
----ENDRA: Hambatan ----
Matahari terlihat tenggelam dengan warna jingga menari bersamanya dilangit.
Awan terlihat masih memasang warna abu-abunya meskipun jingga mulai menaruh tangannya disekitar mereka.
Atap sekolah terlihat agak terang sekaligus agak gelap.
"Sekolah sepi seperti ini...hahh...selalu punya sensasi yang unik.." ,ucap Endra yang tersenyum sambil mengunyah permennya.
"Iya, aku setuju...ngomong-ngomong kita bakal disini sampai maghrib?" ,bertanya Zera.
"Tenang saja, kau pasti punyakan? Alasan bagus untuk orang tuamu jika mereka bertanya soal kenapa kau pulang telat" ,ucap Endra yang hanya menggerakkan kepalanya menoleh kearah Zera.
"Aku tak biasa beralasan dengan orang tuaku, tak seperti dirimu" ,ucap Zera.
Endra hanya kembali melihat kearah matahari tenggelam.
"Heh, skill beralasan dengan orang tua itu tak memerlukan latihan lama" ,ucap Endra yang hanya mengambil satu permen dan menaruhnya dimulutnya, "semua manusia bisa berbohong Zera"
Zera hanya tersenyum pahit mendengarnya, "itu tak sesimple yang kau bilang-
*Tap* *Tap* *Tap*
Suara langkah kaki yang terdengar kencang dibelakangnya membuat Endra dan Zera mengalihkan perhatiannya kebelakang.
Suara langkah ini terdengar seperti berlari..
Kemudian terlihat muncul seorang perempuan dengan roknya berkibar dan rambut hitamnya berkibar berlari dengan cepat melewati Endra.
Suara angin lewatnya bisa terdengar saking kencangnya ia berlari.
Tunggu sebentar.
Endra kenal postur dan wajahnya.
"Itu Eni bangs*t" ,ucap Endra yang hanya berjalan cepat mengikuti kearah Eni.
"Oh iya anjir" ,ucap Zera yang mengikuti Endra.
Terlihat Eni berniat berjalan kearah belakang sekolah...
Zera berjalan menikung Endra tapi dengan cepat Endra memegang bahunya.
"Dia menuju kelorong belakang.." ,ucap Endra sambil menaruh tangan dibahunya menghentikan Zera.
Zera yang dihentikan oleh tangan Endra hanya membalikkan kepalanya kebelakang untuk menoleh ke-Endra dengan wajah heran.
"Terus? Kita ikutilah" ,ucap Zera yang hanya menoleh kearah Endra dengan wajah heran.
"Jangan berlari, tunggu aja baru kita ikuti" ,ucap Endra sambil terus menahan Zera, "kita ikuti dia diam-diam dulu.."
"Nanti kita kehilangan dia Endra" ,suara Zera terdengar agak marah.
"Kita akan kehilangan pola gerakannya setelah kejadian bego" ,ucap Endra dengan suara yang tak kalah marahnya, "coba lihat, ia buru-buru dan agak panik, pasti ada sesuatu. Dia akan ngebatalkan apa yang akan ia lakukan kalau dia tahu kita ngikuti dia, diamlah"
Apa yang Zera akan lakukan setelah kejadian adalah suatu hal yang perlu diketahui bagi Endra saat ini..
Kemana dia pergi? Apa perannya dalam transaksi ini.
Pergi bertemu teman-temannya kah, untuk merencanakan langkah mereka selanjutnya?
Rencana mereka dihancurkan kah? Dengan Endra memegang dompet mereka? Atau malah menjadi lancar karena dirinya?
Zera hanya bisa berwajah pahit.
Terlihat Eni berlari dengan cepat kearah disebuah lorong diantara 2 gedung sekolah.
Ketika dia masuk kedalam lorong tersebut..
Endra langsung berjalan dengan cepat, "ayo kita ikuti sekarang"
Zera berjalan disampingnya mengikutinya.
Langkah kaki mereka terdengar ditepi lapangan sekolah ini.
"OI ENI!" ,suara teriakan perempuan dari jauh bisa terdengar.
Endra dan Zera langsung menggerakkan leher mereka kearah sumber suara ketika mendengarnya.
Terlihat 3 anggota OSIS yang tadi langsung memanggil Eni dengan anggota OSIS perempuan melambaikan tangannya.
Raihan yang juga terlihat dikelompok 3 OSIS tersebut ikut melambaikan tangannya.
Sialanlah kalian OSIS..
Terlihat Eni hanya terdiam sebentar berhenti berjalan kemudian berbalik melihat mereka.
Apa yang Eni pikirkan? Itu yang Endra penasaran.
Eni hanya membuka mulutnya sebentar ketika melihat kumpulan OSIS tersebut..
Dia merenung..apa yang ia renungkan? Apa yang ia takutkan?
Tapi..
Langkah kaki Eni yang langsung berlari masuk kedalam lorong terdengar dari sini.
Sangat cepat hingga Endra hanya berdiri melihatnya.
"Oi! Oi! Kenapa?!" ,teriak anggota OSIS perempuan heran.
"Kejar! Kejar dia!" ,ucap anggota OSIS pria selain Raihan sambil berlari dengan cepat.
Raihan terlihat juga berlari mengikuti anggota OSIS pria tersebut.
Tidak! Tidak! Tidak! Tidak jangan begini!
Anjenglah OSIS!
Dengan begini maka kita takkan tahu apa yang ia lakukan ketika keluar dari kelas tambahannya dijam begini!
Apa motifnya, apa urusannya dengan dompetnya, semua itu hilang semua.
Diakhir dia akan cuma ditangkap oleh OSIS dan diinterogasi tanpa banyak informasi keluar dari mulutnya.
Kalian pikir dia langsung mau bicara apa yang urusannya dengan dompet ini apa!?
Kita perlu mengintainya secara diam-diam!
"P*nteklah.." ,ucap Endra sambil menaruh kedua tangannya dibelakang kepalanya dan berbalik dengan giginya ia gertakkan, "anjenglah! Kita gagal!"
*DAK!*
Tendang dirinya kearah dinding disampingmya hingga menggema.