
"Tak ada yang lebih keren daripada seorang Naga yang bangun secara epic dari tidur panjangnya"
- Jamal Hamarudin
Di-episode 9, season 2, Golden Truck 2050
----ENDRA: Did I Go Back To This? ----
Endra menulis jawabannya dikertas ulangan hariannya dengan cahaya sore langit menerangi kertasnya.
Ia tak belajar pelajaran ekonomi semalam tapi ia mengingat semua yang ia bisa hari ini.
Setelah ia perkirakan setidaknya ia bisa mencapai nilai rata-rata.
Lagipula, itu sangat mudah mengingat undang-undang lama soal ekonomi Indonesia yang ditahun 2000-an.
Ditahun 2000-an semuanya agak simple, terlalu simple malah.
Tak seperti ditahun 2050-an sekarang, dimana semua provinsi dan kota bahkan kecamatan punya kendali terhadap undang-undang.
NKRI...Negara Kesatuan Republik Indonesia..itu bagus didengarnya kalau ditahun 2020-an..
Tapi sekarang lebih tepatnya Negara Konfederasi Republik Indonesia
"Tanggal berapa sekarang?" ,bertanya Endra kearah teman perempuan disamping mejanya.
Semua orang didepan terlalu sibuk mengerjakan ulangan ini, ia tak bisa menanyakan mereka, atau dirinya palingan dianggap pengganggu.
Endra tahu kalau dikelas tak banyak yang belajar tadi malam untuk ulangan ini.
Lagipula ini kelas paling buruk disekolah ini.
Kelas ini merupakan kelas yang dipenuhi murid-murid yang memiliki nilai tak sesuai kurikulum.
Atau murid-murid yang tak punya banyak nilai diterima untuk masuk kelas lain.
Bagi Endra banyak murid yang memiliki banyak potensi disini, terutama perempuan.
Ada beberapa laki-laki yang begitu juga, tapi ia tak bisa lihat banyak.
Teman perempuan disampingnya sendiri terlihat sudah selesai karena terdiam dan merenung daritadi.
"Oi kau, tanggal berapa ini?" ,bertanya Endra kepada perempuan disampingnya.
Siapa namanya? Endra tak ingat.
Tubuh perempuan itu yang tinggi kurus dan wajah putih mulusnya yang dipenuhi rambutnya yang berantakan.
Benar-benar penampilan khas dimata Endra.
Tapi tidak dengan nama.
Nama kadang khas, tapi nama sama saja dengan kata.
'Konstitusi' nama khas untuk sebuah hal bukankah begitu? Tapi kadang Endra lupa itu Konstatitusi atau Kanstatusi.
Kita manusia tak berevolusi cukup jauh untuk membuat otak kita mengingat cara komunikasi khas milik kita, yaitu bahasa.
Kita cuma bisa mengingat penampilan, karena kita dievolusi untuk mengingat predator kita.
Bukan kata.
Itu adalah teori miliknya sendiri, kenapa kita mudah mengingat penampilan bukan nama.
Hasil dari kegabutannya selama diKota yang baru ia tinggali disini.
"E-eh 28 Oktober..Endra.." ,ucap perempuan disampingnya dengan gugup.
Suaranya kecil, cukup kecil hingga hanya dirinya bisa mendengarnya.
Tipe cewe pemalu, biasanya pria akan menyukai tipe seperti itu.
Tunggu sebentar lagi ia akan menjadi perempuan yang dinaksiri semua pria dikelas ini.
Tapi hambatannya palingan karena ia tak pernah bicara dengan siapapun, dan hanya membalas sedikit kata jika ditanya atau disapa.
Tak ada yang bisa mendekatinya.
Ini palingan kali pertamanya diminggu ini perempuan ini bicara dengan seseorang.
Endra palingan tak bisa membuat dialog dengannya.
Atau meminta namanya.
"28...Oktober..2057.." ,gumam Endra sambil menulis dikertas ulangannya.
Dah selesai.
Tak ada lagi pelajaran kelas setelah ini, tak ada Matematika,PKN,atau Geografi.
Sisanya cuma tinggal ia menunggu waktu pulang.
Ia tinggal mengantar kertas ulangannya dan semua sudah selesai-
*SSSSRRRREEEKKKKKK!!NGGGGG!!*
Suara bising mikrofon sekolah terdengar, membuat semua murid dikelas ini langsung menoleh kearah Speaker kecil plastik putih bulat yang tergantung dilangit-langit.
Kebanyakan mereka langsung menaruh pena mereka, menunggu sesuatu.
*PERHATIAN KEPADA MURID SEKOLAH..*
Peringatan? Ada event? Atau sesuatu?
*BAGI SIAPAPUN YANG MENEMUKAN DOMPET KULIT COKLAT KECIL DENGAN CORAK-CORAK BENANG MERAH..*
Oalah ada yang dompetnya hilang.
Kebanyakan murid langsung tersenyum pahit, karena tahu tak ada event asik buat mereka.
*DENGAN GANTUNGAN KUNCI KERANG MERAH MUDA, TOLONG DIBAWA KE-POS PIKET*
"Siapa yang emang hilang dompetnya?" ,suara seorang murid laki-laki dikelas ini terdengar.
"Entahlah" ,jawab seseorang.
Obrolan tiba-tiba pecah diantara murid.
Guru perempuan tua dengan tubuh pendek tua yang mengawas ulangan hanya kembali bermain handphone-nya dimejanya.
Endra tak ingat nama ibu ini, dia baru pindah kesekolah ini, hanya sedikit informasi.
Mungkin dia butuh kembali minta saran Rabli soal guru.
Kelas menjadi agak lebih bersuara dan sibuk.
Beberapa murid mulai mengalihkan pandangannya dari depan menatap papan tulis, berubah kearah samping dimana teman-teman mereka berada.
Obrolan soal peringatan dari speaker mulai berubah menjadi obrolan terbuka soal jawaban ulangan.
Sedangkan Endra hanya berdiri memandang semua ini.
Ia ingin lanjut berjalan kedepan, tapi meneliti soal ini dengan pikirannya sebentar kadang bisa menjadi menarik juga-
*Ssingggtttt!*
Suara kursi bergeser bisa terdengar.
Seorang wanita dengan rambut hitam dan kulit sawo matang berdiri dikursi depan terlihat.
Tangannya terlihat memegang kertas putih ulangan.
Namanya? Kali ini Endra ingat.
Dia sudah cukup membuat reputasi dikelas ini.
Zera, anak perempuan paling rajin bisa dibilang dikelas ini.
Endra sadar kalau nampaknya Zera sudah selesai mengerjakan ulangan ini selain dirinya.
"Sudah selesai Zera?" ,bertanya Guru yang mengawas ulangan ini.
"Iya buk" ,ucap Zera dengan simple sambil menunduk.
Kertas ulangan tersebut kemudian diberi ketangan guru tersebut.
Guru yang mengawas memerhatikan kertas ulangan tersebut dengan kacamatanya.
Zera kemudian duduk kembali kemejanya.
Guru pengawas menyingkap lengan dipakaiannya kemudian melihat jam tangannya.
"Ngomong-ngomong waktu ulangannya sudah selesai" ,ucapan guru langsung membuat puluhan murid terdiam dan menoleh kearahnya.
"Aiiiiisssshhh"
"Halah-halah buk, baru aja soal abcd kami kerjakan buk"
"Tunggu sebentar buk semenit lagi!"
Puluhan murid hanya mengeluarkan suara tak puas dan tak suka.
"Antar kertas ulangannya kemeja ibuk, mau sudah selesai atau belum. Atau nilai kalian kosong" ,ucap Guru yang mengawas tersebut sambil berdiri.
>>>>>5 menit
Anjenglah.
Itu yang Endra pikirkan sambil membawa tumpukan buku dan dokumen ditangannya.
Ia diperintahkan guru tadi.
Berjalan dirinya dilorong sekolah ini yang diterangi cahaya sore.
Dengan berat sekitar 5 kg disekujur tangannya dan dadanya.
Semua yang piket hari ini dikelas ini malah lari dengan cepat kearah gerbang.
Dia tak salah bilang ini adalah kelas terburuk disekolah ini.
Pulang cepat-cepat, sedangkan Endra yang sedang merenung sesuatu malah diseret untuk melakukan tugas merepotkan ini.
"Mau bantuan?" ,bertanya Zera disampingnya yang juga membawa beberapa buku ditangannya.
Dia juga diseret, tapi bedanya dia sukarela.
Sesuatu yang dilakukan semua anak rajin.
"Iya, kalau kau mau bawa semuanya maka aku akan bahagia" ,ucap Endra membalasnya.
"Pff...bagaimana anak malas sepertimu bisa mengerjakan ulangan Ekonomi lebih baik daripada diriku? Aku lihat dirimu yang tadi berdiri lebih cepat dariku" ,ucap Zera dengan sedikit tawa keluar dari mulutnya.
Ini baru pertama kali Endra menemukannya bisa tertawa.
"Cuma lebih cepat, bukan lebih baik" ,ucap Endra.
"Tidak, aku melihat sedikit jawabanmu dikertas ditangan guru, kubilang bagus dan rinci" ,balas Zera.
"Rinci? Bukankah kau bisa menjawabnya juga dengan mudah?" ,ucap Endra yang heran mendengarnya.
"Heh, kau mungkin salah jurusan Endra, kau harusnya masuk IPA bukannya IPS, kau punya kreativitas yang bagus untuk IPA daripada pelajaran yang kadang ditekan disiplin di-IPS" ,ucap Zera.
Endra hanya mengerutkan dahi mendengarnya, ia sudah lelah mendengar argumen itu, "lagipula apa bedanya? Kau juga punya masa depan dijurusan IPS"
"Status Endra, status, pakaian kita dari jurusan IPA bahkan berbeda...kau bahkan takkan dianggap pintar jika dijurusan IPS" ,ucap Zera dengan senyuman sedih.
Mereka melewati beberapa murid yang terlihat ikut membantu guru seperti mereka, dilorong ini.
Pakaian mereka berwarna biru menandakan mereka murid kelas jurusan IPA.
Sedangkan Zera dan Endra saat ini sedang memakai pakaian kuningnya jurusan IPS.
"Lebih mudah juga ikut turnamen pendidikan dan membanggakan sekolah diluar, jika dirimu dijurusan IPA" ,ucap Zera dengan langkah kakinya terdengar.
"Iyakah? Aku tak pernah tahu itu?" ,untuk sebentar Endra merasa apa yang keluar dari mulut Zera itu benar.
"Guru ketika lihat anak IPS datang kearah ruangan kantor guru diantar dengan wali kelasnya palingan dianggap anak yang bermasalah kapanpun waktunya" ,ucap Zera dengan senyuman.
" 'Kapanpun Waktunya'? Kalau anak IPA?" ,ucap Endra dengan menaikkan sedikit tumpukan buku dilengannya hingga dekat dengan lehernya untuk mencegahnya jatuh.
"Kalau dekat dengan event perlombaan atau apa, 'Buk, anak Ibuk ini berbakatkan?' " ,ucap Zera dengan suara yang agak diubah.
"Hehahahaha" ,ucap Endra dengan tawa kecil.
Zera hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa sedikit.
Mereka kemudian mulai melihat terang lampu ruangan kantor Guru yang menerangi lorong dari pintunya yang terbuka lebar.
Ketika mereka mendekat, rasa dingin AC ruangan guru bisa terasa dikulit mereka.
Mereka masuk dengan bisa merasakan warna dinding dan lantai keramik yang berbeda.
Ada beberapa guru yang terlihat sedang sibuk sendiri, ada yang sedang mengobrol.
Ada yang sedang berkemas-kemas tas dan kunci motornya untuk pulang.
Ratusan meja guru dengan ratusan dokumen dan buku juga pena beberapa gelas kaca kopi terbentang dihadapan mereka.
"Aku dengar ditahun 2000-an, murid-murid masih memakai seragam yang sama meskipun dijurusan yang berbeda" ,ucap Endra sambil melihat beberapa guru yang terlihat sedang mengobrol.
"Hm" ,tersenyum Zera mendengarnya, "mungkin hari lama lebih baik daripada hari baru bukankah begitu Hendrawan?"
"Ngomong-ngomong dimana meja ibuk Lisa?" ,bertanya Endra sambil melihat sekelilingnya.
"Didepan kita" ,ucap Zera sambil dengan cepat berjalan kedepan.
*Tuk*
Suara puluhan buku ditumpuk yang ditaruh dimeja terdengar.
Endra hanya ikut berjalan kearah meja Ibuk Lisa dan menaruhnya.
Dan ketika ditaruhnya buku dimeja..
Perasaan berat dilepaskan dari tangannya, tapi entah kenapa sakit masih bisa terasa ditangannya.
"Hahh.." ,menghela nafas Endra.
"Jadi? Kau ada kerjaan?" ,ucap Zera sambil berjalan kearah pintu keluar ruang guru.
Endra yang berjalan mau keluar disampingnya langsung memandang Zera, "tak ada palingan aku mau pul-
"CCTV diruangan kelas Eni kelas 10 MIPA 6 mati karena konslet waktu itu?! Seriusan!?" ,suara protes seseorang bisa terdengar.
Suara tersebut membuat Endra dan Zera memandang kearah sumber suara.
Terlihat seorang murid tinggi dengan seragam merah.
Endra tahu seragam merah disekolah ini berarti OSIS.
Endra tak pernah melihat OSIS saat masuk kesekolah ini, kelasnya tak mendapat tour OSIS dihari pertama.
Kelasnya terlambat masuk karena hambatan adsministrasi.
Tapi Endra tak buta untuk melihat Madding yang memiliki ratusan hal dan informasi soal sekolah ini.
Terlihat OSIS tersebut berdiri didepan dua pria dewasa.
Yang satu terlihat memakai coklat kekuningannya PNS, Endra tebak seorang guru atau karyawan sebentar disini.
Dan yang satu memakai seragam putih dan biru dongker, Endra tahu kalau itu petugas security.
Mereka berdua hanya bisa tersenyum pahit mendengar protes OSIS tersebut.
"Astaghfirullah..." ,ucap OSIS tersebut sambil mengusap kumis tipis diwajahnya, "jadi bagaimana kita dapat dompetnya Eni?"
Zera hanya mengerutkan dahinya mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Soal pengumuman yang tadi itu ya?" ,bertanya Zera.
"Ya kelihatannya" ,ucap Endra.
Dompet bisa berisi barang penting, seperti Kartu Anak Pintar murid, foto, atau tentunya uang.
OSIS tentu saja harus mengurusi hal ini, Endra seharusnya tak ikut campur dalam hal ini.
"Aku mau pulang" ,ucap Endra sambil tersenyum pahit.
Dia sudah selesai dalam urusan seperti ini, tangannya sudah lelah..
"Kau mau pulang? Ya sudah aku mau pulang juga" ,ucap Zera, "aku palingan mau kontak abangku untuk antar"
"Ya, ya, makasih buat hari ini" ,ucap Endra sambil tersenyum pahit.
Ketika Endra berjalan menjauh dari Zera yang sedang menelepon seseorang yang mengantarnya, jantungnya berdetak kencang.
Dia takut.
Dia takut untuk kembali lagi.
Dia takut tenggelam lagi.
Perasaan kosong yang entah kenapa melegakan mengisi hatinya.
Ia sudah pernah merasakan ini bertahun-tahun yang lalu ketika selesai dari rehabilitasi narkoba.
Dan perasaan itu datang lagi.
Entah kenapa ia terbiasa dengan semua ini.
Hidupnya sudah menjadi begini sejak ia lahir, hilangnya satu semangat kearah semangat lainnya..
Kakinya berhenti..
"Asulah.." ,ucap Endra yang hanya berdiri melihat apa yang ia lihat.
Dompet coklat dengan corak benang merah diuntai terbaring dilantai dilorong ini..
Didepannya..
Didepan ruang guru.
Pantulan cahaya dari gantung kunci kerang merah muda yang dihubungkan dengan dompet itu dengan rantai besi terlentang bersamanya terlihat..
Didepan ruang guru.
Kemudian ia melihat kearah langit-langit dilorong depan ruang guru ini.
CCTV-nya mati.
Dan semua CCTV dilorong ini mati semua..
Anjenglah.
Endra hanya perlahan membungkukkan badannya.
"B-bagaimana ini bisa disini?" ,bertanya Endra sambil mengangkat dompet tersebut keatas.
Tak ada terlihat semacam kerusakan pada dompet ini.
Siapa yang membawanya kesini?
Tidak, kenapa ini bisa disini? Sialanlah, dia malah kembali lagi keurusan seperti ini.
"Endra?" ,panggil Zera dibelakangnya.
"E-eh! Iya!?" ,ucap Endra dengan kaget.
"Aku mau nanya, kau bisa jemput aku dengan motormu?" ,bertanya Zera yang terlihat masih memegang handphone miliknya ditangannya.
Zera yang menoleh kearahnya, kemudian sadar apa yang ada ditangan Endra dari tadi.
"B-bukankah itu....?" ,heran Zera melihatnya.
"Dompet yang hilang itu? Oh tuhan jangan bertanya, aku mau juga bertanya kalau aku bisa" ,ucap Endra dengan wajah mengerut menoleh kearah Zera.
Dia nampaknya harus mengurusi urusan misteri lagi yang seperti ini.