White Ink

White Ink
*Trak* (Part 6)



----ENDRA: *Trak* ----


"Balik kembali kemejamu" ,suara ibuk guru kecewa bisa terdengar.


Endra hanya bisa melihat dari jendela kelas jam tambahan ini.


Eni dengan rambut hitam kecoklatannya panjangnya ia singkapkan berdiri dari kursi didepan meja guru.


Dirinya berjalan kembali kekursinya, diantara tatapan puluhan murid dikelas.


"Itu Eni?" ,bertanya Endra dengan penasaran.


Wanita itu memiliki semacam aura pendiam yang kuat..


Ia penasaran dengan aura yang akan dimiliki kakaknya...jika adiknya saja memiliki aura semacam ini..


"Iya" ,jawab Zera.


"Aku baru tahu dia adik Ketua OSIS" ,ucap Endra sambil mengerutkan dahinya.


"Kau memang banyak ketinggalan topik Endra, dikelas 10 Ketua OSIS cukup populer loh, terutama katanya mereka menerima kita anak kelas 10" ,ucap Zera.


"Mana ada OSIS menerima kita anak baru yang baru masuk 2 bulan ini, omong kosong" ,ucap Endra yang menoleh kearah Zera.


"Faktanya memang begitu kok, seorang anak laki-laki dari MIPA diterima" ,ucap Zera.


"Namanya?" ,bertanya Endra masih tak percaya.


"Raihan Nasalatul Musajah gak salah namanya" ,jawab Zera.


"Palingan koneksi" ,ucap Endra merasa pesimis.


Dia tahu OSIS disekolah ini tidak seceroboh itu untuk memasukkan anggota baru yang tak berpengalaman apapun disekolah.


"Heh, memang kau tahu apa soal OSIS? Jadi gimana kita dengan anak ini?" ,ucap Zera.


"Well, aku dapat fakta kalau dia adik dari Ketua OSIS, mungkin kita bisa bangun sesuatu dari itu" ,ucap Endra yang hanya berjalan berbalik menjauh dari kelas Eni, "bisa jadi kalau ini ada motif lainnya"


"Ya, palingan kita nunggu dirinya keluar saat ini bukan?" ,ucap Zera.


"Iya palingan gitu, lagipula kita gak ada kerjaan..." ,Endra berhenti berjalan sebentar dan menoleh kearah lapangan.


Terlihat 3 anggota OSIS sedang berjalan, yang satu seorang perempuan dan dua lain seorang pria.


Salah satu anggota OSIS tersebut merupakan pria yang tadi dikantor, yang memprotes kepada security.


Sedangkan dua lagi ia tak kenal, anggota OSIS perempuan tersebut terlihat memiliki wajah ceria dan tubuh yang tak terlalu tinggi.


Sedangkan yang satu lagi...


"Itu Raihan Nasalatul Musajah" ,ucap Zera sambil menunjuk keanggota pria OSIS yang Endra tak kenal.


"Yang pria itu?", ucap Endra dengan heran.


"Ya" ,jawab Zera dengan cepat.


"Pantas aja diterima bangs*t, ganteng kayak gitu" ,ucap Endra yang hanya tersenyum yang menyandarkan dirinya ditiang dilorong ini.


Wajah Raihan Nasalatul Musajah terlihat lembut dan bisa dibilang hampir seperti perempuan.


Memiliki postur tubuh yang cukup bagus meskipun agak pendek.


Endra tak iri bisa dibilang.


Cuma merasa agak senang menemukan teka-teki kenapa anak kelas 10 yang baru 2 bulan masuk kesekolah seperti Raihan bisa diterima.


"Seseorang mau dekat dengannya kutebak.." ,ucap Endra dengan senyuman.


"Kau iri?" ,ucap Zera yang hanya tersenyum melihat Endra.


"Heh, aku sudah muak dengan sebuah hubungan Zera" ,ucap Endra sambil melepas punggungnya dari tiang dan berjalan menjauh dari Zera.


Zera hanya mengikutinya dengan belakang, "kenapa karena gagal?"


"Cuma muak Zera, cuma muak.." ,ucap Endra yang hanya mengambil sebuah permen dari kantungnya, "sudah kubilang cuma muak.."


Kemudian suara permen digigit hingga mengeluarkan suara *trak* terdengar..


.


.


.


.


.


.


.


____-_-_______


.


.


.


.


.


.


.


----ENI: Tidak Mengerti ----


Hahh..


Pelajaran kedepan bakal membosankan nampaknya..


Berapa menit lagi? Dia ingin pulang dan bilang pada kakaknya kalau dompetnya hilang.


Setelah itu semuanya selesai.


Rencana sudah dijalankan-


Getaran handphone diroknya bisa dirasakan.


Siapa yang mengontaknya? Kakaknya? Atau..


Terlihat pesan chat berwarna putih melayang diwallpapernya..


Dari Annisa..


Ada apa? Apakah rencana kita gagal?


Ia dengan cepat buka kunci layar handphone-nya dan masuk kedalam aplikasi chat miliknya.


Tangannya agak bergetar sedangkan jantungnya berdetak kencang.


Nafasnya agak sesak.


'Aku taruh dompetnya didepan ruang guru seperti kata perintahmu'


K-kapan aku memerintahkannya? Kapan? Kapan?


Sialanlah...bodoh...bodoh..


'Saat aku kembali dompetnya hilang'


Diambil orang lain? Tidak,tidak,tidak! Kenapa bisa begini!? Apa yang dipikirkan anak bodoh itu!?


'Kau yang ambilkan dompetnya?'


Tidak! Tidak!


Eni hanya bisa menggeretakkan giginya dengan kuat.


Dia ingin membunuh anak bodoh itu.


'Kamu datang ke-WC dan tunggu aku disitu, kita perlu bicara' ,ketik Eni dengan cepat sambil getaran tangannya mengikutinya.


Eni membawa penanya dengan cepat.


'Kenapa?' ,itu yang Annisa balas.


*Tssingggttt!*


Eni berdiri dari kursinya.


Berjalan dirinya kedepan menuju pintu keluar ruang kelas.


"Mau kemana kamu!?" ,bertanya guru.


"Wc buk" ,ucap Eni dengan wajah kesal.


"Kamu ini! Sudah gak merhatikan materi malah pergi lagi!" ,ucap guru tersebut dengan marah.


Eni hanya berjalan melewati ibuk guru, tidak memedulikannya.


Dan memilih untuk menuju dengan cepat kearah pintu.


Saat Eni menatap kearah murid-murid, ia bisa puluhan mata melihatnya.


Kali ini ia tak tahu artinya...arti dari puluhan mata tersebut..


"Kembali kamu! Kembali kamu kekursimu! Tidak percaya saya kamu mau kencing!" ,suara marah guru bersamaan suara kursinya bergeser terdengar.


Eni hanya berjalan membelakangi ibuk guru yang marah.


Eni sudah lelah dengan semua ini, dengan semua sekolah ini.


Lelah dengan perasaan selalu dibelakangi bayang-bayang kakaknya.


Lelah dengan sistem dan bagaimana orang melihatnya.


"AKU MAU DIWC! AKU MAU DIWC BUK! KENAPA TAK ADA YANG MENGERTI!?" ,ucap Eni yang akhirnya berbalik dan berteriak kencang.


Ia sudah lelah...


Ia sudah lelah..


Ia sudah istirahat tapi perasaan lelah ini selalu kembali...


Ia ingin membunuh semua orang didunia untuk mengakhiri perasaan lelah ini..


Dan ia akan mengakhiri perasaan lelah dan bosan ini dengan urusan dompet ini..


Dia tidak akan membiarkan satu perempuan bodoh untuk upaya pengakhirannya ini..


Ataupun satu guru...ataupun satu sekolah-


"Ah" ,ucapnya.


Saat ia sadar, ia mulai melihat semua orang diruangan kelas sudah menatapnya.


Semua orang dikelas hanya terdiam sambil menatapnya.


Guru hanya menatapnya dengan wajah yang merasa tak percaya, bahkan Eni merasa sebuah pena dimeja pun hanya menatapnya.


Puluhan anak murid hanya menatapnya dengan tatapan penasaran mendengar teriakannya tadi.


Apa yang kalian lihat?


Apa yang aku lakukan?


Entah kenapa perasaan lelah ini malah bertambah...


Dia ingin keluar dari perasaan bosan dan lelah ini..


Tapi hal ini malah membuatnya makin terjebak didalamnya..


"Kamu ini ya-


Ucapan guru terpotong dengan Eni hanya melangkah keluar dan berlari.


Langkah kakinya terasa berat ia ingin berlari kencang.


Dia masih tak mengerti? Dia harusnya melepas semuanya...


Dia harusnya merasa bebas..


Apa yang ia lakukan? Apa yang telah ia buat dengan dirinya?