguasai sekolah ini tidak" ,ucap Annisa yang hanya terlihat merenung, "dia akan kuasai sekolah ini dari bayang-bayang.."


Apakah Annisa mengaguminya? Atau mengasihinya? Atau ada sesuatu yang lebih dari itu?


Annisa terlihat memiliki rasa simpati kepada Eni.


"Jadi? Setelah ini kau mau apa? Jangan coba-coba ngadu soal ini, kami bisa cari semua rahasiamu dalam sehari" ,ucap Annisa yang tersenyum menghina secara iseng.


Senyuman hinaannya lebih terasa seperti seorang kakak kepada adiknya.


Bukan semacam ancaman.


Entah kenapa ini semuanya hanya membuat Zera kebingungan, ia tak bisa mencerna semuanya.


Ia melupakan untuk mengirim pesan kepada Endra, dan malah menoleh kepada Annisa.


Rencana ini berbahaya,buruk,dan melanggar hukum, tapi entah kenapa Zera tak merasakan banyak perasaan negatif.


Ini cuma rencana.


Itu saja.


Tak ada manusia lunatik,jahat,atau semacamnya.


Ia perlu istirahat, ia sadar itu, lebih baik ia buka mulut sekarang, "aku palingan pulang dulu, baru kalau ada rencana aku kontak-


*WWHHHHHEEEOOOOOOOUUUUUUU*


*WHEEEEOOOOUUUUUUUU*


*WHEEEEOOOOUUU*


Suara keras tersebut membuat Annisa dan Zera terkejut, mereka berdua hanya memandang sekeliling mereka mendengar suara tersebut.


Sirine? Sirine ambulans?


Apa yang terjadi?


Apa ini?