White Ink

White Ink
The Feel of Victory (Part 5)



----RAIHAN: The Walk Off ----


Raihan bisa merasakan rasa keras kursi plastik ini dipahanya.


Dan cahaya sore menerangi wajahnya.


Dia duduk diruang kelas kosong yang terlihat banyak berdebu.


Dijam begini dia seharusnya sudah pulang tapi dia malah dipanggil disini.


Jaket merah OSIS yang terasa agak sempit bisa membuat lengannya kaku.


"Kau tak ada jam tambahan atau kerjaan dirumah bukan? Jangan pasang wajah kaku begitu kalau begitu" ,ucap Elis dengan senyuman yang duduk didepannya.


"Aku tak apa Elis" ,ucap Raihan dengan suara lembut dan senyuman.


"Ehhe? Jangan lemas begitu, mana kekuatan disiplinmu?" ,ucap Elis sambil menepuk bahu Raihan.


Rasa goyang dan tepukan bisa terasa dibahunya.


"Cuma suaraku yang lemas Elis, aku cuma ingin tahu kenapa kita kesini" ,ucap Raihan dengan membalikkan suasana dengan suara lembut.


Dia tak mengerti kenapa dia dibawa kesini sejak awal, dia sempat memikirkan dia akan dikeluarkan dari OSIS.


Mengingat banyak yang tak ia lakukan, ia tak pantas memakai jubah merah ini sejak awal.


Ia cuma kelas 10 yang diseret ke-OSIS dan tinggal didalamnya selama beberapa hari.


Alasannya kenapa ia bisa masuk OSIS, karena seorang anggota mau keluar dari OSIS, tapi anggota OSIS tersebut mau digantikan oleh dirinya.


Entah kenapa anggota OSIS lain menerimanya, padahal mereka saja tak mengenal Raihan itu sendiri.


Ada beberapa yang mengenalnya, tapi ia rasa, orang-orang yang mengenalnya tak punya pengaruh besar diOSIS.


Dia hanya pernah jadi wakil ketua OSIS diSMP, dan masanya bukan masa yang masa yang terbaik atau masa yang terburuk.


Performanya biasa-biasa saja.


"Oi, kenapa aku dipanggil?" ,suara bisa terdengar didepan pintu ruang kelas ini.


Terlihat seorang pria dengan wajah serius dewasa masuk kekelas ini.


Kumis tipisnya bisa kelihatan dengan wajah cemberut khasnya.


Adam namanya, Raihan ingat dia sebagai salah satu anggota OSIS paling disiplin.


Well, semua anggota OSIS merupakan orang paling disiplin yang pernah ia lihat.


"Dah datang dia" ,ucap Elis dengan senyuman sambil berdiri dari kursinya.


"Jadi? Ada pesan apa dari ma'am?" ,ucap Adam dengan suara dewasanya.


'ma'am' merupakan panggilan anggota OSIS kepada ketua OSIS itu sendiri.


Ketua OSIS katanya merupakan wanita yang menakutkan dan dihormati banyak orang, juga cukup sibuk.


Raihan tak pernah bertemu dengannya, waktu dia diangkat sebagai anggota OSIS pun dia cuma bertemu dengan wakil ketua OSIS.


"Kami berdua merupakan personel tambahan untuk menyelesaikan kasus hilang dompet itu" ,ucap Elis dengan senyuman.


Raihan hanya heran ia merasa aneh kenapa dirinya bisa masuk kedalam kasus ini, "aku anak baru loh kak, memangnya dibolehkan apa?"


"Toh, dompet hilang juga dompet hilang" ,ucap Elis sambil menaikkan kedua bahunya, "bukan masalah besar hingga anak baru tak pantas masuk"


"Ma'am betulan bilang kalian personal tambahannya?" ,ucap Raihan sambil mengerutkan dahinya.


"Ya, ini chat pribadinya" ,ucap Elis sambil memperlihatkan layar handphonenya kedepan wajah Adam.


Adam hanya mengerutkan dahinya, "kau diperintahkan? Okelah kalau ma'am ngebolehkan maka dibolehkan, lagipula aku cukup pesimis dalam kasus dompet ini"


"Pesimis? Aku rasa ini mudah, kalian sudah lihat CCTV kan?" ,bertanya Elis sambil memasukkan handphone-nya kedalam kantung dirok-nya.


"Sudah semua, semua tempat yang anak kehilangan dompetnya itu kunjungi kami lihat rekamannya hari ini semua tapi tak ada petunjuk, cuma dikelasnya saja yang tak bisa, CCTV disana konslet" ,jawab Adam.


"Oh...itu aneh..kau sudah tanya anak yang hilang dompetnya itu?" ,ucap Elis sambil mengerutkan dahinya dan tersenyum.


"Percuma saja, saat kami tanyakan dia cuma bilang kalau ia tak ingat dimana terakhir kali dompetnya dimana" ,ucap Adam.


"Kalau teman-temannya?" ,bertanya Elis.


"Hahh..dia tak punya teman dekat dikelasnya, beberapa ketakutan dengannya, kami sudah tanya beberapa tapi tak ada hasil yang bagus" ,ucap Adam dengan hela nafas dan wajah yang terlihat sudah muak dengan ini.


" 'beberapa ketakutan dengannya' ?" ,Elis mengulangi sebuah kata Adam bertanya-tanya mendengarnya.


Raihan juga agak bertanya-tanya mendengarnya.


"Kau tak tahu? Anak yang hilang dompetnya itu adiknya ma'am" ,ucap Adam.


Elis dan Raihan hanya menelan ludah mendengarnya.


Untuk sebentar Raihan dan Elis hanya menoleh satu sama lain.


Raihan hanya sekarang mengerti kenapa ma'am mau tambahan personel.


"Masalah ini mungkin pribadi?" ,ucap Raihan mencoba menebak.


Mungkin ma'am ada hubungannya dengan kasus ini.


"Bisa saja, mungkin ada yang mengambil dompetnya dengan sengaja tanpa motif uang" ,ucap Adam.


"Bisa saja ada yang tak suka dengan ma'am, maka menyerang keluarga ma'am" ,ucap Elis dengan senyuman dan selang tawa mau keluar dari mulutnya.


Adam langsung mengerutkan wajahnya mendengar hal tersebut.


"Atau dompetnya hanya hilang saja.." ,ucap Raihan yang kebingungan.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


-----ENI: The Victory -----


Eni duduk dihadapan guru.


Ratusan murid dibelakangnya hanya menatapnya dari belakang.


Dia bisa merasakan aura berat dipunggungnya maupun tangannya, perasaan ditatap, perasaan malu.


Tapi kadang ia bahkan tak bisa merasakan perasaan malu, cuma perasaan gugup.


"Makanya perhatikan kalau ibuk menerangkan pelajaran" ,suara ibu guru hanya membuatnya muak.


Dia tak bisa menatap mata guru, banyak yang tak mau mengakuinya jika mereka diposisi ini.


Tapi ia bisa, ia mengakui kalau ia ketakutan.


Tapi sebagian besar perasaan dihatinya malah merasa perasaan mau ini semua berakhir.


"Kamu ini, gak punya sesuatu apa? Yang bisa diturunkan dari kakakmu selain diam aja" ,ucap Guru tersebut sambil cuma menatapnya.


Ia langsung mengangkat kepalanya menatap mata guru itu.


Untuk sebentar ia menatap mata guru dibalik kacamata itu.


Untuk sebentar ia membayangkan dunia berhenti dan dia mencabik-cabik wajah guru itu.


Kemudian ia menelanjanginya dan menjatuhkannya dari lantai satu sekolah ini.


Kenapa harus kakaknya? Kenapa harus dibandingkan dia? Dirinya bukan kakaknya.


Kenapa? Ia tak mengerti.


Apa yang orang harapkan dari dia? Dia orang lain.


Kenapa harus dia yang menanggung kehebatan dari kakaknya? Kenapa? Kenapa orang lain tak mengerti?


Ia kembali menundukkan kepalanya.


Buat apa memikirkan semua itu? Sebentar lagi dia tak perlu memikirkan semua hal itu dan dia akan menang.


Rencananya akan berhasil dan dia menang.


Dia menang.


Ia hanya bisa tersenyum sebentar.


Ia hanya melihat jam tangannya...sebentar lagi urusan ini akan berakhir..


Dan setelah itu ia akan mengontrol dan menguasai sama seperti kakaknya..


Tapi ia ingin merasakan sesuatu...ada semacam perasaan tak puas akan kemenangan bahkan sebelum kau tahu diposisi pemenang..


Ia ingin merasa menang.


Eni hanya mengangkat kepalanya dan tersenyum pahit.


Ibu guru yang melihatnya juga ikut hanya tersenyum pahit.


Ia ingin berkata sesuatu.


Ia ingin merasa menang.


"Buat apa ikut jam tambahan kalau gak merhatikan?" ,suaranya menambah perasaan muak.


Ia hanya bisa terdiam.


Ia ingin bicara.


Ia ingin membuat guru mengerti kalau dirinya tak bisa diubah.


Entah kenapa ia malah merasa menang.


Tapi ia mengerti kalau tak ada diruangan ini yang bisa merasakan hal yang ada dihatinya.


Perasaan bercampur dengan gugup,senang,takut,dan perasaan menang.


Perasaan membuat guru tahu kalau dirinya merupakan seorang salah satu halangan mereka.


Salah satu yang membuat hari mereka memburuk.


Inikah yang dirasakan anak-anak nakal? Ia sekarang mengerti kenapa semua anak-anak nakal melakukan apa yang mereka lakukan.


"Balik kembali kemejamu" ,ucap ibuk guru sambil menaruh sebuah buku dokumen dimeja dengan keras.


Eni hanya kembali kemejanya sambil merasakan puluhan tatapan murid.


Ia melihat ada beberapa anak murid yang hanya kembali menatap buku dimejanya tak peduli apapun urusan anak murid yang bertingkah.


Eni hanya tersenyum melihat mereka semua.


Apakah ia menang?


Apa yang ia dapatkan?


Apakah kadang kali menang itu cuma perasaan menang saja?