
.
.
.
.
.
.
.
.
>>>>>>>>>> 40 menit
.
.
.
.
.
.
.
.
.
---ENI: Fear ---
Eni duduk disebuah kursi ditengah-tengah ruangan ini dengan belasan guru dan security mengelilinginya.
Kakinya sedang bersandar dibesi panjang dibawah meja dengan kerasnya ia rasakan dibalik sepatunya.
Sinar lampu sedang meneranginya diatas kepalanya dengan pandangan guru lain yang mengelilinginya menjadi agak gelap.
Nafas mereka juga aura manusia mengelilinginya bisa terasa, dengan beberapa guru perempuan sedang berdiri memandangnya disudut ruangan.
"Jadi ada apa dengan Annisa?",bertanya seorang guru pria kepadanya.
Ia tak ingat guru itu.. wajahnya tua dengan janggut memenuhi wajahnya dan tubuhnya yang agak gendut..
Toh, ia tak pernah banyak peduli pada guru-guru.. ia cuma ingat dia sebagai salah seorang guru yang mengajar geografi..
Ini sudah guru yang ke-4 yang menanyainya hal itu diruangan ini..
*BUK!*
Pukulan seorang Security yang lebih kurus dijatuhkan keatas meja.
"Oi jawab! Jawab! Kenapa gak jawab terus?!" ,ucap Security tersebut dengan suara marah.
Tangan security tersebut yang menghantam meja terlihat berotot dan berurat meskipun tubuhnya yang bisa dilihat jangkung dan kurus.
Eni hanya terdiam, dia harus bertahan...apa yang ia bisa jawab? Apa ia bisa berbohong?
Apa ia bisa menipu mereka semua? Apa ia bisa mengatakan kalau semuanya baik-baik saja? Setelah ia mengatakan 'pelacur' kepada Annisa, setelah ia menusuk anak tampan bernama Raihan itu?
Apa ia bisa berbohong dan selamat?
Apa ada kebohongan yang bisa menyelamatkannya selamanya disini?
Ia lihat tangannya yang dipenuhi darah begitu juga pakaian sekolahnya yang dipenuhi dengan warna merah yang sama..
Jika ia bisa melihat cermin.. kemungkinan wajahnya dipenuhi warna yang sama..
Ksatria memang dia, Raihan.
Melindungi temannya Elis, perempuan tipe semangat narsis seperti dirinya yang selalu Eni benci.
Membawa dunia ini cerah tanpa memikirkan orang yang tak pernah memikirkan dunia ini cerah.
Tersenyum dan tertawa, juga bercanda tanpa memikirkan apapun disekelilingnya.
Ia pikir lagi Raihan..
Dan ia ingin tertawa memikirkannya..
Buat Eni.. Raihan sama saja, ia tak peduli baik ia tampan atau ksatria..
Tak ada ksatria yang membantunya keluar dari terjebak dirantai yang dibuat kompetensi dan kehebatan saudaranya ini..
Yang ada adalah setengah dunia datang menjatuhkannya..
Dan setengah lagi menghiraukannya..
Ia melakukannya semua benar..
Dan dunia datang menjatuhkannya..
"Eni? Kenapa senyum-senyum?" ,ucap seorang guru wanita keluar dari bayangan pria yang mengelilinginya.
Eni hanya menaruh telapak tangannya dibawah meja, mengatur wajahnya agak tak tersenyum.
Eni hanya menatapnya dengan tatapan suram dan tajam juga tingkah laku yang terdiam sama seperti yang tadi.
"Nilai kamu bagus loh" ,ucap guru wanita itu sambil tersenyum pahit memandangnya, "ibu terkejut dengan kamu saat pertama kamu masuk, dan masih terkejut sekarang"
Guru walikelasnya? Ia tak ingat..
Ia tak ingat lagi banyak hal saat ini..
Yang ia ingat adalah bagaimana ia melakukan semua rencananya benar dan semuanya jatuh..
Tangan guru perempuan tersebut yang dipenuhi gelang emas dan cincin nikah ditaruh dimeja Eni.
"Ibuk gak mau kelas ibuk hilang salah satu murid berbakatnya" ,ucap ibu guru perempuan tersebut sambil memandangnya dengan tatapan kosong, "kamu tahu apa yang kamu lakukan?"
Eni hanya memandangnya kali ini dan menghiraukan yang lainnya..
Kali ini ia benar-benar memandangnya..
Ia tahu apa yang guru perempuan itu akan katakan..
'percobaan pembunuhan'
"Percobaan pembunuhan" ,ucap ibu guru tersebut dengan suara singkat dan tegas ala seorang wanita, "kamu tak takut hukuman penjara?"
Eni hanya memandangnya dengan tatapan yang benar-benar suram miliknya kali ini..
Ia ingin mengatakan kalau 'ia tak takut'.. tapi entah kenapa ia tak bisa.. ia tak mau berbohong dihadapannya..
Ia ketakutan memikirkannya..
Ia ketakutan dengan penjara.
Dan anehnya itu menghilangkan segala perasaan sedih dan menyesal yang tersisa dari menusuk Raihan..
Apakah ini yang membuat seseorang merasa ketakutan setelah membunuh?
Rasa takut kalau ia akan dipenjara?
Apakah rasa takut untuk penjara yang membuat seseorang menangis setelah membunuh?
"Kamu bisa 5 tahun dipenjara Eni, dan kamu takkan bisa ikut sekolah lagi" ,ucap guru perempuan tersebut sambil berdiri lebih tegap dan melepaskan tangannya dari meja Eni.
Kemudian guru perempuan tersebut memandang Eni dengan tatapan kosong yang seakan-akan ingin menolongnya.
"Sekarang kamu katakan apa masalahmu dengan Annisa, mungkin saya dan sekolah bisa membantu kamu" ,suara guru perempuan itu yang penuh kata sopan tapi nada tegas hanya membuat Eni ingin memukulnya lebih jauh.
Eni ingin memukulnya.. ia ingin berkelahi dengan semua orang diruangan ini dan menang..
Ia bisa bayangkan menusuk 2 mata orang disini.. kemudian menggigit leher satu orang disini..
Tapi ia sadar kalau ia hanya dengan mudah ditekan didinding dengan tenaga salah satu orang disini.
"Kenapa tak sejak lama membantu saya?" ,bertanya Eni sekaligus menjawab ucapannya.
Ia pakai kata sopan 'saya' untuk membalasnya, ia menujukannya HANYA kepada guru perempuan itu.
Ia hanya ingin menjawab ucapannya..
Sedangkan untuk semua orang disekitarnya..
Ia punya satu pertanyaan sekaligus jawabannya kepada mereka semua..
Tatapannya berubah lebih tajam dan aura suram sekaligus pendiam menghilang, dan dengan cepat berubah menjadi aura pemberontak dihadapan mereka semua..
Guru perempuan itu hanya tertawa kecil kemudian mundur..
Sedangkan orang-orang yang mengelilinginya hanya terdiam dan berdiri tanpa mengatakan apa-apa..
"Dahlah, panggil temannya Annisa itu" ,suara guru perempuan yang tadi terdengar dengan sebuah senyuman bisa terasa dari suaranya.
"Berdiri kam-
*Strenggggttttttt*
Eni berdiri dari mejanya memotong suara perintah seorang security disampingnya..
Ia keluarkan kakinya dari kaki besi meja, dan ia pandang semua guru disini dengan tatapan tajam pemberontak..
Eni bisa melihat wajah mereka semua yang hanya terdiam, kelihatannya mereka tak peduli apa yang ia katakan..
Mereka hanya peduli dengan penjelasan soal kejadian ini yang bisa keluar dari mulutnya..
Dan tak peduli berdebat dengannya..
Eni berjalan perlahan dengan langkah kakinya menggema diruangan ini dan ia keluar dari lampu cahaya yang menyinarinya diatas daritadi..
Ia keluar dan merasakan semua tatapan diruangan ini diarahkan kepadanya..
Seorang polisi terlihat berjalan menjauh dari sudut ruangan ini.. kemudian berjalan kearahnya..
Baru setelah itu memegang bahunya menuntunnya..
Tanpa mengatakan apa-apa..
"Kita tak nanyakan dia isi soal tas itu?"
"Dia dengar penjara aja gak takut"
"Tas ini punya Annisa bukan punya dia, kita tanya Annisa aja nanti"
Dan keramaian naik ketika ia keluar dari ruangan ini..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
____-_-_______
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
---ZERA: Saviour and Devil Standing at each other ---
Endra sedang duduk menyandar dinding agak dekat dari ruang kantor bersama Zera disampingnya.
Mereka melihat 2 orang polisi menandatangani dan mengatur guru juga security.
Sedangkan guru dan security lainnya sedang berbicara,mengobrol,dan berdiskusi soal apa yang mereka lakukan selanjutnya.
Zera sendiri tak bisa mendengar apa yang dibicarakan semua orang saat ini, ia sendiri rasanya mau pulang..
Tapi ada semacam tarikan yang membuatnya semakin mau tahu..
Yang lebih kuat dari rasa dihatinya yang mau pulang dan istirahat setelah kelelahan menangani semua ini..
Ia taruh tangannya dilututnya..
"Kenapa Eni menusuk Raihan...?" ,bertanya Annnisa dengan suara lemas.
Endra hanya tersenyum sambil terdiam mendengar suaranya, ia tak memberikan jawaban.
"Kita takkan tahu.." ,ucap Endra sambil memandang pintu ruangan dimana Eni diinterogasi, "sampai kita mencarinya sendiri.."
Tatapan Endra terhadap pintu ruangan Eni diinterogasi tajam sekaligus dipenuhi semacam aura rasa tertarik..
Eni sudah menceritakan semuanya pada Endra dilapangan..
Rencana Eni, puluhan rahasia, puluhan siswa dalam ancaman, satu sekolah bisa berada dikontrolnya, dan bagaimana kemungkinan Eni bisa lebih kuat dari orang manapun disekolah..
"Wanita memang selalu punya sisi kuatnya tersendiri.." ,ucap Endra dengan senyuman membentuk diwajahnya.
"Kau tertarik dengannya?" ,bertanya Zera dengan kerutan dahi.
"Setelah mendengar rencananya? Pria mana yang tidak?" ,ucap Endra dengan tawa kecil mengikutinya.
Zera hanya memandang Endra dengan kerutan dahi.. ia bisa merasakan dingin malam mulai mengelilinginya.. 2 murid yang tak pulang-pulang juga..
Alasan apa yang ia bisa katakan kepada orang tuanya?
Ia hanya tertawa kecil mengingat semua hal yang terjadi hari ini dan tertawa lagi memikirkan semua hal yang akan terjadi nantinya..
Eni seorang anak sekolah SMA ambisius yang punya rencana menguasai sekolah ini..
Dan Annisa.. wanita yang punya simpati kepada Eni dan bekerja keras dengannya..
Mereka berdua bekerja keras pastinya melacak rahasia itu..
2 murid SMA tidak semudah itu menyelinap dan merencanakan penggunaan semua rahasia itu..
Apa yang akan terjadi setelah semua ini terjadi?
Eni takkan selamat tentu saja, dengan apa yang ia lakukan pada Raihan, sekolah akan bertindak padanya..
Annisa? Apa yang ia lakukan akan dikenai hukum stalking..
Zera akan dikenai marah dengan orang tuanya, handphone-nya kemungkinan akan disita lagi..
Endra ia tak tahu, apakah dia akan melakukan hal semacam ini lagi setelah kasus ini? Dia tinggal bersama siapa dirumahnya?
Dan Eni..
Setelah mendengarkan kata Annisa tentang bagaimana Eni selalu hidup dibayang-bayang kehebatan kakaknya, ada semacam perasaan..
Ada semacam perasaan tanggung jawab yang tumbuh dihati Zera.. setelah ia menginvestigasi mereka.. setelah ia kemungkinan mengacaukan rencana mereka..
Tapi jika Endra dan Zera tak pernah hidup didunia ini.. apakah rencana Eni akan tetap berjalan?
Tapi tetap saja perasaan semacam simpati tetap mengembang dihatinya..
"Oi Endra kau pintar kan?" ,bertanya Zera sambil memandang Endra dengan tatapan tajam.
Endra hanya menoleh kearahnya dengan kerutan dahi..
"Kau mau apa?" ,bertanya Endra.
"Apa kau tahu cara agar Eni dan Annisa bisa selamat setelah ini?" ,bertanya Zera.
"Selamat setelah ini? " ,ucap Endra dengan tatapan ia sipitkan, "apa yang mau kau lakukan?"
"Reputasinya atau apa yang akan terjadi setelah semua ini, dan aku ingin menyelamatkan semuanya" ,ucap Zera dengan tatapan yakin.
Eni hanya terlihat merenung sebentar dengan diam, baru setelah itu ia memandang polisi..
Zera hanya ikut memandang polisi bersama dirinya yang berdiri dilorong ini dan mencatat semuanya satu persatu..
"apa yang kau pikirkan polisi lakukan ketika mereka mendengar seorang anak murid SMA hampir membunuh seorang anak murid SMA yang lain?" ,tertawa kecil Endra setelah mengatakan itu.
Endra kemudian memandang Zera dengan wajah yang seakan-akan menertawakannya.
"Eni takkan punya kesempatan, setelah ia hampir membunuh seorang murid setidaknya dia bisa kena 5 tahun penjara" ,ucapnya.
Zera bagaikan ditampar oleh fakta itu.. bahkan jika Endra menamparnya sekarang.. maka fakta itu akan menampar lebih kuat..
Ide dikepalanya adalah ide bodoh, kebaikannya hanyalah kebodohan.. kata-kata itu memutar kepalanya..
Endra hanya menyandarkan punggungnya lebih dalam didinding..
"Lagipula jika ia lolos dari hukuman penjara, maka kau pikir sekolah akan menerimanya? Orang-orang disekolah ini dari murid,guru,dan security akan melihatnya dengan tatapan melihat pembunuh" ,ucap Endra, " 'Eni, perempuan gila yang menusuk Raihan' "
Zera hanya menelan ludahnya..
Ia bayangkan hukuman 5 tahun penjara.. untuk seorang murid.. untuk seorang wanita remaja kecil seperti itu..
Ia tak bisa bayangkan rasa gelapnya tinggal dibalik jeruji selama 5 tahun.. tanpa tahu apa yang dibaliknya lagi selama 5 tahun..
Dan jika ia lolos..
Maka semua orang akan membencinya dan rumor busuk mengelilinginya selama 3 tahun sekolahnya..
Neraka dunia berada didua rutenya..
*Tuk*
Suara langkah kaki Endra terdengar menggema diruangan ini..
Terlihat ia berdiri tegap dengan kepalanya yang terlihat hanya menoleh kearah pintu ruangan Eni diinterogasi..
Ia hanya menatapnya dengan kerutan dahi dan mata yang menyipit..
"Tak ada yang kita bisa lakukan Eni" ,ucap Endra sambil membalikkan tubuhnya berlawanan dari ruangan Eni diinterogasi.
"Ada! pasti ada!" ,teriak Zera dengan nada putus asa.
Suara teriak putus asanya terdengar kencang.
Tapi tak cukup terdengar kencang diseluruh lorong ini..
Tapi cukup untuk membuat Endra untuk berhenti tak menghiraukannya..
"Memang apa yang kau bisa lakukan? Apa yang kita bisa lakukan?" ,ucap Endra memandangnya dengan tatapan dingin untuk sebentar bagaikan tatapan seseorang yang tak peduli dengan siapapun didunia, "kita anak SMA, kita 2 anak SMA melawan hukum? Apa yang memang kita bisa lakukan?"
Zera hanya memasang wajah pahit mendengarnya, kemudian ia mengangkat kepalanya mendongak untuk melihat Endra..
"Dan kau? Apa yang kau mau lakukan?" ,bertanya Zera kepada Endra.
Semacam diam panjang mengikuti.. tapi perlahan Endra membentuk gerakan wajah..
"Kau mau tahu kenapa Eni menusuk Raihan?" ,ucap Endra dengan senyuman kecil terbentuk diwajah dingin menakutkannya.